Tag Archives: cikarang

Menikmati Cuti

Beberapa hari yang lalu saya cuti. Sebenarnya saya itu terpaksa cuti, lha dalam waktu sangat dekat, jatah penghabisan cuti itu akan ED. Daripada hangus, jadilah saya cuti. Padahal, asli, saya sama sekali nggak pengen cuti, pengennya kerja. *opo iyo?*

Oke, hari cuti itu saya nikmati dengan menyaksikan drama di Bernabeu, Muenchen lantas menang adu penalti. Tambahan setengah jam plus plus yang biasanya membuat galau karena itu tandanya istirahat berkurang, kali ini saya nikmati, lha wong saya mau cuti kok. Walhasil, jam setengah 6, ketika teman kos lain berbangunan, saya malah mulai micek. Mantap sekali.

Setengah 10, saya bersiap dan berangkat mencari moda transportasi guna mendekatkan orang Cikarang dengan ibukota, 121A. Baiklah, saya pengen jalan-jalan ke Jakarta. Dan mestinya di hari kerja dan jam kerja, Jakarta tidaklah terlalu ramai. Ramainya kan kalau pulang kerja. Iya nggak sih? Nggak tahu, makanya dicoba.

Berbekal sendal dan tas gembel yang menandakan saya ke Jakarta bukan buat interview, saya berangkat. Tujuannya, bagian di Jakarta yang asrinya minta ampun kayak hutan, menurut saya sih. Tempat itu bernama CIGANJUR. Dari Cikarang, saya turun di Polda, lanjut Dukuh Atas sampai Deptan, terus capcus pakai M20 yang ngetem jaya. Baiklah, tiga setengah jam dari Cikarang ke Ciganjur, dua tempat yang sama-sama Ci tapi jaraknya astaganaga. Saya makan burjo sejenak. Suerr, ini nggak kayak ibukota yang sinis, pedih, dan tragis layaknya saya temui sebelum-sebelumnya.

Dari situ saya lantas capcus pulang dan kebetulan dapat Kopaja AC. Aslinya saya bisa turun di Deptan dan lanjut busway. Tapi entah kenapa pengen nyicip Kopaja AC walaupun itu berarti putar-putar Jakarta via Pondok Indah, Gandaria, dll. Lumayan sih. Saking ngebetnya, saya malah bablas karena itu Kopaja nggak lewat Semanggi, jadilah saya turun dan naik busway koridor 9 untuk ke Semanggi.

Di Semanggi saya lari-lari ke dalam guna mencari sebuah buku. Yak! Untuk pertama kalinya nama saya nongkrong di toko buku meski tingginya hanya 0.5 cm dan lebarnya hanya 5 cm. Tapi itu masuk di jajaran BUKU BARU. Alangkah senangnya! Antologi cerpen itu setidaknya membuat nama saya ada di Gramedia. Hehehehe. Langsung saya borong 3.

Keluar dari Semanggi itu perkara tersendiri, berkali-kali kesana PASTI kesasar. Pun kemarin. Ah, baiklah, saya lalu keluar dan menunggu kendaraan balik Cikarang. Seperti biasa, butuh ketakwaan tinggi supaya nggak murtad ambil jurusan lain kalau nunggu bis Cikarang di Semanggi. Asem bener kok. Akhirnya dapat bis Lippo.

Sampai ke kos, jam lima lebih dikit. Mirip jam pulang kerja. Kos masih sepi. Hmmm…

Jadi? Ya gitu sih, entah apa inti cerita ini. Hahahahaha…

Mudik

Ini bukan mau cerita nama dessa di Gunungsitoli, Nias sana ya. Ini mau berkisah tentang suka duka jadi anak (pertama) yang mudik dan bertemu keluarga.

Awalnya sih karena banyak yang tanya, long weekend kemana? nggak mudik? dan banyak pertanyaan lainnya. Ini tentu nuansa lain. Di Palembang dulu, mana ada yang tanya begitu waktu long weekend. Spare waktu itu biasanya untuk lembur (*hadohhh..) atau bersuka ria bersama sesama perantauan.

Kalau di Cikarang Jaya sini? Yah, bis ke Jawa Tengah dan sekitarnya penuh sesak menjelang long weekend. Dan saya memutuskan untuk menikmati Paskah di Cikarang saja.

Soal mudik, kenapa saya nggak mudik ke Bukittinggi?

Banyak faktor. Jujur saya agak kurang mantap kalau mudik hanya untuk ketemu Bapak Mamak saja. Adek saya ada tiga, pengennya itu ya ketemu semua. Jadilah kemarin sempat saya gilirin. Agustus 2011 ke Magelang ketemu si gadis dan si bontot. November ke Surabaya ketemu si gondrong dan sekilas ketemu si gadis dalam perjalanan pulangnya.

Dan sempat ketemu lama (seminggu, itu lama lho..) waktu mudik massal Desember silam.

Dan percayalah, bahwa berbagai mudik yang saya lakoni sejak punya GAJI, selalu berakhir dengan OVERBUDGET.

Why?

Ada perasaan hendak membelanjakan segala harta di depan keluarga. Entah ini sombong atau ingin berbakti, tipis sekali saya rasa. Tapi menjadi absurd kalau saya sudah bergaji, masih minta traktir sama orang tua, rasanya miris bagaimana gitu. Apalagi gaji saja sudah selevel sama gajinya bapak. Saya kerja 3 tahun, bapak 30 tahun. Waw yak? Hahahaha…

Misal mudik pertama lebaran 2009, budget sudah diatur sekian juta. Nyatanya bablas juga. Lalu mudik berikutnya Desember 2009, bablas banget sampai THR saya musnah seketika.

Lantas di 2010 pertengahan, sudah siap-siap budget dengan jumlah yang jauh lebih besar dari dua mudik sebelumnya. Yang ini bukan mudik sih, kumpul di Jogja saja. Hasilnya? Tetap overbudget 30%.

Lalu April 2011, seluruh bonus saya kerahkan untuk menikmati hidup indah bersama keluarga lengkap. Masih bolong juga. Gaji kepakai juga akhirnya.

Demikian pula, meski sudah berkali-kali mudik,  bahkan Desember silam saya masih bablas dalam hal budget. Hanya saja, saya sudah antisipasi. Jadi ada budget level satu dan level dua. Sebutkan X Juta untuk level satu, kalaulah masih tembus, ada level dua Y Juta. Totalnya X tambah Y adalah budget sebenarnya. Setidaknya, yang Y itu nggak sepenuhnya habis. Untunglah. Manusia kan harus belajar dari ‘kesalahan’.

Dan ini pasti terjadi pada mudik orang-orang pekerja baru, sekitar 1-2 tahun bekerja. Ini saya yang agak pekok sampai nyaris 3 tahun masih overbudget saja.

Dan yang pasti over itu kalau ketemu adik-adik dalam tour ke Magelang. Hahaha.. Tapi it’s oke. Buat saya sih, beberapa ratus ribu itu nilainya masih kalah daripada kebersamaan dengan keluarga. Bahwa saya di perantauan sendirian itu menjelaskan fakta bahwa kadang keluarga itu dirindukan. Ya begitulah dunia.

Jadi, ini cuti saya masih 4, dan akan habis 1 bulan lagi (kurang). Perlu mudik? Atau perlu agenda khusus? Semua tergantung UANG-nya. Hahaha..

Salam mudik! 🙂

Damri Cikarang – Bandara

Untuk akses ke bandara dari Cikarang sebenarnya mudah, tapi khusus penghuni Jababeka II.. hehehe.. Pool bus Damri arah Bandara ada di Plaza Jababeka. Jadi dekat patung kuda. Mungkin boleh tanya si kuda kalau kesasar, dari posisinya, sang kuda melihat terus itu halte. Hehehe..

Tarif mendasar, kalau nggak salah bulan Desember kemarin 30 apa 35 ribu begitu. Busnya lumayan, karena memberikan tempat untuk tas. Cuma ya sempit sih kalau duduk.

Bus ini berangkat dari jam 04.00, 05.00, 06.00, 07.00, 08.00, 09.00, 10.00, 11.00, 12.00, 13.00, 14.00, 15.00, 16.00, 17.00, 18.00 alias setiap jam dimulai dari jam 4.

Ya nggak tepat-tepat amat sih.. Normalnya, bus akan lewat patung kuda, lalu masuk ke jalan Cikarang-Cibarusah, lalu masuk tol. Jadi, bisa juga nunggu di tepi-tepi jalan itu daripada capek ke Plaza JB. Berharap saja tidak penuh. Bus juga akan masuk di Grand Wisata, putar sekali lalu masuk tol lagi.

Kalau berangkat jam 5, belum sampai jam 7 sudah sampai Bandara. Selainnya, saya nggak pernah naik, jadi mohon maaf lahir batin kalau infonya kurang memadai.

Untuk pulangnya, alias dari Bandara ke Cikarang, tertulis sih ada dari jam 6.00 sampai 21.00

Masalahnya, leadtimenya kadang lama. Dulu pernah nunggu 3 jam. Itu ditambah bus putar-putar cari penumpang 3 kali, baru berangkat. Tapi yang pasti sih ada. Makanya, kalau hendak ke Cikarang usahakan sampai jam siang, sehingga waktu menunggu bisa lama dan pasti ada kendaraan ke Cikarang dengan harga terjangkau.

🙂

Shuttle Bus Lippo Cikarang – Jakarta (PP)

Lippo Cikarang katanya adalah kota terlengkap di timur Jakarta. Iyakah? Hmmmm.. Yah, mungkin lengkap juga sih. Karena Lippo Cikarang adalah kiblat menghibur diri, bagi warga Cikarang. Kalau mau ke Bekasi kadang jauh bin malas, jadi ya sudah ke daerah selatan saja.

Lippo juga punya bus Shuttle ke Blok M yang agak enakan, dengan tarif terkini Rp. 13.000,- yang sesudah BBM naik, tarifnya jadi Rp. 15.000,- Habis BBM naik lagi, kabarnya jadi 22.000, tapi saya belum nyoba lagi.

Bus yang digunakan adalah Bus AO dengan jadwal sebagai berikut:

sumber: blognyarumah.wordpress.com

Lewatnya biasa sih, Senayan dan sekitarnya sampai blok M.

Bus tidak masuk terminal, tapi berhenti di Jalan Palatehan, dekat lapangan. Kalau mau naik dari Palatehan, cek dulu, karena juga ada shuttle bus ke Sentul. Demikian juga yang di terminal Lippo, cek dulu ke Sentul atau ke Blok M. Soalnya itu nyasarnya krusial.

Ada juga shuttle internal dengan jadwal kayaknya antara jam 6-9 kemudian 12-15 dan rasanya ada satu lagi. Shuttle-nya dua jenis, satunya ke arah Lembah Hijau, satunya Cibiru-Cibodas. Jangan tertukar ya. Lumayan juga kalau jalan kaki itu. Soal tarif? Kemaren saya Googling katanya 2500, tapi kok pas bayar malah ditagih 5000. Makanya, saya bingung.

My Holiday

Saya baru kembali dari sebuah perjalanan yang luar biasa panjang dan tentunya melelahkan.

Dimulai dari Jam 4.50 pagi dan diakhiri pada jam 09.15 pagi.

Secara garis besar adalah sbb:

1. Cikarang – Cengkareng (Damri)
2. Cengkareng – Padang (Lion Air)
3. Padang – Bukittinggi (Maestro)
4. Bukittinggi – Padangsidimpuan (Si Kijang)
5. Padangsidimpuan – Bonandolok (Si Kijang)
6. Bonandolok – Tarutung (Si Kijang)
7. Tarutung – Sibolga (Si Kijang)
8. Sibolga – Padangsidimpuan (Si Kijang)
9. Padangsidimpuan – Bukittinggi (Si Kijang)
10. Bukittinggi – Padang (Si Kijang)
11. Padang – Cengkareng (Garuda)
12. Cengkareng – Jogja (Garuda)
13. Jogja – Jakarta (Bima)
14. Jakarta – Cikarang (AO)

Dan syukur kepada Tuhan, bahwa perjalanan yang panjang minta ampun itu, bisa selesai dengan baik dan benar. Bahwa ada kejadian ban kempes dll, itu sebagian dari nada-nada perjalanan. Hehehe..

Yang penting tujuan tercapai, dan saya kembali dengan selamat.

Bekerja mencari uang lagi, untuk dipakai liburan lagi, entah kapan lagi.. 😀

 

Perjalanan Pulang dari Kompasiana Blogshop

Sungguh tidak saya sangka bahwa keberangkatan ke Telkomsel Kompasiana Blogshop ini akan memberi banyak pelajaran hidup. Saya sih nggak berharap tulisan ini HL, tapi sungguh, saya merasa perlu membagi hal ini kepada Kompasianer semua. Makanya, alih-alih mengerjakan tugas dari Kang Pepih, saya memilih menulis tentang Perjuangan Pulang Dari Kompasiana Blogshop ini dulu.

1319896755336690749sumber: pribadi

Saya tinggal di Cikarang, sebuah kawasan yang isinya pabrik semua. Maaf agak lebai bin alay. Ketika berangkat untuk ikut Telkomsel Kompasiana Blogshop ini, saya tidak punya firasat apa-apa. Saya masih bisa dapat bus 121A seharga 9000, duduk manis pula.

Singkat cerita, Telkomsel Kompasiana Blogshop yang saya hadiri kelar. Saya mendapat banyak hal. Mulai dari kaos Telkomsel Kompasiana Blogshop, ilmu-ilmu dari Kang Pepih, Mas Iskandarjet, dan Uda Ahmad Fuadi, sampai teman-teman baru yang ternyata gokil-gokil macam Latip pake P, Yonathan, dan Cornelius Ginting.

Jam 5. Langit di Sarinah masih terang. Saya mulai menyebrang ke Sarinah lanjut naik jembatan menuju shelter bus TransJakarta Sarinah. Disitu saya berkumpul dengan banyak Kompasianer. Tolong yang ikut serta kumpul bersama saya bisa komen disini.. hehehe.. 1 bus lewat, 2 bus juga, lama-lama sampai 5. Wah, lama nih, pikir saya. Seorang ibu nyeletuk, “nanti kita booking 1 gerbong Kompasianer semua!”.

Eh bener. Bus ke-6 datang dengan kondisi agak sepi. Maka masuklah semua Kompasianer di halte itu ke dalam bus. Masih lancar posisinya, turun pula satu persatu, mulai dari Halte Setiabudi, Bundaran HI, dan seterusnya. Saya aslinya hendak mencoba turun di Blok M dengan asumsi bisa dapat bus 121 yang masih kosong karena kalau nunggu di Semanggi biasanya penuh. Tapi karena teman Kompasianer Izha Aulia turun di Benhil, maka saya mendadak ikut turun. Mungkin ini yang disebut firasat. Sudah kayak lagu Marsel saja ya. Hehehe…

Saya lantas melalui rute biasa, dari halte Benhil jalan sampai depan Plaza Semanggi, berharap ada bus menuju Cikarang disana. Leadtime menunggu bus Cikarang memang lama. Ibarat kata, kalau mau nunggu bus di Semanggi itu harus sabar, tawakal, dan rajin menabung. Setengah jam berlalu, firasat mulai buruk karena orang yang ada disana sudah saking banyaknya. Bus Bekasi yang biasanya ramai lewat, kali ini tidak.

Perasaan mulai nggak enak.

Saya yang biasa menunggu di bawah tangga, pelan-pelan geser ke arah Semanggi. Perasaan makin tidak enak waktu bus 121 lewat tapi ada tulisan PARIWISATA. Makin galau lagi waktu bus Lippo juga lewat bablas dengan kondisi penuh. Dengar punya dengar, katanya ada sebuah partai yang menyewa habis seluruh bus ke Cikarang.

Seorang bapak mulai tampak galau, demikian pula bapak yang lain.

“Cikarang pak?” tanya saya.

“Iya, Cikarang?” Bapak itu bertanya sama bapak yang lain.

Mulailah sang bapak bercerita kalau info yang dia dapat bus 121 memang tidak jalan karena ada yang sewa. Benar atau tidak saya kurang tahu, itulah info yang saya dapat. Hingga kemudian satu lagi bus Lippo muncul dan bablas, akhirnya ada tindakan. Seorang bapak dengan tas besar bertanya pada bapak yang saya sapa tadi, “Bapak mau nunggu, saya mau ambil mobil dulu di Apartemen, paling 15 menit, gimana?”

Hayukkk pak.. Jerit saya dalam hati.

Jangan salah, si bapak yang saya sapa pertama tadi itu sebenarnya juga punya mobil, cuma ditinggal di parkiran terminal yang ada di Lippo Cikarang.

Akhirnya, kami bertiga dan seorang wanita karier yang juga sudah menanti lama, bersepakat berangkat bersama. Bapak yang punya mobil tadi kembali ke apartemennya. Sejurus kemudian 3 orang ibu nongol. “Pak, saya dari jam 2 nunggu disini, nggak ada bus ke Cikarang?”

What? Saya setengah tidak percaya, jam segitu saya masih dengan Dhisa nyanyi di Telkomsel Kompasiana Blogshop dan ibu ini sudah nunggu bus ke Cikarang?

Bapak tadi kembali dengan mobil bagus, Avanza baru! Kami masuk dengan cepat, keburu diklakson yang lain. Eh, tahu-tahu ada satu anak cowok tanggung yang ikut masuk. Ada kisah soal anak ini, nanti saya tambahkan.

Di mobil Avanza itu, kami ber-8, termasuk yang punya mobil. Tujuh orang nebengers sepakat membayar 15 ribu buat tambah-tambah uang bensin dan tol. Bagi kami nggak masalah, yang penting SAMPAI KE CIKARANG! Mulailah cerita macam-macam, mulai dari nunggu jam 2, jam 5, jam 6, bus yang nggak datang-datang, dan lain-lain.

Tidak sampai 1 jam, karena tol lancar jaya, kami sampai di Pintu Tol Cikarang Barat. Saya yang jurusan Jababeka turun di jembatan layang. Si ABG tanggung tadi ikut turun juga. Ucapan terima kasih teramat sangat saya ucapkan pada bapak yang punya mobil Avanza yang bahkan pelat nomornya pun saya tidak sempat hafal.

Selesai? Belum.

Si ABG tadi sayaajak jalan untuk naik angkot ke Jababeka tapi dia berkata, “Saya itu mau ke BEKASI barat mas”.

Saya jantungan.

“Lho, kok naik ini tadi? Memangnya nggak tahu kalau ini ke Cikarang. Masuk Pintu Tol CIKARANG barat?” tanyaku.

“Tahu sih, tapi tadi saya kira nganter ke Lippo dulu lalu balik ke BEKASI barat”.

Saya diamkan saja. Silahkan pergi nak dengan jalanmu sendiri. Dalam hati saya mau bilang, “memangnya ini mobil bapakmu po? Ini masih mending itu bapak berbaik hati mengantar sampai ke Cikarang, mau mbok suruh balik ke Bekasi barat?”

Saya akhirnya sampai ke Jababeka dengan selamat. Jababeka masih seperti saya tinggalkan tadi pagi. Maaf kalau lebai bin alai ya.. hehehe..

Oke, pelajaran yang saya ambil:

1. Bapak yang pertama dari Lippo ke Jakarta meninggalkan mobilnya. Ada itikad baik tidak menggunakan mobil pribadi, seperti himbauan pemerintah untuk memakai angkutan umum. Bapak yang punya mobil tadi juga hendak ke Cikarang naik bus dengan meninggalkan mobilnya. TAPI APA? Mereka mendapatkan kekecewaan! Angkutan umum yang disarankan itu tidak ada, malah katanya disewa oleh partai tertentu. Ini dua orang sudah dikecewakan lho, saya nggak yakin mereka bakal naik angkutan umum lagi dengan pengalaman macam ini. Jujur saya nggak habis pikir dengan keberpihakan kepada rakyat kecil macam saya dan penumpang Avanza tadi. Huh..

2. Ada 8 orang di mobil Avanza itu dan semuanya TIDAK SALING KENAL. Dengan bekal kesamaan tujuan saja, kami berhasil mendapatkan solusi bersama. Apa artinya? Jiwa apatisme di negeri ini ternyata belum sepenuhnya berkuasa. Masih ada kepedulian, masih ada rasa persaudaraan, masih ada gotong royong, masih ada kerjasama, dan semua hal yang diajarkan bapak saya di kelas pendidikan Pancasila, masih ada. Dan saya membuktikan sendiri. Ini aktual, ini asli, ini fakta, dan saya saksinya.

3. Mengomentari ABG labil tadi. Harap kalau ada ramai-ramai, cek dulu. Benarkah mobil ini hendak membawa ke tujuan yang benar? Jangan lantas menganggap mobil yang datang atas nama kebaikan itu dianggap mobil bapaknya sendiri. Kenapa saya lantas agak emosi? Karena di belakang ABG tadi, ada bapak yang hendak ke Cikarang yang terpaksa kami tolak karena mobil sudah full. Ini pelajaran untuk lebih teliti lagi ya.. 😀

Kira-kira begitulah perjuangan saya sampai kembali ke kamar kost tercinta setelah bertualang ke Telkomsel Kompasiana Blogshop hari ini. Sekarang saya mau kerjain tugas dari Kang Pepih dulu karena saya sudah ngimpi punya tablet. Harap maklum karena sebagai Apoteker, saya sudah biasa dengan tablet Paracetamol, Amoxicillin, dan lainnya, jadi mau variasi dengan tablet jenis lain.. hehehe..

Salam Kompasiana Blogshop!

asli dikopi dari Kompasiana saya.

Cikarang Jaya

Hohohohoho…

Kalau di posting perjalanan lainnya saya membahas tempat yang memang layak jadi tempat wisata, sekarang saatnya sekilas mengenai suatu tempat bernama Cikarang.

What?

Mau lihat apa di Cikarang?

Yah, kalau di Palembang saya masih bisa mengajak tamu tetamu untuk melihat ampera, museum, dan makan pempek. Nah kalo di Cikarang?

Begitulah, Cikarang ini tempat yang betul-betul sarana mencari uang.

Kalau melihat peta, Cikarang masuk di kawasan Bekasi. Secara umum dibagi jadi Cikarang Utara (Jababeka dan sekitarnya), Cikarang Selatan (Lippo Cikarang dan sekitarnya), Cikarang Barat (pintu tol Cikarang Barat dan sekitarnya), serta yang pasti satunya lagi.. hehehe..

Di Cikarang ini kita mungkin tidak menemukan landmark tertentu. Yang menguasai disini adalah pabrik dan perumahan. Diperkirakan ada 1 juta manusia yang hidup dan mencari makanan di daerah sini. Akses utama adalah lewat tol yakni Exit Tol Cikarang Barat. Ini yang paling dekat, ada sih Tol Cikarang Utama juga.

Nah, kalau dari Tol Cikarang Barat kita akan dihadapkan dengan jembatan layang. Itu adalah jalan kiri dan kanan. Kiri ke Jababeka, Kanan ke Lippo, dua wilayah besar di Cikarang, selain kalau terus lurus menembus apapun akan sampai ke Delta Mas hehe..

Di Kota Jababeka kita akan disambut oleh tulisan besar warna merah dan jalan beton. Berkendara di jalanan Cikarang berarti harus siap bertemu truk2 besar dan panjang. Namanya juga kawasan industri. Nantinya kita akan sampai di pintu Jababeka II terlebih dahulu, disini ada Plaza Jababeka, President Executive Club, Patung Kuda, Metro Park Condominium, Pecenongan Square, Movieland, dan tentunya kawasan industri Jababeka II. Disini ada Kawan Lama, Alfamart, serta NDC AAM.

Kalau dari pintu II tadi kita lurus, maka ke kiri ada Jababeka I. Disini banyak sekali pabrik besar macam Samsung dan Unilever. Nah, kalau kita teruskan lagi, maka akan sampai ke Cikarang Dry Port (Pelabuhan Kering??) dan kompleks baru lagi namanya Techno Park, ada pabrik AstraZeneca disini. Terus lagi? Ketemu Stasiun Lemahabang. Terus lagi? Karawang. Hahaha…

Nah, di sekitar Lippo lebih banyak lagi. Ada kawasan Delta Silicon, ada EJIP, ada Hyundai. Yah, pokoknya kalau pabrik, disini buanyakkkkk.. Mungkin wisata pabrik paling oke kalau di Cikarang sini… hehehe..

Segitu dulu yah..

Juju: Sebuah Kisah Makanan Enak

Juju.

Entah saya nulisnya bener apa nggak, yang pasti saya diperkenalkan dengan nama itu. Kata Juju kemudian merepresentasikan sebuah tempat penjualan makanan.

Apa yang istimewa dengan Juju?

Sebentar, sebelum berkisah, mari saya ceritakan dulu sejenak kisahnya.

Warung Juju ini terletak di dalam kawasan industri Jababeka II. Kalau dari Pintu Jababeka II, masuk terus, ketemu bundaran kuda masih lurus, lalu ke kanan sampai ketemu Mattel (Pabrik Barbie) lantas ke kiri, terus aja sampai ke tulisan Pecenongan Square. Setelah ini ambil kanan masuk ke kawasan Jababeka II yang beneran. Begitu sampai di perempatan pertama dekat klinik ambil kanan, ikut terus jalannya, ada beberapa belokan. Nanti akan ketemu Jalan Industri Selatan V, jalan aja terus sampai perempatan. Pas disini ambil lurus mentok sampai jalan yang seolah-olah buntu. Nah warungnya ada di kiri jalan. Atau kalau mau lebih mudah, ambil dari Kalimalang, masuk pintu 10 Jababeka, belok kiri, lalu ketemu perempatan belok kiri lagi. Disitulah dia berada.

Warung ini sejatinya ya serupa warung yang lain. Kalau di dekat De Britto dulu ada yang namanya Tenda Biru. Apa persamaannya?

Hehehe.. Harap maklum, keduanya sama-sama warung yang mungkin akan bikin ilfil orang yang (maaf) jijikan. Kalau tenda biru itu, iya dapur, iya pembuangan, iya tempat nggoreng, iya tempat nyuci, iya tempat ngiris, dan lain-lain. Kalau Juju ini modelnya gubuk, lantai tanah. Di dapurnya segala sesuatu jadi satu, mirip dengan tenda biru. Pokoknya kalau terbiasa makan di tempat yang oke macam Hoka Hoka Bento, dijamin ilfil.

Untunglah saya dididik makan murah di tenda biru. Hahaha..

Uniknya dari Juju, terutama yang terjadi dengan beberapa teman kantor saya, adalah: banyak penggemarnya! Masih biasa? Oke, ini fakta berikutnya, beberapa dari penggemar itu belum mengetahui bentuk warung Juju yang sebenarnya. Mereka rata-rata delivery (alias titip beli). Yah, apakah nanti kalau melihat bentuk warungnya masih akan suka Juju?

Tidak ada yang bisa menerka.

Seringkali dalam hidup itu kita suka begitu. Kita menyukai sesuatu yang enak, tapi nggak ngerti latar belakangnya, tahunya ya enaknya. Coba ingat-ingat apakah kita suka dengan sebuah mobil yang bagus yang dimiliki seseorang, tapi kita nggak tahu apa itu diperoleh dari usaha yang halal atau hasil bagi-bagi proyek (lho, malah nyindir? hehe..). Apakah kita berlaku seperti seorang raja yang duduk manis, tanpa peduli orang-orang yang ada di belakang kita? Apakah kita begitu jumawanya saat ini dengan pencapaian saat ini dan lantas lupa latar belakang kita mencapainya?

Yah, ini bukan soal melihat ke belakang tapi ini soal melihat ke dalam. Kita kadang lupa sesuatu yang mendasar dan malah puas terlena pada sesuatu yang enak, yang sudah kita nikmati saat ini. Pada akhirnya? Lupa bersyukur deh. Penyakit kronis saya pribadi itu. Apakah ini penyakit teman-teman juga? Semoga tidak.

Jadi, ada baiknya yang belum pernah lihat warung Juju, segeralah kesana melihat. Siapa tahu ada perubahan perspektif. Hehehehe…

Semangat!!!

Ketika Saatnya Harus Melangkah

Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.

Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.

Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.

Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.

Dan ini sulit.

Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.

Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..

Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..

Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.

Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.

Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.

Itulah kehidupan.