Inspirasi Dari Matthew

Agak bingung hendak menulis posting ini di ariesadhar.com atau di blog lain saya yang judulnya “Catatan Umat Biasa”. Tapi karena sepertinya inpirasi dari seorang bocah ini bisa digeneralisasi ke agama lain, maka biar ditulis disini saja, hitung-hitung ngisi posting di bulan April yang kering ide ini.

Malam Paskah kemaren saya misa di gereja Maria Fatima di Lembah Karmel, Lembang, bersama keluarga pacar. Kebetulan berangkatnya agak cepat, jadi dapat duduk di dalam. FYI aja, gereja di Lembang ini terbilan kecil, jadi kalau datang telat sedikit yang duduk di luar. Buat saya, ke gereja dan duduk di luar itu ibarat pacaran tapi nggak cinta. Nggak sreg. Nah, kebetulan posisi bangkunya pas untuk 6 orang, sementara saya plus keluarga pacar hanya 5 orang. Otomatis satu tempat di sisi kanan saya itu kosong, sementara di sisi kiri ada mbak-mbak yang mirip bidadari. Mirip doang, kok. Jadilah saya boleh berharap bahwa yang akan menduduki 1 bangku kosong di kanan saya adalah seorang gadis muda kece badai berusia 17 tahun dan berbadan seksi.

*ini contoh gereja salah fokus*

Kembali ke laptop!

Perusahaan Farmasi Nggak Peduli Websitenya

Saya bekerja di perusahaan farmasi selama 4 tahun 10 bulan. Kurang 2 bulan untuk bisa masuk TK. Saya kemudian resign alias mengulang (re) tanda tangan (sign) di angka itu. Ya pada intinya saya ini dulu karyawan di perusahaan farmasi. Nah, selama bekerja itu saya tentu saja juga mengamati rumput tetangga karena rumput tetangga katanya lebih hijau. Saya bahkan pernah diterima di sebuah perusahaan farmasi berlatar belakang hijau, dengan gaji yang lumayan bikin ngiler netes. Cuma memang saya tipe pria setia, setia pada yang warna merah.

Nah, sembari jadi karyawan, saya juga mulai jadi blogger, hingga akhirnya blog ariesadhar.com ini ada, serta kemudian buku Oom Alfa juga lantas nongol. Sejak itulah saya mulai tahu soal pagerank hingga perihal Alexa sebagai patokan pemeringkatan website yang ada di seluruh dunia maya. Oh, dunia lain tentu saja tidak termasuk, itu hanya milik Harry Panca. Silakan lambaikan tangan anda ke kemera yang ada disana.

Okesip.

Saya lalu coba iseng-iseng tidak berhadiah, seberapa peduli para pemilik perusahaan farmasi itu dengan websitenya. Saya lalu mengambil sampel alias nyampling, dan bukan nyemplung, dari beberapa perusahaan farmasi yang cukup terkemuka. Yah, jelek-jelek begini kalau bos ngomong saya kan juga memperhatikan data-data yang ditampilkan.

Nah, sebagai standar, saya mencoba membandingkannya dengan blog saya sendiri, iya blog ini, ariesadhar.com.

1

Blog ini ada di peringkat 1,6 juta sedunia. Lumayan juga, lumayan terpuruk maksudnya. Eh, memangnya terpuruk? Sesudah saya melihat peringkat sebuah perusahaan farmasi terkemuka, benar juga. Peringkatnya lumayan kece.

3

Lumayan lho, ketika ariesadhar.com ada di nomor 54 ribu-an, perusahaan farmasi yang ini ada di nomor 15 ribu-an. Jadi wajar ketika blog sebuah perusahaan yang tentunya ditunjang oleh aneka tim IT dan orang-orang yang ahli menang dari sebuah blog pribadi yang jarang-jarang ditengok oleh pemiliknya, seperti halnya blog saya ini.

Eh, begitu saya melihat ke website perusahaan lainnya, saya langsung pengen ke Bandung untuk mengelus Dada. Dada Rosada. Kenapa? Karena tidak ada satupun yang ada di atas ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, saya tahu jelas bahwa perusahaan-perusahaan itu pemimpin di bidangnya masing-masing.

Lihat nih, salah satu pemimpin pasar.

2

Global Rank-nya nggak jauh-jauh benar dari ariesadhar.com. Padahal mestinya orang IT atau orang komunikasi korporatnya ada dan harusnya juga jago. Tapi masak cuma 11-12 sama sebuah blog sederhana ini?

Itu baru satu. Yang lain?

4

Noh! Jauh bener sama ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, dijamin situ-situ yang pernah opname pasti pernah mencicipi obat-obat dari pabrik yang di atas ini, entah lewat mulut atau lewat jarum yang nancep di infus.

Oya, masih ada lagi sih.

5

Dan kemudian ada juga ini.

6

Bahkan ada website yang bagus, yang kapan itu promo gender para pimpinannya, eh ternyata peringkatnya juga nggak bagus untuk ukuran sebuah perusahaan–menurut saya lho.

7

Lha jangankan itu, wong kumpulannya sendiri di GP Farmasi, peringkatnya juga begini:

8

Yah, begini-begini saya juga bekas orang perusahaan. Jadi, peringkat Alexa web-web tersebut sungguh bikin trenyuh. Kenapa ya kira-kira perusahaan farmasi nggak peduli pada websitenya masing-masing sehingga profil yang di atas ini terjadi? Apakah karena memang jualannya obat resep sehingga tidak perlu populer-populer banget? Ya nggak apa-apa sih, ini kan pilihan sikap dari internal perusahaan. Saya berada dalam posisi bahwa jika saya adalah orang IT atau komunikasi korporat di perusahaan itu, saya nggak terima jika website saya kalah Alexa hanya dari seorang mantan karyawan pabrik dengan harga domain setahun hanya setara ongkos taksi sekali berangkat Cikarang ke Bandara.

Gitu aja sih. Monggo, terserah. Saya tak liburan sik.

Adios!

Memang Cuma Ngupload

Iya, semalam suntuk saya bergeje ria atas nama ngupload, beneran hanya sebuah aktivitas bernama ngupload alias mengunggah file ke dunia maya.

Jadi nggak perlu saya ceritakan kenapa saya harus ketiban pulung ketemu dengan si ngupload ini, dan sudah saya kisahkan sebelumnya bahwa sinyal di kamar kos baru saya sebenar-benarnya soak. Jadi, saya berpikir bahwa akan halnya alay-alay sevel, saya juga bisa memanfaatkan WiFi-nya di Sevel. Ya kan?

Sebenarnya bisa sederhana kalau saya ngupload file-file yang jumlahnya sekitar 200 MB itu di kamar kos, seperti yang bisa saya lakukan dengan damai di Kedasih. Dan yang sederhana ini menjadi parah ketika saya masuk ke Sevel dan nanya password WiFi, dan hanya dijawab bahwa WiFi-nya rusak.

Jadilah saya ke Sevel itu beneran hanya nebeng naruh laptop. Akses si Tristan ke dunia maya menggunakan modem sohib sejatinya dia. Yang memang sudah hampir sebulan ini nggak dipakai gegara sinyal soak kosan.

*sebulan apanya, baru juga 11 hari*

Proses ngupload di Sevel ini ditandai dengan pertemuan dua lelaki, dua meter di sebelah saya, dengan percakapan:

“Hobi kamu apa?”

“Ayah ibu dimana?”

Sumpah, saya jadi serem sendiri. Ini dua-duanya cowok, bro! Sejujurnya saya hampir nggak pernah nanya ke sesama cowok, “hobi kamu apa?”

Sesudah dua lelaki itu, muncul dua wanita dengan curhat cinta masing-masing dan dengan bangganya bilang satu sama lain.

“Halah, kalau kisah gue mah bisa banget dibikin novel,” kata salah seorang gadis dengan logat yang saya paham bener. Palembang. Ini Sevel apa Pak Raden, sih? Belum tahu aja dia kalau di sebelahnya ada penulis buku Oom Alfa. Hih! Belum tahu apa dia kalau kisah cinta diam-diam saya ditolak penerbit? Lu kate bikin buku itu segampang bilang kalau kisah cinta kita pantas dijadikan novel?

Sepanjang baterainya Tristan yang syukurlah di ulang tahun pertamanya ini masih bisa tahan 3 jam, akhirnya 8 file berhasil saya unggah dengan penuh darah dan air mata, ditunjang segelas kopi Sevel yang lupa saya kasih gula. Sungguh pahit kan hidup ini jadinya?

Nah, 8 file itu belum apa-apa karena masih 42 lagi yang belum terunggah. Njuk aku kudu piye tuips? Aku kudu menek terus ngomong pucuk pucuk ngono?

Ya sudah. Pagi tadi saya capcus jam 5.15 pergi ke Lawson dekat kantor. Jadi mau hari kerja apa hari Sabtu, sama aja bangunnya. Harapannya tentu saja jam 5 belum banyak manusia dan jalur WiFi-nya cuma milik saya. Demi melancarkan urusan, saya beli segelas milo dan sepaket sushi. Biar ingat pacar yang doyan sushi.

Pas nanya password WiFi juga dikasih dengan baik. Sudah mau senang saja…

…sampai kemudian sesudah dicek, eh koneksinya limited. Dafuq. Untung saya bawa modem, dan untung di Lawson itu ada ATM BCA. Dengan mengais-ngais isi rekening saya isi pulsa si modem dengan paket seperti biasa ketika gaji saya masih banyak. Anggap saja masih kaya. Lalu saya mulai ngupload file satu per satu.

Dan ternyata juga seret abis. Fiuh.

Untungnya, tetiba malaikat muncul dalam diri seorang gadis manis yang saya tembak beberapa waktu yang lalu. Iya, untunglah saya punya pacar yang kece, baik hati, dan belum gemar menabung. Mungkin dia kasihan karena saya kemaren bobo jam 11-an dan bangun jam 4, dia langsung nyuruh saya ke kosnya untuk mengupload file-file itu, karena akses di kosnya memang lebih kece. Even si modem juga performanya baik-baik saja kalau di kosnya. Tristan juga performanya mumpuni kalau di kosnya pacar. Memang, semuanya konspirasi semesta, kalau deket-deket si pacar tetiba jadi bagus, kalau dekat saya malah nggak. Siaul.

Eh, btw, si pacar sendiri juga lagi nggak di kosan. Jadi bayangkan saja cowok jauh-jauh ke kos pacarnya bukan buat macar tapi buat ngupload. Hore bener kan ya.

Iya, ini memang cuma ngupload, tapi saya jadi alay Sevel Rawamangun, jadi alay Lawson Percetakan Negara, lalu lari ke Bintaro yang lumayan jauh dari kosan hingga akhirnya saya berhasil menuntaskan 80% gawean ngupload ini.

Iya, memang cuma ngupload.

Oya, saya jadi meluputkan jadwal nyari kos baru yang dekat kantor hari ini. Semoga kos incaran belum digebet orang. Sama satu lagi, saya jadi bingung ini nanti gimana caranya saya bisa sampai Cikarang yah kalau sampai sesore nanti saya masih berkeliaran di Jakarta Selatan hingga Tangerang Selatan ini.

Ah, besok itu tugas mulia, sesusah apapaun jadwalnya, pasti besok saya bisa sampai ke Cikarang dengan baik dan tampan.

Amin.

Menikahlah Dengan PNS, Karena…

Sumpah! Ini saya sudah jadi semacam blogger murtad. Memang bagian paling oon dari keputusan saya ngekos di tempat sekarang adalah nggak ngecek sinyal. Dan mana tahu kalau sama sekali nggak ada sinyal mapan dan eksis dari provider manapun. Ini saja saya nulis dari Sevel, dan wifi Sevelnya error, jadi tetap pakai modem sendiri. Sialan.

Yak, jadi begini. Berdasarkan info-info yang saya peroleh di dunia baru saya selama 11 hari ini, maka saya dapat menyimpulkan sesuatu. Apa itu?

Saya dapat menyimpulkan bahwa PNS adalah pasangan yang ideal…

…terutama jika kita menginginkan pernikahan yang satu dan tidak terceraikan.

Kenapa?

Jadi begini, mblo.

Gini mblo!

Kompilasi Berujung Pergi

Entah apakah tulisan ini layak ditayangkan, entah pula apa dampak yang akan terjadi kelak. Tapi sudah hampir 1 bulan sejak saya memutuskan pergi, jemari ini selalu gatal untuk menuliskan semuanya disini. Di rumah saya sendiri. Semua hal yang berpadu dan menjadi kompilasi sakti dengan ujung pergi.

Tiga hari sesudah saya memutuskan pergi, saya bertemu dengan salah seorang atasan di masa lalu saya. Percakapan berjalan biasa saja sampai kemudian muncul kata-kata yang cukup menohok.

“Gimana, sih, kamu ini? Sudah digadang-gadang kok malah pergi?”

Selengkapnya

5 Hal Yang Diperlukan Oleh Cowok Yang Tidak Ganteng Untuk Mendapatkan Pasangan

Kalau cewek harus berhadapan dengan kenyataan hidup bernama PMS setiap bulannya, maka kalau cowok harus berhadapan dengan kenyataan hidup bahwa cowok itu harus berusaha dan berjuang agar tidak jomblo. Tidak jomblo ini definisinya dua, dari jomblo agar menjadi tidak jomblo, atau dari tidak jomblo agar jangan sampai menjadi jomblo.

Memang, dari 7 miliar lebih manusia di dunia, cewek lebih banyak jumlahnya. Akan tetapi, perkara jumlah itu tidak menjamin cowok akan menjadi lebih mudah untuk tidak jomblo. Lah, konstelasi hidup menyebabkan cowok berada pada posisi memilih dan cewek yang dipilih. Okelah cowok sudah memilih seseorang, tapi kalau seseorang itu ogah dipilih ya jadinya penolakan.

*kemudian gantung diri di pohon ubi jalar*

Nah, salah satu hal yang mungkin menjadi pertimbangan dalam memilih dan dipilih itu adalah tampang. Ya, coba cewek mana yang nggak klepek-klepek kalau melihat mas-mas dan mbak-mbak ini, formulasi ganteng dan cantik:

download

images

Ya, mungkin sudah takdir alam bahwa yang ganteng itu bakal dapat yang cantik. Eh, nanti dulu. Kalau memang logikanya begitu, bagaimana kisahnya dengan mas-mas dan mbak-mbak ini?

download (2)

images (2)Ya, okelah, mungkin memang keduanya sudah cerai. Foto-foto di atas jadul punya. Tapi kalau yang ini masih eksis berpasangan dan tetap tampak kece:

download (1)

NAH! Saya yakin, dalam terminologi apapun seorang Bacary Sagna nggak bisa dibilang ganteng jika dijejerin sama Lee Min-ho. Tapi nyatanya bininya cakep banget. Artinya? Ya, nggak perlu tampang ganteng maksimal untuk bisa menggaet cewek cantik.

Kalau saya ganteng nggak?

Tentu saja, tidak. Kalaulah ada yang bilang saya ganteng itu paling juga Emak saya. Dan emak-emak lain di dunia pasti bilang kalau anaknya ganteng. Itu adalah bentuk kewajaran ilmiah. Bahkan adek saya sendiri nggak pernah mengakui bahwa saya ganteng, apalagi para mantan saya.

Kalau Sagna saja bisa mendapatkan istri cantik jelita tiada dua, mestinya kita-kita yang nggak ganteng ini juga bisa. Nah, berikut beberapa hal yang diperlukan oleh cowok-cowok kurang ganteng untuk mendapatkan pasangan.

1-5

53 Pertanyaan Yang Diajukan Kepada Seseorang Yang Sudah Cukup Umur Yang Baru Pacaran Lagi Sesudah Lama Menjomblo

Judulnya kepanjangan? Biarin. Judulnya terlalu rumit? Biarin juga! Hidup sebagai jomblo berkepanjangan itu sudah jauh lebih rumit daripada judul yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas ini.

Yap! Bahwasanya manusia diciptakan untuk hobi mencampuri urusan sesamanya. Misalnya kamu tinggal di gang senggol, lalu ada tetangga tiba-tiba punya Vellfire. Sudah bisa dipastikan kamu akan mencoba mencari tahu asal muasal mobil itu. Padahal, siapa tahu kan tetangga itu adalah temannya Ahmad Fathanah?

Nah, sebagian dari ikut campur itu sejatinya adalah bentuk perhatian kepada sesama. Nggak apa-apa juga, sih. Namanya juga makhluk sosial. Sialnya so-so. Bentuk perhatian itu umumnya berupa pertanyaan. Ya, tentu saja menjadi sebuah fakta unik ketika seseorang yang terlihat lama menjomblo tahu-tahu punya pacar, cakep pula. Nah, mau tahu nih beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada orang-orang yang sudah cukup umur dan baru pacaran lagi sesudah lama menjomblo? Ini dia!

1. Kapan kawin?

2. Ketemu dimana?

3. Gimana ketemunya?

4. Kok bisa?

5. Nggak salah, tuh?

6. Lo boongin gimana tuh cewek?

7. Anak mana, sih?

8. Gadis/janda/perjaka/duda?

9. Kapan kawin?

10. Berapa lama PDKT-nya?

11. Kok cepat banget?

12. Ngebet ya?

13. Kapan kawin?

14. Kok kamu mau sama dia?

15. Kok dia mau sama kamu?

16. Kok kalian sama-sama mau?

17. Kapan kawin?

18. Kapan kawin?

19. Kok nanyanya kapan kawin melulu?

20. Ya, udah. Mau ganti apa?

21. Kapan nikah?

22. Yaelah, Bro! Nggak ada yang laen?

23. Udah ngapain aja sama doi?

24. Comblangnya siapa?

25. Doi umur berapa?

26. Mantannya berapa?

27. Mantannya yang udah nikah berapa?

28. Dulu kenapa putus sama mantannya?

29. Kapan nikah?

30. Lo pakai pelet apaan?

31. Gue minta alamat dukunnya, dong! Dimana?

32. Udah insyaf ya?

33. Udah kapok ngejomblo?

34. Ini yang lo cari?

35. Kapan nikah?

36. Lah, kapan kawin sama kapan nikah kan sama?

37. Ya emang pertanyaan utamanya itu! Protes melulu sih?

38. Nggak ada yang laen apa?

39. Ya udah! Nih! Kapan diresmikan?

40. Gimana jadiannya?

41. Dimana jadiannya?

42. Romantis nggak jadiannya?

43. Nanti nikahnya mau di tempat doi apa nggak?

44. Lo udah baca OOM ALFA belom? *oke ini tidak relevan*

45. Ada acara ngunduh mantu nggak di tempat lo?

46. Nunggu apalagi, sih?

47. Orang tua udah tau?

48. Orang tua udah kenal sama doi?

49. Kapan disahkan?

50. Kapan naik pelaminan?

51. Tuh kan! Sama-sama lagi pertanyaannya! Gimana, sih?

52. Lo tahu nggak?

53. Apaan?

54. Emang kalau udah cukup umur itu 50% pertanyaannya ya ‘kapan kawin’ dan derivatnya!

List pertanyaan ini sudah didiskusikan dengan beberapa pihak, utamanya Bapak ini. HEUHEUHEU! Enjoy ya! Just for fun!