Menembus Awan

Baru kali ini posting di blog sederhana ini memakai foto karya sendiri.. hehe..  Baiklah, mari kita mulai. Ini sebenarnya efek dari kesukaanku duduk di seat A atau F setiap kali naik pesawat. Mengapa? Duduk di seat A dan F itu sesuai dengan kepribadianku.. halah.. Ya jadi begini, kalau duduk di seat C atau D kan pasti kudu cepat-cepat berdiri kalau pesawat berhenti. Padahal aku orangnya comply, baru melepas sabuk pengaman kalau lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. haha..

Perihal kesukaan duduk di seat A dan F inilah yang membuatku bisa mengambil foto di samping, foto ini sudah lama, dari rangkaian banyak foto awan lainnya. Tadi, waktu naik SJ 083, melihat-lihat awan, pengen foto lagi, tapi apa daya kamera sudah tergeletak di bagasi atas.

Hmm.. Mengapa awan? Lama-lama, melihat awan itu ada sisi menariknya juga. Awan itu kan terlihat begitu masif. Tapi pesawat bisa melewatinya, meski kadang dengan guncangan-guncangan. Ini yang menarik.

Aku terlahir dengan pesimisme. Mungkin bukan terlahir kali ya, efek lingkungan mungkin.. Tapi whatever lah, yang aku tahu, aku orang yang pesimis. Begitu melihat suatu target yang muncul pertama kali di pikiran adalah “ah… ketinggian..”. Sisi baik dari orang pesimis adalah begitu mudah mencapai target. Kenapa? Kalau kita menempatkan sub standar sebagai target kita, lalu kita mencapai keadaan standar, itu tandanya kita melampaui target kan? Itu yang aku suka. Lagipula, terlalu optimis juga jadi masalah. Sakit hatinya itu yang nggak nguati.. hehe..

Tapi soal pesimisme ini menjadi mentah oleh filosofi menembus awan. Kalau kita berkutat dengan pesimisme, awan yang masif itu akan terlihat sebagai rintangan yang tak terlewati oleh kita. Kita akan minggir, mlipir, mencari jalan yang nggak berawan. Hasilnya? jalan tambah jauh, entah dapat jalan yang tidak berawan atau nggak.

Coba kemudian kita memandang awan sebagai suatu hal masif yang bisa dilewati, meskipun dengan goncangan ketika melewatinya. Kita bisa masuk menembus awan itu untuk kemudian melihat bahwa sesudah itu yang ada adalah langit bersih tanpa awan lagi. Awan ada di bawah kita, menyaksikan bahwa kita telah sukses melewatinya. Well, cukup menarik untuk dipraktekkan, terutama dengan kebiasaan yang menetapkan sub standar sebagai target.. hehe..

Baiklah, satu posting dari ruang tunggu A3 🙂

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s