Pada Akhirnya

“Nus, ikut ya?”

“Ini nanya, atau?”

“Retorika.”

“Ehm, baiklah. Perbuatlah yang kamu mau, Kak.”

Kak Rina segera memasukkanku ke dalam ranselnya. Kemarin Karin–nama panggilanku untuknya–bilang ini hari terakhir berada di kamar nan elit sebelum kemudian kembali ke kehidupan normal.

“Sebenarnya mau kemana sih?” tanyaku persis sebelum Karin menutup ranselnya.

“Katanya perbuatlah yang aku mau. Pakai nanya nih?”

“Ya, nggak jadi deh. Silahkan. Hehehe.”

Ransel menutup dan akupun menatap dalam gelap. Kuharap gelap ini tidak berlangsung lama.

* * *

“Hey! Udah lama?”

Aku mendengar suara itu, milik Karin. Siapa yang dia sapa?

“Belum kok. Baru juga nyampe. Silahkan duduk.”

Kali ini aku mendengar suara laki-laki. Dan sesungguhnya aku tidak mengenali suara itu sama sekali. Sejauh ini suara laki-laki yang aku dengar hanyalah lelaki yang pernah bertandang ke kos-kosan Karin, baik itu di Cikarang, Jogja, dan Solo. Tidak ada yang serupa itu.

“Repot-repot amat, Bang.”

Ah! Aku mengenal sapaan itu. Aku sangat berharap Karin membawaku untuk alasan yang lebih baik daripada berada di dalam ransel sambil menebak-nebak lawan bicara Karin.

“Besok jadinya jam berapa?”

“Jam 9 lewat 10, Bang. Nggak jadi reschedule flight.”

“Wah, sayang sekali.”

“Emang kenapa?”

“Mau tak ajak keliling ibukota. Hehehehe.”

“Ah, waktu aku PKL di pedalaman Cikarang kan udah putar-putar ibukota. Lagian polusi semua ini, mau lihat apa? Mending juga Jogja.”

“Yah, kalau Jogja mah nggak usah ditanya. Disana hanya kurang kendaraan umum doang. Lainnya udah oke. Ngomongin Jogja jadi ingat DM kamu dulu banget, Rin.”

Eh, sebentar. Ngomong Jogja, lalu ingat DM. Ini kok semacam mulai nyambung.

“Yang kapan?”

“Yang waktu kamu mau pindah ke Solo. Yang katanya mau lepas poster aja galau.”

“Hahaha. Tahu sendiri Bang, sebagai sesama sentimentil, kamu harus paham.”

Makin dekat, makin jelas. Aku kan membaca DM itu dengan saksama dan sebaik-baiknya. Rasanya nggak mungkin ada DM lain deh.

“Karin, keluarkan saya dari sini,” gumamku lirih.

“Eh, mana punyamu?” tanya suara laki-laki tersebut.

“Ada, bawa kok. Punyamu?”

“Bawa juga dong. Masak lupa, kan udah janjian.”

Karin segera menarik resleting ranselnya dan aku mulai melihat secercah cahaya yang perlahan membesar. Lalu tangan mulus Karin segera menjamahku dan menarikku keluar dari pengapnya ransel ini.

“Kak?”

“Ini, Bang. Kenalin, namanya Neptunus.”

“Hahahaha, kamu tiru-tiru Kugy dong, Rin?”

“Iya. Seru kan? Kalau Kugy harus tulis surat di perahu kertas supaya sampai ke Neptunus, aku bisa panggil dia kapanpun. Sampai pergi seminar ke Jakarta aja aku bawa. Eh, kamu jadinya beli kapan?”

“Belum lama. Setelah ditimbang-timbang masak-masak baru beli.”

“Untuk gaji seorang esmud di ibukota, nggak mungkin menimbang-nimbang karena perkara finansial. Bohong banget kalau begitu,” kata Karin, penuh dugaan.

“Hahaha. Alasannya sudah aku tulis di blog kok.”

Heh! Aku baca lho! Kalau benar bahwa lelaki di depan mataku ini adalah pemilik akun @alfabege yang diblok Karin sekian bulan silam sih.

“Hmmm, kayaknya aku baca. Jadi mana punyamu?”

“Oh iya, lupa.”

Lelaki itu kemudian ganti merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku bercover hijau dengan judul yang sama persis denganku. Perahu Kertas.

“Namanya?”

“Luhde.”

“Hahaha, tiru-tiru juga kamu Bang.”

“Nggak apa-apa. Luhde kayaknya cakep. Kata Kugy, kayak malaikat. Lagian nggak mungkin juga kasih nama Remi.”

Aku menatap buku yang barusan diletakkan di sebelahku, dari kiri ke kanan.

“Hai. Kita sama ya?” tanya buku itu.

“Iya. Aku Neptunus. Kamu?”

“Luhde.”

“Baiklah. Salam kenal. Yang punya kamu siapa?”

“Oh, ini Bang Alfa.”

Nah, sudah banyak dugaan yang menuju kenyataan. Tapi melihat momen di sekitar, aku jadi menebak akan terjadi sesuatu. Tempat itu ternyata romantis sekali. Sebuah kafe dengan rak buku di satu bagian dinding, lalu ruang bercahaya remang tapi dilengkapi lampu baca. Plus, lilin aromaterapi yang jaraknya hanya 10 sentimeter dari tempatku sekarang.

“Eh, De. Ini bosmu suka sama bosku ya?”

“Nggak tahu, Nus.”

“Kamu nggak sering kepoin dia?”

“Dia mah nggak bisa dikepoin. Aktifnya pakai HP. Nggak bisa ngintip aku.”

“Oh, begitu. Sayang sekali. Soalnya nih, dari dulu aku berpikir kalau sebenarnya bosmu ini suka sama bosku.”

“Rin,” kata Bang Alfa perlahan.

“Tadi bilang kalau baca blogku?”

“Iya.”

“Baca semua?”

“Lumayan.”

“Ehm, menurutmu itu fiksi atau nyata?”

“Fiksi dong.”

“Kok?”

“Kalau nggak fiksi, berarti kamu udah punya pacar berapa kali, Bang? Hehehe.”

Aku dan Luhde mulai bertatapan, tanpa suara, dan mengerti satu sama lain perihal sesuatu yang akan segera terjadi.

“Bisa aja. Menurutmu, kita ketemu lagi begini itu kebetulan bukan ya?”

“Bisa jadi. Kenapa Bang?”

“Kamu percaya kebetulan? Aku sih nggak.”

“Kadang percaya. Kenapa nggak?”

“Buatku sih kebetulan itu adalah persinggungan dua garis nasib. Dan nasib yang sudah diatur sama Tuhan. Jadi kebetulan itu kan kehendak Tuhan juga.”

“Lalu?”

“Ehm, entah sih, tapi semalaman aku berpikir soal ini. Kenapa kita ketemu lagi, kenapa bertemu kamu dalam keadaan sama-sama masih jomblo, kenapa dan kenapa lainnya. Dan sepertinya aku harus bilang sesuatu.”

“Apa?” tanya Karin perlahan, matanya sedikit melirik padaku.

“Ada banyak bagian dari posting di blogku yang sebenarnya adalah perasaanku sendiri, Rin. Perasaanku sendiri, ke kamu.”

Karin hening, bibir manisnya mengatup, tangannya malah memilih untuk mengaduk-aduk kopi. Sementara suara musik istrumen mengalun pelan di penjuru kafe.

“Sejak 7 tahun yang lalu, Rin. Sejak aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan ini. Tapi karena kemudian kita terlanjur dekat sebagai teman, jadi ya aku simpan saja. Dan kamu ingat kan pernah bilang sesuatu soal memendam cinta?”

“Memendam cinta adalah cara tercepat untuk patah hati.”

“Tepat sekali.”

“Dan bahwa aku sudah cukup patah hati ketika kemudian aku nggak bisa lagi menghubungi kamu. Kamu boleh bilang aku gila, tapi sebenarnya hadiah ulang tahunmu waktu itu, aku sendiri yang nganter ke kantor.”

“Bang? Serius?” tanya Karin dengan ekspresi yang berubah drastis. Kali ini dia benar-benar terkejut.

“Iya, aku ke Solo. Menghabiskan cuti sih, jadi sekalian gitu. Sudah sampai di depan kos-kosanmu malah. Sudah ngetuk pintu juga. Tapi akhirnya balik kanan pulang. Baru mampir ke kantormu, nitip hadiah itu. Kadang nyesel juga ngasih hadiah begitu kalau tahu akhirnya kamu malah menjauh begitu.”

“Asli, nggak nyangka Bang.”

“Buat lelaki, nggak ada yang aneh atau nekat kalau statusnya udah cinta, Rin.”

Karin terdiam lagi, melirikku lagi. Aku rasa dia mulai membenarkan perkataanku perihal sesuatu yang aneh kemarin. Salahnya juga nggak mendengarkan aku kan?

“Daripada aku panjang-panjang lagi, intinya sih hanya satu baris. Aku cinta sama kamu, Rin.”

Karinku tertunduk malu-malu, sementara Bang Alfa meraih tangan Karin yang sedari tadi tampak menggengam angin. Karin membuka genggaman jemarinya dan menerima lima jari Bang Alfa di sela-sela lima jarinya.

Aku dan Luhde terdiam saja melihat pemandangan seperti ini. Kejadian ini untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari. Aku menikmati setiap saat ketika cinta dinyatakan, dan aku yakin Luhde demikian.

Badan Bang Alfa terangkat sedikit demi sedikit dari kursinya, kepalanya bergerak mendekati kepala Karin. Pemilikku itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, menyambut sebuah kecupan manis dari sebuah bibir yang baru saja menyebut cinta.

Luhde menatapku dan tersenyum penuh arti. Aku sendiri senang, karena pada akhirnya hipotesaku terbukti, seratus persen.

* * *

buatan minggu lalu, baru diunggah sekarang.. lagi niat.. hehehehe..

Fa, Semoga Nasibmu Sekarang Lebih Baik

Saya punya sebuah naskah. Iya, naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku pertama yang bisa saya selesaikan. Yang kedua baru kelar tanggal 2 kemarin, buat ngirim ke lomba novel. Naskah kedua itu sebenarnya ya bukan utuh naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku sih, karena itu lebih berupa kompilasi posting-posting di blog ini.

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang naskah pertama itu.

Ditulis dari mid 2011, dan baru selesai hampir mid 2012. Sebuah waktu yang sangat panjang untuk menulis. Tapi sebuah kebanggaan juga karena ada 1 dari sekian banyak file naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku yang beneran jadi. Yang berhenti di halaman 5? Ada. Di halaman 10? Ada juga. Di halaman 40? Juga tersedia.

Nah, karena saya ini NIAT dan kebetulan baru dapat bonus, saya bertekad memperlakukan naskah pertama ini dengan maksimal. Jadi, sudah saya putuskan untuk mengirimkannya ke penerbit yang oke (tidak sembarangan), punya rekam jejak bagus untuk genre naskah itu. Dan saya juga lantas memperlakukan naskah itu dengan optimal dalam hal mencetak.

Iya, saya BELI PRINTER, khusus buat ngeprint naskah doang. Kenapa sih? Entah, mungkin banyak yang menilai jelek. Tapi saya hanya hendak menghargai karya pertama saya yang beneran jadi. Saya juga jilid dengan spiral plus buat cover dengan mencetak di kertas foto ukuran A4.

Saya hendak bikin dia eksklusif. Itu saja.

Dan untuk menggenapi perlakuan istimewa saya pada naskah itu, maka saya meluangkan 1 hari cuti di 26 April 2012 untuk mengantarkan langsung naskah itu ke penerbitnya. Cerita itu ada di bagian lain blog ini, sila cek.

Dan, bagian yang harus dicamkan dalam hal pengiriman naskah buku oleh pemula adalah:

JUST WRITE, SEND, AND FORGET IT

Itu menurut saya lho. Karena kalau kita ingat-ingat terus, nggak akan muncul karya-karya lainnya ntar. Contohlah saya, sejak naskah pertama itu, belum ada lagi naskah yang oke. Memang ada sebagian yang sudah outline, tapi kemudian pupus lagi-pupus lagi.

Dan memang naskah itu saya lupakan, sampai kemudian saya dapat telepon dari editor dan bilang ‘tertarik’ untuk naskah itu. Okesip. Lalu? Tunggu kabar selanjutnya.

Ada hal yang menarik dari nasib naskah saya ini. Secara langsung, editor bilang kalau naskah saya ‘cukup menarik’. Tapi tidak serta merta itu langsung akan diterbitkan. Dan uniknya lagi, tidak pula ditolak 🙂

Saya sempat mentions di Twitter dan karena telat lihat mentions, jadi obrolan saya dengan admin Twitter-nya kandas. Lalu, saya email-lah ke redaksi soal naskah itu. Bukan apa-apa sih, kali kalau penerbit itu mau ISO 9001 (anggap begitu), naskah saya bisa jadi temuan. Kenapa? Karena di-state waktu X bulan untuk disposisi naskah, sementara naskah saya sudah lebih dari X bulan itu. Saya sih cuma nggak mau memperibet masalah.. Hehehe.. Kalau emang nggak diterima, silahkan, saya rela hati dan sadar diri. *kira-kira itu konten email saya ke redaksi*

Tapi di lubuk hati terdalam saya sangat ingin naskah saya diterbitkan disana. Itu dia makanya saya bahkan nggak pernah mengirim naskah yang sama ke penerbit lain. Saya bukan penulis yang butuh-duit-banget, karena toh saya punya pekerjaan yang lumayan. Saya adalah penulis yang menulis karena saya cinta menulis. Dan lagipula, ini naskah pertama saya. Masalah sejenis ini pastilah terjadi untuk setiap awalan. Bahkan saya termasuk beruntung, sampai umurnya yang hampir 10 bulan ini, naskah itu tidak ditolak.

Dan kemarin saya dapat SMS lagi dari penerbit, dengan note yang sama dengan telepon berbulan-bulan silam.

Saya tidak hendak berharap lebih, karena semakin hari saya semakin sadar bahwa berharap lebih sejatinya hanya akan berujung derita. Jadi saya hanya berharap, semoga kali ini nasib naskah itu lebih baik.

Oiya, naskah itu sebagian ada di blog ini, di tag ceritaalfa. Dan saya menamakan naskah itu dengan ‘alfa’, nama tokoh di naskah saya 🙂

Cinta Sejati (OST Habibie & Ainun)

Asli, sudah jarang mendengar lagu dengan kompleksitas lirik macam lagu ini. Iya, lagu yang kompleks tapi keren. Asli keren abis, mendengar pertama mungkin bikin bingung, tapi begitu lihat liriknya, cuma bisa bilang WOW.

🙂

Oke, berikut liriknya, hasil dari mencerna lagunya. *semoga bener*

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta

Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Pola lagunya juga mulai jarang digunakan di era lagu semakin instan masa kini.

Ya, pada intinya keren lah.. *typeless*

Welcome My February

Selamat datang kepada bulan Februari. Sebuah bulan yang padat 🙂

Beberapa agenda yang sudah pasti adalah:
2 – 3 Februari 2013 ke Palembang (DONE with ehmmm…)
8 Februari 2013 malam latihan terakhir koor lingkungan (direschedule ternyata.. ^_^)
9 Februari 2013 ngikut persiapan Kelas Inspirasi (\^o^/)
9 Februari 2013 malam (kalo terkejar) latihan terakhir koor lingkungan
10 Februari 2013 tugas koor lingkungan (grrrrr…..)
17 Februari 2013 diminta tolong ikut bakti sosial (sekalian refresh ilmu apoteker ^.^, tapi kok ya adoh bangettttttt, pasiennya banyak bangetttttt juga…)
20 Februari 2013 ngikut Kelas Inspirasi (AWESOME DAY!!!!)
23 Februari 2013 ngikut refleksi Kelas Inspirasi

Dan pekerjaan yang lagi berkejar-kejaran.

Semoga Tuhan memberkati jadwal saya. Sungguhpun kejutan besar kemarin adalah ketika nama saya masuk ke peserta Kelas Inspirasi. Nama saya ada di daftar yang sama dengan beberapa orang terkenal macam Chef Vindex dan Ikrar Nusa Bakti. Bahkan saya satu kelompok dengan Jubing Kristianto 🙂

Doakan saya ya! 😀

Hal-Hal yang Dilakukan Pelaku Cinta Diam-Diam

Fiuhhh, capek seharian training, jadi pengen menulis sesuatu. Pengennya nulis sesuatu yang cetar membal-membal (opo jal?). Gimana kalau ini saja ya, mengidentifikasi kelakuan para pelaku tindakan kriminal tingkat dewa pada diri sendiri, yakni cinta diam-diam.

Yeah, ini pasti jamak terjadi, dan pasti dialami oleh sebagian cowok atau cewek di dunia yang fana ini. Nah, berikut beberapa hal yang dilakukan pelaku cinta diam-diam.

Berselancar di linimasa, terutama di bagian foto

Sila berterima kasih kepada pencipta Friendster dan kemudian Facebook. Sebuah terobosan duniawi masa kini yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan potensi diri berupa narsis. Ya, sejak ada FS maka kita mengenal memajang foto di depan umum, tepatnya di halaman profil.

Para pelaku cinta diam-diam umumnya adalah orang yang dekat dengan sang target, jadi umumnya sudah berteman satu sama lain di linimasa. Efeknya? Kalau di FS dulu kan nggak seenaknya bisa intip foto orang. Demikian juga dengan pengaturan privasi di FB masa kini. Kalau sudah friend, maka bebaslah berselancar.

Maka satu hal yang dirindukan dari FS adalah kemampuan memberikan informasi, siapa yang melakukan aksi kepo pada sebuah akun. Hal ini ternyata disyukuri para pelaku cinta diam-diam karena bisa seenaknya memantengi halaman profil si gebetan tanpa khawatir ketahuan. Juga dengan seenaknya bisa membuka-buka segala macam foto, mulai pose menyamping, dari atas, pose melet, sampai pose BB BM (hasil tag toko handphone abal-abal). Dan tidak jarang juga orang yang sampai mengunduh foto-foto gebetannya dan menyimpannya dalam sebuah folder khusus.

Kasihan ya? *pukpuk*

Menyimpan SMS dari zaman batu, dan sesekali membacanya kembali

SMS yang rada-rada manis dari gebetan, meskipun itu sudah dikirimkan dari satu abad yang lalu, akan tetap disimpan. Bahkan ketika gonta ganti HP, SMS itu tetap ditransfer. Jadi jangan heran kalau di handphone android terbaru, masih ada SMS tertanggal 2004. Padahal ya isinya sih nggak manis-manis banget. Cuma bilang, “Makasih ya udah denger curhatku.”

Dan sepotong kalimat itu adalah bersifat abadi sepanjang masa bagi penganut cinta diam-diam. pelaku kriminal jenis ini akan membaca pesan singkat yang sudah tidak kontekstual tersebut ketika lagi ingat gebetannya yang dicintai secara diam-diam.

Sengaja datang ke kampus cuma buat ngelihat gebetan

Penganut cinta diam-diam akan menghafal jadwal kuliah gebetannya dan kemudian menyempatkan diri datang ke kampus, serta berada di posisi yang tepat untuk bisa sekadar melihat si gebetan.

Jadi kalau misalnya dia kuliah jam 3 sore, tapi si gebetan kuliah jam 7 pagi. Maka dari subuh, penganut cinta diam-diam sudah sampai di kampus kemudian pura-pura nongkrong dan pura-pura belajar yang tekun demi masa depan bangsa sambil matanya celingak-celinguk ke arah arus mahasiswa datang.

Lalu?

Pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan melihat dari kejauhan, si gebetan mendekat, lalu menjauh kembali karena mau ke kelas buat kuliah. Nah, segitu saja cukup kok. Kan namanya juga cinta diam-diam.

*pukpuk lagi*

Sengaja lewat depan kos-kosan gebetan

Ketika seorang pelaku cinta diam-diam kosnya dari kampus belok kanan 1000 langkah, dia bisa saja belok kiri dulu menuju kos-kosan gebetan. Momen ini umumnya terjadi ketika si pelaku tahu kalau gebetan kira-kira ada di kos-kosan atau tidak.

Tapi momen yang paling mendasar adalah ketika malam hari. Kenapa? Karena malam hari adalah jam apel anak kos-kosan. Pelaku cinta diam-diam akan mondar-mandir di depan kos-kosan gebetan sambil melihat orang yang bertamu ke kos-kosan gebetan tersebut. Kalau kebetulan yang ada disana adalah teman kosnya gebetan dengan pacarnya, maka pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan kembali ke kos-kosannya dan berteriak mengucap syukur.

Kalau kemudian yang ditemukan adalah gebetan sedang bersama lain jenis dalam posisi yang rada mesra, maka pelaku cinta diam-diam akan mencari racun tikus dan bergegas menuju pinggir jurang terdekat.

Melihat sepanjang waktu

Ada kalanya cinta diam-diam terbentuk karena 1 kelas atau 1 komunitas. Nah, ketika cinta itu muncul dan kebetulan ada aktivitas bersama, maka penganut ajaran cinta diam-diam akan memanfaatkan waktu ‘bersama’ itu sebaik-baiknya.

Sebaik mungkin, meskipun sebenarnya komunitasnya adalah senam jantung sehat dengan 1000 peserta. Seorang penganut cinta diam-diam memiliki kemampuan lebih untuk mencari celah-celah agar tetap bisa memandangi wajah gebetannya.

Lalu?

Ya sudah, gitu doang sih. Ketika kegiatan ‘bersama’ itu berakhir. Maka penganut cinta diam-diam akan kembali ke layar monitor, menatap galau pada foto-foto gebetan yang sudah sejak lama dia cintai secara diam-diam.

Berdoa tanpa berusaha

Kata pepatah Latin, Ora Et Labora, berdoa dan bekerja. Perkaranya, penganut ajaran cinta diam-diam memiliki kencenderungan untuk rajin berdoa tanpa kemudian meningkatkan usahanya lebih tinggi daripada level berharap.

Penganut cinta diam-diam akan membawa gebetan dalam doa-doa dan harapannya tapi kemudian tertunduk malu ketika berada di hadapan gebetan yang sejatinya sudah meraja di dalam hati.

Persoalannya sih cuma 1, tidak ada keberanian untuk berusaha. Terkadang penganut cinta diam-diam lebih berani untuk melakukan tindakan ekstrim semacam lompat dari pinggir bak mandi atau berenang di kolam ikan hias daripada menyatakan perasaan yang dipendam sambil diam-diam itu.

Cemburu lalu menerawang pasrah

Hal ini terjadi ketika gebetan dipastikan dan sudah dikonfirmasi telah memiliki pasangan. Ada rasa cemburu, meskipun itu sebenarnya cemburu yang patut dipertanyakan. Emang siapa dia sampai lo cemburu coy?

Nah karena kemudian disadarkan oleh pernyataan itu, maka penganut aliran cinta diam-diam akan segera mengerti kondisi. Dan tindakan yang berikutnya adalah membuka mata dan menatap hampa, semacam menerawang nasib yang buruk, untuk kemudian pasrah terhadap kenyataan hidup yang terkadang pahit itu.

Yah, sekian sedikit ulasan mengenai hal-hal yang dilakukan oleh pelaku cinta diam-diam. Semoga bisa menambah khasanah bercinta secara diam-diam.

 

Menguntai Cerita yang Tak Tersampaikan

Ini adalah hari-hari,
ketika aku menguntai kembali cerita
kumpulan kisah yang retak terpecah
dan lantas menjelma menjadi sebuah konotasi belaka.

Ini adalah hari-hari,
ketika setiap kata yang pernah terucap, dituliskan
saat setiap kata yang pernah tertulis, disalin kembali
membentuk kepingan retak sebuah kisah cinta.

unspoken

 

 

Ini adalah hari-hari,
ketika aku membangkitkan kembali sebuah harapan
meniadakan lagi sebuah penyangkalan
untuk kemudian kembali berlaku sama seperti sebelumnya.

Ini adalah hari-hari,
di kala aku mengerti sepenuhnya
bahwa yang kurasakan adalah harap semata
sejak dahulu hingga mungkin nanti.

Ini adalah hari-hari,
ketika aku membiarkan semua yang tidak terkatakan itu menyeruak
mengumpul dan teruntai menjadi sebuah kisah
jalinan kata yang bisa menyibak rasa.

Ini adalah hari-hari, ketika semua yang tidak sempat tersampaikan
akan tetap tidak tersampaikan.

Cara Memasang Video Youtube di Blog WordPress

Oke! Hari ini habis utik-utik upil sampai kemudian bisa memasang video Youtube di blog berbasis WordPress semacam ariesadhar.com ini.

Nah, caranya sederhana juga ternyata.

Pertama sekali buka Youtube dan cari video yang mau dipasang di postingan blog. Nah, alamat di youtube kan ada formatnya. Saya ambil contoh yang ini:

http:// www. youtube. com/ watch?v= MsGDuj5tnKE

Bagian sesudah “v=” adalah kode spesifik untuk video Youtube yang kita mau.

Kemudian masuk ke ‘add new post’ seperti biasa, tapi di bagian postingnya pilih tipe ‘TEXT’ jangan yang ‘VISUAL’. Sesudah masuk ke kotak tempat menulis kosong, masukkan kode berikut:

< p >< iframe width=420 height=315 src=http://www.youtube.com/embed/MsGDuj5tnKE  frameborder=0 allowfullscreen >< /iframe >< /p >

Kode yang saya blog itu bisa diganti-ganti sesuai alamat yang diinginkan oleh teman-teman semua. Oya, itu spasi-spasi di dekat tanda ‘<‘ dan ‘>’ silahkan dirapatkan ke karakter terdekat dulu ya.

Sesudah itu, bisa balik ke menu ‘Visual’ lalu mengisi posting lanjutannya. Lalu angka width dan height itu bisa diganti-ganti sesuka yang mau.

Jadi setelah dicoba, maka hasilnya begini:

Silahkan ditonton kalau mau. Karena ini blog saya, jadi suka-suka saya kan milih contoh? Hehehe.. Tapi cara simpelnya sih, copy aja link Youtube itu di postingan, kadang mau nongol kok.

Demikian! Semoga berkenan! 😀

Sato Sika

Oke, sebelumnya abaikan fakta bahwa BABI adalah makanan haram. Abaikan pula fakta bahwa susunan DNA babi punya kecenderungan mirip manusia sehingga konsumsi babi akan bertendensi kanibal. Abaikan pula fakta bahwa organ babi adalah organ yang lebih mudah diterima untuk transplantasi pada manusia. Abaikan juga fakta bahwa babi panggang itu enak.

Abaikan dulu semua, karena yang saya hendak bahas bukan soal BABI-nya, tapi tentang nama tempat penjualan babi olahan.

Di sebuah tempat di kawasan industri, saya melihat sebuah LAPO dengan nama yang unik, SATO SIKA.

Saya bersama dua orang Batak yang kemudian bertanya-tanya, apa sih arti nama itu? Secara kalau di Jogja namanya kan jelas, misal TAPIAN NAULI alias BANG UCOK. Branding Batak-nya jelas banget dengan istilah Batak yang digunakan. Lah, SATO SIKA apaan?

Sato itu kalau di F1 dikenal sebagai nama pembalap *itu Takuma Sato*
Sato itu di bahasa Minang artinya ikut serta *sato ciek* *ikut dong*

Lah Sika apaan?

Ya intinya, nggak maksud dengan nama itu.

Setelah ditanya, eh ternyata, nama itu mengandung makna Batak yang lebih dalam daripada penggunaan istilah Batak.

Apa emang?

SATO SIKA

Perhatikan bahwa istilah itu terdiri dari 8 huruf yang bisa dipecah 4 menjadi SA, TO, SI, dan KA.

Yang Batak beneran pasti mulai ngeh.

Ya, betul sekali. *apa coba*

SA diambil dari kata SAmosir
TO diambil dari kata TOba
SI diambil dari kata SImalungun
KA diambil dari kata KAro

Jadi, SATO SIKA itu mengakronimkan 4 ‘jenis’ Batak yang ada di dunia.

Buat saya itu unik, dan out of box terutama dalam memberi nama Lapo.

Thumbs up!

Payphone – Maroon 5

Lagunya cuma 3 menit 51 detik, tapi–ehm–lumayan dalam. Hehehe..

Oke, ini dia lirik lagu Payphone dari Maroon 5, dikutip dari SINI. Tapi kalau didengerin ada perbedaan antara STUPID dengan F*CKIN.. Hehehehehehe…

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong, where are the plans we made for two?

Yeah, I, I know it’s hard to remember
The people we used to be
It’s even harder to picture
That you’re not here next to me
You say it’s too late to make it
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down

I’ve wasted my nights
You turned out the lights
Now I’m paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I’ll be sick

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can’t expect me to be fine
I don’t expect you to care
I know I’ve said it before
But all of our bridges burned down

I’ve wasted my nights
You turned out the lights
Now I’m paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I’ll be sick

Now I’m at a payphone…

[Wiz Khalifa]
Man work that sh*t
I’ll be out spending all this money while you sitting round
Wondering why it wasn’t you who came up from nothing
Made it from the bottom
Now when you see me I’m stunning
And all of my cars start with the push up a button
Telling me the chances I blew up or whatever you call it
Switched the number to my phone
So you never could call it
Don’t need my name on my show
You can tell it I’m ballin’
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could’ve saw
But sad to say it’s over for
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now ask me who they want
So you can go and take that little piece of sh*t with you

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I’ll be sick

Now I’m at a payphone…

* * *

sumber: lijinx.blogspot.com
sumber: lijinx.blogspot.com

Dan, ehm, saya sangat tertarik pada lirik refrennya:

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I’ll be sick

Yah, begitulah cinta.. -____-“

Happy Reborn

Suatu hari di bulan Januari 2011–sepertinya di komputer mess–saya mengetik posting ini.

Kalau malas klik link-nya, saya tulis kembali disini:

Terima kasih kepada Mbah Google yang membawaku kembali ke dunia yang sangat kucintai ini. Berawal dari sekadar mengetik sebuah keyword, aku menemukan kembali sebuah blog yang penuh dengan kisah-kisah dan refleksi menarik. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari diriku.

Jadi, mari kita restart.

Ibarat komputer, ketika dia hang, maka langkah tercepat adalah melakukan restart. Dan segera ia akan kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

So, mulai hari ini, aku akan kembali!!

Semangat!!!

18 Januari 2011, dan sekarang 18 Januari 2013. Sudah 2 tahun pas kebangkitan kembali blog ariesadhar.wordpress.com, yang tiga hari silam saya migrasikan ke ariesadhar.com

2 tahun yang memberi makna bahwa saya bisa menulis tanpa henti (dengan record archive yang tidak ada bulan bolong). Semoga hal itu tetap bisa dipertahankan.

Dan semoga ada banyak hal yang bisa saya perbuat melalui dunia yang sangat saya cintai ini. 🙂

 

Bapak Millennial