All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Dan Aku Pulang: Rumah

17 Agustus 2012, di saat seharusnya menyaksikan upacara di TV, aku malah tersudut di pojok kanan belakang travel Maestro yang membawaku dari Bandara Minangkabau ini. Ah, lama sekali. Kakiku sudah menekuk tidak karuan. Untung saja umurku masih 25, bagaimana kalau ini terjadi 25 tahun lagi? Pasti kakiku sudah membengkak karena penyakit.

15.45, aku mengingat angka itu tampak di dashboard mobil travel persis ketika meninggalkan parkir Bandara dan memulai perjalanan panjang menuju Bukittinggi. 17.45, aku mengingat angka itu tampak di tempat yang sama ketika nama “Padang Luar” sudah tampak di sisi kiri dan kanan.

Tapi kenapa sampai 18.30, mobil ini masih terjebak di macet Simpang Tarok?

Sigh!

Mobil ini masih hendak ke Gadut, masih hendak ke Inkorba, dan Ganting terakhir. Mungkin jam 9 malam aku sampai.

“Lurus!” teriak Polisi di pertigaan yang macetnya sudah mirip Pasar Serang.

Mobil travel ini masih dalam posisi hendak belok ke kiri, ke jalan menuju arah Gadut, kalau aku tidak salah.

“Lurus! Ini nggak bisa jalan,” teriak Polisi itu lagi.

Supir travel ini mengeluarkan pose malasnya. Perjalanan dari bandara sudah cukup melelahkan, pas puasa pula, aku mencoba memahami itu. Ia kemudian mengarahkan mobil ke arah Aur Kuning dan berbelok masuk ke arah Koto Dalam.

“Kalau lewat siko, ka Ganting se dulu, Da.”

“Ganting?”

“Ganting Permai.”

Supir itu diam, tidak menolak ataupun mengiyakan.

Perempatan Bay Pass yang semakin lama tampak sempit bagiku, supir itu belok kiri. Kupikir ia menolak permintaanku, tapi ternyata tidak. Di sebelah Gon Raya, ia berbelok naik. Yah, ini jalanan yang 11 tahun lalu kulewati dengan berjalan kaki sesudah turun dari Ikabe 08.

“Turun depan ajalah,” gumamku ringan.

Oke, ini travel yang seharusnya mengantarku sampai di depan pintu rumah. Tapi buatku, berjalan sedikit mengenang memori mungkin bisa lebih berguna, alih-alih membuat orang lain sebal karena jalan ke rumahku bukanlah mudah untuk ditunjukkan. Berhenti di depan kompleks, tentu akan mempercepat mereka sampai ke Gadut atau Inkorba. Sementara aku cukuplah berjalan sedikit sambil mengenang kisah lama.

“Mokasih, Da.”

Kataku setelah menutup pintu geser mobil travel itu. Semoga selamat sampai akhir ya.

Aku berjalan memasuki kompleks berlabel “Wisma Ganting Permai” itu, perlahan dan sungguh pelan-pelan. 18.45 di daerah Sumatera Barat belumlah terlalu gelap karena matahari belum sepenuhnya terbenam, jadi aku masih bisa menikmati sisa kenangan.

Langkahku bertambah terus, sampai kemudian aku tiba di sebuah rumah.

Rumah itu, rumah tempat aku bisa menyebut satu kata: PULANG.

sumber: osopher.wordpress.com

* * *

“Kemana, Pak?”

“Mau lihat rumah kita nanti.”

“Horeee..”

Aku, kelas 3 SD, diajak Bapak melihat tempat yang disebutnya rumah kita nanti. Apapun itu, aku sebenarnya tidak tahu.

“Mana rumahnya?”

“Belumlah,” kata Bapak.

Aku hanya melihat tanah kosong, dengan sapi yang sedang buang air besar dengan enaknya plus rumpun bambu rimbun di bagian lain tanah kosong itu. Tidak ada yang lain.

Aku hanya terdiam, mencoba berimajinasi bentuk apa yang akan berdiri di tempat sapi itu berada sekarang.

Beberapa bulan kemudian, Bapak kembali mengajakku ke tempat yang sama dengan pemandangan yang sudah berbeda. Sebuah rumah mungil berwarna putih, pintu biru tua, dan papan-papan bercat ungu. Oh iya, atapnya asbes. Sebuah rumah yang hanya terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, dan 1 WC, serta sebuah kran air di belakang WC.

“Kecil ya?” gumamku.

Aku hanya mendapati raut puas Bapak melihat sudah ada bangunan yang berdiri disitu, entah puas akan apa.

Beberapa bulan berikutnya, aku dibawa lagi ke tempat yang sama. Kali ini sudah ada bangunan lain disana. Sebuah bangunan plester semen, tanpa cat dengan sebuah pintu. Bangunan itu membentang dari belakang WC hingga ujung tanah yang berbatasan dengan tetangga. Di dalamnya, ruang panjang itu disekat menjadi 3 bagian.

Dan tak lama kemudian, sebuah ritual dilakoni kembali, dan Bapak-Mamak berjanji ini yang terakhir: PINDAH.

Keluarga kami adalah keluarga kontraktor alias hobi pindah-pindah mengontrak. Setiap kali sebuah rumah aku anggap cukup, pindah menjadi jawaban. Tentu saja, kontrak habis, kalau mau perpanjang mungkin harga naik, dan segala tetep bengek lain yang coba kucerna dari obrolan orang tuaku, dengan otakku yang baru kelas 3 SD.

“Ini yang terakhir kan?” tanya adikku yang cewek. Bahkan di usianya yang baru 5 tahun, ia sudah capek berpindah-pindah rumah.

“Iya.”

Maka pada suatu minggu, pindahlah keluarga kami. Menempati sebuah sudut Perumnas, sebuah tempat yang bisa kami sebut RUMAH, karena ini memang rumah milik sendiri, tidak lagi mengontrak seperti rumah-rumah sebelumnya.

Rumah ini nyaman? Itu relatif.

* * *

Aku sampai, kulihat Bapak di depan pintu, dengan setelan jas-nya yang rapi. Sejak jadi kepala sekolah, Bapak memang jauh lebih rapi. Lagipula, masak sudah punya dua anak sarjana–tepatnya tiga tapi yang satu belum wisuda–masih berdandan kayak dulu?

Aku mencoba tampil biasa, membuka pintu gerbang seperti halnya aku melakukannya dulu dengan seragam SMP.

“Weh? Nyampe juga,” kata Bapak.

Aku tersenyum saja. Yah, aku pulang, ke rumah.

Lampu Merah

Sebenarnya cinta itu mudah,
kalau tidak dibalut rasa.

Masalahnya, cinta dan rasa itu jadi satu.

Seharusnya cinta itu indah,
kalau tidak diselubungi beda.

Masalahnya, cinta dan beda itu serangkai.

sumber: idlehearts.com

Harusnya, cinta bisa bilang:
kapan aku harus melaju
kapan aku harus perlahan
kapan aku harus berhenti.

Harusnya, cinta bisa mencegah:
kecelakaan rasa
kecelakaan hati
kecelakaan cinta itu sendiri.

Tapi, cinta bukan lampu merah
cinta bukan lampu kuning
cinta bukan lampu hijau.

Cinta bukanlah apa-apa
Ia hanya untaian rasa milik manusia

Yang (bisa) datang dengan mudah
Yang (bisa) datang dengan sederhana
Yang (bisa) datang tanpa diduga

Dan (bisa) pergi dengan cara yang sama.

Demikian cinta
Demikian kita hidup
Karena hidup ini semata-mata cinta

🙂

Cinta Yang Tak Sama

“Vin! Kembaranmu lewat!” seru Jonas kencang-kencang.

Sontak, tawa meledak dari mulut-mulut yang ada di tangga depan kampus itu. Hidup itu kadang unik, beberapa orang yang tidak memiliki pertalian darah sedikitpun ternyata bisa mempunyai muka yang mirip. Dan kali ini Davin yang ketiban nasib menemui adik kelas yang bermuka mirip dengannya.

Sejak pria-bermuka-mirip-davin ini masuk, seluruh teman-teman Davin sudah menggunakannya sebagai sarana untuk menghina-dina. Davin sendiri lebih suka tertawa-tawa sok manis, karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ini adalah resiko berkumpul dengan Jonas, Olan, dan yang lainnya.

Bahwa nasib memang sedang menggariskan Davin untuk di-bully. Buktinya, tidak sampai 65 detik setelah pria-bermuka-mirip-davin itu lewat, muncullah Icha.

“Ihirrrrrr..,” teriak Olan, tak kalah kencangnya dengan Jonas.

“Tuh, Vin. Kejar! Gebetan jangan hanya untuk diceritakan, tapi untuk dijadikan pacar,” ujar Jonas, semacam pakar. Tentunya, karena Jonas sudah punya riwayat berpacaran dengan cewek dari 4 angkatan, mulai dari kakak kelas, teman sekelas dan seangkatan, teman sekelas waktu ngulang, sampai mahasiswi yang diasisteni. Kalau Jonas ngomong, kebanyakan itu praktek. Maka sebutlah ia sebagai praktisi percintaan.

“Apa sih?”

“Halah, sok cupu. Sudah sejauh mana sama Icha?”

“Sejauh timur dari barat,” jawab Davin, asal.

“Koplak.”

Tawa masih bersahutan di tangga depan kampus itu, sebuah tawa persahabatan, sebuah tawa hinaan yang menguatkan. Termasuk tawa yang membuat Davin masih dapat menyembunyikan sebuah fakta perih dari teman-temannya ini.

* * *

“Jadi gimana?”

Davin bertanya sambil mengaduk-aduk tape susu di hadapannya. Aslinya Davin memesan tape hangat dan Icha memesan susu hangat. Tapi entah karena mix-up atau hal lain, benda yang datang adalah tape susu. Sebuah minuman aneh yang mungkin memfirasatkan kejadian selanjutnya di malam ini.

“Nggak bisa, Mas.”

“Masih nggak bisa?’

“Ya, memang nggak bisa.”

“Masih sama alasannya dengan kemarin-kemarin?”

“Yup, benar sekali.”

“So, what should I do?”

“Nothing. Ya memang perasaanku ke kamu sebatas ini, Mas. Teman.”

Davin menghirup oksigen lebih dalam. Tidak banyak oksigen di tempat makan yang temboknya menggunakan milik Stasiun Tugu ini. Ada banyak asap rokok yang bercampur baur dengan asap panggangan jeroan ayam plus asap dari kopi joss.

“Boleh tanya sesuatu kalau gitu?”

“Apa, Mas?”

“Lalu kenapa kamu masih mau dekat denganku?”

“Kenapa?”

“Ehm, maksudku. Biasanya, cewek kalau sudah menolak cowok kan akan menjauhi atau bagaimana begitu.”

“Ah, siapa bilang?”

“Ya, menurut pengalaman.”

Icha tergelak. Davin memang sangat terbuka padanya, termasuk pengalamannya 20 kali ditolak cewek. Termasuk yang paling heroik ketika mengikuti Lora naik kereta api Pramex dari Lempuyangan, melakukan penembakan di atas kereta, ditolak dan kemudian turun di Klaten.

“Nggak lah, Mas. Justru aku yang nanya, sudah ditolak 3 kali, 4 sama ini, kok ya masih deket-deket aku?”

“Karena aku sayang kamu, Cha.”

Icha diam saja, mengaduk susu panas di hadapannya. Dan malam semakin larut, pertanda kehidupan lain di kota ini dimulai.

* * *

“Cieee, yang udah gandengan sama Icha. Udah sukses nih kayaknya?” seru Jonas ketika bertemu dengan Davin di depan papan pengumuman fakultas.

“Maksudnya?”

“Halah, nggak usah bohong. Atha bilang kok dia ngeliat Icha gandengan sama kamu, Vin.”

“Pacarmu bohong kali?”

“Mana ada Atha bohong, Vin? Kalau Jonas yang bohong, itu baru mungkin. Hahaha… Jadi udah jadian nih?”

“Apa sih? Nggak mudeng saya,” kata Davin sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Mas Jo!” Sebuah teriakan terdengar dari kejauhan. Jonas menoleh sekilas.

“Iya, Tha,” teriak Jonas. Pria playboy ini lalu berpaling ke Davin, “Ya kalau emang belum mau dipublish silahkan sih. Turut bahagia lah pokoknya, Bro. Semangat! Pacaran dulu ya. Haha.”

Tinggallah Davin dalam bengongnya. Bergandengan tangan dengan Icha adalah isi mimpinya, tapi bahkan untuk makan ke angkringan Tugu-pun mereka menggunakan sepeda motor sendiri-sendiri, bagaimana caranya mau gandengan?

Davin menerawang dalam bingungnya.

* * *

“Loh, Vin. Udah disini aja?” sapa Olan ketika memasuki ruang laboratorium.

“Dari dua jam yang lalu disini kali.”

“Eh, apa iya?”

“Iya.”

“Perasaan tadi di tangga aku ngeliat kamu sama Icha.”

“Ketularan deh nih anak.”

“Ketularan siapa, Vin?”

“Ketularan Jonas. Ketularan playboy juga nggak?”

“Syukurlah, belum.”

“Bagus.”

“Jangan mengalihkan topik, Vin. Beneran udah dua jam disini?”

“Iya.”

“Berarti tadi ngelihat siapa ya?”

“Hantu kali.”

“Oya, mungkin juga. Secara muka-mukamu itu memang sangat pasaran. Adik kelas aja ada yang mirip. Mungkin juga kamu punya kembaran di dunia lain. Ya udah, ini mau ngambil laporan doang kok. Duluan ya.”

“Ya.”

Davin semakin tenggelam dalam bingung yang mulai tak berkesudahan. Ada apa hari ini? Davin mulai lepas fokus dari eksperimennya, sampai kemudian, sebuah kemungkinan terlintas di benaknya.

“Jangan-jangan….”

* * *

sumber: love.catchsmile.com

Davin melajukan sepeda motornya dengan kecepatan biasa-biasa saja. Kebingungan yang melingkupi membuatnya berjalan sambil setengah berpikir. Ah, semoga saja kebingungannya tidak membuat Davin salah jalan dan tahu-tahu nongol di depan rumah Icha.

Bak tape hangat dan susu hangat yang menjadi tape susu hangat, otak Davin tiba-tiba meminta mata untuk melihat sebuah objek. Sweater garis-garis putih ungu. Ini mix up atau kenyataan?

Benda ini adalah kesayanagan Icha. Davin selalu melihat sweater ini ketika mereka berdua beriringan naik sepeda motor kalau hendak pergi makan. Davin bahkan tahu kalau di kanan atas sweater ini ada sedikit bagian yang tersangkut paku sehingga agak rompal. Saking detailnya.

Perlahan Davin sadar kalau ini kenyataan. Pandangannya lantas terpaku pada kenyataan bahwa orang yang menggunakan sweater itu tidak dalam posisi mengendarai sepeda motor, tapi berada jok belakang. Dan sepeda motornya bukanlah milik Icha karena Davin sangat paham nomor plat berikut bulan habis pajaknya plus berapa mur yang digunakan untuk memasang plat itu. Lagi-lagi, efek kebiasaan berjalan beriringan kalau janjian.

Otak Davin yang dipenuhi pertanyaan lantas mengarahkannya untuk bertindak bak mata-mata amatir. Davin mulai menjaga jarak sambil tetap membuntuti sepeda motor nuansa hitam merah yang menjadi target operasinya.

Empat lampu merah terlewati hingga akhirnya sepeda motor itu berhenti di sebuah tempat makan di kompleks Kridosono. Davin mengikuti namun kemudian menjauh ke arah pintu masuk stadion sepakbola. Matanya tetap awas mengamati keadaan.

Kedua orang di atas sepeda motor itu turun, melepas helm, melepas slayer, dan….

berjalan bergandengan tangan.

Davin menatap tajam dari kejauhan. Itu memang Icha. Sweaternya sudah jelas, termasuk bagian yang rusak, sama persis. Rambut panjang itu juga milik Icha, termasuk bando biru yang dikenakannya. Pipi chubby itu juga punya Icha. Ya pokoknya itu memang Icha.

Dan Icha bergandengan tangan dengan seseorang…

Keduanya menuju pintu masuk tempat makan bercat hijau, masih sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba, si cowok melepaskan pegangan tangannya dan berlari kembali ke sepeda motornya. Icha sendiri berdiam di depan pintu masuk.

Cowok itu melihat bagian kunci kontak sepeda motornya dan mencabut sesuatu. Ah, paling kunci ketinggalan. Sambil mengantungi kunci itu, ia melihat ke sekeliling, dan Davin dapat melihat muka cowok itu dengan sangat jelas. Dan ternyata, Davin mengenalinya.

Davin mengucek-ucek matanya, lalu menampar pipinya sendiri.

Ia tidak sedang bermimpi, ini nyata. Bahwa cowok yang bergandengan tangan dengan Icha adalah adik kelasnya, si pria-bermuka-mirip-davin.

“Muka boleh sama, cinta yang tak sama,” gumam Davin, lemas. Ia kemudian menyalakan sepeda motornya dan beranjak pergi. Meninggalkan kepedihan dari 4 penolakan dan 1 penglihatan. Itu sebenar-benarnya pedih.

Ada Apa Dengan PNS?

Ini posting suka-suka saya ya.. Please jangan ada yang tersinggung apalagi ternungging..

Bapak saya PNS, lebih tepatnya menjadi PNS setelah beberapa tahun jadi guru swasta, dan tetap mengajar di sekolah yang sama (swasta). Jadi bisa dibilang PNS itu hanya status, toh ngajarnya tetap swasta. Oh iya, gaji juga ding.

Nah, memang sih, saya melihat beda signifikan gaji Bapak dan Mamak yang notabene mengajar di yayasan yang sama dengan status berbeda. Satu guru swasta, satunya PNS. Gaji Bapak memang jauh lebih mantap.

Tapi…..

Semantap-mantapnya gaji Bapak selama 34 tahun ternyata sama saja secara nominal dengan gaji saya bekerja selama 3 tahun 4 bulan. So?

Kata Mamak, yang penting masa depan. Nah, saya mikir lagi, apa iya di swasta ini saya nggak punya masa depan? Entahlah..

Lagian kalau mau resign jadi PNS, bayar 50 juta. Kalau resign dari swasta ketika sudah jadi tetap? Nggak bayar. Lah kok enak swasta?

Hmmm, apalagi ketika melihat sendiri SK CPNS seorang teman yang gajinya menurun drastis ketika pindah dari swasta ke negeri. Inikah yang dimaksud masa depan?

Lah saya tambah bingung.

Apalagi ketika dibilang PENSIUN hendak dihapuskan. Matilah saya. Kalau saya masuk sekarang, mungkin di jaman saya pensiun nanti, sesuatu bernama UANG PENSIUN itu sudah dihapuskan.

Tapi kenapa banyak yang berbondong-bondong kesana?

Ada apa sih disana? Kenapa?

Sumpah saya bingung.

Cerita Liburan: Memang Tidak Terbalaskan

Salah satu pesan yang saya terima sebelum mudik kemarin adalah mengetik program kerja Mamak saya. Lalu pesan berikutnya adalah membuat DVD yang diputar di DVD Player bisa dilihat di TV.

Yah, saya melihat banyak benda baru di rumah, meski terakhir saya mudik itu baru Desember 2011 silam. Ada TV masa kini yang gede banget, ada laptop (ini sih milik kepala sekolah), dan yang bikin terpana, ada TV kabel segala. Selintas saya berandai-andai, kalau segala fasilitas ini sudah ada ketika saya SMP. Hmmm, saya pasti hanya akan menjadi bocah kecil yang manja, yang akan selalu tergeletak di depan laptop dan di depan TV menikmati hidup. Dalam hal ini saya justru bersyukur (banget).

Nah, bagian paling unik adalah ketika saya kemudian “mengajari” Bapak menggunakan laptopnya yang jauh lebih canggih daripada si lappy. Memori-nya 3 kali lipat, processor masa kini, sudah windows 7 pulak. Parahnya, laptop bagus itu hanya bisa buka MS Word karena MS Office-nya bukan versi Purchase. Buat saya ya sayang, seharusnya–karena ini barang dari pemerintah–budgetnya bisa banget kalau untuk beli license, tapi ini kok begini? Beli Windows 7-nya kuat, beli MS Office-nya nggak. Yak opo iki?

Nah, berikutnya saya diminta mengajari merapikan program kerja matpel yang diajarkan Bapak, yang barangnya sudah ada di laptop. Maka beraksilah saya. Kadang saya heran, kalau benar Bapak kursus, kenapa sekadar “block” hingga “copy paste” saja seperti nggak ngerti? Atau lupa? Atau bagaimana? Ah, entah..

Tapi saya menikmati sekali proses ini. Termasuk kemudian ketika saya memindahkan foto dari HP Bapak ke komputer rumah dan terus kesusahan karena memang HP itu belum pernah dibuka slot memory-nya. Juga memindahkan foto dari BB Mamak yang isinya foto artis lokal semua (kalau saya bilang sih, emak-emak labil.. hehehe… *ampun makkkk* *ditabok*). Juga ketika kemudian saya membuat panduan cara nge-burn CD. Hingga lantas membuat DVD yang diputar bisa terlihat di TV baru.

Huffffttt…

Saya nggak ngerti apa ini, tapi saya lantas ingat posting Bocah Rantau yang satu ini. Bahwa bocah tua nakal ini BENAR 100%. Yah, saya mungkin hanya mengajari hal yang dianggap remeh di masa kini dan lantas tampak pintar. Apa sih CTRL + C dan CTRL + V? Apa sih mindahin foto dari HP ke laptop? Itu semua simpel, tapi buat saya, kemarin ini, bermakna dalam.

Yah, kalau kemudian saya tahu soal CTRL + C, kita perlu bertanya, siapa yang membuat saya mengerti huruf “C”? Nggak lain, kedua orang tua saya. Ketika kemudian saya tahu bahwa untuk membuat TV bisa menayangkan DVD itu harus menekan tombol INPUT di remote, siapa yang membuat saya mengerti bahwa benda itu adalah remote control? Nggak lain juga, kedua orang tua saya. Kalau kemudian ketika saya asyik dengan laptop, lalu kebelet pipis, dan saya bisa pipis dengan lancar, siapa yang mengajari saya cara pipis? Tidak ada yang lain, kedua orang tua saya.

Begitulah hidup. Bocah tua nakal menulis soal kasih yang tidak akan pernah bisa terbalaskan. Saya menambahi, memang tidak terbalaskan. Apalagi ketika saya selesai dengan laptop atau DVD, segelas teh panas sudah tersedia. Ketika saya beres dengan merapikan program kerja, sepiring ayam kampung dengan sambel merah merona sudah siap. Bahkan ketika saya tidur dengan malas, sebuah selimut sudah ada menutup badan saya di pagi hari ketika terjaga. Demikian pula dengan sepiring nasi goreng dan segelas jus yang rasanya mantap. Apalagi yang perlu saya minta kalau sudah begini?

Huwaahhh… Begitulah.. Kasih orang tua pada anaknya, memang tidak terbalaskan. Kenapa? Semata-mata kadarnya yang nggak akan mungkin tercapai. Itu terlalu besar, sobat 🙂

Cerita Liburan: A330

Dimulai dari hidup yang semakin galau, tiba-tiba saya menjadi sangat intuitif dan kurang berpikir. Tapi entah kenapa, kadang intuitif itu ada gunanya. Dan tanggal 8 Agustus saya memilih untuk MUDIK karena baru ngeh kalau liburannya lumayan lama. Dasar nekat, di tanggal segitu penerbangan sudah pada habis. Jadilah, saya ambil flight tanggal 17 Agustus 2012 yang tersisa: Batavia Air Jam 10.20 dari Jakarta ke Padang. Harganya? Sejujurnya ini one flight termahal yang pernah saya lakoni karena saya harus membayar sekitar 1.420.000, sekadar perbandingan, rekor saya Palembang-Jogja PP adalah Rp. 1.100.000 untuk 4 kali naik pesawat. Tapi daripada saya mati gila di sepinya Cikarang, mending saya pulang, menikmati rumah yang pastinya akan indah.

Dan berangkatlah saya.

Dimulai dari Damri Cikarang-Bandara, saya turun di terminal 1C. Sepanjang jalan saya menyaksikan betapa Jalan Tol Jakarta-Cikampek arah Cikampek menjelma menjadi tempat parkir. Sementara arah Jakarta, menjadi jalan tol yang beneran bebas hambatan. Hanya 1 jam lebih sedikit, sudah sampai ke bandara. Waw!

Saya jarang main-main ke terminal 1C. Rasanya sih baru 1 kali terbang dari sana, ketika balik dari minta tanda tangan Pak Harimat, naik Adam Air. Jadi ketika saya masuk, berasa heran, karena beda dengan 1A dan 1B yang jelas MERAH-nya. Hehehe..

Nah, duduklah saya di ruang tunggu. Persis seperti dugaan, tidak se-kampung terminal 1A dan 1B yang jelas-jelas penumpang pesawat putih merah yang BANYAK SEKALI. Ya, ramlan lah, ramai lancar.

Saya mulai heran ketika melihat isi ruang tunggu ini cukup banyak, namun 1 tujuan. Semakin heran ketika dipanggil suruh boarding, kok BANYAK banget orang di belakang saya. Makin heran lagi karena harus naik bus dulu sebelum menuju pesawat. Dan tambah heran ketika bus itu JAUH banget, memutar sampai ke terminal 1A karena saya lihat pesawat putih merah disana.

Dan saya baru NGEH dengan boarding pass saya: 20K. Saya jelas-jelas minta jendela, yang notabene kalau nggak A ya F, ini kok dapat K? Jangan-jangan ada hubungannya?

Benar saja, saya lantas sampai di terminal CARGO dengan dua buah pesawat Airbus A330 berdiri kokoh disana. Ini pesawat yang biasa dipakai oleh Batavia untuk penerbangan luar negeri, dan dari majalah saya tahu kalau Batavia hanya punya 2.

Saya lalu masuk. Dan sususan kursi yang biasanya 3-3, kini menjelma menjadi 2-4-2. Ya, ini pesawat GEDE BANGET. Akhirnya kesampaian juga merasakan pesawat besar. Makin excited ketika disebutkan ketinggian jelajahnya 40 ribu kali. Biasanya kan 27 ribu sampai 32 ribu kaki.

Well, sejujurnya, saya merasa beruntung. Pantas saja ketika maskapai lain sudah full booked, Batavia masih buka, lha jelas pesawatnya segede gaban begini. Dan mulai nggak menyesal mengeluarkan sejumlah uang yang gede itu untuk satu penerbangan menuju RUMAH dengan pesawat BESAR pertama kali. Sebanyak 60-an kali saya terbang, baru ini pakai pesawat besar. Hore sekali rasanya.

See? Intuitif tidak serta merta keliru kan?

*nantikan cerita liburan saya lainnya di saluran ini.. hehehehe..*

Pengalaman Pertama

Ada banyak penyesalan dalam pilihan hidup. Kenapa menyesal? Karena seharusnya ada pilihan yang lebih baik.

Dan salah satu penyesalan terbesar saya dalam hidup adalah melewatkan kesempatan bergerilya dengan musik, tepatnya menyanyi.

Dulu saya juara 2 loh, lomba nyanyi di SD Fransiskus, kalah sama Abe alias Abrar Zaki. Dan itulah kali terakhir saya bernyanyi di depan umum dalam kompetisi. Berikutnya, bahkan untuk menyanyi di depan kelas pun saya malas. Kalau adik-adik saya di level SMP sudah mazmur di gereja, saya memilih untuk tidak. Bagian terburuknya adalah kala tugas nyanyi di SMP, dengan suara puber, saya gagal membawakan bagian “kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapaaaaa…” dengan baik. Haduh. Tapi vokal grup saya di SMP sempat menang loh. Kelas 2 dan kelas 3. Itulah bekal terakhir.

Adapun di pelajaran musik, saya sama sekali abai dengan 1 2 3 4 5 6 7 itu. Nggak suka, entah kenapa.

Ujungnya, di SMA ketika ada tawaran ikut paduan suara, saya memilih nggak ikut, dengan mantap.

Sebatas itu, sampai kemudian saya mengenal Paduan Suara Fakultas Farmasi yang bernama Veronica. Semata-mata teriming-imingi makan dan snack gratis, saya ikutan nyoba menyanyi, tanpa paham banget kalau 1 itu bunyinya do yang seperti ini. Saya buta benar-benar. Saking butanya, saya nyemplung di tenor. Sebuah opsi gaib yang kadang bikin saya geleng-geleng.

Di bawah asuhan Mbak Ina yang keren banget, saya belajar soal not sampai akhirnya bisa menyanyikan lagu dari notasi angka-angka. Saya baru menyadari indahnya angka-angka itu di semester 1 saya kuliah, di usia 17 tahun. SEBUAH AWAL YANG SANGAT TERLAMBAT!

Tapi bagi saya, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Maka saya mencoba serius di PSF ini dengan mengikuti semua kegiatannya. Saya hanya luput 1 waktu perpisahan Romo Andalas, karena harus makrab Dampok Insadha 2005. Jadi dari seluruh tugas di periode 2004/2005, saya hanya bolos sekali. Dan saya semakin menyukai hal ini.

Dan sebuah godaan besar muncul ketika saya membawa anak kelompok 24 Insadha 2005 ke stand PSM Cantus Firmus. Well, melihat teman-teman macam Rinto, Shinta, Finza, hingga Daru membuat saya pengen ikutan. Jadi kalau rata-rata orang mendaftar PSM CF itu di semester 1, saya di semester 3. Telat lagi.

Modalnya nekat bener, nggak bisa apa-apa. Saya dites not sama Mas Dede dan Mbak Citra dan mereka tampak geleng-geleng. Dari sisi intelegensi, saya mungkin NOL BESAR. Tapi entahlah, nyatanya saya masuk.

Di CF inilah saya ditegaskan sebagai pemilik suara BASS MURNI. See? Bahkan saya ngawur masuk tenor. Ibarat kata, melanggar kodrat. Di CF juga saya semakin memperdalam soal not, soal akord, soal bagaimana berlatih, soal bunyi do re mi dan seterusnya, hingga kemudian tampil dan tampil lagi.

Pelan-pelan angka-angka itu menjadi kesukaan. Misal nih, untuk bagian Sing Haleluya Clap Your Hands itu bunyinya la do la do re mi re do la. Lalu ada beberapa lain yang saya pelan-pelan hafal. Di PSM CF inilah saya dilatih sama pelatih paling berkarakter yang saya tahu dari karier singkat paduan suara saya, Mas Mbong. Di PSM CF sendiri ada Cik Lani dan Mbak Prima sampai Bu Jin yang bergantian memimpin latihan.

Paralel, saya juga masih kukuh di PSF karena saya nggak pengen meninggalkan tempat saya belajar baca not itu. Waktu itu dibawah asuhan Ulit alias Fitri hehehe…

Dari pelatih-pelatih itulah saya mencoba belajar dan terus belajar, utamanya mengatasi ketertinggalan saya bertahun-tahun karena baru ngeh soal musik ini di usia 17 tahun sementara yang lain mungkin sebelum belasan sudah pakar.

Ketika lulus, saya satu kerinduan saya kemudian adalah bernyanyi. Sempat sih di Palembang beberapa kali, tapi ya jujur, saya sendiri kurang total keluarnya. Saya jadi sadar kalau saya itu orang gandulan. Maksudnya, dulu di PSF ada Rudi, di PSM ada Oon dan Brondang. Ketika mereka nyanyi besar, saya bisa tampil besar. Ketika di Palembang, tidak ada yang besar, saya ikutan nggak besar. Padahal jelasnya di CV saya tampil tuh Golden Voice dan KPS Unpar yang menandakan saya seharusnya bisa jadi gandulan. Nyatanya? Tidak.

Dan di Cikarang ini, ketika saya kehilangan paduan suara sama sekali, eh saya malah dapat macam-macam kesempatan. Mulai dari ikut pegang mike dan dapat part sendiri waktu di Titan (fals pulak.. huhuhu..) sampai yang terbaru dan lumayan bikin bingung ini.

Jadi suatu ketika saya pergi menemui teman lama yang datang ke Cikarang, lalu pulang-pulang dapat kabar kalau saya dan Agung diminta melatih koor karena pelatih lawas pindah rumah. BUSET! Saya sepanjang hidup itu cuma jadi anggota, solis saja tidak pernah, paling mentok nyanyi mazmur “Ya Tuhan aku datang melakukan kehendakMu”. Udah. Mau disuruh ngelatih koor?

Waduh.

Dan, barusan ini, saya berdiri di depan podium dan belagak menjadi pelatih. Astaga. Menjadi pelatih itu ternyata tidak sesederhana yang mungkin saya duga. Saya dulu paham kalau jadi pelatih itu sulit, tapi kok sepertinya nggak sesulit ini. Tapi nyatanya ya sulit. Saya ini hanya melatihkan lagu unisono loh. Belum yang 2, 3, apalagi 8 suara. Di lagu pertama sudah cukup bikin keringat dingin. Grogi sumpah. Memang rasanya belum mengalahkan tampil pom-pom, tapi serupa dengan tampil di lomba. Fiuhhh…

Untunglah, menurut saya, debut hari ini lancar. Ah, semoga berikutnya juga demikian.

Terima kasih untuk para inspirator saya, Mbak Ina, Ulit, Mas Mbong, Mbak Prima, Cik Lani, Bu Jin, lalu juga yang sempat ngelatih saya macam Romo (dulu Frater) Ardi, Mas Selsi, sampai Santo. Kalian semua hebat! 😀

Kisah Lama Yang Terulang Lagi

“Bangggggg….”

Ethan menjauhkan handphone pintarnya dari telinganya. Suara melengking dari ujung telepon itu cukup mengganggu telinganya.

“Apaan sih, Ra?”

“Aku galau.”

“Galau kan nama tengahmu?”

“Buset dah. Beneran ini Bang!”

“Ya tinggal cerita, seperti biasanya, Ra. Kenapa kenapa? Come to papah.”

Kara mulai bercerita, panjang lebar. Ethan mendengarkan dengan saksama. Bukan sekali sih sebenarnya Ethan harus mendengar suara galau Kara bercerita panjang lebar. Dan Ethan selalu menjadi tempat yang nyaman bagi Kara untuk bercerita. Tahu sendiri lah, kalau cerita sama teman sesama cewek, 50% kemungkinan cerita itu akan bocor kemana-mana. Tapi kalau Kara bercerita ke Ethan, semuanya aman diam.

Tentunya dalam diam yang lain.

* * *

“Tuh kan kejadian lagi.”

Sebuah baris whatsapp Ethan meluncur ke whatsapp atas nama Karaniya Adinda.

“Kejadian apa bang? :(”

“Kamu terluka lagi.. Sakit lagi..”

“Ya begitu bang.. What can I do now? Capek aku luka begini terus.”

“Kamu perlu nyari yang ngerti kamu bener, Ra. Kamu itu cewek unik, buatku sih.”

“Unik kenapa, Bang???”

“Eh, nggak ding. Cewek semua unik kok. Hehe. *yang tadi batal*.”

“Eleuh si abang.”

“Haha.”

Dan messanger berwarna hijau itu diam lagi. Tidak ada getaran, tidak ada indikator hijau. Ethan hanya melihat last seen pada profil Karaniya Adinda. Eh, bahkan nggak pernah last seen, selalu online.

Ethan melihat, melihat dan melihat. Tanpa mengetik satu karakter pun.

* * *

“Bang, kok kisahku gini terus ya?” tanya Kara sambil memegangi botol milk tea yang sudah separuh kosong.

“Kayaknya memang cintamu itu rumit, Ra.”

“Rumit gimana Bang?”

“Ya mungkin kamu belum mengerti sesuatu?”

“Heh?”

“Ya mungkin kamu belum sadar kalau cintamu itu bukan dia. Siapa tahu.”

“Hmmmm…”

“Mungkin.. Ini mungkin loh. Ada suara lain yang sudah memanggil-manggil hati kamu dari dulu. Tapi kamu nggak denger,” ujar Ethan sambil memutar tutup botol root beer. Ia lalu menenggak tegukan terakhir dan melemparkan botol minuman bersoda itu ke tempat sampah di sebelah kursi taman.

“Jadi, aku harus ngapain Bang?”

“Cobalah lebih mendengar, Ra.”

“Abstrak Bang.”

“Coba dengar saja. Mungkin ada suara lara dari mana gitu, yang menyentuh laramu sekarang ini.”

“Nggak ngerti.”

“Nanti kamu pasti ngerti, Ra.”

“Okelah, ayo Bang, kita lanjut nyari buku lagi kalau gitu.”

Cobalah lebih mendengar, Kara. Ada suara hati yang memanggil kamu. Suara itu disini. Tidak jauh dari kamu.

Kutipan batin itu tidak pernah terungkap.

* * *

“Bang, sombong ah. Nggak pernah balas whatsapp sekarang. Ditelepon nggak diangkat.”

Sebuah pesan singkat dari Karaniya Adinda.

Ethan menutup kembali handphone-nya dan melempar benda mahal itu ke sudut tempat tidurnya. Suasana masih gelap, padahal pesan itu bertanggal 10 Agustus 2012 jam 14.25.

“Km dimana bang? Aku punya cerita ini. Kayaknya aku sudah bertemu yang kamu bilang bang. Seseorang yang abang bilang kemarin-kemarin. Cinta aku yang sebenarnya. Hehe. Senangnya. Bales ya Bang.”

Pesan singkat lagi, Kara lagi. Kali ini 14.42

Ethan memandang pesan itu singkat. Matanya semakin sayu. Badannya diputar ke kanan, arah tembok. Dalam remangnya kamar itu, Ethan menggores tembok dengan spidolnya.

“Dan kamu belum mendengar lara itu, Kara.”

Ethan beranjak. Dinyalakannya lampu kamar. Dan tampaklah isi kamar itu. Foto Karaniya Adinda dalam berbagai pose tertempel di seluruh dinding. Dan sebuah tulisan besar di tembok kanan tempat tidur.

“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku, dirimu.”

Ruangan itu masih berduka atas sebuah kabar gembira. Ini hanya kisah lama, karena bukan kali ini saja Kara demikian. Dan bukan kali ini Ethan merasakannya. Bahkan seluruh luka Kara, sudah menggores luka yang lebih dalam bagi Ethan.

Ethan hanya menunggu, sampai Kara sadar, bahwa separuh Ethan, adalah Kara.

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH yang berjudul Separuh Aku 🙂

Elegansi Sebuah Tindakan

How to manage issue?

Isu, apapun, besar-kecil, pastinya akan menjadi hal ihwal yang penting dan mendesak untuk diselesaikan. Kenapa? Sebuah isu itu akan menjadi bara yang memanaskan suasana.

Dan yang dibutuhkan untuk menangani isu itu adalah tindakan.

Nah, persoalannya adalah bagaimana bertindak elegan agar suatu isu tidak berkembang menjadi masalah, apalagi masalah besar.

Hal elegan alias cantik alias luwes dalam menyelesaikan masalah sebenarnya dimulai dari melihat fakta-fakta dan data-data secara komprehensif. Utamanya melihat seluruh data dalam definisinya masing-masing. Komprehensif juga setidaknya mengerti makna dari data-data yang terkandung.

Saya pernah punya bos dengan tindakan yang elegan, tentu juga pernah ngawur. *hehehe, sorry loh pak*

Jadi suatu kali, gudang itu penuh minta ampun. Sederhananya, miss plan. Nah ketika nilai inventori menggunung, dapur produksi belum maksimal, isunya adalah what to do? Ada yang langsung laporan ke atas, ada yang mencerna dulu masalahnya baru laporan.

Dan kejadian waktu itu, dua-duanya terjadi.

Saya ikutan mempersiapkan datanya siang dan malam, termasuk proyeksi bagaimana membuatnya normal dalam time phase 6 bulan. Tampak mustahil, tapi bukan bermakna nggak bisa.

Dengan bekal data itulah, lantas pakbos menghadap, menghadapi pertanyaan besar kenapa ini terjadi dan bagaimana ini dikelola. Saya pusing, dan saya yakin pakbos saya lebih pusing. Tapi tim kami bertindak dengan elegan. Maksud saya, mainnya cantik. Saya ingatnya menjadi semacam pertarungan data. Yang satu membahas dari sisi kekinian, yang satu dari perspektif masa depan. Dua-duanya saya padukan dalam satu report yang niscaya kemudian menjadi kelegaan terbesar saya dalam hidup.

Yah.. Elegansi, keluwesan, keindahan dalam bertindak menjadi kuncinya. Elegansi bukan ABS, alias Asal Bapak Senang. Elegansi adalah bertindak dengan manis, dengan janji yang oke tapi realistis, dan yang pasti bertindak atas dasar data yang jelas dan definisi yang pasti.

Akhirnya memang, Oktober, misi nyaris mustahil itu tercapai. Overload bisa turun. Saya ingat benar setiap hari berharap conditional formatting yang saya buat merah itu segera menjadi putih, pertanda kapasitas sudah oke. Setiap hari saya nggak lelah menarik data dan mencernanya.

Rong-rongan ada, jelas, tapi dengan basis data dan tindakan yang bermakna dari pakbos, meski tentu di sisi tertentu saya sebel dengan cara-cara ala manusia planning (ini kan jenis manusia paling dibenci di pabrik manapun.. huhuhuhu…), tapi hasilnya oke. Isu yang besar itu dikelola dan tidak menjadi lebih besar, tapi lantas diselesaikan dengan cara yang manis.

Saya tersenyum melihat angka 4 di BSC. Bagi saya itu awesome.

Nah, saya bukan mau menggurui siapapun dengan posting ini. Saya hanya berefleksi pada salah satu momen terburuk dan terindah saya dalam hidup. Terburuk karena itu momen saya pulang jam 11 malam dan datang lagi jam 7 pagi. Terburuk ketika saya setiap hari mimpinya bahan baku. Terburuk karena dering telepon itu ibarat lonceng kematian bagi saya.

Tapi terbaik ketika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa. Ketika kemudian orang-orang tahu, siapa kami, siapa saya. Ketika semuanya lantas mengerti bahwa performa itu tidak berdasar sekadar bacot atau arogansi, tapi tindakan nyata yang membuahkan hasil yang jelas.

Nah, kalau masalah besar begitu.

Hari ini saya komunikasi dengan beberapa rekan lama, sedikit nostalgia keadaan. Yah, bahwa kadang saya dirindukan sebagai salah satu personil yang kompromistis. Bagi saya, bagian planning itu harus kompromi, itu pasti. Apapun yang kompromi dengan tujuan tercapainya pemenuhan forecast. Jadi aspek-aspek administrasi, kadang saya tuntaskan tanpa melewati pakbos, asal kadarnya sesuai. Itu cara saya. Dan syukurlah, kompromi itu kemudian menjadi perkara kecil yang tidak perlu raise issue sehingga lantas jadi heboh nggak penting. Toh sudah ada heboh besar ketika inventori menggunung, cukuplah. Nggak usah disertai kehebohan lain lagi, apalagi yang remeh.

Kenapa saya berani? Ya karena saya cukup tahu definisi. Artinya, dengan bekal yang saya tahu-walau sedikit-ya saya bisalah melakukan tindakan dengan luwes, tanpa perlu menjadikan ini isu dan kemudian masalah besar.

Misal nih, kalau cuma sekadar permintaan bahan baku untuk trial di produksi, apa iya harus ditolak? Trial itu kan kaitannya untuk proses, iya kan? Proses nanti bakalnya ngeluarin produk juga. Padahal inti dari seluruh bisnis, ya produk. So? Apa lagi? Kalau memang permintaan itu mengurangi stok signifikan, putar otak lagi. Kalau mau ya beli lagi. Gitu aja siklusnya.

Dan Pakbos saya baru tahu soal masalah itu, ketika ia approve permintaan pembelian yang saya buat.

“Ini buat apa?”

“Begini, begini, begini…”

Hanya 5 menit, dengan logika yang oke, dan report yang jelas (tentu include data), disetujuilah permintaan itu.

Begitulah.. Tidak semua isu akan berkembang menjadi masalah kalau dipadamkan segera. Tapi tindakan yang tidak elegan, justru akan menyulut bara api tadi jadi api beneran.

Dan kalau kemudian sudah jadi api, semua sudah kebakaran, mau bilang apa? Apalagi ketika kemudian dibuktikan bahwa seharusnya itu nggak jadi hal besar? Misal kita kepanasan di sauna, itu bukan bermakna di luar ruang sauna itu ada kebakaran kan? Logikanya sih begitu.

Hmmm, macam menggurui kali tulisan ini. Tapi ini beneran refleksi saja, hasil kenang mengenang hari ini. Sekali lagi, bahwa saya kemarin juga habis bikin masalah sendiri, sehingga lantas kehilangan. Kenapa? Ya karena saya mengelola isu yang kecil dengan cara yang salah, jadilah ia api yang besar dan hancur.

Refleksi pribadi saya, ditunjang hasil mengenang hari ini, dan disertai pengamatan. Begitulah, pada akhirnya, semua masalah tidak akan besar jika ditangani dengan cara yang elegan.

Sesederhana itu, tapi sulit banget. Mana saya baru 3 hari yang lalu bertindak tidak elegan. Huhuhuhuhu…

Nggak apa-apa, hidup itu belajar, jadi lebih baik 🙂

Semangat!

Teman Seperjalanan

Masih ingat lagunya Ratu, jaman dua emak-emak cakep itu masih akur?

Begini lagunya:
Aku punya teman (ah.. ah.. ah..)
Teman sepermainan (ah.. ah.. ah..)

Yang kalau direvisi menjadi:
Aku punya teman (uh.. uh.. uh..)
Teman seperjalanan (uh.. uh.. uh..)

Ya kira-kira begitu.

Soal teman seperjalanan ini memang paling mengundang ironi dalam hidup saya. KENAPA? Karena dari berbagai perjalanan yang saya lakoni, baik itu angkutan darat, air, dan udara, nyaris saya tidak pernah seperjalanan sama CEWEK CAKEP! Huhuhu, ini ratapan saya beneran loh.

Dimulai dari perjalanan dengan ALS tahun 1997, Bandung-Bukittinggi. Waktu itu, sekeluarga cuma pesan kursi 5, karena si Daniel masih mungil sehingga bisa masuk bagasi (lebayyy…). Nah, sebagai anak pertama, saya disuruh menduduki kursi ganjil itu. Jadi Bapak sama Mamak sama Dani. Si Beny sama si Cici. Dan saya? Dalam hati, di usia 10 tahun, saya sudah berharap akan bersebelahan dengan cewek cakep. Nyatanya? Emak-emak labil yang pergi seorang diri. Ampun dah.

Hmmm, berikutnya, lama kemudian saya baru berjalan-jalan sendirian lagi. Tahun 2004, ketika jadi orang unyu di bandara Soekarno Hatta karena baru pertama kali naik pesawat dalam keadaan sadar. Dulu pernah tahun 1989, tapi, apalah yang diingat bocah umur 2 tahun? Nggak ada.

Di Batavia Air Padang-Jakarta, lanjut Jakarta-Jogja, saya bersebelahan dengan keluarga yang curang. Lha jelas kursi saya di pinggir jendela, F. Eh, dia dudukin. Dan bodohnya, saya ikutin aja itu. Piye dong, namanya baru pertama kali.

Next, saya melakoni banyak perjalanan sendirian. Ada yang pakai Lodaya ke Bandung seorang diri, balik hari. Dan dua-duanya bersebelahan dengan MAS-MAS.

Dalam rangka pacaran Palembang-Jogja dulu, saya berkali-kali naik pesawat. Dan NGGAK PERNAH sebelahan sama CEWEK CAKEP sama sekali. Entah mungkin saya ini kurang doa atau bagaimana. Pernahnya, dengan MBAH-MBAH yang minta jatah kursi pinggir jendela. Yang bikin menderita kalau di pesawat adalah kalau di PINGGIR JENDELA dan bersebelahan dengan SEPASANG KEKASIH yang bermesraan dengan nikmat. Sumpah, mupeng tiada terkira itu.

Dan itu berlanjut, mulai saya naik Rosalia Indah, Lorena, Ramayana, Bejeu, sampai Muncul ya tetap aja sebelahan sama MAS-MAS. Saya naik Garuda, Lion, Mandala, Batavia, sampai (alm) Adam Air kalau nggak MAS-MAS, BAPAK-BAPAK, atau SEPASANG KEKASIH. Mau naik 121, AO, 122? Kadang malah banyak yang sebelahan *lha wong berdiri*

Jadi begitulah, Tuhan belum menghendaki saya sebelahan sama CEWEK CAKEP. Nggak apa-apa deh.

Dan satu-satunya pengalaman saya soal CEWEK CAKEP adalah waktu penerbangan Batavia dari Palembang ke Jakarta. Itu niatnya mau pacaran di Jogja, tapi dasar mata lelaki. DI SMB II uda liat-liatan sama cewek yang bawa boneka, saya bawa Candy. Sayang nggak sebelahan. Tapi waktu turun di Soekarno-Hatta, ngobrollah kita sedikit. Dannnn…. sayangnya dipisahkan di toilet oleh HIV si cewek tadi. Huffttt.. *lha ini kok malah nyesel ki piye*

Teman seperjalanan yang paling ribut itu pas naik Yoanda Prima, Palembang-Bukittinggi, seorang sales rokok bernama Febli. Sepanjang jalan cerito wae. Padahal kan saya ngantuk. Haduh. Jadi sampai rumah langsung tepar tiada terkira. Bayangkan saja 18 jam itu setengahnya dia cerita sementara saya hmmm.. hmmmm.. doang.

Semoga ke depannya bisa dikasih sekali-kali cewek cakep gitu. Hehehehe…

🙂