All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Terima Kasih

Dear All,

Pada kesempatan ini saya hendak mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan, bantuan, kerjasama, dan hubungan baik yang telah saya alami dalam 2 tahun berinteraksi bersama seluruh tim yang terlibat di tempat ini. Support yang luar biasa tersebut telah terbukti dapat memberi makna dan nilai pada seseorang yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada DC, Tim PS, dan teristimewa kepada tim saya, yang dengan caranya masing-masing telah memberi makna khusus dalam keseharian saya di tempat ini.

Sebagai manusia biasa, saya juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dan kelalaian yang terjadi baik sengaja maupun tanpa saya sadari, sesungguhnya segala ketidaksempurnaan itu tanpa maksud selain upaya untuk memberikan kontribusi yang terbaik.

Per esok hari, saya akan bertugas di tempat baru dan tentunya masih akan berinteraksi aktif dengan tim yang ada di sini. Semoga kerjasama yang telah berjalan baik selama ini, dapat terus menjadi semakin baik. Demikian pula koordinasi antara tim saya dengan seluruh tim yang ada di sini pastinya akan bertambah baik pula.

Segala isu terkait pekerjaan dapat disampaikan ke partner , cc atasan saya.

Tuhan selalu menyertai dan memberikan kesuksesan kepada kita.

Terima kasih

Hormat Saya

Kita hanyalah manusia biasa, dengan karya yang luar biasa”

Perpisahan

Lagu terbaik untuk menggambarkan perpisahan adalah milik Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik:

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku

Kita terharu, seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah karena hari ini yang kita rindukan

Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan

Di hari tua.. ooo…

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Selalu menjadi pernyataan yang kekal bahwa suatu perpisahan tidak akan terjadi tanpa adanya pertemuan. Ya iyalah, gimana bisa berpisah kalau tidak pernah bertemu. Hal ini tidak terbantahkan.

Satu hal yang menjadi perbedaan adalah aspek perpisahan itu sendiri. Apakah perpisahan itu dengan tidak baik atau dengan baik dan penuh haru.

Adapun, baik pertemuan dan perpisahan, sangat terkait dengan suatu hal bernama keputusan. Pertemuan terjadi karena adanya keputusan, demikian pula dengan perpisahan. Tak peduli ini keputusan pihak-pihak yang berpisah atau keputusan pihak lain yang ada di luar itu.

Well, apapun itu, nyaris tiada yang suka dengan perpisahan.

Sudahlah, tak perlu membahas banyak soal perpisahan. Karena toh ini bagian dari perjalanan hidup, bagian dari keputusan hidup.

Yang terpenting, bagian terbaik dari perpisahan adalah saat anda mengetahui bahwa anda dicintai. That’s All!

Masih Soal Gawang

Hmmm.. Posting saya kemarin belum memuaskan saya. Masih banyak yang ingin di-share.. hehehe..

Let’s see

Jadi kiper itu tentu saja perlu latihan. Karena dari latihan-lah lahir kesempurnaan, atau setidaknya sense untuk menangkap bola.

Lalu, sebelum bertarung, tentunya perlu bergembira sejenak. Karena kegembiraan sejenak dapat menghilangkan ketegangan. Walaupun belum tentu menambah kekuatan. Sekilas senyum itu penting.

Dan jangan lupa foto-foto dulu. Ini wajib dalam upaya nampang. Wow..

Dan sesudah nampang, tentunya bersiap. Dalam hal ini berdoa itu perlu. Tentunya sebelum pertandingan mulai.

Oya, dalam pertandingan, ada kalanya sang kiper harus mengembalikan bola ke lapangan dengan caranya sendiri.

Kurang jelas ya.. hmmm.. kira-kira jelasnya begini:

Bentuknya memang agak aneh. Hehehe..

Jangan lupa waspada atas serangan yang ada, itu penting sekali.

Waspada itu perlu, karena kadang-kadang kita akan dijegal. Btw, dijegal itu sakit loh.. Maka sedikit protes itu perlu.

Tentu waspadai juga kemelut yang ada. Ini yang sulit, mengambil keputusan itu sudah sulit, dan keputusan itu belum tentu benar pula. Ngenes juga…

Hmmm… sudah demikian-sudah jatuh-sudah usaha, tetap ada peluang untuk kebobolan.

Yah, kebobolan itu pasti pahit rasanya. Tapi tidak boleh meratap terus menerus. Waktu terus berjalan. Kita masih perlu usaha untuk menepis bola-bola lainnya. Sambil, kadang berharap, segeralah teman kita mencetak gol dan segeralah pertandingan selesai. Hehehe..

Demikian sedikit sharing saya soal gawang.

Penjaga Gawang

Apa yang anda pikir ketika melihat ini:

Kalau buat saya, gawang ini berarti sebuah kepercayaan dan usaha untuk membayar kepercayaan yang telah diberikan. Terlalu berlebihan? Tidak juga.

Apa makna bahwa gawang ini kepercayaan? Jelas sekali, peraturan di olahraga sepakbola menyebutkan bahwa ada 1 orang yang boleh menjaga gawang dari kebobolan. Apa pula makna kebobolan? Sederhana sekali, hasrat dasar manusia adalah kemenangan. Kemenangan terjadi, setidaknya, harus dimulai dari kenyataan bahwa sang penjaga gawang alias kiper tidak mudah ditembus.

Dari 11 orang yang bertarung, hanya 1 yang diberi peran menjaga gawang. Ia diberi kepercayaan, diberi hak khusus, boleh memegang bola. Kepercayaan itu yang harus dibalas dengan penampilan, sederhana saja, tidak kebobolan.

Posisi ini sungguh menarik. Dalam satu tim sepakbola misalnya, setidaknya akan ada 20-an pemain, dan hanya 3-4 orang saja yang menjadi kiper. Namun, bersaing untuk 3-4 itu juga tidak sesimpel yang dikira. Sang kiper yang sudah mendapat kepercayaan dari tim, akan selalu ada di bawah mistar, sampai semampunya.

Kiper juga rata-rata diberi nomor punggung 1. Nomor pertama dalam sistem penomoran yang diakui sepakbola. Apalagi kurangnya?

Cuma ya itu, tanggung jawab yang diberikan harus dibalas dengan penampilan. Jatuh itu pasti untuk kiper. Terbang itu kemungkinan besar. Kontak antara kepala dengan dengkul orang peluangnya 50-50.

Dan yang pasti, satu prinsip yang harus dianut oleh para penjaga gawang.

bukan soal sebanyak atau seindah apapun penyelamatan yang kamu lakukan, tapi soal berapa banyak gol yang bersarang di gawangmu

Quote di atas sifatnya mutlak.

Yah, seringkali penjaga gawang sudah tampil semaksimal mungkin, namun ketika lawan lebih kuat selalu ada peluang untuk mencetak gol. Maka, sebanyak apapun penyelamatan, itu tidak masuk angka skor. Memang bisa dibalas dengan argumen, “kalau tidak diselamatkan, maka gol akan menjadi sekian” dan memang hanya itu saja. Angka yang tercatat sampai akhir hayat adalah berapa skor akhir pertandingan tersebut. Itulah mengapa posisi ini identik dengan usaha membayar kepercayaan.

Oya, ada hal lain terkait kepercayaan ini.

Ketika kepercayaan itu sedikit ternodai, maka selalu ada kepercayaan berikutnya. Kok jadi rumit ya?

Begini. Suatu kali saya menjaga gawang, dan berhasil menyelamatkan satu tendangan keras. Di lain waktu dalam pertandingan yang sama, pemain yang sama melepaskan tendangan yang lebih pelan, namun bola berputar dan perlahan masuk ke gawang meski sempat ditepis. Ini blunder. Jelas sekali.

Tapi apa yang dilakukan teman-teman saya, mereka maju ke titik tengah dengan tetap memberikan jempolnya pada saya.

Tidak cuma saya yang baru hitungan jari jadi kiper, coba lihat saja kiper-kiper yang melakukan blunder. Seketika setelah blunder terjadi, rekan-rekan akan datang menghampiri dan memberikan penguatan.  Itu yang saya maksud dengan kepercayaan berikutnya. Itulah kadang saya kurang setuju dengan pergantian kiper karena performa.

Yah, posisi apapun selama itu di tim sepakbola, selalu punya makna. Saya membahas posisi ini semata karena keunikan dan ke-spesial-annya. Itu saja. Tiada tendensi lain.

Hujan mulai deras ketika malam semakin larut, saatnya kembali ke peraduan, agar kembali segar kala mengawal gawang dari terjangan masalah di esok hari. Semangat!!!

Dan kembali ini soal passion..

Rene Suhardono menulis buku yang sangat menyentuh nurani saya, terlihatnya buku itu tepat ketika saya berada dalam kegalauan berkarier. Dan bagian terpenting dari buku itu adalah kalimat “Passion is not what you are good at. It’s what you enjoy the most.” Dan satu bagian terbaik adalah perbedaan antara Career dan Job, bahwa Job adalah bagian dari Career. Yap, pekerjaan hanyalah bagian dari untaian karir kita, tentunya dengan aspek bahwa ‘seharusnya’ ada kaitan signifikan antara karir dan passion. Kenapa? Karena hanya dengan keberadaan passion-lah, manusia dapat menentukan dan menjalankan karir-nya. Mengutip blog seorang teman, bahwa passion adalah juga a strong of affection or enthusiasm for an object.

Yap, sejatinya memang tidak akan ada sesuatu yang dahsyat yang akan tercapai tanpa antusiasme.

Nah, celakanya, saya sendiri masih kurang paham passion saya dimana. Maksudnya bukan benar-benar tidak paham, tapi belum sepenuhnya paham.

Ada jalur-jalur yang saya rasa menjadi kunci mengapa perjalanan membawa saya pada kondisi yang sekarang ini. Mulai saat memilih masuk IPA di SMA, mulai saat memilih fakultas di perkuliahan, sampai saat saya memilih untuk bekerja di bidang tertentu. Jalur-jalur itu menentukan. Pada saat itu, saya belok mengikuti satu arah tertentu, yang membawa kemari. Ibarat kata jalan ke luar kota, pasti ada percabangan, dan cabang-cabang jalanan itu akan menuju ke tempat yang berlainan pula.

Saya memang belum sepenuhnya paham. Namun saya masih paham bahwa antusiasme saya pada sebuah pengembangan adalah besar. Bagi saya, turut terlibat membangun suatu sistem adalah kegairahan tersendiri. Terlibat aktif ketika ada pengembangan baru, ada sistem baru, dan menjadi bagian penting dari sistem itu sebenarnya cukup menarik. Dan jangan lupa, berkembang dalam membangun selalu punya tantangan tersendiri.

Berkembang dalam membangun tentunya beda dengan berkembang dalam sesuatu yang sudah eksis. Berkembang dalam membangun memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan diri, menujukkan kemampuan.

Satu kelemahan dari antusiasme ini. Ketika kondisi sudah menjadi statis dan eksis, maka antusiasme perlahan akan berkurang. Atau yang kedua, kondisi tidak sepenuhnya berhasil dan mempengaruhi banyak aspek, tekanan meningkat, dan antusiasme menurun.

Mengapa?

Ini tentunya beda dengan antusiasme pada perkembangan yang baru. Kita akan selalu antusias melakukan eksplorasi sampai pada titik dan deadline yang ditetapkan. Kita akan terpacu untuk berbuat yang terbaik dalam menaklukkan kondisi yang baru berkembang itu. Agar apa? Agar kita jadi penguasanya.

Sayangnya, ketika kondisi perubahan itu berjalan dan terkadang ada cacat-cacat dalam perjalanannya, sehingga mempengaruhi sisi teknis dari suatu pekerjaan, disitulah antusiasme menurun. Pada titik itu, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita belum sepenuhnya menaklukkannya.

Ketika kondisi sudah sepenuhnya baik, kita akan sangat kehilangan antusiasme karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Dan satu-satunya cara adalah mencari tantangan baru.

Sebenarnya saya hanya ingin berbagi soal itu saja sih. Mengingat saya masih harus mencerna banyak hal agar mengerti sepenuhnya soal passion saya, maka sebatas itu dulu wacana-nya. Hehe..

Semangat!!

Tanda Tanya

Bolehlah mau disebut sebagai komentar film, karena tulisan ini dibuat setelah menonton film “?”. Yap, film ini memang sedikit membuat heboh. Eh, sedikit apa banyak ya? Soalnya di bioskop tadi penuh, sampai ada yang nonton di depan bawah alias menyiksa leher. Hehehe..

Ya, setiap segala sesuatu yang terkait dengan SARA pasti heboh. Itu pasti. Nggak peduli itu film, poster, issue atau apapun.

Dalam hal ini, konflik-konflik agama dan SRA lainnya, pasti akan menyinggung satu dan lainnya. Coba anda seorang muslim, dan menonton kisah dilarang sholat. Komentar Soleh pun pasti mengemuka. Atau anda Katolik, bisa terjadi juga apa yang diminta oleh Doni untuk membubarkan aksi peragaan Jumat Agung hanya karena yang jadi Yesus-nya orang Islam.

Atau kala Hendra memutuskan memilih jadi mualaf dengan segala latar belakangnya, sampai Rika yang menjadi Katolik karena tidak mau dipoligami. Itu pasti akan menyinggung salah satu. Nggak bisa dipungkiri soal itu.

Sebenarnya apa sih yang dipermasalahkan? Tuhan yang kita akui bersama itu sebenarnya SATU. Kita menuju Tuhan dengan cara yang kita yakini masing-masing, itu saja bedanya. So, soal ini sebenarnya sih tidak akan menjadi masalah ketika pola pikirnya demikian. Sayangnya, belum semua orang mampu berpikir demikian.

Ketika Hendra memilih menjadi mualaf, itu ada pilihannya, pun dengan Theresia Rika. Yang penting, kita menjadi lebih baik dengan mengarungi jalan yang kita pilih sendiri itu. Thats It. Nggak perlu-lah kita mengurusi kepercayaan orang lain, terlebih mendoktrinnya.

Kita masing-masing punya tujuan yang sama: TUHAN kita. So,pilihan berjalan tentu akan kembali ke kita masing-masing. Dengan syarat itu tadi, pastikan bahwa itu menjadikan kita lebih baik.

Thanks buat film yang sangat mendidik itu.

Hanya 1 catatan utk film ini: doa Bapa Kami itu “Bapa Kami Yang Ada Di Surga” bukan “Bapa Kami Yang Di Surga”, might be ini kelolosan ngedit.. hehehe..

Semangat!!!

Menyoal Helm

Pagi-pagi bangun,

(skip)

aku pergi ke bandara. Naik motor. Giliran sudah sampai di tempat yang agak joss buat ngebut, tiba-tiba ingat suatu fenomena, yang buatku cukup menarik.

Kalau nggak percaya, boleh dicoba.

Lakukan perjalanan membonceng dengan menggunakan helm standar. Lalu lakukan juga perjalanan yang sama dengan menggunakan helm ciduk, atau tidak pakai helm.

Memangnya kenapa?

Ya boleh dicoba dulu, tapi berdasarkan pengalaman, mengobrol dengan menggunakan helm standar lebih mudah, dan itu terjadi semata-mata karena telinga lebih mudah menangkap informasi yang disampaikan orang di belakang.

Agak unik menurutku, karena secara logika helm standar menutupi telinga kita, tapi kenapa bisa mendengar dengan lebih baik dibandingkan telinga yang tidak ditutup?

Sebenarnya sederhana saja, informasi suara itu berupa gelombang. Ketika telinga kita dibatasi, maka ada medium yang direduksi benar kemampuannya: udara. Jadi ketika informasi disampaikan, lubang kecil yang ada di sela-sela helm standar mampu menjadikan telinga kita fokus menangkap informasi yang ada. Bedakan saat telinga itu bersentuhan dengan udara bebas, maka telinga kita masih harus menghadapi udara dan segala gelombang lain yang terbawa olehnya. Which is mean informasi yang seharusnya bisa kita terima dengan mudah, jadi terhambat.

Well, poin yang menarik disini sebenarnya tak kalah simpelnya. Kala kita mendengar, ada baiknya kita fokus mendengarkan suara yang ingin kita dengar. Jangan sampai suara itu tertutupi oleh faktor luar yang menyebabkan pada akhirnya kita tidak mendapatkan informasi yang kita inginkan.

Anggaplah suara itu adalah suara hati.

Beranikah kita memakai helm standar, agar kita betul-betul mendengarnya dengan baik?

Demi hidup yang lebih baik, Semangat!! 🙂

9 Tahun, 9 Bulan

Hari ini iseng-iseng bongkar-bongkar merapikan dokumen pribadi. Hasil bongkar-bongkar itu menjawab pertanyaanku mengenai sudah berapa lama aku merantau. Yap, lembar kuning penerimaan siswa baru SMA Kolese De Britto menyebutkan bahwa aku memulai semua proses itu di 2 Juli 2001, which is means itulah hari pertama aku berstatus perantauan.

Dan di 2 April 2011, sudah 9 tahun, 9 bulan. Angka yang unik.

Sebenarnya tidak terasa juga sih, hidup di perantauan sudah selama itu. Artinya sudah nyaris 10 tahun aku hidup terpisah dari orang tua, mencoba untuk survive sendiri. Memang, sebagian besar masih pakai budget orang tua, karena hidup yang benar-benar mandirinya baru 2 tahun belakangan saja. Tapi hidup merantau, pastilah punya value tersendiri, apapun itu, bagi para pelakunya.

Apa yang kulakukan ketika menemukan tanggal 2 Juli 2001 tadi, sekaligus membuka beberapa file kesuksesan. Yah, aku memang hobi menyimpan file-file kesuksesan hehe.. Ada beberapa piagam, kliping koran. Cukup membanggakan.

Tapi jangan salah, aku juga membuka nilai raportku, dimana sejak SMA mulai bermunculan nilai merah. Bahkan titik nadir prestasi sebagai rangking 22 dari 38 siswa di Cawu III kelas I-5.

Yah, sudah 9 tahun 9 bulan dan pasti akan terus bertambah. Sejauh ini sudah terjadi dan nyata bahwa GOD bless my way. Dan aku yakin akan terus diberkati.

Semangat 🙂

Kita Punya Kualitas

Capek nian hari ini. Dari jam 8 pagi sampe jam 7 malam ikut Seminarnya Detik.com. Tapi, senang.. Serasa kembali ke dunia lama, dunia dimana passionku berada. Yeah, this is my passion!!!!

Hmmm.. cukup menarik dapat ilmu2 dari founder Detik.com, dan sedikit inspirasi dari Raditya Dika. Selain itu, dapat tambahan pula di workshop citizen journalism. Dan yang lebih penting dari semuanya adalah GRATIS!!! hahaha…

Satu hal yang menarik, tapi aku nggak bermaksud apa-apa. Cuma perlu berbagi nilai yang mungkin berguna.

Jadi, ada test membuat berita sederhana. Dan beberapa orang diuji coba hasilnya (kalau belum dihapus bisa dilihat di lokal.detik.com). Orang pertama, dapat nilai 6.5, lanjut 3 orang yang lain dapat 5.5, pas giliranku, dites-tes dapat 7. Weww…. Ga rugi lulusan CasCisCus.. haha..

Lalu ditantang, siapa yang merasa karyanya lebih baik dari nilai 7 ini, boleh ngacung. 3-4 orang ngacung, dibahas, dan tidak ada yang lebih besar dari 7.

Apa valuenya?

Teman, selalu percayalah pada diri kita sendiri, selalu tekankan pada diri kita sendiri bahwa: Aku Punya Kualitas! Kita Punya Kualitas!

Mengapa?

Karena pada dasarnya kita adalah makhluk-makhluk biasa, tapi kita dianugerahi KARYA yang LUAR BIASA. Hanya terkadang, dilingkupi pola pikir yang membelengguku selama ini, bahwa terkadang kita minder, rendah diri. Pun aku sebagai orang yang prefer pesimistis daripada over optimis, minder adalah impresi pertama. Tapi selalu percayalah teman, selalu yakinkan diri bahwa kita mampu, kita bisa, kita punya kualitas.

Hari ini aku diajak untuk bangga pada diri sendiri, percaya bahwa aku bisa. Karena ternyata, bangga dan percaya pada kualitas pribadi kita sendiri bukanlah cara yang buruk dalam menyikapi sesuatu. Bahkan memberi banyak suntikan positif.

Kalaiu kata ripley, PERCAYALAH!!

Semangat!!!

Pinjam Meminjam

Huahhh… sudah lama nggak nge-blog.. Sebenarnya banyak ide di kepala, tapi giliran ada, jaringan payah atau malah lagi nggak di dekat komputer. Hilang deh. Ini kebiasaan buruk, nggak boleh diteruskan. Kisah kali ini adalah kisah lama beberapa pekan silam. Jadi membangkitkan memori saja. Semoga masih mengena..

Suatu episode Spongebob Squarepants, Spongebob dan Patrick ingin memiliki balon, namun tidak punya uang. Karena ‘didikan yang salah’ dari Tuan Krabs, mereka meminjam balon. Saat asyik2, balonnya pecah. Mereka pun jadi heboh, merasa bersalah, kabur, sampai akhirnya harus kembali karena tidak tahan dengan ketidakjujuran telah memecahkan balon yang dipinjam.

Well, pinjam meminjam itu hal biasa di dunia ini. Orang yang memiliki sesuatu yang terkadang belum dipakai, pada saat orang lain melakukan proposal untuk memakainya, maka terjadilah transaksi pinjam meminjam.

Hal yang penting adalah bagaimana kita menjaga barang pinjaman itu.

Satu poin penting adalah barang itu adalah milik orang lain yang kita pakai. Artinya, ketika suatu saat kita harus mengembalikannya kepada yang empunya, kondisinya harus tetaplah sama, bahkan kalau bisa lebih baik. Beberapa kali motorku dipinjam, ketika kembali sudah terisi penuh dengan Pertamax. Itu yang bikin terharu.. hehe… Itu contoh saja, banyak hal lain, meskipun tidak termasuk dalam hal ini pinjam uang. Itu beda kasus.

Ada kalanya benda pinjaman itu menjadi rusak, atau setidaknya berada pada kondisi yang lebih buruk ketimbang saat dipinjam. Apa yang akan terjadi jika kita mengembalikannya? Hampir bisa dipastikan yang meminjami akan tobat untuk meminjamkan lagi. Hampir bisa dipastikan itu.

Sama halnya dengan hidup kita. Kita kan sadar sepenuhnya bahwa hidup kita ini punya Yang Kuasa. Dan kehidupan kita dipinjamkan pada kita untuk memberikan karya. Kalau hidup itu kita isi dengan hal-hal yang baik, tentunya yang punya bakal senang. Lain kasus jika kita isi dengan hal-hal yang merusak hidup itu sendiri.

Artinya, selayaknya kita menghargai hidup kita, layaknya orang menjaga barang yang dipinjam. Dan yang paling penting adalah jangan membuatnya menjadi lebih buruk dari kondisi sebelumnya.

Sedikit renungan pasca rabu abu.. 🙂

Semangat!!!