Nenek Ini Nikahi Cinta Pertamanya Setelah Pisah 42 Tahun

Kakek dan nenek ini bisa bersatu lagi setelah 42 tahun lamanya terpisah. Kakek dan nenek yang pernah pacaran saat masih remaja itu bisa bertemu lagi berkat Facebook.

Maureen Wallace bertemu lagi dengan pacar remajanya, Hugh Forsythe setelah ia bercerai dari suaminya, Dugald Stewart. Maureen dan Hugh pernah menjalin asmara selama empat bulan pada tahun 1970. Saat itu mereka tinggal di kawasan Troon, Skotlandia.

Saat itu, Maureen yang memutuskan hubungan tersebut. Namun Hugh rupanya tidak pernah melupakan wanita yang jadi cinta pertamanya itu. Setelah lama berpisah dari istrinya, Hugh mulai mencari Maureen.

“Aku tidak pernah melupakan Maureen selama bertahun-tahun. Dia adalah cinta pertamaku dan tidak akan membiarkannya pergi lagi,” ujar Hugh (60 tahun) seperti dikutip dari Daily Mail.

Hugh kemudian mencoba mencari Maureen di Facebook, setelah puluhan tahun berlalu. Dia mengirimkan banyak pesan ke orang-orang bernama Maureen Stewarts yang ditemukannya di situs jejaring sosial itu.

Hingga akhirnya, Hugh mendapatkan balasan dari wanita impiannya. Apa balasan Maureen? “Apakah kamu Hugh Forsythe yang punya saudara laki-laki dari Barassie dan pernah kencan dengan gadis asal Barassie?” begitu isi pesannya.

Dengan senyum sumringah, Hugh pun membalas pesan tersebut. Sejak saat itulah mereka kembali berkomunikasi dan pergi ke tempat-tempat saat mereka berkencan dulu di 1970.

Pasangan yang terpisah selama 42 tahun itu, kemudian resmi menikah sebelum Natal. “Kami sangat beruntung diberikan kesempatan kedua. Tidak banyak orang mendapatkan itu,” ujar Maureen yang kini berusia 62 tahun.

Setelah menikah, keduanya memutuskan tinggal di daerah yang dulu membuat cinta mereka bersemi yaitu di Troon, Skotlandia. Mereka juga kini mengasuh cucu Hugh yang berusia 11 tahun, Dylan.

Dikutip asli dan langsung dari wolipop

F62

Awal tahun yang luar biasa ketika saya bisa berkumpul bersama keluarga di rumah.

Luar biasa?

Tentu saja! Terakhir ini terjadi adalah di awal tahun 2007 alias 5 tahun silam.

Yah, mengumpulkan 2 orang tua dan 4 anaknya di rumah milik keluarga ternyata bukan perkara yang mudah. Sempat nyaris terjadi, tahun 2008, tapi saya terpaksa tidak ikut karena ada pekerjaan di Nias waktu itu.

Memang, kami setahun sekali masih bertemu, di Jogja. Tahun 2008 masih bertemu ketika wisuda saya. 2009, masih bisa kumpul menjelang sumpahan saya. 2010? Ada momen ketika si bungsu masuk seminari, dan saya, dengan perjuangan keras bisa beroleh cuti guna menyusul ke Jogja. Di 2011 pun sebenarnya terjadi waktu Pak Guru wisuda. Jadi sebenarnya tidak ada masalah soal pertemuan.

Tapi, bertemu dan berkumpul di rumah, tempat kami benar-benar menjadi diri kami sendiri?

Susahnya minta ampun.

Maka, keajaiban sejak 24 Desember sampai 1 Januari kemarin tidak boleh saya lewatkan.

Yah, F62 adalah nomor rumah kami. Tempat yang dibangun dengan susah payah. Pun, saya ikut bersusah payah. Jadi ingat dulu ikut serta mengaduk semen, membelah bambu untuk bikin pagar, mengulur kabel ke tetangga waktu belum dapat listrik, memukul nyamuk dari pohon bambu belakang rumah, tidur di dipan beralas kardus kulkas, sampai mengecat rumah.

F62 adalah rumah, tempat impian dimulai. Dan saya berharap bahwa 6 orang yang nggak pernah kehabisan keributan itu bisa berkumpul lagi tanpa perlu menunggu hitungan 5 tahun lagi.

Amin.

Reach Your Dream…

Barusan membaca blog teman lama saya berinisial 122. Jiahh.. ya disebut demikian karena selama 7 semester kami bersama. Hal itu tentu saja karena NIM 122 dan 123 selalu dalam urutan nomor yang jelas dan lugas.

Kemarin tanggal 1 juga sempat ketemu di Jogja, dan baru tahu kalau dia sudah menyatakan resign dari kantornya, tepat 2 tahun.

Dari status2nya dan kekasihnya, saya cukup tahu bahwa mereka berkeinginan untuk segera wirausaha. Lagipula si 122 ini berasal dari keluarga yang berwirausaha, cocok sekali.

Dan sungguh sebuah keberanian besar bagi seseorang untuk melepaskan status pegawai sebuah perusahaan yang cukup ternama, yang notabene melepaskan pula segenap gaji, tunjangan, asuransi, dan fasilitas lain yang melindungi.

Saya hanya perlu memberikan jempol untuknya!

Sekilas membahas ini. Dalam salah satu perjalanan hidup saya berurusan dengan bank, saya merasakan betul bahwa seorang karyawan memiliki banyak kemudahan dalam berproses. Wawancara kredit misalnya, waktu untuk wawancara 1 wirausahawan bisa setara 5 karyawan. Kenapa? Bank hanya perlu memastikan bahwa karyawan ini gajinya sesuai dan statusnya tetap untuk memastikan keberlanjutan kredit, sementara wirausahawan? Senguping saya, sampai ditanya prospek segala.

Tapi bagaimanapun, setiap orang punya mimpi masing-masing. Namun tidak semua orang berani meninggalkan kenyamanan yang dia sudah punya, untuk menggapai mimpi-mimpi itu.

Saya pun demikian.

Kenapa? Karena setidaknya yang saya lakukan sekarang masih bersinggungan dengan mimpi-mimpi saya. Itu pasti. Dan yang terutama adalah karena saya berjuang banyak untuk bisa sampai pada posisi seperti yang saya punya sekarang.

Artinya? Saya tidak akan merealisasikan mimpi saya?

Tentu tidak! Ada suatu waktu ketika mimpi itu akan jadi nyata. Tidak sekarang, memang. Karena mimpi itu perlu dirintis perlahan, meski itu dengan noda-noda kegagalan, penolakan, ketidakpedulian, dan banyak lagi. Sampai detik ini pun saya masih belajar mengolah kegagalan dan penolakan sebagai bagian dari upaya saya menggapai mimpi itu.

Salut untukmu bro! Kalau sudah sukses, kabar-kabari ya.. hehehe…

Sebungkus Senja Untukmu

Matahari bergegas menuju barat. Sudah jatahnya untuk tidak saja menerangi belahan bumi tempat aku berpijak. Ia harus beralih ke bagian bumi lain untuk tugas yang sama. Yah, itu memang tugasnya. Tidaklah perlu aku mengurusi soal itu.

Seharusnya memang demikian.

sumber: bailaconmigo-jola.blogspot.com

Tapi kali ini aku ada perlu dengan matahari. Dan parahnya, aku terlambat. Sudah menjadi tabiatku untuk menunda pekerjaan sebisa mungkin itu ditunda. Dan benarlah. Ketika aku sampai di tempat aku punya urusan dengan matahari, ia sudah bergegas pergi.

“Hai, tunggulah sebentar!” Aku mengejarnya dengan nafas yang semakin tidak teratur.

“Bukankah kita berjanji untuk bertemu 1 jam yang lalu? Aku masih banyak urusan sobat!” katanya sambil terus berjalan.

Aku terus berlari mengejar langkahnya yang besar. Sebenarnya, sudah nyaris tidak terkejar. Betapa tidak, sebuah langkahnya harus kukejar dengan ratusan langkah berlari. Tapi, sungguh, aku membutuhkannya sekarang.

“Tapi tolonglah! Aku betul-betul membutuhkanmu sekarang!” Aku berteriak semakin kencang. Nafas terengah itu aku konversi menjadi suara yang mendesah keras, berharap matahari bisa berubah pikiran untuk bertahan sejenak.

Langkahnya melambat, tapi tentu saja itu masih butuh dikejar. Aku melihatnya melambat perlahan, dan dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku berlari lebih kencang.

“Satu kali ini saja, Tuan!”

Dan ajaib! Ia kali ini benar-benar berhenti. Pada posisi yang sungguh tepat, sungguh baik, dan sungguh membentuk SENJA.

“Apa yang kamu perlu dariku, sobat?”

“Aku hanya hendak membungkus senjamu, Tuan. Apakah aku bisa melakukannya?”

“Hahahahaha…,” tawanya besar, tampak ia sungguh tergelak bukan main atas permintaanku, “Kau pikir aku bisa mengabulkan permintaanmu sobat?”

“Kau yang membuat senja, pastinya kau juga bisa membungkus sedikit untukku. Tolonglah Tuan!”

Matahari tampak berpikir. Mungkin ia baru kali ini mendapat permintaan yang aku ajukan.

“Mendekatlah, sobat!”

Aku berlari mendekat, tapi panas. Maka aku melambatkan laju lariku.

“Mendekatlah!” katanya lagi.

Panggilan kedua darinya membuatku mendekat lagi. Bukan hal yang mudah. Sungguh panas! Kulitku mulai terbakar dan sebagian menghitam. Aku tidak lagi tampan. Itulah keadaannya.

Tapi aku telah mengejar matahari ini sedari tadi, maka sungguh tanggung kalau aku melewatkan panggilannya.

“Ulurkan tanganmu, sobat!”

Panas semakin menderaku dan mataku bahkan tidak bisa lagi melihat keadaan sekitar karena hanya ada cahaya terang beredar di jangkauan mataku.

“Apa ini Tuan?”

Matahari mengulurkan tangannya dan sejurus kemudian sebuah bungkusan berada di tanganku.

“Terimalah, sobat. Baiklah kini aku pergi. Banyak yang menungguku di belahan lain. Selamat bersenang-senang.”

Panas itu perlahan hilang, pun dengan cahaya terang. Di tanganku ada sebuah bungkusan. Hanya sebuah bungkusan kecil yang tidak sempat kutanyakan isinya. Kuanggap saja itu pemberian dari matahari, dan seharusnya ia memberikannya sesuai permohonanku tadi.

Dengan badan melepuh, kulit terbakar, dan mata yang belum kembali pada daya akomodasinya aku berlari kembali. Aku menuju tempatmu. Aku tahu kamu pasti berada di atap rumahmu. Entah bagaimana caranya, kamu menyukai tempat itu.

Wajahmu sendu, aku yakin kamu pasti kehilangan sesuatu.

“Hei, mengapa kamu bersedih?” teriakku dari bawah.

“Aku kehilangan senjaku!”

Dan air matamu perlahan berlinang. Entahlah, apa pula hebatnya sang senja sampai kamu berlinang air mata karena kehilangannya.

Aku hanya berharap, senja yang hilang itulah yang ada di bungkusan dari matahari. Tentu saja hilang, karena senja itu pasti ada di tanganku sekarang!

“Aku punya kado buatmu! Janganlah bersedih lagi!” Aku masih berteriak dari bawah.

“Kecuali kamu menghadirkan senja kembali untukku, saat itulah aku tidak bersedih. Senja adalah hidupku!”

“Baiklah! Tapi kamu mau menerima hadiah ini kan?”

Dan kamu terdiam menghapus air mata, masih menerawang ke tempat seharusnya senja itu ada. Tanpa jawaban bukanlah hal yang baik. Maka dengan sisa tenagaku, kupanjat dinding rumahmu. Dengan hati-hati kubawakan bungkusan dari matahari sambil memanjat dinding merah jambu itu.

Kini, hanya ada aku dan kamu, di tempat semacam ini.

“Janganlah bersedih.”

“Senja adalah hidupku, tidak ada alasan untuk tidak bersedih,” katamu sendu.

“Mungkin ini bisa menghapus kesedihanmu,” kataku sambil menyerahkan bungkusan kepadamu.

Paras cantikmu masih sendu kala memegang bungkusan itu.

“Bukalah…”

Tangan mungilmu membuka bungkusan, yang aku pun tidak tahu isinya. Perlahan, tampak kilau sinar dari dalam sana.

Dan yang tampak lebih perlahan adalah sesungging senyum dari bibirmu.

“Inikah penghapus sedihmu?” tanyaku.

Kamu tidak menjawab, hanya tersenyum manis kepadaku. Wajahmu mulai tampak bersinar kembali.

“Ini untukku?” tanyamu ketika akhirnya membuka suara.

“Iya! Tentu saja!” jawabku bersemangat.

“Terima kasih. Terima kasih telah memberikan senja ini untukku.”

My Holiday

Saya baru kembali dari sebuah perjalanan yang luar biasa panjang dan tentunya melelahkan.

Dimulai dari Jam 4.50 pagi dan diakhiri pada jam 09.15 pagi.

Secara garis besar adalah sbb:

1. Cikarang – Cengkareng (Damri)
2. Cengkareng – Padang (Lion Air)
3. Padang – Bukittinggi (Maestro)
4. Bukittinggi – Padangsidimpuan (Si Kijang)
5. Padangsidimpuan – Bonandolok (Si Kijang)
6. Bonandolok – Tarutung (Si Kijang)
7. Tarutung – Sibolga (Si Kijang)
8. Sibolga – Padangsidimpuan (Si Kijang)
9. Padangsidimpuan – Bukittinggi (Si Kijang)
10. Bukittinggi – Padang (Si Kijang)
11. Padang – Cengkareng (Garuda)
12. Cengkareng – Jogja (Garuda)
13. Jogja – Jakarta (Bima)
14. Jakarta – Cikarang (AO)

Dan syukur kepada Tuhan, bahwa perjalanan yang panjang minta ampun itu, bisa selesai dengan baik dan benar. Bahwa ada kejadian ban kempes dll, itu sebagian dari nada-nada perjalanan. Hehehe..

Yang penting tujuan tercapai, dan saya kembali dengan selamat.

Bekerja mencari uang lagi, untuk dipakai liburan lagi, entah kapan lagi.. 😀

 

2011: Sebuah Evaluasi

Gambar di atas saya capture dari laporan yang masih ke email saya tentang aktivitas blog ini. Yah, disebutkan serupa dengan 7 kali konser di Sydney Opera dengan kapasitas full. Hahahaha.. Itu kan bisa-bisanya wordpress saja. Katanya juga ada 131 posting. Yah baiklah.

Masih saya ingat ketika tawaran promosi mengalihkan dunia saya kembali ke tulis menulis. Entah ada hubungannya atau tidak. Tapi itulah keadaanya. Maka saya mulai menulis dan menulis. Di blog inilah semuanya dimulai kembali. Tidak lama sesudah kehadirannya, sebuah tulisan meluncur ke Majalah HIDUP dengan judul Generik dan Katolik, seakan pembuka jalan. Memang kegagalan demi kegagalan masih dan pasti akan terus ada. Buat saya sih tidak masalah, sepanjang kehidupan diberi pelajaran oleh kegagalan itu.

Tahun 2011 adalah tahun keempat blog ini, sebenarnya. Blog ini lahir mid 2008 dan tidak disentuh sampai 2011 awal.

Maka dengan berlangsungnya waktu dan kemudian banyaknya tanggung jawab di tempat lain, maka perlu evaluasi.

Banyak komen muncul dan memberikan itu, dan saya berterima kasih untuknya.

Terima kasih pula untuk teman-teman yang setia melihat blog ini. Ada yang kadang menagih tulisan karena beberapa waktu blog ini sepi. Malah ada gembel bangun lapak di dalamnya. Hehe..

Maka, di 2012 ini, saatnya semangat baru, jiwa baru, kreativitas baru, dan semuanya mesti diperbaharui.

Oiya, buat saya tahun baru tidaklah cukup penting. Mengingat ulang tahun saya tidaklah jauh dari tahun baru, maka yang namanya resolusi, saya kaitkan dengan pertambahan usia saya.

Okehhh.. Semakin tidak nyambung deh.. Gpp kan ya?

Selamat menikmati tahun yang baru!

Way To The End

My heart is beating again now. Yes, my heart always beating as long as I live. But, it’s a different way.

It’s difficult to build my heart in same way, but I’m still trying.

But if I still face the same conditions, the fragile building will colapse soon.

When I try to find a way, to make my heart feel the same feelings, the pain will ruin this feeling.

Usually, you will come and act as tough there is nothing before. Again and again!

Do you think my heart like a stone that was never hurt? No!

My heart like a sand castle. When exposed to small amount of water, it will make stronger.

But now you washed over with a big wave. So? Do you think my heart is still in the same form?

I think, No!

My heart become brittle. And it’s not easy to make it strong and durable.

I need a way to end.

Now.

Tuhan, Bukakanlah Jalan Bagi Umat-Mu Ini

Saya sudah mencoba menimang-nimbang berkali-kali, apakah hal ini perlu saya tulis atau tidak. Tapi makin saya baca, pelan-pelan saya mulai meneteskan air mata. Dan mungkin, satu hal ini bisa membuat saya memilih tidak akan berlama-lama hidup di C******. Meski di banyak sisi, saya punya banyak alasan untuk tetap hidup di C*******.

Ini kutipan yang membuat saya menangis:

Rencana pembangunan Gereja Katolik Paroki I** T***** C*******, di daerah L**** C******* yang merupakan gereja terbesar se-Asia Tenggara dan akan menjadi pusat aktifitas Kristenisasi, telah mengundang keresahan pada masyarakat Kabupaten B*****.

Well, parameter apa yang menetapkan bahwa bangunan yang dimaksud akan jadi yang terbesar di Asia Tenggara? Apakah bangunan itu akan lebih besar dari Katedral Jakarta, Katedral Padang, Kidul Loji Jogja, atau St. Yosef Cirebon? Saya sendiri nggak yakin.

Hanya ada satu hal yang bisa men-justifikasi definisi itu yakni karena seluruh penduduk beragama Katolik di seluruh C******* terkonsentrasi di satu titik saja. Kalau dari definisi itu, wajar kalau disebut sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara. Yah, bayangkanlah kalau umat harus pergi beribadat saja butuh 30 menit sampai 1-2 jam. Itu saking jauhnya. Jadi, mau tinggal di C******* U****, C********, D**** M**, dan di C******* ujung dunia manapun, acuannya yang cuma 1, sebuah SEKOLAH dengan kursi bakso, beratap seng, dan sumuknya minta ampun.

Mengapa sih untuk memuji dan memuliakan Tuhan di tempat yang layak, menjadi hal yang sulit?

Saya mungkin hanya bisa menangkap satu hal. Bahwa untuk melakukan rutinitas kerohanian yang menjadi kebutuhan batin, perlu PERJUANGAN. Itu yang saya anggap sebagai pelajaran setiap minggu. Kalau di tempat-tempat saya pernah berada, untuk kebutuhan batin itu saking mudahnya, bisa jalan kaki, kalau di tempat ini butuh usaha berlipat.

Hmmm.. Pelan-pelan saya menulis ini, saya mulai sedikit memahami. Ini adalah upaya Tuhan memberikan kekuatan kepada umat-umatNya. Tuhan pasti tidak mau umatNya putus asa dalam berharap. Biarlah pelajaran ini selalu mengisi hati nurani kita. Meskipun kemudian, hanya sekadar duduk bersimpuh dalam keadaan sunyi hanya menjadi mimpi di siang bolong. Yah, begitulah..

No problemo untuk saat ini. Tapi, pasti akan jadi issue besar dalam hidup saya di masa depan. Saya sungguh menikmati duduk sendiri di deretan bangku kosong, layaknya di Petrus Claver Bukittinggi atau Bellarminus Mrican. Dan jujur, saya kehilangan itu kini.

Biarkan saya mencari solusi atas kegundahan hati ini. Untuk saat ini biarkan saya bangga dengan cara Ferdinand Sinaga merayakan golnya ke gawang Thailand pada 13 November silam. Itu sudah lebih dari cukup.

Terima kasih sudah mampir.

I Can’t Fight This Feeling

I can’t fight this feeling any longer.
And yet I’m still afraid to let it flow.
What started out as friendship,
Has grown stronger.
I only wish I had the strength to let it show.

I tell myself that I can’t hold out forever.
I said there is no reason for my fear.
Cause I feel so secure when we’re together.
You give my life direction,
You make everything so clear.

And even as I wander,
I’m keeping you in sight.
You’re a candle in the window,
On a cold, dark winter’s night.
And I’m getting closer than I ever thought I might.

And I can’t fight this feeling anymore.
I’ve forgotten what I started fighting for.
It’s time to bring this ship into the shore,
And throw away the oars, forever.

Cause I can’t fight this feeling anymore.
I’ve forgotten what I started fighting for.
And if I have to crawl upon the floor,
Come crushing through your door,
Baby, I can’t fight this feeling anymore.

My life has been such a whirlwind since I saw you.
I’ve been running round in circles in my mind.
And it always seems that I’m following you, girl,
Cause you take me to the places,
That alone I’d never find.

And even as I wander,
I’m keeping you in sight.
You’re a candle in the wind,
On a cold, dark winter’s night.
And I’m getting closer than I ever thought I might.

And I can’t fight this feeling anymore.
I’ve forgotten what I started fighting for.
It’s time to bring this ship into the shore,
And throw away the oars, forever.

Cause I can’t fight this feeling anymore.
I’ve forgotten what I started fighting for.
And if I have to crawl upon the floor,
Come crushing through your door,
Baby, I can’t fight this feeling anymore.

 

Sumber dari sini

Membaca Karya Sendiri

Barusan datang juga kiriman yang dinanti-nanti, buku AKU DAN CANTUS FIRMUS yang saya dan teman-teman kerjakan sebulan kemarin.
Setidaknya, salah satu mimpi sudah tercapai: MEMBACA BUKU KARYA SENDIRI.

Hehehehe..

Rasanya kok aneh, tetap penasaran, dll walaupun saya membaca naskah soft copy buku setebal 156 halaman itu puluhan kali di lappy (mungkin malah ratusan), dan gemas sendiri karena masih saja ada typo. Ini menunjukkan saya bukan melankolis sejati karena selain tidak teliti pada yang begini, kamar saya juga berantakan (lhooo??)

Sekarang tinggal mengirim buku yang saya pegang sekarang ini ke Jogja untuk launching sekalian event PSM Cantus Firmus, lalu saya akan order lagi.. hahaha..

Terima kasih kepada nulisbuku.com yang telah memfasilitasi keinginan saya memiliki buku sendiri dengan nyaris tanpa biaya. Duit hanya keluar buat pembelian buku dan pengiriman. Sisanya murni effort dari teman-teman hehe..

Oke, langkah ini sudah bagus. Sekarang saatnya berlari lebih kencang, berkarya lebih banyak, saya berharap dalam waktu dekat saya bisa berada di kondisi “ENJOY FOR” dan bukan “GOOD AT”.

Amin 🙂

Bapak Millennial