Cerita Suami: Mendampingi Istri Melahirkan (2)

Hingga due date 11 Juni 2017, anak saya masih anteng di perut ibunya. Oleh dr. Elise pada kontrol pekan terakhir, istri sudah diberikan surat pengantar induksi. Dokumen dari Borro cukup lengkap termasuk meliputi tanda-tanda bagi seorang Ibu untuk pergi ke RS, antara lain meliputi gerakan bayi berkurang atau tidak ada sama sekali, flek darah, dll-dll. Dengan berlalunya tanggal 11 Juni 2017 itu, sudah pasti kita akan memasuki fase induksi.

Hari Senin tanggal 12 Juni 2017, sesudah terlebih dahulu mengantarkan eyangnya si bocah ke kantor, berangkatlah saya, istri, dan eyang kakungnya si bayi ke Borro. Jadi, pukul 08.30 pagi itu, kami seperti menyerahkan diri kepada rumah sakit. Datang dengan tas lengkap dan masuk ke IGD Kebidanan sambil berkata, “Sus, mau induksi.”

Proses kemudian terjadi. Bertempat di VK6, induksi dilangsungkan dengan bahagia pada awalnya. Oya, sebelum tindakan dilakukan, perawat dengan telaten menjelaskan soal form-form yang harus diisi dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan, termasuk alternatifnya. Istri lantas diinduksi dengan cara diinfus setelah terlebih dahulu ketahuan sudah flek dan bukaan 2. Kala itu (ketahuan bukaan 2) saya sedang mengurus registrasi pasien.

Resminya, induksi dimulai pukul 09.30 dengan kantong infus permulaan bermerk Sanbe. Yah, penetrasi Sanbe di RS memang warbiyasak dahsyat dibandingkan jago infus lain di Malang sono. Tetes demi tetes bergulir awalnya istri saya woles saja, sempat selfie-selfie pula. Sempat tidur, sempat pula makan. Selow pokoknya. Oksitosin, apa itu? Hih!

Continue reading

Advertisements

Cerita Suami: Mendampingi Istri Melahirkan (1)

Gile, blog saya ini semakin abal-abal saja. Posting per bulannya tinggal sisa satu. Itu juga iklan. Yah, memang akhir-akhir ini saya terlalu bergelut dengan UCNews demi dolarnya meski kemudian ternyata mencari dolar tidaklah semudah itu karena masih lebih mudah RDK. Selain itu, saya juga sibuk satu hal: mendampingi istri melahirkan.

Yup, saya sudah jadi bapak sekarang ini. Nah, perkara saya jadi bapaknya siapa, itu nanti kapan-kapan saya jelaskan. Saya justru hendak sharing sedikit mengenai proses panjang kelahiran anak saya ke dunia persilatan ini.

Sejak 7 bulan, saya dan istri memang sudah membuat ketetapan untuk melahirkan di Bandung. Pertimbangan utama adalah karena saya kerjanya kayak Bang Toyib. Ada suatu waktu saat 2 minggu sekali saya minggat dari rumah selama 3-7 hari. Hal itu tidak baik kalau tiba-tiba istri saya memperlihatkan tanda-tanda hendak melahirkan.

Selain itu, faktor eyangnya si bocah di Bandung tentu akan membantu selama proses persalinan yang tidak mudah tersebut. Ketiga, jelas faktor biaya. Kami memang tidak ditanggung siapa-siapa. Alasan utama adalah karena sebagai pegawe ngeri jaminan kesehatan saya adalah BPJS dan saya kok nggak tega istri saya lahiran pakai BPJS. Bukan apa-apa, istri saya kerja di RS dan untuk hal-hal tertentu BPJS belum terlalu nyaman bagi pasien. Dari kantor istri juga belum bisa karena belum memenuhi durasi kerja di RS tersebut untuk bisa ditanggung. Seandainya kehamilan bisa ditambah 3 bulan lagi, kelahiran anak saya bisa gratis ditanggung kantor istri. Ya kali hamil 12 bulan, broh. Nah, karena faktor finansial ini kami survei-survei dan untuk melahirkan di RS semacam Hermina dan Pondok Indah kok ya tidak terjangkau. Jadi ya sudah, hitung-hitung ketetapannya adalah lahiran di Bandung.

Namanya di Bandung, tidak berarti kami pilih-pilih dulu, entah Santo Yusuf, Santosa, Limijati, Cibabat, atau Borromeus. Pilihannya langsung Borromeus dengan segala kelemahan dan keunggulannya. Alasan ke Borromeus, ada beberapa juga.

Pertama, istri saya lahir di Borromeus. Ada hubungannya? Nggak. Tapi jadi alasan aja, sih. Kan seru kalau ibu sama anaknya satu tempat lahir? Nggak seru? Ah, masak?

Continue reading

Pocky, Teman Dekat Untuk Berbuka Puasa

Tahun lalu ada kisah keji dari Jakarta. Alkisah saya dan teman-teman berangkat dari Hotel Century, Senayan, menuju Jalan Percetakan Negara. Itu kan hanya 10-11 kilometer saja, yha. Apa daya, berangkat dari Senayan pukul 3, dengan keji rombongan kami baru sampai selepas maghrib. Durasi segitu kalau normal sudah sampai Bandung, kak! Tanpa persiapan, walhasil buka puasa dilakukan di perempatan Matraman setelah sebelumnya cari-cari air mineral yang lewat.

Padahal kita kan tahu bahwa berbuka puasa merupakan momen koentji dalam bulan Ramadhan. Terlebih, di bulan puasa, sudah layak dan sepantasnya kita tidak mengurangi aktivitas. Selain karena puasa itu bukan beban, tapi juga karena bos maupun customer juga nggak peduli kita puasa tau tidak yang penting target tercapai. Maka, kisah sedih di hari Rabu seperti yang kami alami waktu itu jelas akan mudah terulang lagi.

Untunglah, di bulan Ramadhan 1438 H kali ini, PT. Glico Indonesia lewat besutannya berupa biskuit stik premium asal Jepang, Pocky, muncul dengan kampanye kece #PockyinMyPocket. Dengan begitu perhatian layaknya gebetan, produk ini telah dirancang untuk mempermudah pemakannya sehingga Pocky bisa menjadi solusi untuk berbuka puasa di saat-saat yang tidak diduga maupun diekspektasikan. Biskuit stik ini diformulasi khusus sehingga tanpa remah alias no crumbs. Ya, kalau remah-remah birokrasi, itu baru banyak dan berserakan serta selalu jadi sasaran kemarahan. Pocky juga pas untuk dikantongi alias pocketable, serta yang pasti cocok dimakan bareng-bareng (shareable).

Plus, satu lagi, begitu membuka kemasan primer pada arah yang tepat, kita akan mendapati bagian biskuit tanpa lapisan yang menjadi tempat untuk memegang Pocky. Dengan demikian, kita tidak perlu khawatir kalau-kalau lagi di dalam KRL tapi takut tangan kotor kena lapisan biskuit. Karena bagian biskuit tanpa lapisan itu pas, jadi pas habis ya pas juga lapisan aneka rasa itu pada akhirnya tidak mengotori tangan kita.

Glico Indonesia sendiri menyebut bahwa via kampanye #PockyinMyPocket ini, Pocky dapat menjadi teman dekat dan terbaik untuk jadi solusi berbuka puasa. Sekaligus nanti dapat menjadi teman dekat pula untuk menemani perjalanan pulang kampung hingga nanti kalau reuni dengan para mantan di hari Lebaran. Oya, Pocky juga datang bersama-sama dengan teman sepermainannya yang bernama PRETZ dan Pejoy yang tidak kalah enak.

Lah, ini makanan untuk berbuka puasa, tapi halal nggak?

Nah, jadilah konsumen cerdas. Jika mau tanya-tanya tentang makanan dapat ke @halobpom1500533, maka untuk kehalalan produk juga bisa dicek di website LPPOM MUI selaku lembaga yang mengeluarkan fatwa halal dan haram suatu produk. Tinggal ketik nama biskuit ini dan muncul deretan produk yang menyatakan bahwa produk tersebut halal. Jangan mudah terpengaruh oleh hoaks yang beredar di Twitter maupun grup WhatsApp, yha. Soal logo halal, dalam siaran pers, Glico menjanjikan bahwa mulai medio 2017, logo halal akan ditambahkan pada kemasan produk untuk memastikan kehalalannya.

Sebenarnya, sejak hadir di Indonesia, Pocky telah mengantongi sertifikat halal dari CICOT Thailand. Cuma kan halal itu tergantung negara. Jadilah di Indonesia itu domain MUI, menunggu Kementerian Agama menyelesaikan amanat Undang-Undang untuk badan khusus yang mengurusi kehalalan produk. Demikianlah yang pernah saya pelajari sebagai mantan auditor halal internal untuk meyakinkan ihwal Pocky halal sehingga cocok untuk dibagi-bagi karena selain halal juga konsepnya kan shareable. Dengan demikian kita juga bisa share happiness.

Di bulan Ramadhan ini, Pocky mengeluarkan kemasan yang spesial dan tentu saja cantik serta unik kayak Chelsea Islan. Kemasan khusus ini dapat diberikan jadi bingkisan plus ucapan selamat Hari Raya kepada siapapun, asal bukan PNS. Kalau PNS nanti ketangkep KPK, soalnya gratifikasi.

Adapun Pocky yang dapat kita nikmati ada banyak varian rasa. Mulai dari Pocky Chocolate, Pocky Double Chocolate, Pocky Strawberry, Pocky Matcha, Pocky Vanilla Cocoa, dan juga Pocky Choco Banana. Jangan khawatir kita makan biskuit abal-abal karena Pocky adalah biskuit stik paling laris di Asia dengan penjualan lebih dari 500 juta pak setahunnya.

Soal rasa, kok ada Chocolate terus ada Double Chocolate? Heuheu, kalau penasaran tinggal beli, kak. Yang jelas dari kemasannya sudah dibedakan. Kalau ditanya rasa yang paling disukai, sejak lama saya kalau ke Alfarmarket maupun Indomarket selalu membeli yang Pocky Matcha. Rasa Matcha-nya benar-benar terasa. Kalaulah ada kekurangan dari produk ini sebenarnya hanya 1, kurang banyak.

Satu hal yang jangan dilupakan sebagaimana kita melupakan mantan tapi masih mengenang rasa bibirnya, jangan lupa untuk selalu #CEKKLIK kalau beli makanan seperti Pocky. Pastikan KEMASAN dalam kondisi baik, jangan terima yang sudah sobek atau juga berjamur. Terus, kita juga kudu rajin sedikit membaca informasi pada LABEL alias kotak Pocky, kan sayang sudah dicetak mahal-mahal tapi nggak dibaca. Kemudian, kita juga kudu pastikan bahwa produk yang akan kita konsumsi sudah ada IZIN EDAR yang dikeluarkan Badan POM. Karena Pocky ini impor, jadi pastikan bahwa Nomor Izin Edar (NIE) Pocky adalah ML, bukan MD, yha. Plus yang terakhir banget, sebelum makan snack ini kita harus pastikan bahwa makanan yang akan masuk ke dalam tubuh kita tidak melewati tanggal KEDALUWARSA. Untuk kemasan Pocky, tanggal kedaluwarsanya ada di bagian atas kemasan.

Nah, jadi bagaimana? Segeralah nanti begitu sempat mampir ke toko-toko terdekat untuk memborong Pocky aneka rasa, karena di beberapa minimarket saya menemukan promo menarik juga. Begitu dibeli jangan langsung dimakan. #CekKLIK dulu. Sesudah #CekKLIK juga jangan langsung dimakan. Ingat, belum waktunya berbuka.

Bawa saja sepanjang perjalanan. Begitu tiba saatnya berbuka, setelah tentunya berdoa terlebih dahulu, tinggal buka kemasan box, lanjut buka kemasan primernya–ingat dengan arah yang benar–dan lantas sentuh bagian biskuit tanpa lapisan, angkat mendekati mulut, dan…

…kres,kres, kres.

Selamat menikmati kebahagiaan bersama  Pocky dan jangan lupa tetangganya dibagi. Ingat, berbagi tidak pernah rugi. Ciao!

Mencari Xaverian di Jakarta

Saya besar di Bukittinggi, dan otomatis dibaptis ehm, agama itu warisan oleh pastor dari ordo Xaverian alias SX, sederhananya Serikat Xaverian walaupun kepanjangannya sih bukan itu. Serikat yang satu ini memang hanya beredar di Keuskupan Padang (Padang Baru, Bukittinggi, Payakumbuh, Mentawai, dan Labuh Baru), Keuskupan Agung Medan (Aek Nabara), dan Jakarta. Yes, selain skolastikat-nya di dekat kantor saya–Cempaka Putih–maka satu-satunya paroki yang dipimpin oleh SX di Jakarta adalah Paroki Santo Matius Penginjil, Bintaro.

Sesuai namanya, gereja ini terletak di Bintaro dan merupakan gereja perdana yang berdiri di sekitar Bintaro, sebelum kemudian muncul Gereja Santa Maria Regina yang terletak di Bintaro Jaya, dekat Bank Permata. Gereja Santo Matius Penginjil ini juga begitu identik dengan salah satu rumah retret Wisma Canossa. Sepuluh tahun silam, saya sudah menjamah Wisma Canossa ketika sepuluh tahun silam mengikuti Golden Voice Christmas Choir Competition di Kemayoran. Dan itu sebenarnya pertama kali saya sudah misa di Gereja Santo Matius Bintaro ini.

Untuk mencapai Gereja ini cukup mudah dengan menggunakan ojek online. YAIYALAH. Patokannya adalah Jalan Ceger Raya. Jadi kalau dari KRL Commuter Line enaknya turun di Pondok Ranji untuk kemudian dapat disambung ojek. Ada angkot, sih, tapi saya tidak mendalaminya.

Dari website resmi Paroki Santo Matius Penginjil, diketahui bahwa sejarah paroki ini bermula dari beberapa keluarga Katolik yang pindah rumah ke sekitar kompleks Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam V Jaya sekitar tahun 1972. Keluarga-keluarga itu tadinya belum mengenal, namun mulai saling tahu dan lantas ngobrol sesudah setiap hari Minggu melihat ada keluarga yang membawa buku Madah Bakti.

Continue reading

Memperpanjang SIM di Gandaria City

Singkat kata umur saya terus bertambah sementara gaji saya tiada bertambah dari tahun ke tahun. Pertambahan umur kemudian menyebabkan umur Surat Izin Mengemudi (SIM) yang berbentuk kartu itu menjelang habis. Biasanya, ongkos pembuatan SIM saya itu begitu mahal karena harus disertai ongkos pesawat lanjut travel ke kota kelahiran saya di Bukittinggi sana. Jadi SIM-nya anggaplah 100 ribu, tiketnya 1 juta. Itu kalau disumbangkan ke rakyat miskin jelas sudah banyak. Namun jumlah segitu jelas nggak seberapa dibandingkan yang digunakan para pejabat untuk makan-makan dan nyanyi-nyanyi di bawah lindungan uang negara. Teman saya yang protokol seorang menteri pernah cerita bahwa dirinya suatu kali makan daging yang dimensinya 10 kali 20 sentimeter dan harganya 800 ribu sendiri. Itu protokolnya, gimana menterinya?

Duh, jadi nyeleweng.

Tanya punya tanya, cari punya cari, kini telah ada cara menarik untuk memperpanjang SIM per 5 tahun itu, yakni yang disebut SIM Online. Terobosan ini sungguh membantu perantauan kayak saya ini. Dan untuk itu saya cari-cari via Mbah Google, Opung Google, hingga Inyiak Google. Tidak ada informasi yang fix dari website resmi dan hanya blog-blog serta update Twitter yang bisa membantu.

Maka berangkatlah saya ke Gandaria City karena disebutkan bahwa salah satu tempat layanan SIM Online adalah di dalam mal tersebut. Sebenarnya ada beberapa tempat lagi, namun Gancit tampak lebih menarik karena di dalam mal, harusnya lebih adem daripada mobil keliling di taman kota misalnya.

Continue reading

[Review] Guardians of the Galaxy Vol. 2

I am Groot!

Yes, semua orang kudu menyaksikan film ini untuk bersama-sama menjadi Groot. Pokoknya, I am Groot, We are Groot. Groot memang menjadi pesona tersendiri di dalam film ini meski di poster dia hanya muncul kecil sekali di balik kepala Star-Lord alias Peter Quill.

Review macam apa kok baru mulai sudah ‘I am Groot’?

Saya menyaksikan Guardians of the Galaxy edisi perdana di televisi kabel, kalau nggak salah di hotel waktu perjalanan dinas. Dari film yang seolah bukan apa-apa, eh, kok apik juga. Dan poin pentingnya adalah lucu. Edisi satu pelindung galaksi yang sebenarnya para kriminal ini memang menempatkan komedi-komedi secara tepat dan terdispersi merata dalam adegan.

Nah, bagaimana nggak tertarik menyaksikan Vol. 2 ini?

Continue reading

Liburan Singkat di Tengah Jakarta

Heh? Apa? Liburan di Jakarta? Lho, se-Indonesia ngomongin Pilkada DKI Jakarta, kenapa kita nggak boleh berlibur di Jakarta? Kadangkala, Jakarta dapat menjadi tempat bagus untuk minggat sesaat, bahkan bisa minggat dalam ketenangan.

Pesona Jakarta tentu begitu besar hingga banyak orang tiba ke Jakarta tanpa modal untuk bekerja dan menempati celah-celah kosong yang bisa ditinggali. Di satu sisi tampak begitu bronx, namun di sisi lain kadang seru juga melewati gang-gang di tengah kota Jakarta. Jalan Sudirman misalnya, tampak megah dengan gedung-gedung tinggi. Demikian pula Jalan Rasuna Said. Namun di balik gedung-gedung tinggi itu yang bisa kita temukan adalah begitu banyak jalan kecil hingga gang yang bisa kita sebut sebagai gang senggol.

Lantas apa saja yang bisa kita lakukan dalam berlibur singkat di tengah Jakarta? Berikut beberapa diantaranya.

Tanah Abang

sumber: tempo.co

Ini adalah pasar paling legendaris di Jakarta. Tidak hanya menyebut tentang fenomena Haji Lulung yang begitu terkemuka sebagai produk Tanah Abang. Pasar ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil paling besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara. Lucunya, Tanah Abang yang dahulu adalah tempat dagang kambing. Disebut dulu ya karena memang usia Tanah Abang itu memang tua benar. Sampai ratusan tahun. Salah satu versi sejarah mencatat bahwa sampai akhir abad ke-19, Tanah Abang aslinya bernama Nabang yang berasal dari jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut. Nah, karena berada dalam zaman Hindia Belanda, maka gaya londo terpakai. Salah satunya adalah dengan penambahan partikel ‘De’. Maka, Nabang menjadi De Nabang, dan lama-lama menjadi Tenabang. Versi kisah yang dimuat dalah buku ‘212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM kemudian melanjutkan bahwa perusahaan jawatan kereta api bermaksud memperjelas si ‘Tenabang’ itu dan kemudian muncul nama ‘Tanah Abang’.

Continue reading

Lost in Bangka (7): Pantai Parai Tenggiri

Separuh gagal menikmati pantai Tanjung Pesona–ceritanya bisa disimak di edisi 6 serial Lost in Bangka–kami memutuskan untuk makan dahulu. Tempat makan yang dengan mudah memberi nama salt fish fried rice untuk sebuah makanan yang sebenarnya adalah sego goreng iwak asin. Mbel. Walau begitu, mungkin dampak hari Minggu, tempat makan yang saya lupa namanya itu ramai sekali. Cukup lama kami menunggu, setidaknya sampai hujan reda.

Continue reading

Rest In Peace, Romo Ardi

Hari Sabtu sore, saya baru pulang kondangan. Siapa sangka pada waktu saya sedang mencari kepala hijau untuk istri, salah seorang pastor keren yang saya kenal justru lagi meregang nyawa. Ya, beberapa jam kemudian melalui posting Mas Adven, teman dahulu sama-sama berkomunitas, saya mengetahui bahwa Sabtu, 8 April 2017 pukul 17.30, Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, SJ dipanggil Tuhan.

Sejujurnya, saya tidak percaya.

Apalagi ini era hoaks dan sejauh saya pernah mengenal beliau 13 tahun yang lalu, tidak tampak faktor risiko untuk mengaitkan sosok yang kala itu saya kenal sebagai Frater Ardi itu dengan serangan jantung. Badan ideal, merokok sejauh saya kenal juga tidak, usia juga belum tua-tua benar. Dan lagi, sejauh saya kenal pula, selain hobi naik motor lanang, setahu saya (kala itu) Frater Ardi juga hobi berjalan kaki.

Kok bisa? Ya, embuh. Sungguh sulit bagi saya untuk mengerti.

Perkenalan saya dengan (kala itu) Frater Ardi sesungguhnya singkat. Dimulai saat saya masuk Universitas Sanata Dharma tahun 2004 dan langsung mlipir masuk ke Cana Community dengan kebetulan Frater Ardi sebagai pendampingnya. Waktu itu, saya agaknya sama persis dengan masa kini: goyah iman.

Continue reading

Catatan Sepekan Jadwal Baru KRL Commuter Line

Sudah tiga bulan saya menjelma. Tadinya pemotor yang saban pagi menembus jalan Gatot Subroto, Saharjo, hingga perempatan Matraman, plus baliknya meresapi setiap jengkal Jalan Sudirman hingga gang-gang selebar motor di belakangnya. Kini saya adalah commuter sejati, yang bangun pukul 4 lewat dan pastinya belum ketemu matahari. Pulangnya? Sama juga, nggak ketemu matahari. Saya jadi penasaran bagaimanakah wujud matahari di Tangerang Selatan?

Awalnya, saya berangkat dari rumah pukul 5 pagi. Sumpeh, pagi bener. Yang dikejar adalah Trans Bintaro untuk istri saya. Lama-lama, lelah juga, coy. Mulai berangkat 5 lewat 10, lewat 20.

Nah, di hari Senin, dengan jadwal perdana, 3 April 2017–yang merupakan ulang tahun mantan–saya kebetulan harus menangani atap rumah yang bocor terlebih dahulu. Jadilah saya berangkat dari rumah pukul 6. Baru kali itu saya berangkat dalam naungan sinar mentari meski masih lamat-lamat sekali. Karena sudah ngeh akan terlambat, maka saya memutuskan turun di Palmerah untuk kemudian menyambung perjalanan dengan ojek online.

Saat sedang menanti ojek online, tetiba Dhila, teman kantor satu rute, bilang di grup bahwa dirinya belum terangkut oleh KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Kramat. Ujung-ujungnya, saya tiba terlebih dahulu dibandingkan dia. Padahal, saya berangkat dari rumah lebih belakangan.

Begitulah, sebagai commuter, sayalah yang harus menyesuaikan perjalanan. Untuk itu, akhirnya saya membuat resume dampak perubahan dan pengatasannya. Ya, siapa tahu berfaedah bagi sesama commuter. Kalaupun tidak berfaedah, lumayan buat tambah-tambah postingan.

1. Lebih Banyak Kereta, Karena Ada Kereta Rangkasbitung
Dari Jurangmangu, boleh dibilang tidak ada masalah berarti. Malahan, ada tambahan perjalanan. Ya, rute yang dulu adalah Kereta Ekonomi Rangkasbitung kini lenyap dan digantikan KRL Commuter Line juga. Jadi, kini di Rawabuntu, Sudimara, dan sepanjang relnya ada kereta per 10 menit dengan sumber keberangkatan yang berbeda-beda. Ya, kini yang isinya maksimal itu tidak lagi dari Maja, tetapi dari Rangkas.

Continue reading