Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Sebuah Jalan Tanpa Arah

Aku Repa, sebuah jalan tanpa arah.

Aku baru saja keluar dari sebuah rumah, tempat dimana aku cukup lama tinggal. Ya, sebenarnya waktu itu niatnya mau mampir, tapi ketiduran, jadi mampirnya agak lama. Nggak apa-apa. Ini mohon dimaklumi. Aku sebenarnya hendak menuju ke Hera di sebelah sana. Tapi selalu tampak sedang sibuk atau tidak mau diganggu. Aku belum sempat kontak dia sebenarnya, apakah dia mau ditemui atau tidak. Karena hanya tampak saja, jadi ya aku mampir dulu. Minum-minum lalu mabuk.

Ketika sudah sadar, aku bangun dan sesekali melihat ke luar jendela. Aku agak pusing, jadi belum berani keluar rumah. Kebanyakan minum tuak soalnya. Di jendela, aku masih menemukan hati yang di sebelah sana itu. Masih sibuk juga dia. Jadi biarlah aku tinggal dulu sebentar.

Hmmm.. Tapi lama-lama waktu mendesakku untuk menuju ke Hera yang ada disana. Ya sudah, aku keluar dari rumah, lalu beranjak. Karena aku nggak bayar, jadi aku nggak boleh menginap lagi di rumah itu. Nggak apa-apalah, aku sudah sadar ini.

Bukan hal yang mudah ternyata. Hera masih sendiri dengan rumah terbuka. Tapi di papan yang nangkring di depan tempat tinggalnya tertulis “sedang menunggu”. Wah, payah juga ini. Ini menunggu siapa, dan kapan aku bisa masuk menemui Hera. Mau nunggu sampai kapan aku disini? Padahal aku sudah nggak nginap di rumah itu lagi loh.

Baiklah, aku tunggu deh. Kalau memang kelamaan, aku duluin saja. Kelamaan menunggu itu nggak baik, tapi tanpa menunggu itu juga sama tidak baiknya.

Dan ini hari ke dua ribu aku menanti, dalam panas dan hujan, dalam siang dan malam. Berharap papan “sedang menunggu” itu bisa dilepas.

Baiklah, aku akan terus menanti.

Perspektif Wanita Menikah

“Kamu harus belajar masak, baru pantes nikah,” kata Ibu.

Dan kalimat yang sama selalu berulang setiap kali Nora pergi ke dapur dan mengambil makanan. Selalu berulang, saking seringnya, kadang Nora sudah membaca kalimat itu sendiri sebelum Ibu mengutarakannya.

“Memangnya kalau nggak bisa masak, nggak pantes nikah?”

“Ya nggak to nduk. Wanita itu hakikatnya memasak itu.”

“Lha, mamang nasi goreng?”

“Jangan pandang secara sempit nduk. Coba deh kamu pahami filosofi memasak,” jawab Ibu, bijak.

Bahhh.. apa pula ini?

Nora membawa kalimat Ibu ke kantor. Diantara wanita-wanita galau, Nora mencurahkan isu yang dibawanya dari dapur rumah itu.

“Temans, memangnya cewek kalau mau nikah kudu bisa masak ya?” tanya Nora, dengan mata tetap di layar komputer.

“Nggak bener itu. Aku nggak bisa masak, terbukti bisa nikah,” sahut Dini dengan bersemangat.

“Lha ini yang bisa masak, nggak nikah-nikah,” timpal Fiona dengan muka bertambah galau.

“Terus kok nyokap bilang begitu ya?” gumam Nora setelah mendapat input-input yang tidak tervalidasi dari teman-temannya.

Sepulang kantor, Nora berjalan kaki ke warung sea food depan kantor. Yah, depan sih, tapi kudu nyebrang. Dan ini JAKARTA bung. Penyebrangan jalan saja ada sertifikatnya, saking susahnya nyebrang.

Nora menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses memasak dari awal. Mulai dari memanaskan wajan, memasukkan bahan-bahan, mengaduk dan mencampur dengan sepenuh hati, menata makanan yang dipesan ke dalam piring, hingga menyajikannya ke pelanggan.

“Filosofi? Apa ya?”

Nora berjalan terus sambil merenung. Entah kenapa sekali ini dia serius berpikir soal filosofi, biasanya mendengar kata itu saja dia sudah pingsan. Maklum, otaknya agak kurang sampai kalau yang berat-berat begini.

Dan benarlah memang otaknya nggak sampai. Tangannya kemudian menggapai BBnya dan masuk ke twitter.

@M_A RT @Filosofi: hidup itu seperti memasak, mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat.

Ups?

Memasak itu mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat? Sepele sekali?

“Ibu bener juga,” gumam Nora lagi, “Memasak itu soal mencampur berbagai hal dalam hidup dan membuatnya nikmat. Yupp.. menikah kan soal percampuran berbagai hal. Hahahaha…”

Nora tertawa di jalan, seorang gembel berlari, takut orang gila lewat katanya.

“Baiklah..,” bisik Nora lagi, “Filosofi sudah ditemukan. Sekarang bagian paling penting, mari mencari calonnya..”

Dan Nora masih tersenyum. Karena senyum bisa bermakna sebuah awal.

Seulas Senyum

pablo (2)

NSP! Wah, masih musim nggak tuh? Sejak pencurian pulsa yang marak dilakukan sama provider kaya raya, NSP mendadak distop! Ah, ini mah menggalaukan saja. Bagaimana mungkin NSP dihilangkan? Bagaimana pula nanti aku akan digunakan kalau NSP mati. Bayangkanlah, kalah NSP ditiadakan, maka aku akan jarang-jarang ditelepon. Dan aku juga akan jarang-jarang membunyikan nada dering.

Yah, NSP yang ada padaku dan nada dering yang tertanam padaku, sama persis.

Awalnya aku menganggap ini hanya praktek mellow seorang pemilik handphone. Tapi ternyata lama-kelamaan aku memaknai lagu itu. So sweet lah untuk didengarkan dan so sulit untuk dinyanyikan.

Aku hanyalah seonggok handphone yang so jadul alias cukup jadul. Jangan panggil aku tua. Aku memang masih candy bar, tapi jangan salah, kekuatanku lebih dahsyat daripada pegangan generasi terbaru. Apa itu? Ah, BB.. Coba celup dalam kopi, habis itu BB. Sama apalagi itu? Android? Sama aja.

Mana ada handphone sepertiku, tahan jatuh dari ketinggian 5 meter, pernah masuk gelas teh, pernah dipakai melempar anjing waktu pemilikku ketakutan.

Aku hanya seonggok handphone yang diam pada zaman. Dulu aku adalah handphone paling tipis yang pernah ada. Ingat, paling tipis! Tolong jangan keras-keras waktu bilang DULU. Agak menyakitkan hati.

Tapi karena aku berasal dari masa lalu, aku sangat paham tentang masa. Akulah saksi ketika pacar pertama pemilikku mentransfer fotonya dengan bluetooth. Yak, fitur paling canggih padaku, memang bluetooth, gigi biru. Belum ada BBM atau Whatsapp tertanam padaku. Waktu itu? Pasti kalian juga belum mikir. Waktu itu akulah yang terhebat.

Aku juga saksi ketika pesan singkat masih merajalela. Aku terlalu panas untuk selalu meladeni pesan singkat yang bertubi-tubi masuk. Tapi aku kuat, mana pernah aku hang? Ah, nggak mungkin itu. Aku handphone kuat.

Aku juga saksi ditindih oleh pemilikku ketika dia baru putus dengan pacarnya. Orang sinting! Ketika sakit dan sedang nggak perlu handphone aku dibiarkannya terselip diantara dua belah springbed. Ketika butuh, sambil nangis-nangis dia mohon aku tiba-tiba muncul di permukaan.

Tapi tak apa. Aku menikmati detail peristiwa pemilikku. Tidak ada yang mengenalnya sedalam aku.

Karena aku pula yang menyimpan semua pesan singkat tentang cintanya yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun. Handphone-handphone terkini, ayo sini, memangnya di memorimu ada pesan singkat dari 5 tahun silam? Mana ada! Hanya aku yang punya.

Akulah saksi ketika pemilikku dengan seulas senyum, sesekali membaca kembali pesan-pesan singkat yang masih ada di handphoneku. Baginya, lebih baik beli handphone baru alih-alih menghapus pesan-pesan itu. No! Itulah pesan cinta yang sebenarnya.

Pesan cinta yang tidak terungkap.
Pesan cinta yang terus menerus terlampaui masa.
Pesan cinta yang tidak eksplisit.
Pesan cinta yang hanya dimaknai dengan seulas senyum.
Pesan cinta yang meninggalkan luka, bahwa cinta tak harus dimiliki.
Pesan cinta yang terwujud dengan bebas.

Dan hanya aku yang mengerti makna senyum itu.

Karena senyumpun dapat bermakna tangis.

 

Tampannya Mantanmu

Pendekatan adalah bagian cukup sulit dalam mencari jodoh, bagian yang agak sulit itu melakukan rekonfirmasi alias nembak, dan bagian paling sulit adalah mempertahankannya. Nah, karena sama-sama SULIT, maka mencari jodoh itu tampak penuh warna. Apalagi untuk Rio yang dikejar target kudu punya cewek.

Siapa yang kasih target?

Nggak ada sih. Cuma, menurut Rio, nggak wajar kalau kemudian memperkenalkan diri begini:
Nama: Rio Adam
Status: Jomblo sejak lahir

Astaga! Ini sudah mendekati usia 25. Dan dalam waktu dekat, Rio akan merayakan PESTA PERAK JOMBLO, alias 25 tahun menjomblo pada usia 25 tahun. Artinya lagi, Rio akan diketahui sebagai cowok yang belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Mengganggu, ya tidak juga. Tapi ketika hormon lagi tinggi, melihat pasangan pacaran peluk-pelukan di atas motor waktu lampu merah sudah cukup meningkatkan tensi. Entahlah, apakah punya itu suatu keharusan?

Rio punya standar yang tinggi. Kalau Rio mau, pasti dengan mudah dia memperoleh cewek. Ya tinggal bilang sama bude-budenya, pasti bisa dikenalin sama kembang desa. Bayangkan, kembang desa loh ini. Fisik? Pasti oke. Otak? Bagaimanapun, manusia itu punya otak, dan itu bisa diisi dengan belajar.

Masalah paling mendasar adalah spesifikasi material eh pasangan hidup Rio itu rada ribet. Harus dari suku tertentu, nggak enak ngomongnya, nanti dikira saru eh SARA. Harus usia sekian, harus tampang demikian. Dan spesifikasi lain yang ketinggian untuk dipasangkan dengan muka pas-pasan ala Rio.

Yah, pas-pasan pokoknya. Pas orang mau gampar, ya bisa, saking mukanya Rio itu MARMOS alias marai emosi alias melihat aja sudah bisa bikin emosi. Belum lagi kalau pas di mall, karena mukanya itu, paling mentok Rio hanya ditawarin es krim, padahal pernah 2 jam ngubek-ubek pameran mobil, ditawarin brosur saja nggak. Malah satpam mengikuti sepanjang waktu. Yah,PALING alias tampang maling. Bayangkan seorang cowok dengan tampilan PALING MARMOS, tampang maling marai emosi. Kayak gitu aja spesifikasi minta tinggi. Ngawur! Dari sisi tampang, Rio ini ibarat bumi dan langit sama cowok paling tampan sekantornya, Sammy. Meski tidak pakai marga Simorangkir, tapi Sammy yang ini tampannya memadai. Saking memadainya, ketika melihat Sammy dan kemudian melihat Rio, 80% orang akan muntah dengan segera, 10% lain akan masuk UGD, dan 10% lainnya kehabisan napas. Shock.

Hasil penelusuran Rio, dengan bantuan rombongannya yang rata-rata sudah berpacar, rekomendasi mengarah pada staf di kantor seberang, namanya Dina. Nama klasik, kayak Dina Rahman. Ada ya?

Pengalaman sebagai cowok dengan riwayat pendekatan memadai, membuat naluri detektif Rio cukup terasah. Maka dengan mudah, Rio bisa mengetahui tentang Dina. Tanggal lahir, nomor telepon, alamat rumah, pekerjaan orang tua, hingga riwayat percintaan orang tua Dina. Sungguh sesuatu, begitu kata Syahroni.

Cuma ya itu tadi, namanya juga pengalaman pendekatan, berhubung belum ada yang berhasil, jadi tidak ada yang paham guna data-data itu tadi.

Menunggu bus adalah pekerjaan paling menarik bagi Rio beberapa hari belakangan. Kupingnya bagaikan penangkap sensor. Harap maklum karena kantor seberangpun kalau nunggu bus di halte yang sama dengan anak-anak kantor Rio, dan tentunya Rio juga. Makanya, sedikit diksi Dian terlontar, telinga Rio akan mendekat ke arah pembicaraan lalu kembali lagi setelah pembicaraan usai. Pernah sekali telinganya kebawa bus karena pembicaraan belum selesai.

“Iya tuh.. Si Dina kan masih single. Kebanyakan milih dia mah…” kata cewek yang tampan.

Single? Wah, peluang!

“Padahal ya cyinnnn… mantannya gantenggg boooo…” timpal cowok yang kemayu.

Yah, dunia memang mudah berotasi. Bahkan jenis kelamin kadang ikut berotasi juga.

“Setampan apa sih?” gumam Rio. Apakah cukup tampan atau pas tampan, atau pas-pasan dan tidak tampan macam dia?

Maka informasi ini kemudian dibawanya sampai jauh, akhirnya ke laut. Pelan-pelan komunikasinya dengan Dina mulai dijalin. BBM mulai dilancarkan, meski terkadang tanpa balasan. Itu biasa dalam pendekatan. Tapi tidak biasa dalam hubungan.

“Soreeeee.. Mendung nih.. Pulang?”

Send. Sebuah pesan Whatsapp disampaikan, paket BBM lagi habis. Harap maklum. Ini tanggal tua, saking tuanya, si tanggal sampai ubanan.

“Belum ah.. Nanti aja..”

Pesan-pesan mulai saling berbalas antara Rio dan Dina. Terus menerus, sampai mentari terbenam, sampai OB mengantarkan makanan ke meja masing-masing, sampai keduanya makan bersama. Ya sama-sama makan, di kantor yang berbeda. Anggaplah penjajakan untuk makan bersama.

Pesan berjalan sampai yang agak pribadi.

“Sudah berapa kali pacaran sih?” tanya Rio iseng.

“Sekali doang. Kamu?”

“Saya sih sudah sering. Sering ditolak.”

“Wah, kasihan. Mukanya nggak memadai ya?”

Asem. Pikir Rio. “Mantannya anak mana Din?”

“Nggak jauh-jauh. Itu ada di kantor kamu.”

Lho? Taring kepo mulai keluar. Kepo adalah penyakit berbahaya yang kadang-kadang perlu digunakan, sesekali.

“Siapa?”

“Yakin mau tahu?”

“Yakin! Siapa sih? Mau ngetes aja, siapa tahu saya menang ganteng.”

“Sammy.”

Upssss…. Dina ini mantannya si Sammy? Dan dia baru sekali pacaran? Artinya, kalau nanti Rio jadian sama Dina, maka pertanyaan dari teman-teman yang mungkin terjadi adalah, “Kok nggak seganteng yang kemarin?” atau “Ini dapat peliharaan darimana?”

“Mantanmu terlalu tampan Din. Aku tak cari yang lain sajalah,” gumam Rio, sambil menutup laptopnya dan bergegas pulang.

Beginilah Pria, Beginilah Wanita

Yona masih terjaga, tapi kantong matanya jelas memperlihatkan bahwa dia sudah ngantuk, sangat ngantuk malah. LCD TV sesekali sudah menonton Yona yang terkapar di sofa. Hari sudah jam 11 malam, Yona masih disitu, tidak ke tempat tidur. Yah, teman untuk tidur bersamanya masih belum sampai di rumah. Alan masih belum bersamanya di rumah.

“Aku nggak suka kamu pulang malam. Kamu masih ingat aku nggak? Masih ingat rumah nggak?” Yona mengingat perkataannya, marah tentunya. Dan itu belum lama. Baru tadi pagi, jam 1. Dan belum 24 jam, Alan kembali mengulangi hal yang sama.

“Aku kan nggak main, aku nggak selingkuh, aku nggak mampir-mampir. Aku kerja, sayang,” kilah Alan.

“Justru! Kalau kamu main dan bukan kerja, aku nggak marah. Kamu nggak ingat kesehatan kamu?”

Alan diam saja, melepas kemeja, dan segera pergi mandi.

Ini bukan pertengkaran yang pertama. Mungkin bulan ini sudah yang ketujuh belas. Kebetulan ini sudah tanggal 30. Hanya ada 13 hari tanpa marah-marah. Dan 8 diantaranya Sabtu-Minggu. Jadi, sebulan ini, Alan pulang tepat waktu 5 kali. Ya! Hanya 5 kali.

“Apa aku perlu telepon bos kamu?” teriak Yona pada Alan yang masih di kamar mandi.

“Woooo.. jangan dong sayang..”

“Jadi besok pulang on time?”

“Diusahakan…”

Yah, jawaban paling diplomatis dari seorang pria. Pria ya begitu itu, janji melulu, akan diusahakan. Paling mentok tahan seminggu, sisanya? Ya kayak biasa lagi.

* * *

Alan memacu mobilnya dengan kencang. Jalan tol di malam hari dapat didefinisikan sebagai jalan bebas hambatan yang sebenarnya. Dan ini sudah jam 11 malam. Hari ini banyak meeting. Ada demo, pekerjaan stop, sehingga Alan perlu mengatur jadwal pengiriman dan seabrek pengaturan lainnya. Resiko jadi Manager PPIC.

“Yona pasti marah lagi..” gumam Alan seraya menginjak gas lebih dalam. Matanya sesekali melihat ke BB yang terletak di dashboard mobil. Tidak ada balasan BBM dari Yona. Bahkan Yona yang biasanya rajin menelepon, kali ini nggak melakukan hal itu.

“Padahal aku kan sudah bilang, aku kerja. Kalau mau lanjut, bisa banget. Rugi juga selalu menolak ajakan Pak Weksa. Huhhhhh.. Dasar wanita!” Alan membanting tangannya pelan ke setir.

Sebenarnya Alan juga sudah berusaha pulang cepat. Kesalahannya hari ini adalah pamit ke bos. Kalau saja jam 5 tadi dia langsung hilang dari meja, pasti tidak akan ada meeting jam 5 sore. Dan bos selalu begitu. Meeting jam 5 sore, data harus dapat besok, pagi pula. Ini mah sama saja meminta anak buahnya lembur.

“Panggilan.. Jalani ajah..” bisik Alan lagi, persis ketika dia selesai membayar tol di pintu keluar.

* * *

Deru mobil terdengar dari luar. Yona terjaga. Bantingan pintu Alan menjadi penanda alami bahwa yang di depan itu Alan. Lagipula, mana ada tamu nongol jam setengah 12 malam, kalau bukan emergency atau maling.

“Sayang….,” kata Alan sambil mengetuk pintu.

Yona beringsut dari sofa. Bangkit dan berjalan gontai menuju pintu rumah, lalu membuka pintu dan berkata, “Jam berapa ini?”

“Kan aku udah SMS kalau meeting sayang..”

“Kamu ingat tadi pagi ngomong apa? Belum 24 jam Alan!”

“Tapi aku kan…”

“Tapi aku kan kerja, nggak mampir, nggak main? Basi kali. Aku udah bosen dengernya..”

“Kalau kenyataannya begitu?”

“Terserahhhh…”

Yona mengusap matanya, mau nangis. Setiap kali marah begini, capek juga. Alan pun demikian, setiap kali pulang, bukannya disambut manis, malah dimarahin terus.

Maka dua insan yang sejatinya saling mencinta itu diam. Emosi tinggi dan fakta bahwa ini sudah malam membuat mereka diam satu sama lain.

Sampai 48 jam kemudian.

“Sayang…,” Alan datang ke rumah tepat waktu. Jam 6 sore. Ini termasuk keajaiban dunia ke delapan.

Sepi.

Alan membuka pintu dengan kunci yang dia punya. Bingkisan besar yang dia bawa membuatnya agak sulit bergerak. Surprise untuk Yona mungkin obat mujarab untuk tidak tidur dengan batu. Bayangkan 2 malam tidur hening, meski ada orang di sebelahnya.

Alan beringsut pelan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.

Alan bingung, pergi kemana istri tercintanya.

Tujuan akhir dari langkah Alan adalah di kamarnya. Aneh, pintu terkunci, dari dalam.

“Sayang…,” ketuk Alan, “Aku pulang cepet nih…”

Tidak ada jawaban.

Ketukan ke dua.

Masih tidak ada jawaban.

Ketiga kali mengetuk.

Masih tak terjawab.

Alan memilih mundur, meletakkan bungkusan yang dia bawa di sofa. Lalu kemudian terkapar di sofa yang lainnya.

Lima detik setelah Alan kabur ke alam mimpi, Yona membuka pintu.

“Cintaaa… katanya uda pulang?”

Hening.

Kamar mereka berdua sudah selesai dihias. Manis sekali. Yona ingin rekonsiliasi malam ini. Daripada masuk ke hari 3 tidur dengan guling hidup yang kali ini tidak bisa dipeluk dan memeluk.

“Cintaaaa…”

Masih hening.

Tanpa jawaban, Yona pun mengintip ke ruang tamu. Hanya tampak Alan yang tertidur mangap di sofa. Yona berbalik malas. Pulang cepat, buat tidur, ngapain itu?

Tambah panas, Yona pun kembali ke kamar yang sudah dihias manis, dan memilih untuk tidur saja.

Maka ini malam ketiga.

Pagi buta, Alan terbangun. Tidur di sofa membuatnya agak pegal. Dia berjalan ke kamar, dan kamar itu terbuka.

Dekorasi indah, ranjang penuh bunga, dan wangi semerbak ada di ruangan itu. Sebuah tulisan di meja rias Yona, “Maaf ya Cinta.. Aku marah karena aku sayang kamu.. Itu saja kok.. Luv U..”

Alan tersenyum simpul. Mendadak dia enggan membangunkan Yona.

“Biarin deh..”

Alan lantas berangkat mandi dan kemudian pergi ke kantor, seperti biasanya.

Suara deru mobil yang meninggalkan carport membangunkan Yona. Sudah 12 jam dia tidur. Mungkin terlalu lelah seminggu ini menunggu Alan pulang malam.

“Cintaaa..”

Masih hening.

Yona mengintip lagi ke ruang tamu. Tidak ada siapapun, kecuali sebuah bungkusan dengan tulisan “I’m Sorry and I Love You”.

Yona membuka bungkusan itu. Sebuah album foto lengkap dengan puisi. Mana foto-foto jaman pacaran pula. Yona mendadak galau maksimal.

Bahwa pria demikian dan wanita juga demikian. Keduanya sama, saling mencintai. Bahwa perspektif mencintai itu berbeda, wajar. Beginilah Alan danYona, keduanya tetaplah insan yang saling mencinta, meski marah. Karena marah pun tidak lain karena cinta. Beginilah Alan, beginilah Yona.

Yona memeluk album foto dan puisi tersebut.

Alan memasang ucapan Yona di buku agendanya.

Mereka tetap saling mencinta.

 

Berbeda Itu Berbeda

Aku.

Kata orang aku ini terlalu tinggi kriterianya. “Si Lyana itu sok banget sih. Cakep kagak, standarnya tinggi banget,” begitu kata orang-orang yang mengetahui syaratku mencari pasangan.

Yah, katanya orang juga, banyak yang suka sama aku. Walaupun aku sendiri hampa cinta. Betul deh. Hampa bener aku ini. Sehampa pempek beringin yang dibungkus vakum. Dan pempek itu tahan lama. Persis seperti kehampaanku, tahan lama juga. Lama sekali sejak aku dan Bang Fano, kakak kelasku di kuliah dulu, sama-sama suka, bertahun-tahun lamanya, tapi tidak terungkap satu sama lain.

Syaratku sebenarnya cuma dua, aku tidak mau punya brondong plus aku mau yang seiman. Itu saja kok dan itu sebenarnya sudah ada pada pria tadi.

“Ya kalau mau yang seiman, yang sejenis sama kamu banyak kok. Banyak juga yang lebih tua dari kamu,” kata orang-orang dari golongan yang sama dengan yang menyebut standarku ketinggian.

Ah, persetan! Buat apa mereka mengurusi hidupku? Bahkan mereka bukan bagian dari orang-orang yang membuatku hidup. Kalau menghidupi, hmmm, sejauh aku tahu, owner dari perusahaan ini tidak ada yang mengomentari statusku. Jadi mereka yang ngomong itu sama sekali tidak menghidupiku.

Jadi buat apa aku urusi?

Bahwa cinta itu unik, aku paham benar. Terutama ketika aku mengenal Dino. Namanya mirip birokrat. Caranya mendekatiku juga persis birokrat. Lobi sana, lobi sini, sehingga perlahan aku luluh.

Dia pun lebih tua dari aku.

Masalahnya cuma 1: kita mempercayai Tuhan yang sama, dengan cara yang berbeda. Dan buatku itu selalu menjadi masalah besar. Besar sekali.

Bagiku setiap agama itu baik, dan agamaku paling baik. Bukankah harusnya begitu? Bolehlah aku disebut pluralis bahwa menyebut setiap agama itu baik. Tapi kalau agama-agama nggak baik, menurutku namanya bukan agama! Perkara, agama kita yang paling baik, nah.. itu dia mengapa sampai sekarang kita memegang agama itu.

Dan begitulah aku dan Dino masih memegang teguh kepercayaan kami masing-masing.

Aku dan Dino.

Yah, romantis memang iya. Meski Dino sama sekali tidak pernah menembakku, apalagi aku melakukan itu, amit-amit. Kami malam minggu bersama. Berlibur bersama ke Ancol. BBM sepanjang hari. Kadang dia menjemputku disela kemacetan Sudirman.

Sudah semacam suami istri saja.

“Eh, lu sama Dino mo nikah kapan?” tanya  Anita, tablemate-ku, suatu siang sebelum meeting.

“Heh? Gue kan belum punya calon. Dino mah temen doang, Nit.”

“Temen, tapi jemput tiap hari? Temen apaan tuh, Ly?”

Aku diam saja. Dipikir-pikir, hubungan aku dan Dino memang sudah cukup dekat. Fakta bahwa aku dan Dino berbeda tidak bisa menutupi keinginanku untuk tetap dekat dengan Dino, sepanjang hari.

Sore hari tiba. Meeting hari ini melelahkan. Aku kadang nggak habis pikir bagaimana meeting ini bisa membuatku menerima uang dalam jumlah lumayan di rekeningku setiap akhir bulan. Sementara, di luar sana, orang dengan panas hujan jualan bakso, dan tidak mendapat uang di rekeningnya setiap akhir bulan.

Sekadar berpikir galau saja.

Dino datang menjemputku, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, kalau tidak macet, ya tidak Jakarta. Di tengah kemacetan di jalan bebas hambatan yang tiba-tiba berubah nama menjadi jalan penuh hambatan ini, aku dan Dino terjebak.

Macet!

“Eh Ly, aku ditanyain nyokap tuh.. kapan kawin..” cetus Dino di tengah kemacetan.

“Ya makanya nyari dong..”

“Susah nyari yang klop di hati, Ly.”

“Masak nggak ada?”

“Ada sih..”

“Nah itu ada, siapa Din?”

“……”

Hening. Mobil Dino merayap bak kura-kura ngesot. Beginilah Jakarta.

“Kamu.”

Aku tersentak kaget, “aku?”

“Ya, kamu yang klop di hati Ly.”

“Dino, bukankah kita berbeda?”

“Apakah perbedaan harus membuat kita tidak bersatu?”

“Beda itu aneh Dino. Okelah, kita mungkin sama dalam banyak hal. Tapi kita berbeda untuk hal itu. Aku nggak mungkin mengkhianatinya. Sekarang, misalnya aku atau kamu bersatu dan harus ada yang mengalah. Coba pikir. Kalau, aku yang baru kenal kamu beberapa bulan ini sudah bisa meninggalkan sesuatu yang aku percaya dari kecil, bukankah aku juga bisa meninggalkan kamu suatu saat. Begitu kan?”

“Mungkin kita bersatu dalam perbedaan itu, Ly.”

Hening (lagi).

Berbeda itu beda. Menanggapi perbedaan tidaklah bisa dari perspektif yang sama. Aku beda dengan kamu, beda dengan dia, beda pula dengan mereka. Cara pandang perbedaan itu berbeda satu sama lain. Dan berbeda itu adalah hak orang. Kalau aku memandang dan menyikapi perbedaan dengan cara ini, tentu tidak salah. Pun, kalau kamu, dia, atau mereka menyikapi perbedaan dengan caramu, caranya, atau cara mereka, itu juga tidak salah kan?

“Berbeda itu beda Din. Caramu dan caraku memandang perbedaan saja sudah beda. Itulah perbedaan terbesar diantara kita, bukan soal kepercayaan kita,” jelasku, “baiklah kita tetap berteman saja.”

“Oke, Ly. Mungkin aku perlu lebih banyak memahami soal perbedaan.”

Jalanan di depan sudah berubah menjadi parkiran. Yah, kami masuk ke dalam tol, membayar mahal, hanya untuk parkir. Ya! Parkir alias berhenti. Lagi-lagi, itulah Jakarta.

“Kamu lihat di depan Din. Tidak semua orang sama dalam menyikapi tempat parkir ini. Pasti banyak orang yang marah-marah, banting setir, teriak-teriak, dan ada pula yang kalem mendengarkan musik. Begitulah. Perbedaan adalah kekayaan, tapi bagaimanapun pasti ada yang sama,” uraiku, “dan kamu pasti menemukan orang yang punya kesamaan denganmu. Pun dengan aku.”

Hening kembali. Hanya suara klakson bersahutan.

Perjalanan penuh keheningan ini berlanjut, sampai Dino menurunkanku di depan kompleks perumahan tempat aku tinggal.

“Oke Ly. Terima kasih sudah mengajariku soal perbedaan ya.. You’re truly nice friend.”

“Kamu juga Din. Semangat! Hehehe.. Be careful..”

“Oke.. Duluan ya..”

Dan Dino berlalu dari hadapanku.

Langkah gontaiku khas setiap kali pulang bekerja. Tapi inilah hidup. Kalau tidak begini, aku tidak akan menikmati rumah hasil jerih payahku ini. Ini KPR 15 tahun yang baru selesai 3 bulan. Masih jauh sekali.

Sesosok pria berdiri di pintu rumahku. Ada tamu rupanya. Membawa bunga pula. Sejak kapan aku pesan bunga?

“Cari siapa ya?” tanyaku sambil mendekati pintu. Rumahku di dalam cluster sehingga tidak ada pagar sama sekali.

Pria itu berbalik, dan aku terkejut.

“Lyana?”

“Bang Fano?”

“Apa kabar? Akhirnya ketemu juga rumahmu. Nyarinya bertahun-tahun lo Ly. Hehehe.. Aku cuma mau bayar hutang.”

“Hutang apa bang?”

“Aku hutang perkataan. Dari dulu seharusnya aku bilang ini. Dari 6 tahun yang lalu. Aku cinta kamu Ly.”

Dan pria ini, tanpa tahu apakah aku masih sendiri, tanpa aku tahu apakah dia juga masih sendiri, tanpa tahu isi hatiku, tanpa informasi apapun. Pria itu tiba-tiba masuk ke hatiku dengan cara yang berbeda.

Dia kembali dengan cara berbeda. Tapi hatiku tidak berbeda.

PS: tulisan ini hanya perspektif penulis saja, bagaimanapun berbeda pendapat itu wajar dan diperbolehkan kan? Terima kasih…

Buku Pinjaman

‘Lagi baca apa sekarang?’

Getar aplikasi percakapan Whatsapp secara otomatis menggerakkan tangan Dila. Tampak nama Mora disana. Dila melepaskan tangannya dari buku Heart Emergency yang baru dia baca, dan segera memainkan layar sentuh di ponsel pintarnya.

‘Heart emergency. Punya Falla Adinda. Dokter muda, bagus lo. Rekomen. Kamu?’

Send.

Tidak berapa lama, pesan berbalas.

‘Masih 2 cm, belum abis-abis dari kemarin’

Dila ngakak sejadi-jadinya. Sampai kecoa yang lagi ngumpet di balik lemari ngintip, siapa tahu bisa ikutan ketawa.

‘2 cm? ini terusannya 5 cm apa?’

‘Iya, yang buknya merah tebel itu’

‘Itu mah judulnya 2 kaleeee masbrowwww’

‘Smiley’

Emoticon adalah salah satu metode pengakhiran percakapan. Seseorang yang menulis emoticon bisa jadi sudah kehabisan kata-kata untuk meneruskan percakapan. Jadi, biasanya, kalau ada percakapan dengan emoticon, abaikan saja.

‘Tapi aku masih ada yang baru nih’

Ponsel pintar Dila kembali bergetar. Tampak lagi nama Mora disana. Ternyata dia belum selesai. Nah, biasanya kalau yang seperti ini, berharap emoticon ditanggapi, tapi karena tiada tanggapan, terpaksa memulai percakapan baru lagi.

‘apaan?’

‘Banyak. Ini ada Manusia Setengah Salmon, ada Perahu Kertas, ada Madre, ada 9 Summer 10 Autumn jugak’

‘Weehhhh.. boleh-boleh.. Jualan buku pak? wkwkwk..’

‘Pecinta buku ya kayak gitu tante’

‘Kalau cinta buku ya dibaca dong. Kalau nggak mau sini tak baca.’

‘Boleh.. Mau yang mana?’

‘MSS aja Mor. Sekalian ngelanjutin Marmut Merah Jambu kemarin.’

‘Boleh-boleh. Tak antar? Ini kayak perpus keliling yak? Hahaha..’

‘Kalau tidak merepotkan :)’

‘OK. Nanti dikabarin. Sip.’

‘Sip’

Whatsapp sudah diam kembali. Dila pun kembali memelototi halaman demi halaman Heart Emergency. Nyata ya, putus setelah 4,5 tahun berhubungan itu nggak mudah.

Membaca buku sore-sore itu ada tidak bagusnya. Karena kemudian, persis dengan buku masih di tangan, Dila malah memejamkan matanya. Mungkin menjiwai cerita pahit manisnya Falla.

Rrrtttttt….

Getaran ponsel pintar membangunkan Dila.

10 pesan baru. Masih dari nama Mora.

‘Oi tante…’

‘PING!’

‘PING lagi!’

‘Buzzzz’

‘Jiaahhhh…’

‘Mesti bobo yakkkk..’

‘Jadi dianterin bukunya?’

‘Nanti jam 7 aku kesana’

‘Halowwwww’

‘Tantee….’

Dila langsung melek. Merasa bersalah sama perpus keliling yang mau delivery buku ini.

‘Siappppp.. Silahkan datang jam 7. Oke.. Oke.. Maap, baru menikmati hidup.. hehe’

‘Noted. Ah, tante ngantukan wkwkwk..’

“Dilaaaaaaa… ada yang nyariin tuhhh…” teriak Tere dari luar.

“Siapaaaa?” Dila berteriak balik.

Maka jadilah kos-kosan itu seperti hutan belantara, ketika monyet-monyet berteriak satu sama lain saling memanggil.

Dila membuka pintu kamarnya, menapak turun ke teras, masih dengan muka bantal.

“Eh, Don, ngapain kesini?”

“Biasaa.. Mo curhat.. Nggak mo pergi kan? Dari mukanya sih kelihatan abis pulang dari alam mimpi.”

“Ngeceee… nggak sih, di kos aja.”

Doni dan Dila adalah saudara sepupu yang kebetulan satu kampus sehingga kos di daerah dekat-dekat kampus juga. Dan sebagai saudara yang akrab, curhat adalah salah satu kebiasaan mereka. Apalagi mereka adalah tipe-tipe manusia galau dan labil yang butuh pencerahan. Bagaimana rasanya jika dua makhluk labil saling mencerahkan? Mungkin malah tambah gelap.

Doni dan Dila ngobrol asyik di teras kos. Masih soal kegalauan Doni tentang pacarnya. Ini sudah terjadi setiap awal pekan. Mungkin akhir pekan Doni selalu berakhir pahit.

Deru sepeda motor memasuki area kos Dila. Sebuah sepeda motor yang nggak jelek-jelek amat, bagus amat juga jelas bukan. Lebih tepatnya adalah jelek sekali.

Mora turun dari sepeda motor dan kemudian berjalan ke arah teras. Di malam hari, semua tampak remang-remang. Termasuk Dila dan Doni yang sedang curhat itu tampak seperti dua orang berlainan jenis lagi mangkal di warung remang-remang, dan Mora tampak semacam pelanggan yang haus.

“Permisi…,” kata Mora, pandangannya tercekat pada dua insan yang sedang duduk berdekatan di teras kos.

“Eh.. Mora..” Dila bangkit berdiri dari kursinya, kemudian menemui Mora.

“Ini, MSS-nya. Semoga habis baca nggak jadi kayak Salmon,”

“Enak ajee… Makasih ya.. Mampir dulu?”

“Nggak usah Dil. Masih banyak event. Halah..”

“Oom Mora sok sibuk. Horeee.. Nyari gebetan om?”

“Hussshhh.. Udah ah.. Pamit ya..”

“Oke.. oke.. Makasih ya Mora.”

Mora berjalan ke arah sepeda motornya yang masuk kategori jelek sekali itu tadi. Sebelum menyalakan sepeda motornya, Mora duduk di jok sejenak. Membuka telepon genggamnya, akses opera mini, masukkan alamat m.facebook.com, lalu mengetik di sebuah kolom.

‘Ternyata sudah ada guguknya’

Update.

Mora mengambil nafas dalam, menggerakkan kaki semacam anjing mau gali lubang, menginjak tuas untuk menyalakan mesin, terus-menerus. Mesin kemudian menyala pada ayunan ke-99. Asap mengepul dari knalpot. Memenuhi hidung, paru-paru, sampai ke hati Mora.

Foto Dalam Dompet

“Tidak ada gadis semisterius ini,” gumam Yama.

Sebuah gumam putus asa, setelah puluhan pesan singkat tak berbalas, dan beberapa pesan singkat yang berbalas, ditambah belasan kali nguping, semuanya bermuara pada satu jawaban: belum ada jawabannya.

Yama masih dalam proses mendekati cewek secara baik dan benar. Yama masih ingat betul setahun silam kena batunya. SMS-an sama nomor si cewek gebetan, eh ternyata yang membalas SMS itu adalah pacarnya si gebetan. Sebuah trauma yang diakhiri private message di Facebook. Panjang lebar, antar pria.

Sejak itu, Yama merasa bahwa mendekati cewek harus didahului oleh prosedur utama: pastikan kalau dia single. Bahkan cewek yang lagi rapuh juga tidak masuk kategori Yama.

Dan sekarang gadis idaman itu sudah ditemukan, persis di hadapannya sekarang. Masalahnya cuma 1, Yama nggak ngerti apakah Ninda masih single atau sudah double. Sepele sebenarnya. Dan berbagai taktik sudah dikeluarkan, berhasil pada cewek lain, tapi tidak pada yang satu ini.

Metode pertama, sindir-sindir mlipir. “Malam minggu nggak keluar?” atau “Nggak ada yang ngajak makan bareng?” adalah jenisnya. Jawaban Ninda? “Aku kan di rumah…”

Metode kedua, rekonfirmasi. “Nggak ada yang marah kan kalau aku SMS kamu?”. Jawaban Ninda kemudian, “Ngapain marah, semua temen juga SMS aku.”

Metode ketiga, ngintip-ngintip bintitan. Nongkrong di warung dekat rumah Ninda selama berjam-jam di malam minggu. Sesekali melihat ada cowok mampir memang, tapi nggak jelas itu ngapelin Ninda atau pembantunya. Soalnya kata Ninda, dia punya pembantu yang cantik dengan usia ABG. Metode ini diulang beberapa malam minggu sebelum muncul pengumuman di warung, “Nongkrong lebih dari 15 menit harus beli makan.”

Yama keder, karena selama ini, untuk 3 jam operasi, dia hanya membeli kerupuk. Gopekan.

Metode terakhir yang belum Yama coba adalah bukti fisik. Biasanya cewek akan menyimpan foto pacarnya secara terang benderang di dompet.

“Dompetnya! Itu dia!” Yama tampak seperti Archimedes ketika menemukan teori. Hampir saja dia berkeliling kampung dan berteriak, “Eureka.. Eureka..”. Untung saja kemudian di ingat kalau ide itu diperoleh jam 3 pagi, dan anjing-anjing galak di kompleks sedang diperkenankan untuk berkeliaran.

Sebuah pertemuan yang diatur agar tidak sengaja kelihatannya, diatur oleh Yama. Di kantin kampus, Yama pura-pura baru ada di kantin ketika Ninda nongol. Padahal Yama sudah di kantin dari subuh, dan Ninda datang ke kantin jam 2 siang.

“Hai, Nin.”

“Hai.. Nggak kuliah?”

“Lagi males aja. Hehehe.. Kamu nggak kuliah?”

“Lagi habis praktikum aja. Laper. Mau makan apa Yama?” tanya Ninda, dengan suaranya yang manis dan mengandung obat penenang karena Yama nyaris pingsan mendengarnya.

“Ngikut kamu aja,” jawab Yama malu-malu.

Yama mengikuti Ninda dari mengambil makanan, sampai ke kasir kantin. Ketika Ninda mengeluarkan dompet, Yama bergumam lagi, “Ini dia!”

Ninda membuka dompet, tampak sebuah foto disana, sosok dengan jumper coklat, dan kupluk terpasang di kepala.

Yama sudah merasa bahwa atap kantin tiba-tiba runtuh menimpanya.

“Yama?”

“Ya?”

“Katanya mau makan?”

“Ehmm.. Nggak jadi. Tiba-tiba sakit perut. Duluan ya…” Yama bergegas hendak meledak.

Ninda masing geleng-geleng kepala sambil membawa makanannya ke meja. Sejurus kemudian, Lia datang sambil berteriak, “Niiinnnnn… Jumper coklatmu nih.. Ketinggalan di lab…”

Ninda menoleh lalu beraksi ala orang lupa di tivi-tivi, memukul ringan jidatnya dengan telapak tangan.

“Iyaaaa Li… Sorry lupaa.. hehehe.. Ketinggalan di mana?”

“Di rak lah. Dimana lagi? Mana ini jumper ada namanya terbordir dengan jelas. NINDA.”

“Hoooo.. sip-sip.. Thanks ya Li.”

“Sama-sama, Nin.”

Dan Nindapun melanjutkan makan siangnya, dengan jumper coklat kesayangannya. Jumper kelas waktu SMA. Jumper yang sama dengan yang dia kenakan di foto yang terpasang pada dompetnya.

🙂

-24 Januari 2012-

*edisi ngedit dari cerpen ini dimuat di buku Radio Galau FM Fans Stories.. hehehe.. Dengan ending yang berbeda..

Trauma Tak Selalu Tentang Luka

screenshot_221

Keping DVD berhenti berputar. Switch otomatis membawa DVD Player pada posisi off. Layar LCD sudah kembali pada posisi stand by, membutuhkan film lain untuk ditayangkan, dapat diperankan oleh artis yang berbeda asal sama tampannya.

Naya masih tersedu sedan dengan tisunya. Menangis. Ya, menangis. Menonton DVD Korea selalu membawa haru dalam diri Naya. Dan hampir selalu haru diterjemahkan dalam tetesan air mata.

“Kadang-kadang tangis itu perlu Nay, buat ngebersihin mata. Tapi kalau nangis melulu ya bukannya matamu yang bersih. Sama alis-alisnya sekalian mungkin,” kata Lani, yang dengan setia duduk diam di sebelah Naya, “Mau diputerin DVD yang mana lagi?”

“Bentar kali Lan, air mataku belum ngumpul lagi nih,” jawab Naya dengan sesenggukan.

“Kamu nonton DVD Korea cuma buat nangis? Kamu itu memang pengen nangis kan? Film Korea ini cuma buat pemicu biar kamu nggak kelihatan nangis tanpa sebab?” selidik Lani.

“Stopppppp…” tangis Naya kembali meledak, “Huaaaaa…”

Lani tampak merasa bersalah, sepertinya dia terlalu keras dengan temannya yang masih labil ini, “Sorry Nay.. Nggak maksud…”

“Oke..,” Naya berhenti sebentar mencari tisu, “kamu harus paham Lan.”

“Paham apa?”

“Melupakan itu nggak mudah. Apalagi dengan hati terluka.”

“Oke Nay, aku paham. Tapi apa mesti begini terus. Poconggg saja udah menggalakkan gerakan move on, masak kamu masih diam bergalau begini? Kapan majunya kamu Nay?”

“Nggak mudah.. nggak mudah.. ” rapal Naya sambil menggeleng.

“Nggak mudah, tapi kamu harus move on kan Nay…” Lani mencoba agak sabar menghadapi penggalauan teman baiknya sejak sama-sama ngekos ini.

“Mungkin… mungkin.. aku trauma Lan…”

“Hahhhh? Kamu trauma sama cowok?”

“Maybe…”

“Gilaaaa.. Ini namanya menantang ketetapan duniawi. Sebenci-bencinya kamu dengan dia. Seberapapun luka di hati kamu, ya jangan terus trauma sama cowok! Jangan-jangan nanti kamu suka sama aku lagi.. Hiiiiii….”

Dan sebuah bantal dilempar.

“Pokoknya aku kudu jauh-jauh dari kamu kalo begini,” lanjut Lani.

Kali ini guling yang dilempar.

“Ini berbahaya…,” Lani tak berhenti berbicara.

Lemari melayang.

Hening.

“Nay, aku tahu sakit. Mungkin Mario membuat luka di hati kamu. Mungkin juga kamu trauma. Aku tahu Nay. Tapi ada kalanya trauma nggak selalu soal luka. Trauma ini bisa jadi alasan utama kamu untuk move on. Lupakan Mario! Dia udah nyakitin kamu. Biarkan luka kamu ditutup oleh yang lain Nay.”

“I need to move on, Lan?”

“Tentu… Aku nggak mau kamu jadi lesbi. Ngeri aku Nay.”

Kali ini Naya melempar sepeda motor.

“Kamu wanita kuat Nay. Aku yakin kamu pasti bisa. Sip?”

Naya tampak mulai kuat. Air matanya mengering. Entah mengering karena tisu atau memang air matanya sudah habis atau karena proses produksi air matanya dihentikan gara-gara sweeping.

“Sipppp Lan. Aku tahu kamu teman yang paling baekkkk…”

“Nah, gitu baru teman! Asikkk.. Nggak jadi dilesbiin sama Naya.. hahahaha..”

“Itu truk tronton di depan mau tak lempar sekalian, Lan?”

“Ampun.. hehehe.. Okehhh.. Aku pulang dulu ya Nay! Jangan lanjut nonton dulu, nanti banjir ini kamar. Kan aku yang repot kalau kamu minta tolong ngepel. Air mata itu agak lengket-lengket gimana kalau banjir.”

“Nggak segitunya kaleeeee.. Sipp.. thanks ya Lan.”

“You are welcome Nay.”

Lani menutup pintu. Di balik pintu, dia meninggalkan sahabatnya, Naya yang barusan terluka ditinggal pacar.

Lakukanlah sampai engkau puas. Cari saja apa yang hatimu mau. Sampai kapanpun aku slalu mencoba untuk mengerti. Teruskanlah hingga engkau jera. Dustai dan khianati lukai hatiku. Meski lautan air mataku mengering. Kucoba tetap…..

“Ya sayang?” Lani mengangkat handphone-nya. Hanya ada 1 orang dengan ringtone ini.

“Lagi dimana Lani sayang? Jadi nonton?”

“Jadi dong! Nanti ketemuan disana aja ya. Kamu beli tiketnya dulu.. hehe…”

“Oke.. oke.. Sip.. Aku tunggu. Take Care. Love you Lani.”

“Love you too Mario.”

 

Teman?

“Ran, Mily itu pacarmu?” tanya Yana, suatu kali.

“Heh? Pacar? Dari mana ceritanya? Kita itu hanya berteman kali bro.”

“Tapi kok kalian sepertinya dekat sekali?”

“Ah, itu perasaan dek Yana saja. Aku sama Mily nggak pergi makan tiap hari, nggak pernah apel-mengapeli, nggak pernah telpon-telponan, nggak setiap hari Whatsapp-an. Dari mana status pacar masbro?”

“Yah, tampak di mata saja. Setidaknya,pasti ada perasaan.”

“Nonsense…”

Dan hening.

Rana dan Mily. Tidaklah aneh memberi predikat mereka teman. Tidak pula luar biasa menyebut mereka, lebih dari sekadar teman. Karena semua orang boleh berpendapat, karena hak berpendapat itu dijamin di negeri ini. Yang tidak dijamin itu hak untuk berdiri di halte bus untuk kemudian bisa selamat sampai naik bus yang ditunggu.

“Cek.. cek…” Rana mengetik sebuah pesan via Whatsapp.

Tak berbalas.

“PING!”

Masih tak berbalas.

“PING!”

“Yooooooo…” Sebuah balasan dari Mily The Galauers

“Sombong…”

“Yo ben.. Ngopo?”

“Ora popo.. Tadi ada yang bilang kita pacaran! Wkwkwkwk..”

“Huuuuu.. Wah, aku dipitnah.. aku dipitnah..”

“Lha njuk?”

“Pitnah kan lebih kejam daripada demo.. Ihiks..”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Jiahhh.. ngopi.. ngopi.. ngopi yuk…”

“Hayukkkk… kapan? kemarin?”

“Abad depan. Huhhhhhhh.. Ayo tak jemput.”

“Oke.. oye.. Mari…”

Dua gelas plastik sudah berdiri manis di meja. Satu gelas Caramel Machiato, dan satu gelas Java Chip. Keduanya berdiri tegar di atas meja, diantara dua insan, Rana dan Mily.

“Jadi siapa ya bilang kita pacaran?” tanya Mily, membuka pembicaraan.

“Tuhhh.. si Yana. Ora cetho kok.. hahaha..”

“Hahaha.. memang pancen ora cetho..”

Kedua insan ini kemudian bercengkerama ngalor ngidul. Setiap sedotan kopi yang masuk ke dalam kerongkongan berbuah sebuah topik menarik. Mulai dari bincang novel, bincang adik, bincang bintang, sampai ke bir bincang.

“Jadi sebenarnya gimana?” tanya Mily, ketika gelak tawa perbincangan mereda.

“Opo?”

“Ya kita ini emangnya gimana? Kan ora cetho.. hahaha…”

“Yah, kan emang kita berteman to?”

“Teman?” tanya Mily dengan intonasi yang 180 derajat berbeda dari gelak tawanya barusan.

“Yah.. enaknya kita berteman ajalah.. lebih asyik, tanpa beban, tanpa berharap, tanpa sakit hati.. Sip?”

“Jossss…”

Sedotan kopi dihentikan, karena memang sudah habis. Kedua gelas itu ditinggalkan dalam keadaan diam, meski keduanya telah menjadi saksi dua tetes air mata Mily, yang tidak sempat dilihat oleh Rana.

Ya, kita berteman aja