All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Berbeda Itu Berbeda

Aku.

Kata orang aku ini terlalu tinggi kriterianya. “Si Lyana itu sok banget sih. Cakep kagak, standarnya tinggi banget,” begitu kata orang-orang yang mengetahui syaratku mencari pasangan.

Yah, katanya orang juga, banyak yang suka sama aku. Walaupun aku sendiri hampa cinta. Betul deh. Hampa bener aku ini. Sehampa pempek beringin yang dibungkus vakum. Dan pempek itu tahan lama. Persis seperti kehampaanku, tahan lama juga. Lama sekali sejak aku dan Bang Fano, kakak kelasku di kuliah dulu, sama-sama suka, bertahun-tahun lamanya, tapi tidak terungkap satu sama lain.

Syaratku sebenarnya cuma dua, aku tidak mau punya brondong plus aku mau yang seiman. Itu saja kok dan itu sebenarnya sudah ada pada pria tadi.

“Ya kalau mau yang seiman, yang sejenis sama kamu banyak kok. Banyak juga yang lebih tua dari kamu,” kata orang-orang dari golongan yang sama dengan yang menyebut standarku ketinggian.

Ah, persetan! Buat apa mereka mengurusi hidupku? Bahkan mereka bukan bagian dari orang-orang yang membuatku hidup. Kalau menghidupi, hmmm, sejauh aku tahu, owner dari perusahaan ini tidak ada yang mengomentari statusku. Jadi mereka yang ngomong itu sama sekali tidak menghidupiku.

Jadi buat apa aku urusi?

Bahwa cinta itu unik, aku paham benar. Terutama ketika aku mengenal Dino. Namanya mirip birokrat. Caranya mendekatiku juga persis birokrat. Lobi sana, lobi sini, sehingga perlahan aku luluh.

Dia pun lebih tua dari aku.

Masalahnya cuma 1: kita mempercayai Tuhan yang sama, dengan cara yang berbeda. Dan buatku itu selalu menjadi masalah besar. Besar sekali.

Bagiku setiap agama itu baik, dan agamaku paling baik. Bukankah harusnya begitu? Bolehlah aku disebut pluralis bahwa menyebut setiap agama itu baik. Tapi kalau agama-agama nggak baik, menurutku namanya bukan agama! Perkara, agama kita yang paling baik, nah.. itu dia mengapa sampai sekarang kita memegang agama itu.

Dan begitulah aku dan Dino masih memegang teguh kepercayaan kami masing-masing.

Aku dan Dino.

Yah, romantis memang iya. Meski Dino sama sekali tidak pernah menembakku, apalagi aku melakukan itu, amit-amit. Kami malam minggu bersama. Berlibur bersama ke Ancol. BBM sepanjang hari. Kadang dia menjemputku disela kemacetan Sudirman.

Sudah semacam suami istri saja.

“Eh, lu sama Dino mo nikah kapan?” tanya  Anita, tablemate-ku, suatu siang sebelum meeting.

“Heh? Gue kan belum punya calon. Dino mah temen doang, Nit.”

“Temen, tapi jemput tiap hari? Temen apaan tuh, Ly?”

Aku diam saja. Dipikir-pikir, hubungan aku dan Dino memang sudah cukup dekat. Fakta bahwa aku dan Dino berbeda tidak bisa menutupi keinginanku untuk tetap dekat dengan Dino, sepanjang hari.

Sore hari tiba. Meeting hari ini melelahkan. Aku kadang nggak habis pikir bagaimana meeting ini bisa membuatku menerima uang dalam jumlah lumayan di rekeningku setiap akhir bulan. Sementara, di luar sana, orang dengan panas hujan jualan bakso, dan tidak mendapat uang di rekeningnya setiap akhir bulan.

Sekadar berpikir galau saja.

Dino datang menjemputku, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, kalau tidak macet, ya tidak Jakarta. Di tengah kemacetan di jalan bebas hambatan yang tiba-tiba berubah nama menjadi jalan penuh hambatan ini, aku dan Dino terjebak.

Macet!

“Eh Ly, aku ditanyain nyokap tuh.. kapan kawin..” cetus Dino di tengah kemacetan.

“Ya makanya nyari dong..”

“Susah nyari yang klop di hati, Ly.”

“Masak nggak ada?”

“Ada sih..”

“Nah itu ada, siapa Din?”

“……”

Hening. Mobil Dino merayap bak kura-kura ngesot. Beginilah Jakarta.

“Kamu.”

Aku tersentak kaget, “aku?”

“Ya, kamu yang klop di hati Ly.”

“Dino, bukankah kita berbeda?”

“Apakah perbedaan harus membuat kita tidak bersatu?”

“Beda itu aneh Dino. Okelah, kita mungkin sama dalam banyak hal. Tapi kita berbeda untuk hal itu. Aku nggak mungkin mengkhianatinya. Sekarang, misalnya aku atau kamu bersatu dan harus ada yang mengalah. Coba pikir. Kalau, aku yang baru kenal kamu beberapa bulan ini sudah bisa meninggalkan sesuatu yang aku percaya dari kecil, bukankah aku juga bisa meninggalkan kamu suatu saat. Begitu kan?”

“Mungkin kita bersatu dalam perbedaan itu, Ly.”

Hening (lagi).

Berbeda itu beda. Menanggapi perbedaan tidaklah bisa dari perspektif yang sama. Aku beda dengan kamu, beda dengan dia, beda pula dengan mereka. Cara pandang perbedaan itu berbeda satu sama lain. Dan berbeda itu adalah hak orang. Kalau aku memandang dan menyikapi perbedaan dengan cara ini, tentu tidak salah. Pun, kalau kamu, dia, atau mereka menyikapi perbedaan dengan caramu, caranya, atau cara mereka, itu juga tidak salah kan?

“Berbeda itu beda Din. Caramu dan caraku memandang perbedaan saja sudah beda. Itulah perbedaan terbesar diantara kita, bukan soal kepercayaan kita,” jelasku, “baiklah kita tetap berteman saja.”

“Oke, Ly. Mungkin aku perlu lebih banyak memahami soal perbedaan.”

Jalanan di depan sudah berubah menjadi parkiran. Yah, kami masuk ke dalam tol, membayar mahal, hanya untuk parkir. Ya! Parkir alias berhenti. Lagi-lagi, itulah Jakarta.

“Kamu lihat di depan Din. Tidak semua orang sama dalam menyikapi tempat parkir ini. Pasti banyak orang yang marah-marah, banting setir, teriak-teriak, dan ada pula yang kalem mendengarkan musik. Begitulah. Perbedaan adalah kekayaan, tapi bagaimanapun pasti ada yang sama,” uraiku, “dan kamu pasti menemukan orang yang punya kesamaan denganmu. Pun dengan aku.”

Hening kembali. Hanya suara klakson bersahutan.

Perjalanan penuh keheningan ini berlanjut, sampai Dino menurunkanku di depan kompleks perumahan tempat aku tinggal.

“Oke Ly. Terima kasih sudah mengajariku soal perbedaan ya.. You’re truly nice friend.”

“Kamu juga Din. Semangat! Hehehe.. Be careful..”

“Oke.. Duluan ya..”

Dan Dino berlalu dari hadapanku.

Langkah gontaiku khas setiap kali pulang bekerja. Tapi inilah hidup. Kalau tidak begini, aku tidak akan menikmati rumah hasil jerih payahku ini. Ini KPR 15 tahun yang baru selesai 3 bulan. Masih jauh sekali.

Sesosok pria berdiri di pintu rumahku. Ada tamu rupanya. Membawa bunga pula. Sejak kapan aku pesan bunga?

“Cari siapa ya?” tanyaku sambil mendekati pintu. Rumahku di dalam cluster sehingga tidak ada pagar sama sekali.

Pria itu berbalik, dan aku terkejut.

“Lyana?”

“Bang Fano?”

“Apa kabar? Akhirnya ketemu juga rumahmu. Nyarinya bertahun-tahun lo Ly. Hehehe.. Aku cuma mau bayar hutang.”

“Hutang apa bang?”

“Aku hutang perkataan. Dari dulu seharusnya aku bilang ini. Dari 6 tahun yang lalu. Aku cinta kamu Ly.”

Dan pria ini, tanpa tahu apakah aku masih sendiri, tanpa aku tahu apakah dia juga masih sendiri, tanpa tahu isi hatiku, tanpa informasi apapun. Pria itu tiba-tiba masuk ke hatiku dengan cara yang berbeda.

Dia kembali dengan cara berbeda. Tapi hatiku tidak berbeda.

PS: tulisan ini hanya perspektif penulis saja, bagaimanapun berbeda pendapat itu wajar dan diperbolehkan kan? Terima kasih…

Buku Pinjaman

‘Lagi baca apa sekarang?’

Getar aplikasi percakapan Whatsapp secara otomatis menggerakkan tangan Dila. Tampak nama Mora disana. Dila melepaskan tangannya dari buku Heart Emergency yang baru dia baca, dan segera memainkan layar sentuh di ponsel pintarnya.

‘Heart emergency. Punya Falla Adinda. Dokter muda, bagus lo. Rekomen. Kamu?’

Send.

Tidak berapa lama, pesan berbalas.

‘Masih 2 cm, belum abis-abis dari kemarin’

Dila ngakak sejadi-jadinya. Sampai kecoa yang lagi ngumpet di balik lemari ngintip, siapa tahu bisa ikutan ketawa.

‘2 cm? ini terusannya 5 cm apa?’

‘Iya, yang buknya merah tebel itu’

‘Itu mah judulnya 2 kaleeee masbrowwww’

‘Smiley’

Emoticon adalah salah satu metode pengakhiran percakapan. Seseorang yang menulis emoticon bisa jadi sudah kehabisan kata-kata untuk meneruskan percakapan. Jadi, biasanya, kalau ada percakapan dengan emoticon, abaikan saja.

‘Tapi aku masih ada yang baru nih’

Ponsel pintar Dila kembali bergetar. Tampak lagi nama Mora disana. Ternyata dia belum selesai. Nah, biasanya kalau yang seperti ini, berharap emoticon ditanggapi, tapi karena tiada tanggapan, terpaksa memulai percakapan baru lagi.

‘apaan?’

‘Banyak. Ini ada Manusia Setengah Salmon, ada Perahu Kertas, ada Madre, ada 9 Summer 10 Autumn jugak’

‘Weehhhh.. boleh-boleh.. Jualan buku pak? wkwkwk..’

‘Pecinta buku ya kayak gitu tante’

‘Kalau cinta buku ya dibaca dong. Kalau nggak mau sini tak baca.’

‘Boleh.. Mau yang mana?’

‘MSS aja Mor. Sekalian ngelanjutin Marmut Merah Jambu kemarin.’

‘Boleh-boleh. Tak antar? Ini kayak perpus keliling yak? Hahaha..’

‘Kalau tidak merepotkan :)’

‘OK. Nanti dikabarin. Sip.’

‘Sip’

Whatsapp sudah diam kembali. Dila pun kembali memelototi halaman demi halaman Heart Emergency. Nyata ya, putus setelah 4,5 tahun berhubungan itu nggak mudah.

Membaca buku sore-sore itu ada tidak bagusnya. Karena kemudian, persis dengan buku masih di tangan, Dila malah memejamkan matanya. Mungkin menjiwai cerita pahit manisnya Falla.

Rrrtttttt….

Getaran ponsel pintar membangunkan Dila.

10 pesan baru. Masih dari nama Mora.

‘Oi tante…’

‘PING!’

‘PING lagi!’

‘Buzzzz’

‘Jiaahhhh…’

‘Mesti bobo yakkkk..’

‘Jadi dianterin bukunya?’

‘Nanti jam 7 aku kesana’

‘Halowwwww’

‘Tantee….’

Dila langsung melek. Merasa bersalah sama perpus keliling yang mau delivery buku ini.

‘Siappppp.. Silahkan datang jam 7. Oke.. Oke.. Maap, baru menikmati hidup.. hehe’

‘Noted. Ah, tante ngantukan wkwkwk..’

“Dilaaaaaaa… ada yang nyariin tuhhh…” teriak Tere dari luar.

“Siapaaaa?” Dila berteriak balik.

Maka jadilah kos-kosan itu seperti hutan belantara, ketika monyet-monyet berteriak satu sama lain saling memanggil.

Dila membuka pintu kamarnya, menapak turun ke teras, masih dengan muka bantal.

“Eh, Don, ngapain kesini?”

“Biasaa.. Mo curhat.. Nggak mo pergi kan? Dari mukanya sih kelihatan abis pulang dari alam mimpi.”

“Ngeceee… nggak sih, di kos aja.”

Doni dan Dila adalah saudara sepupu yang kebetulan satu kampus sehingga kos di daerah dekat-dekat kampus juga. Dan sebagai saudara yang akrab, curhat adalah salah satu kebiasaan mereka. Apalagi mereka adalah tipe-tipe manusia galau dan labil yang butuh pencerahan. Bagaimana rasanya jika dua makhluk labil saling mencerahkan? Mungkin malah tambah gelap.

Doni dan Dila ngobrol asyik di teras kos. Masih soal kegalauan Doni tentang pacarnya. Ini sudah terjadi setiap awal pekan. Mungkin akhir pekan Doni selalu berakhir pahit.

Deru sepeda motor memasuki area kos Dila. Sebuah sepeda motor yang nggak jelek-jelek amat, bagus amat juga jelas bukan. Lebih tepatnya adalah jelek sekali.

Mora turun dari sepeda motor dan kemudian berjalan ke arah teras. Di malam hari, semua tampak remang-remang. Termasuk Dila dan Doni yang sedang curhat itu tampak seperti dua orang berlainan jenis lagi mangkal di warung remang-remang, dan Mora tampak semacam pelanggan yang haus.

“Permisi…,” kata Mora, pandangannya tercekat pada dua insan yang sedang duduk berdekatan di teras kos.

“Eh.. Mora..” Dila bangkit berdiri dari kursinya, kemudian menemui Mora.

“Ini, MSS-nya. Semoga habis baca nggak jadi kayak Salmon,”

“Enak ajee… Makasih ya.. Mampir dulu?”

“Nggak usah Dil. Masih banyak event. Halah..”

“Oom Mora sok sibuk. Horeee.. Nyari gebetan om?”

“Hussshhh.. Udah ah.. Pamit ya..”

“Oke.. oke.. Makasih ya Mora.”

Mora berjalan ke arah sepeda motornya yang masuk kategori jelek sekali itu tadi. Sebelum menyalakan sepeda motornya, Mora duduk di jok sejenak. Membuka telepon genggamnya, akses opera mini, masukkan alamat m.facebook.com, lalu mengetik di sebuah kolom.

‘Ternyata sudah ada guguknya’

Update.

Mora mengambil nafas dalam, menggerakkan kaki semacam anjing mau gali lubang, menginjak tuas untuk menyalakan mesin, terus-menerus. Mesin kemudian menyala pada ayunan ke-99. Asap mengepul dari knalpot. Memenuhi hidung, paru-paru, sampai ke hati Mora.

Foto Dalam Dompet

“Tidak ada gadis semisterius ini,” gumam Yama.

Sebuah gumam putus asa, setelah puluhan pesan singkat tak berbalas, dan beberapa pesan singkat yang berbalas, ditambah belasan kali nguping, semuanya bermuara pada satu jawaban: belum ada jawabannya.

Yama masih dalam proses mendekati cewek secara baik dan benar. Yama masih ingat betul setahun silam kena batunya. SMS-an sama nomor si cewek gebetan, eh ternyata yang membalas SMS itu adalah pacarnya si gebetan. Sebuah trauma yang diakhiri private message di Facebook. Panjang lebar, antar pria.

Sejak itu, Yama merasa bahwa mendekati cewek harus didahului oleh prosedur utama: pastikan kalau dia single. Bahkan cewek yang lagi rapuh juga tidak masuk kategori Yama.

Dan sekarang gadis idaman itu sudah ditemukan, persis di hadapannya sekarang. Masalahnya cuma 1, Yama nggak ngerti apakah Ninda masih single atau sudah double. Sepele sebenarnya. Dan berbagai taktik sudah dikeluarkan, berhasil pada cewek lain, tapi tidak pada yang satu ini.

Metode pertama, sindir-sindir mlipir. “Malam minggu nggak keluar?” atau “Nggak ada yang ngajak makan bareng?” adalah jenisnya. Jawaban Ninda? “Aku kan di rumah…”

Metode kedua, rekonfirmasi. “Nggak ada yang marah kan kalau aku SMS kamu?”. Jawaban Ninda kemudian, “Ngapain marah, semua temen juga SMS aku.”

Metode ketiga, ngintip-ngintip bintitan. Nongkrong di warung dekat rumah Ninda selama berjam-jam di malam minggu. Sesekali melihat ada cowok mampir memang, tapi nggak jelas itu ngapelin Ninda atau pembantunya. Soalnya kata Ninda, dia punya pembantu yang cantik dengan usia ABG. Metode ini diulang beberapa malam minggu sebelum muncul pengumuman di warung, “Nongkrong lebih dari 15 menit harus beli makan.”

Yama keder, karena selama ini, untuk 3 jam operasi, dia hanya membeli kerupuk. Gopekan.

Metode terakhir yang belum Yama coba adalah bukti fisik. Biasanya cewek akan menyimpan foto pacarnya secara terang benderang di dompet.

“Dompetnya! Itu dia!” Yama tampak seperti Archimedes ketika menemukan teori. Hampir saja dia berkeliling kampung dan berteriak, “Eureka.. Eureka..”. Untung saja kemudian di ingat kalau ide itu diperoleh jam 3 pagi, dan anjing-anjing galak di kompleks sedang diperkenankan untuk berkeliaran.

Sebuah pertemuan yang diatur agar tidak sengaja kelihatannya, diatur oleh Yama. Di kantin kampus, Yama pura-pura baru ada di kantin ketika Ninda nongol. Padahal Yama sudah di kantin dari subuh, dan Ninda datang ke kantin jam 2 siang.

“Hai, Nin.”

“Hai.. Nggak kuliah?”

“Lagi males aja. Hehehe.. Kamu nggak kuliah?”

“Lagi habis praktikum aja. Laper. Mau makan apa Yama?” tanya Ninda, dengan suaranya yang manis dan mengandung obat penenang karena Yama nyaris pingsan mendengarnya.

“Ngikut kamu aja,” jawab Yama malu-malu.

Yama mengikuti Ninda dari mengambil makanan, sampai ke kasir kantin. Ketika Ninda mengeluarkan dompet, Yama bergumam lagi, “Ini dia!”

Ninda membuka dompet, tampak sebuah foto disana, sosok dengan jumper coklat, dan kupluk terpasang di kepala.

Yama sudah merasa bahwa atap kantin tiba-tiba runtuh menimpanya.

“Yama?”

“Ya?”

“Katanya mau makan?”

“Ehmm.. Nggak jadi. Tiba-tiba sakit perut. Duluan ya…” Yama bergegas hendak meledak.

Ninda masing geleng-geleng kepala sambil membawa makanannya ke meja. Sejurus kemudian, Lia datang sambil berteriak, “Niiinnnnn… Jumper coklatmu nih.. Ketinggalan di lab…”

Ninda menoleh lalu beraksi ala orang lupa di tivi-tivi, memukul ringan jidatnya dengan telapak tangan.

“Iyaaaa Li… Sorry lupaa.. hehehe.. Ketinggalan di mana?”

“Di rak lah. Dimana lagi? Mana ini jumper ada namanya terbordir dengan jelas. NINDA.”

“Hoooo.. sip-sip.. Thanks ya Li.”

“Sama-sama, Nin.”

Dan Nindapun melanjutkan makan siangnya, dengan jumper coklat kesayangannya. Jumper kelas waktu SMA. Jumper yang sama dengan yang dia kenakan di foto yang terpasang pada dompetnya.

🙂

-24 Januari 2012-

*edisi ngedit dari cerpen ini dimuat di buku Radio Galau FM Fans Stories.. hehehe.. Dengan ending yang berbeda..

Pemuja Rahasia

kuawali hariku dengan mendoakanmu
agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
sebelum kau melupakanku lebih jauh
sebelum kau meninggalkanku lebih jauh

ku tak pernah berharap kau kan merindukan keberadaanku
yang menyedihkan ini
ku hanya ingin bila kau melihatku kapanpun dimanapun
hatimu kan berkata seperti ini

pria inilah yang jatuh hati padamu
pria inilah yang kan selalu memujamu
begitu para rapper coba menghiburku

aku lah orang yang selalu menaruh bunga dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
aku lah orang yang kan selalu mengawasimu
menikmati indahmu dari sisi gelapku

dan biarkan aku jadi pemujamu
jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
tenanglah tenang pujaan hatiku sayang
aku takkan sampai hati bila menyentuhmu

mungkin kau takkan pernah tahu
betapa mudahnya kau untuk dikagumi
mungkin kau takkan pernah sadar
betapa mudahnya kau untuk dicintai

aku lah orang yang akan selalu memujamu
aku lah orang yang akan selalu mengintaimu
aku lah orang yang akan selalu memujamu
aku lah orang yang akan selalu mengintaimu

Dua Sisi

Aku masih bersamamu sekarang. Aku juga heran kenapa aku masih bertahan bersamamu. Tapi biarlah, lagipula selama ini aku sudah bersamamu dan mungkin untuk waktu-waktu yang mendatang. Yah, sejauh aku bersamamu, aku cukup menikmati. Ada hal-hal yang bisa kamu penuhi. Ada standar-standar yang spesifikasinya cocok padamu.

Tapi maaf, ini soal hati. Hatiku masih berlari-lari. Sesekali dirimu benar-benar hilang dari otak dan hatiku. Sesekali itu terjadi tidak sengaja, namun sesekali memang aku sengaja mengeluarkanmu dari otak dan hatiku. Kadang bisa dua minggu lamanya, kamu hilang benar dari pikiranku sebelum akhirnya logika mengembalikan kamu kembali ke otak dan hatiku.

Dalam waktu-waktu itu, dia yang mengisi tempatmu di otak dan hatiku. Ingat ya, di dua-duanya, otak dan hati. Dia yang sedang galau di ujung sana. Dia yang selalu mampu menghilangkan kegalauanku, alih-alih kamu. Maaf, kamu justru lebih sering membuatku galau.

Sayang memang aku tidak mampu memilikinya, maka baiklah aku tetap bersamamu.

Nafas pria itu mendengus berat. Meski begitu, dia tetap masuk ke dalam rumahnya.

* * *

Pintu itu akhirnya terbuka juga. Pulang juga kamu. Baguslah kalau kamu pulang. Setidaknya ada yang harus bersamaku saat ini. Aku memang harus bersamamu saat ini dan mungkin waktu-waktu yang mendatang.

Untung pula kamu pergi. Sejujurnya aku juga malas melihatmu. Kadang aku ingin menyuruhmu pergi karena aku sedang malas melihatmu. Makanya, untuk kali ini aku bersyukur sekali kamu pergi. Sekali-kali kalau kamu hilang dari kehidupanku, hidupku terasa lebih baik.

Kamu pasti tahu bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan dia dalam hidupku. Meskipun kamu sudah ada di hidupku cukup lama. Dia punya sesuatu yang lebih dari kamu, dia memiliki hal yang aku butuhkan. Sesuatu yang kamu tidak miliki.

Kebetulan pula aku sampai di rumah sebelum kamu. Jadi aku sudah ada dan siap di rumah ketika akhirnya kamu buka pintu itu. Yah, pasti tidak ada masalah.

Kamu akan pulang, kita akan bertemu, dan kehidupan akan kita lanjutkan kembali. Aku dan kamu berjalan bersama dalam masa depan hidup kita. Tentunya dengan dia tetap ada dan akan selalu ada di dalam kehidupanku.

Pintu itu bergerak. Helaan nafasmu kudengar berat. Kamu sudah masuk ke rumah.

* * *
Tulisan saya yang berjudul Dua Sisi, dimuat di Antologi berjudul Salah. Diterbitkan dalam rangka #11Project11Days 🙂

Trauma Tak Selalu Tentang Luka

screenshot_221

Keping DVD berhenti berputar. Switch otomatis membawa DVD Player pada posisi off. Layar LCD sudah kembali pada posisi stand by, membutuhkan film lain untuk ditayangkan, dapat diperankan oleh artis yang berbeda asal sama tampannya.

Naya masih tersedu sedan dengan tisunya. Menangis. Ya, menangis. Menonton DVD Korea selalu membawa haru dalam diri Naya. Dan hampir selalu haru diterjemahkan dalam tetesan air mata.

“Kadang-kadang tangis itu perlu Nay, buat ngebersihin mata. Tapi kalau nangis melulu ya bukannya matamu yang bersih. Sama alis-alisnya sekalian mungkin,” kata Lani, yang dengan setia duduk diam di sebelah Naya, “Mau diputerin DVD yang mana lagi?”

“Bentar kali Lan, air mataku belum ngumpul lagi nih,” jawab Naya dengan sesenggukan.

“Kamu nonton DVD Korea cuma buat nangis? Kamu itu memang pengen nangis kan? Film Korea ini cuma buat pemicu biar kamu nggak kelihatan nangis tanpa sebab?” selidik Lani.

“Stopppppp…” tangis Naya kembali meledak, “Huaaaaa…”

Lani tampak merasa bersalah, sepertinya dia terlalu keras dengan temannya yang masih labil ini, “Sorry Nay.. Nggak maksud…”

“Oke..,” Naya berhenti sebentar mencari tisu, “kamu harus paham Lan.”

“Paham apa?”

“Melupakan itu nggak mudah. Apalagi dengan hati terluka.”

“Oke Nay, aku paham. Tapi apa mesti begini terus. Poconggg saja udah menggalakkan gerakan move on, masak kamu masih diam bergalau begini? Kapan majunya kamu Nay?”

“Nggak mudah.. nggak mudah.. ” rapal Naya sambil menggeleng.

“Nggak mudah, tapi kamu harus move on kan Nay…” Lani mencoba agak sabar menghadapi penggalauan teman baiknya sejak sama-sama ngekos ini.

“Mungkin… mungkin.. aku trauma Lan…”

“Hahhhh? Kamu trauma sama cowok?”

“Maybe…”

“Gilaaaa.. Ini namanya menantang ketetapan duniawi. Sebenci-bencinya kamu dengan dia. Seberapapun luka di hati kamu, ya jangan terus trauma sama cowok! Jangan-jangan nanti kamu suka sama aku lagi.. Hiiiiii….”

Dan sebuah bantal dilempar.

“Pokoknya aku kudu jauh-jauh dari kamu kalo begini,” lanjut Lani.

Kali ini guling yang dilempar.

“Ini berbahaya…,” Lani tak berhenti berbicara.

Lemari melayang.

Hening.

“Nay, aku tahu sakit. Mungkin Mario membuat luka di hati kamu. Mungkin juga kamu trauma. Aku tahu Nay. Tapi ada kalanya trauma nggak selalu soal luka. Trauma ini bisa jadi alasan utama kamu untuk move on. Lupakan Mario! Dia udah nyakitin kamu. Biarkan luka kamu ditutup oleh yang lain Nay.”

“I need to move on, Lan?”

“Tentu… Aku nggak mau kamu jadi lesbi. Ngeri aku Nay.”

Kali ini Naya melempar sepeda motor.

“Kamu wanita kuat Nay. Aku yakin kamu pasti bisa. Sip?”

Naya tampak mulai kuat. Air matanya mengering. Entah mengering karena tisu atau memang air matanya sudah habis atau karena proses produksi air matanya dihentikan gara-gara sweeping.

“Sipppp Lan. Aku tahu kamu teman yang paling baekkkk…”

“Nah, gitu baru teman! Asikkk.. Nggak jadi dilesbiin sama Naya.. hahahaha..”

“Itu truk tronton di depan mau tak lempar sekalian, Lan?”

“Ampun.. hehehe.. Okehhh.. Aku pulang dulu ya Nay! Jangan lanjut nonton dulu, nanti banjir ini kamar. Kan aku yang repot kalau kamu minta tolong ngepel. Air mata itu agak lengket-lengket gimana kalau banjir.”

“Nggak segitunya kaleeeee.. Sipp.. thanks ya Lan.”

“You are welcome Nay.”

Lani menutup pintu. Di balik pintu, dia meninggalkan sahabatnya, Naya yang barusan terluka ditinggal pacar.

Lakukanlah sampai engkau puas. Cari saja apa yang hatimu mau. Sampai kapanpun aku slalu mencoba untuk mengerti. Teruskanlah hingga engkau jera. Dustai dan khianati lukai hatiku. Meski lautan air mataku mengering. Kucoba tetap…..

“Ya sayang?” Lani mengangkat handphone-nya. Hanya ada 1 orang dengan ringtone ini.

“Lagi dimana Lani sayang? Jadi nonton?”

“Jadi dong! Nanti ketemuan disana aja ya. Kamu beli tiketnya dulu.. hehe…”

“Oke.. oke.. Sip.. Aku tunggu. Take Care. Love you Lani.”

“Love you too Mario.”

 

Teman?

“Ran, Mily itu pacarmu?” tanya Yana, suatu kali.

“Heh? Pacar? Dari mana ceritanya? Kita itu hanya berteman kali bro.”

“Tapi kok kalian sepertinya dekat sekali?”

“Ah, itu perasaan dek Yana saja. Aku sama Mily nggak pergi makan tiap hari, nggak pernah apel-mengapeli, nggak pernah telpon-telponan, nggak setiap hari Whatsapp-an. Dari mana status pacar masbro?”

“Yah, tampak di mata saja. Setidaknya,pasti ada perasaan.”

“Nonsense…”

Dan hening.

Rana dan Mily. Tidaklah aneh memberi predikat mereka teman. Tidak pula luar biasa menyebut mereka, lebih dari sekadar teman. Karena semua orang boleh berpendapat, karena hak berpendapat itu dijamin di negeri ini. Yang tidak dijamin itu hak untuk berdiri di halte bus untuk kemudian bisa selamat sampai naik bus yang ditunggu.

“Cek.. cek…” Rana mengetik sebuah pesan via Whatsapp.

Tak berbalas.

“PING!”

Masih tak berbalas.

“PING!”

“Yooooooo…” Sebuah balasan dari Mily The Galauers

“Sombong…”

“Yo ben.. Ngopo?”

“Ora popo.. Tadi ada yang bilang kita pacaran! Wkwkwkwk..”

“Huuuuu.. Wah, aku dipitnah.. aku dipitnah..”

“Lha njuk?”

“Pitnah kan lebih kejam daripada demo.. Ihiks..”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Jiahhh.. ngopi.. ngopi.. ngopi yuk…”

“Hayukkkk… kapan? kemarin?”

“Abad depan. Huhhhhhhh.. Ayo tak jemput.”

“Oke.. oye.. Mari…”

Dua gelas plastik sudah berdiri manis di meja. Satu gelas Caramel Machiato, dan satu gelas Java Chip. Keduanya berdiri tegar di atas meja, diantara dua insan, Rana dan Mily.

“Jadi siapa ya bilang kita pacaran?” tanya Mily, membuka pembicaraan.

“Tuhhh.. si Yana. Ora cetho kok.. hahaha..”

“Hahaha.. memang pancen ora cetho..”

Kedua insan ini kemudian bercengkerama ngalor ngidul. Setiap sedotan kopi yang masuk ke dalam kerongkongan berbuah sebuah topik menarik. Mulai dari bincang novel, bincang adik, bincang bintang, sampai ke bir bincang.

“Jadi sebenarnya gimana?” tanya Mily, ketika gelak tawa perbincangan mereda.

“Opo?”

“Ya kita ini emangnya gimana? Kan ora cetho.. hahaha…”

“Yah, kan emang kita berteman to?”

“Teman?” tanya Mily dengan intonasi yang 180 derajat berbeda dari gelak tawanya barusan.

“Yah.. enaknya kita berteman ajalah.. lebih asyik, tanpa beban, tanpa berharap, tanpa sakit hati.. Sip?”

“Jossss…”

Sedotan kopi dihentikan, karena memang sudah habis. Kedua gelas itu ditinggalkan dalam keadaan diam, meski keduanya telah menjadi saksi dua tetes air mata Mily, yang tidak sempat dilihat oleh Rana.

Ya, kita berteman aja

 

Mari Menari

Aku menari dengan suara yang menyentuh hidupku
Aku setengah gila dan bunuh diri
Memainkan gitar dan berusaha untuk mengeluarkan cairan
Tanpa payung

Kamu menari begitu halus dan sesuatu yang berbeda
Itu akan instingmu
Aku bernyanyi di bawah lampu jalan
Kamu di tempat yang indah

Namun kakek pernah mengatakan
Itu dua hal yang berbeda
Kamu bisa meninggalkan bentuk
Dua pertandingan besar
menari denganku
Hanya berdansa denganku
Hati ke hati
Paru-paru kita
Abadi
menari denganku
Hanya berdansa denganku
Itu bukan situasi
Tapi hati
Siapa yang memutuskan jalan

Kamu sehalus porselen
Renda di tempat tidurmu
Aku ada untuk membuat lebih besar
Apa seperti yang aku rasa
Bagiku itu masih yang pertama
Menjadi anjing liar
Memukul keras di spatbor
Untuk membuka lubang
Namun kakek mengatakan

Itu dua hal yang berbeda
Kamu dapat meninggalkan bentuk
Dua pertandingan besar
Menari denganku
Hanya berdansa denganku
Hati ke hati
Paru-paru kita
Abadi
Menari denganku
Hanya berdansa denganku
Itu bukan situasi
Tapi hati
Siapa yang memutuskan jalan
menari denganku
Hanya berdansa denganku
Hati ke hati
Paru-paru kita
Abadi

Belajar Bahasa Palembang (versi Sederhana)

Ini mungkin posting paling nekat sejagad ariesadhar.wordpress.com. Lha iya, wong saya itu cuma 2 tahun sekian hari di Palembang kok nekat ngajari bahasa Palembang?

Edan!

Nggak sih. Saya bersyukur diberi karunia agak mudah mempelajari bahasa ketika terjun langsung didalamnya. Setidaknya dalam 1-2 bulan pertama di Palembang, saya sudah bisa menawar harga sepatu di toko olahraga sepanjang sudirman, yang notabene isinya orang keturunan Hindustan semua.. hehehe..

Bahasa Palembang bagi saya adalah pertemuan antara Minang dan Jawa. Kenapa? Mungkin kaitan Sriwijaya juga kali ya. Yang pasti kecenderungan meng-o-kan suasana masih ada. Tapi ingat, itu kecenderungan saja lho. Dan beberapa vocab sangat Jawa sekali.

Beberapa huruf konsonan dari Bahasa Indonesia bisa hilang. Misal ari (hari) atau asil (hasil). Sebenarnya ini terkait ke pengucapan saja sih bahwa H dan A berurutan itu agak tidak terdengar. hehe..

Pertemuan Minang-Jawa ada di awak, karena kata ini bisa bermakna anda, bisa juga badan.

Untuk menyapa, ingatlah bahwa KAKAK itu mengacu kepada laki-laki yang lebih tua. Kalau di Jawa itu Mas. Sementara saudara perempuan lebih tua adalah AYUK. Jadi bukan Mas-Mbak tapi Kakak-Ayuk. Jadi jangan emosi dulu buat yang cowok, kalau di jalan dipanggil “Kak”. Kalau paman dan bibi, jadinya Mangcek dan Bicek. Gampang to? Mamang kecik dan Bibi kecik. Hehehehe..
Ada vocab yang bagus di Palembang buat saya yakni Baseng. Ini artinya semacam terserah. Bisa dipakai menangkal gosip. “Kamu mau kawin ya?” “Apo dio o? Baseng be..”. Ya kira-kira demikian. Atau begini, “nak milih yang mano?” “Basenglah..”
Kata lain yang oke adalah Beguyur. Ini bukan berarti diguyur air ya. hehe.. Beguyur bermakna mulai tapi pelan-pelan. Lalu kalau berusaha, namanya berejo.
Lalu kalau ada yang bilang kita BELAGAK, maka senanglah. Jangan malah emosi. BELAGAK ini bukan bermakna banyak lagak, tapi bermakna TAMPAN atau CAKEP. Mantap kan?

Tahu Benteng Kuto Besak? Nah, Besak tentunya bermakna Besar. Pola ini rutin dipakai di Palembang. Besak nean… Kalau kecil? Tentu saja KECIK. hehe..

Kemudian soal jenis kelamin. Janganlah marah kalau dipanggil Betino (buat yang cewek), karena memang panggilannya lanang dan betino untuk laki dan perempuan. Lalu kalau dibilang Budak, ya biasa saja, orang itu artinya adalah anak. Tahu kan kak Ros di Upin-Ipin, “budak ni….”

Waspada pada pengggunaan kata Lolo. Ini sepenuhnya bermakna tolol. Makanya heran dulu ada pemain SFC namanya Lenglolo. Gimana itu ya? Hehehe.. Lebih parah lagi ada yang namanya Buyan. Kalau pernah nonton Liga Champion Asia, seorang kiper SFC lama pernah diteriaki hal ini sama penonton saking seringnya blunder.

Dan pertanyaan standar biasa dimulai dengan Cakmano alias Bagaimana. Standar dong? Cakmano ni? Bagaimana ini?

Mau agak Jawa? Adalah beberapa kata misal Buri atau Dewean. Itu beneran bermakna belakang dan sendirian. Lalu kalau agak mirip ada namanya Galak. Ini kata Palembang pertama yang saya tahu. Galak itu artinya Gelem = Mau. Hehehe.. Masih ada juga Metu alias keluar.

Lalu, yang paling ternama tentu WONG KITO GALO. Artinya? Orang Kita Semua. Galo ini banyak dipakai di pasar. “Beli brapo?” “Galonyo.” “Kapan nak beli?” “Kagek..” Hehehe.. yang ini artinya nanti.

Kalau mau berantem, ada istilah goco alias tonjok. “Goco kagek…” Selevel lebih tinggi adalah tujah alias tusuk pakai pisau. Ya inilah profil Palembang di halaman belakang koran daerah. Pasti ada itu tiap hari. Ngeri euy…

Ada lokasi bernama Kambang Iwak alias kolam ikan. Ngerti kan? Memang sih karena kolamnya butek, jadi tidak kejingokan ikannya. Tapi kalau dimakan LEMAK nian. Nah, lemak itu bermakna sedap, wuenaakkk.. Memang lemak itu bikin sedap ya? hehehe.. Nak Melok idak? Mau ikut tidak. Itulah artinya.
Nah, ini agak riskan. Mau ngenjuk? Upps.. itu artinya memberi. Mau nyingok? itu artinya melihat. Ado pacak? Itu artinya apa bisa?
Kalau orang Palembang nyebut Pucuk akan jadi seolah-olah POCOK. Itu artinya di atas. Pas ngajak, ayo itu jadi Payo. Cak inilah, seperti inilah orang Palembang. Kalau lagi ramai disebut rami. Apalagi kalau lebaran, musimlah SANJO alias bertamu.
Sengsara dipotong menjadi SARO. Lalu tidur itu jadi tiduk. Kalau tabrak jadi tumbur.
Dan jangan kaget kalau di pasar ditanya, “nak beli berapo ikok?” bilang saja sikok, itu artinya satu.
Masih banyak informasi lain soal belajar bahasa Palembang, tapi semoga ini dapat membantu 🙂

Nama Itu, Senyum Itu, Kamu Itu

Kadang aku ingin bertanya pada Tuhan, mengapa Ia membiarkan udara mengantarkan gelombang yang isinya sebuah kata berisi namamu. Kadang aku berharap waktu itu aku sedang mendengarkan seseorang lain yang berbicara yang lain pula, bukan berbicara sebuah kata yang isinya adalah namamu.

Ya, sejak gendang telingaku menangkap dua patah kata yang adalah namamu, semuanya tak lagi sama. Namamu berlari menyusuri sistem sarafku, memenuhi cairan-cairan perantara neuron yang ada di otakku, bahkan ikut main-main dengan tekanan darahku. Entah mengapa semuanya soal kamu.

Mungkin sebenarnya aku harus jujur bahwa yang kusesali bukanlah saat aku mendengar namamu. Baiklah, aku memang harus jujur.

Satu hal yang kusesali adalah karena mendengar namamu aku telah memberikan cintaku kepadamu, yang tampaknya takkan pernah mencintaiku. Sebenarnya hanya itu. Sayangnya, cinta itu bertumpuk, terpendam, bahkan terbenam di dalam hatiku. Cinta itu telah mengendap bersama toksin-toksin kronis di dalam tubuhku.

Apakah mungkin karena kita cukup dekat?
Apakah mungkin karena aku seolah-olah mendekati kamu sebatas ingin berteman?
Apakah mungkin karena kamu memang tidak punya rasa padaku?
Sungguh aku tak tahu.

Kamu telah menjadi hemoglobin dalam darahku. Sungguh tanpa kamu, otakku seakan tidak pernah menerima oksigen. Dia hampa. Bahkan kalau bukan karena kamu, maka kata-kata ini tidak mengalir.

Hanya dari namamu yang tampak biasa tapi entah kenapa membuatku menggila. Lantas aku bertemu kamu yang juga entah kenapa malah membuat aku seperti perlu minum obat penenang. Dan terutama, ketika kamu tersenyum.

Sungguh dunia menjadi terang benderang. Aku hanya berharap sehabis melihat senyummu, aku tidak perlu memakai kaca mata, karena senyummu sungguh menyilaukan.

Satu hal yang kusesali, ya hanya satu saja. Sayang, yang satu itu berakar banyak.

Aku tidak tahu apakah selama ini kamu menyadari cintaku? Aku yakin kamu pasti menyadari tentang aku karena kita sering berinteraksi. Dan aku yakin kamu bukanlah orang aneh yang berinteraksi sendiri, karena itu memang tidak mungkin dilakukan.

Apakah kamu tidak sadar bahwa selama ini aku merindumu? Meskipun aku menulis kata-kata lewat pesan singkat yang seolah-olah bercanda, tapi sejatinya itu nyata.

Mungkin aku memang terlalu banyak bercanda.
Tapi sebenarnya itu lebih karena aku mencintaimu.
Dan yang terjadi kemudian adalah aku tidak punya daya untuk mengungkapkan cinta kepadamu.

Apakah kamu tidak peka sedikitpun tentang panggilan hatiku? Mungkin kini dia sedang sirosis, membatu, karena siapa? Karena kamu.

Kamu adalah senyuman paling indah.
Kamu adalah tawa paling menghangatkan.
Kamu adalah kerlingan yang paling menawan.
Kamu adalah binar paling cemerlang.

Sungguh itu kamu, dan memang hanya kamu.

Kala berulang usaha membuatku berhenti pada ketidakpedulianmu akan aku, maka aku akan selalu berlari.

Sayangnya, aku jatuh terlampau dalam di hatimu.
Aku tidak bisa memanjat lagi.
Bibir jurang hatimu sudah terlalu jauh karena aku terperosok sedemikian dalam di hatimu.

Aku menangis kala mendengarmu bersama seseorang yang kamu cintai.
Aku tertawa kala kemudian orang itu justru menyakitimu.

Aku tertawa, karena akhirnya aku punya ruang kembali untuk masuk ke sisi hatimu.  Tapi tetap saja, aku rasa kamu tidak tahu.

Pernahkah kamu menyepi sejenak?
Pernahkah kamu mendengarkan jeritanku dalam dasar jurang hatimu?
Pernahkah kamu sejenak melihat ke bawah, ketika aku menatap penuh harap bahwa kamu akan membantuku keluar dari jurang ini dan menaruhku di sisi hatimu?

Ketika kamu selalu menyebut hendak mencari sosok lain, aku selalu berharap bahwa kamu akan berpaling padaku.

Sayangnya tidak.

Hah..
Kamu ini memang bikin gila. Kamu sudah seperti Diazepam yang masuk secara intravena ke dalam pembuluhku. Aku tak berdaya karena kamu.

Lantas apa?
Aku harus berusaha untuk sadar sendiri, berupaya bangkit sendiri, dan berjuang untuk tegak kembali.

Aku tahu kamu sebenarnya tidak salah karena akulah yang memberikan cintaku kepadamu. Dan salahku juga tidak pernah meminta cintamu.

Sungguh, aku hanya tidak berani.

Kini aku baru mengerti sungguh bagaimana rasanya mencinta. Sayangnya rasa itu harus kudapatkan dengan mencintaimu, yang tidak akan pernah mencintaiku.

Yah, kini aku sudah tahu rasanya.
Terima kasih telah memberikanku pengalaman yang tidak akan terlupa soal rasa mencinta.
Ini sungguh berharga bagiku.

Dan pasti akan jauh lebih bermakna, kalau kamu pada akhirnya ada di sampingku.

* * *

Malam menjelang dan suasana laboratorium, seperti biasa, sepi. Seorang dalam balutan jas laboratorium tampak berbicara sendiri dengan memegang gelas ukur dan pipet.

Dan orang itu masih melontarkan kata-kata, kadang manis, tapi lebih banyak galaunya. Mungkin percobaannya sedang gagal, mungkin peak HPLC yang diharapkannya tidak muncul, mungkin ia harus mengulang preparasi, Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang tahu? Mungkin juga tidak.

Karena ada sosok lain di ujung ruangan yang mendengarkan dengan saksama racauan orang itu. Sangat saksama malah.

Satu hal saja yang perlu dipertanyakan, apakah sosok lain itu sadar bahwa orang itu meracau panjang tentangnya?

Tidak ada yang tahu. Sungguh.

* * *

Tulisan saya yang dimuat dalam buku Tahu Bagaimana Rasanya
Sebuah buku antologi yang diinspirasi dari lagu berjudul sama ciptaan Mbak Lala Purwono 🙂