Menjadi Pengguna Taksi Online Nan Budiman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

screenshot_211

Akhir tahun silam, ada waktu ketika saya berada di bandar udara internasional Soekarno-Hatta setidaknya satu pekan sekali. Jenuh adalah suatu keniscayaan. Penat, pasti. Saya bahkan hafal bahwa vending machine selepas x-ray di Terminal 3 Ultimate itu nggak terima uang sama sekali, pajangan doang. Kalau mau pakai vending machine, di bawah saja, bahkan terima uang yang nyaris remuk.

Walau begitu, saya tetap bersyukur diberi keselamatan meski telah wira-wiri kesana dan kemari. Plus, saya merasakan aneka kisah dalam waktu singkat mulai dari delay 2,5 jam untuk penerbangan 30 menit ke Tanjung Karang hingga numpang nonton film di dalam GA606 sebelum kemudian turun dan lantas pulang ke rumah dengan bahagia.

Nah, salah satu hal yang saya amati di bandar udara Soekarno-Hatta adalah penggunaan taksi online, baik itu Uber, GrabCar, hingga Go-Car. Sudah menjadi rahasia umum bahwa taksi online sebenarnya haram hukumnya beredar di sekitar bandara tersibuk se-Indonesia itu. Begitu banyak kisah driver Uber, GrabCar, dan Go-Car yang keciduk petugas dan lantas mendapatkan sanksi.

Walau demikian, orderan tetap saja jalan. Sejauh inipun, saya bisa menikmati layanan taksi online tanpa kendala. Berdasarkan curhat para driver, sejatinya masalah utama justru ditimbulkan oleh calon penumpang sendiri, dan itupun saya alami dengan jelas kala bersama teman-teman dari kalangan gadis-gadis belia menuju tua.

Ya, pengguna memilik taksi online karena kemudahan dan kemurahannya. Sudahlah dapat mudah dan murah, ternyata beberapa tindak tanduk penumpang pada akhirnya menyebabkan masalah yang berujung pada dikeluarkannya penumpang dari mobil oleh petugas keamanan sekaligus sanksi bagi driver yang tertangkap tangan. Salah satu kisah nasib sial driver yang tidak jauh beda dengan kisah driver yang saya dengar bisa dibaca di sini.

Lantas bagaimana agar ada WIN-HT win-win solution, pengguna dapat mudah dan murah, lantas driver tidak dipersulit? Soalnya, cerita driver Uber beberapa waktu yang lalu pada saya adalah mereka di-hold 8 jam di bandara sono hingga pada akhirnya menandatangani surat tidak akan mengulangi tindakannya (baca: cari makan di bandara).

Begini, sering terjadi, utamanya jika saya berangkat sama teman-teman yang cewek adalah kala berada di gedung parkir lantai 3 (Terminal 3 Ultimate) dan dekat halte Damri (terminal 1) mereka dengan leluasa bertanya, “Eh, Grab-nya udah dipesan belum?” atau “Ubernya mobilnya apa?”. Pertanyaan dilontarkan dengan suara nyaring yang membahana di seluruh angkasa raya mempelai berdua seiring dengan senyum bahagia.

Ya, di situ ada petugas keamanan yang memang sudah tugasnya mengamankan taksi online itu. Meneriakkan nama Grab, Uber, hingga Go-Car sama dengan memutus rejeki driver untuk cari duit di sekitar bandara Soekarno-Hatta.

Lantas gimana baiknya?

Silent

Sepele sebenarnya. Mengorder taksi online dengan diam sebenarnya bisa, kan? Kalau berbincang dengan bakal teman seperjalanan ya tinggal bisik-bisik dan nggak usah ngomongin merk kencang-kencang. Bukan apa-apa, pengalaman saya berkata bahwa petugas keamanan yang memang tugasnya demikian rupanya cukup jeli untuk urusan semacam ini.

Konfirmasi

Sebaiknya sih pesan taksi online saat kita masih berada di dalam terminal dan biarkan driver menunggu di tempat parkir. Sesudah kita keluar baru driver diarahkan untuk menuju titik temu. Soalnya, kalau pesannya di luar, layarnya kadang-kadang kelihatan. Oya, konfirmasi juga nomor platnya soalnya kan kadang-kadang ada yang beda. Sekaligus ciri-ciri mobil dan ciri-ciri fisik penumpang. Jadi seolah-olahnya, driver taksi online itu ya kalau nggak saudara yang memang menjemput, ya supir pribadi kita.

Tidak Usah Cek Peta

Peta di aplikasi taksi online mungkin pas jika hendak memesan di SCBD, Semanggi, atau sejenisnya. Akan tetapi, jika sudah di bandara Soekarno-Hatta ngapain juga? Kalau memang sudah terkonfirmasi driver berada di sekitar bandara, ya sudah. Mengecek peta dalam ponsel secara rutin selain menghabiskan baterai juga memungkinkan orderan kita diketahui.

Saling Menjaga

Kadang-kadang akan muncul oknum yang kebablasan menyebut, “Eh, itu Grab-nya!” yang pasti akan memancing telinga petugas keamanan. Toh memang tugas mereka itu. Maka sebagai sesama teman, mengobrol saja hal yang lain, ngunek-unekke bos ya terserah, asal jangan ngobrol bahwa kita nongkrong itu nunggu Uber. Bisa gaswat, nantinya. Ngobrol nunggu jodoh malah boleh, siapa tahu ada yang nyangkut.

Saya menulis ini bukan hendak mendukung taksi online tidak berizin di bandara. Saya hanya melihat banyak demand yang menyebabkan taksi online tetap menyediakan supply. Tulisan ini hanya bermaksud mengedukasi para pengguna taksi online agar memberikan imbal balik yang memadai bagi driver. Kita sudah mendapat harga miring dari aneka taksi online itu, sudah selayaknya kita juga menjamin bahwa mereka tidak keciduk dan lantas tidak boleh berkeliaran lagi di bandara. Sama-sama enak, toh?

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s