Mencari Nilai Hingga Regina Caeli

Sejauh ini misi #KelilingKAJ saya berjalan mulus. Tentu saja mulus karena semua TKP #KelilingKAJ yang saya pilih adalah yang dekat dengan sarana transportasi umum. Ada yang tinggal ngesot dari Halte TransJakarta semacam Matraman, atau yang rada dekat dengan stasiun semacam Pasar Minggu.

Supaya agak beriak, saya lalu mencari sasaran yang agak kejam. Kejam yang pertama adalah karena saya belum pernah menyusuri Jakarta sampai ke bagian sana. Kejam kedua adalah karena sarana transportasi umumnya tidak sesederhana dua moda favorit saya, TransJakarta dan KRL Commuter Line. Maka, diputuskanlah melalui Dewan Syuro bahwa TKP #KelilingKAJ berikutnya adalah Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk.

RC

Satu-satunya yang membantu saya dalam pencarian lokasi Gereja Regina Caeli adalah blog berjudul Mengaku Backpacker. Sisanya? Nggak ada. Tentu saja, karena saya nggak yakin ada umat Regina Caeli yang ngangkot. Maklum, lokasinya berada di kawasan elit yang harga propertinya akan naik besok Senin.

Selengkapnya!

Sensasi Hotel Sylvia Kupang

Syahdan, saya akhirnya nyasar sampai ke Kupang. Mengingat sebagian ibukota provinsi berada di dekat laut, kadang pengen juga menginap di hotel dekat pantai, yang agak berombak gitu. Soalnya di Kendari kan dapatnya pantai tak berombak. Apa daya, budget terbatas dan saya nggak bisa memenuhi hasrat tinggal di hotel tepi pantai.

Lalu saya harus galau, gitu? Tentu tidak! Berdasarkan rekomendasi teman, saya akhirnya memilih menginap di sebuah hotel baru tapi lama yang terletak di Jalan Soeharto, tidak jauh dari Polda NTT. Namanya Hotel Sylvia.

IMG20150318223724

Anggaran jelas masuk karena saya hanya membayar 400 ribu untuk 1 malam, cocoklah dengan anggaran penghematan. Kenapa saya bilang hotel baru tapi lama, karena sebenarnya Hotel Sylvia ini adalah hotel lama di Kupang, namun per Oktober 2014 sudah diresmikan Hotel Sylvia yang baru. Adapun bangunan lama sedang digarap ulang, persis di sebelah bangunan baru. Jadi, saya tinggal di hotel yang baru jadi enam bulan. Keren juga. Tidak hanya dekat Polda, Hotel Sylvia juga dekat dengan pasar, dan yang terpenting dekat dengan toko oleh-oleh. Atau sekadar mau makan malam murah? Makanan suroboyonan tersedia di sekitar hotel. Angkot khas Kupang yang di bawah joknya penuh speaker juga lewat di depan hotel ini.

Selengkapnya!

Menuju Puncak

Sejak dua bulan yang lalu saya dikasih tahu sama Dokter Riani bahwa akan ada rekoleksi tim pelayanan PITC. Dari aneka grup yang tersedia, saya membaca sekilas tempatnya, namun yang teringat di kepala hanya Sindanglaya. Ya, sudah, booking jadwal pribadi dan meniadakan agenda #KelilingKAJ serta latihan bareng CFX di Kolese Kanisius.

IMG_6474 copy

Mengingat hidup saya sangat tergantung jadwal dinas, mulailah saya deg-degan ketika minggu lalu ada wacana dinas ke Kupang. Tapi seperti pernah saya tulis di blog ini juga bahwa entah kenapa kalau urusannya untuk pelayanan, hawa-hawa lancar itu selalu terasa. Pada akhirnya saya ke Kupang tanggal 17 sampai 19 Maret. Tanggal terakhir ini ulang tahun pacar, dan ketika pacar ulang tahun saya malah sibuk berusaha mencapai kos dari El Tari.

Dua malam di hotel, lalu semalam nggak kerasa di kosan, saya kemudian akan mendapatkan dua malam lainnya di Sindanglaya. Sungguh, hidup sebagai petualang itu indah. Asal bukan petualang cinta.

Selengkapnya!

Jalan Singkat di Jalan Malang

Pada suatu hari Minggu pagi yang sendu karena hujan, saya bimbang perihal tujuan #KelilingKAJ berikutnya. Bukan apa-apa, siang harinya saya ada latihan paduan suara di Kolese Kanisius, jadi nggak mungkin saya pilih tujuan yang jauh. Sedangkan TKP sejenis Paskalis, Kramat, hingga Theresia saya simpan untuk terakhiran saja, karena toh dekat.

IMG20150308094952

Sembari bimbang, saya lantas ingat satu-satunya Gereja di Dekenat Pusat yang sama sekali belum pernah saya datangi. Ya, yang lain beneran sudah, bahkan sampai ke Pejompongan. Dulu ke Pejompongan karena sial soalnya TransJakarta ke Theresia ketutup lomba lari, sementara saya sudah sampai di Komdak. Nah, yang satu ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu. Bahkan sejak saya masih di Cikarang dan lewat Manggarai sekadar hendak ke Gramedia Matraman. Diintip-intip kok kayak Gereja Katolik. Eh, ternyata benar. Berhubung waktu yang mepet akhirnya disahkan saja bahwa tujuan #KelilingKAJ berikutnya adalah Paroki Santo Ignatius Jalan Malang.

Selengkapnya!

Sunrise di Swiss-Belhotel Kendari

Pertama-tama, saya mau nanya, bagaimana pendapat kamu-kamu semua dengan pemandangan ini di pagi hari?

SWISBEL1

Kece, kan? Kece, dong! Pemandangan semacam ini saya temukan di sebuah pagi ketika saya menginap di sebuah hotel yang berlokasi di Kendari. Yup, ketika berada di Kendari, saya menginap di Swiss-Belhotel. Menurut website resminya, bintangnya 4. Namun satu hal yang krusial, harganya lumayan terjangkau. Bulan Januari silam saya sempat telepon–tapi nggak jadi karena perutusan dibatalkan–harga promonya hanya 400 ribu saja. Wow juga, kan.

Selengkapnya!

11 Fakta Tentang Anak Paduan Suara Mahasiswa

Kiranya hampir semua universitas punya Paduan Suara Mahasiswa alias padus alias PSM atau apalah namanya. Paduan Suara Mahasiswa kiranya merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau apalah namanya yang sejenis. Suka-suka yang punya kampus, toh? Nah, sebagai mantan anak Paduan Suara Mahasiswa saya lantas mengerutkan kening untuk mengenang apa-apa aja sih yang unik dari anak Paduan Suara Mahasiswa itu. Mengingat saya sudah lulus kuliah sejak zaman Boedi Oetomo, maka kerutan kening saya lumayan berlipat sehingga bisa membentuk partitur lagu galau.

CF

Daripada kelamaan, baiklah, sesudah rada sering menulis kisah perjalanan #KelilingKAJ, ada baiknya kita refresh sejenak dengan beberapa fakta unik tentang anak Paduan Suara Mahasiswa versi ariesadhar.com

1. Anak Paduan Suara Mahasiswa biasanya adalah hasil seleksi. Namun biarpun sudah diseleksi, tetap ada seleksi alam.

Namanya juga Paduan Suara Mahasiswa yang membawa nama kampus, rekrutmen jadi nggak sembarangan ketimbang koor-koor biasa yang bahkan–kayak yang pernah saya lakukan–nyaut orang lewat yang penting rame. Anak-anak yang mau ikut Paduan Suara Mahasiswa harus dihadapkan pada persaingan ketat. Biasanya anak-anak semacam ini sudah ikutan paduan suara sejak dari TK, SD, SMP, atau SMA. Atau kalau ada yang nggak ikut sama sekali, lalu daftar jadi PSM ada juga kok. Saya. Padahal saat daftar saya itu nggak bisa membaca not. Membaca saja sulit, bagaimana mungkin diterima?

Selengkapnya!

Melintas Masa di Matraman

Jakarta alias Batavia adalah sentral perkembangan Gereja pada zaman dahulu kala. Selain Katedral, generasi awal Gereja Katolik di Jakarta ada di tempat #KelilingKAJ yang saya bahas kali ini. Yup, kali ini kaki saya melangkah ke tempat yang nggak jauh-jauh benar dari kos yakni Gereja Santo Yoseph Matraman. Gereja ini, menurut saya, punya nilai spesial. Selain tergolong dalam generasi awal perkembangan Agama Katolik di Jakarta, juga termasuk dalam sebuah peristiwa titik balik. Jika belum pada lupa, Gereja Santo Yoseph Matraman merupakan salah satu sasaran bom malam natal tahun 2000, dan membawa korban jiwa.

Matraman3

Gereja Santo Yoseph berlokasi di Jalan Matraman Raya nomor 127 Jakarta Timur. Letaknya sebenarnya terbilang dekat dengan Gereja lainnya. Untuk ke Gereja Kramat, tinggal lurus–atau naik TransJakarta via Slamet Riyadi – Tegalan – Matraman- Salemba Carolus – Salemba UI – Kramat Sentiong – Pal Putih–turun dah. Kalau mau diterusin lagi, juga sampai ke Bidara Cina.

Aksesnya juga mudah, semudah ke Wisma Kemhan. Selain halte Slamet Riyadi, Gereja ini tidak jauh dari Stasiun Pondok Jati. Pun bisa dijangkau dengan angkot biru M.01. Benar-benar sangat dimudahkan. Plus bukan titik macet karena lumayan jauh dari perempatan Matraman yang durasi lampu merah (plus macetnya) setara durasi menanak nasi lalu kemudian menggorengnya.

Selengkapnya!