Taktik Baru Liburan Murah di Jogja

Alkisah, bulan depan saya dan keluarga mendapat undangan untuk menghadiri royal wedding di keluarga istri. Perhelatannya di Jogja. Disebut royal wedding karena yang nikah adalah anak pertama dalam generasi ketiga trahnya istri saya. Kepala Suku lah ceritanya. Plus pacarannya mereka sedikit lagi KPR lunas. Royal tenan.

Nah, walaupun hidup saya dihabiskan selama 7,5 tahun lebih di Jogja, tapi saya nggak bisa sembarang menginap di Jogja. Pertama, karena kita tidak bisa menginap di dalam kenangan. Itu maya, jadi harus di hotel. Kedua, nggak mungkin juga nginap di kos-kosan mahasiswa. Itu so yesterday sekali. Ketiga, karena untuk pertama kalinya saya akan bawa bayi dalam perjalanan jadi harus dipersiapkan benar-benar. Ketiga, namanya baru punya bayi, banyak pengeluaran. Jadi kudu hemat, beb.

Sebagai makhluk hidup yang makan uang rakyat, saya sebenarnya sudah biasa cari sampingan tiket perjalanan. Carinya ya standar, tiket pesawat sendiri, hotelnya juga sendiri. Untunglah saya sudah tidak sendiri.

Bagian ini sebenarnya sangat memakan waktu dan kuota. Tiket pesawat buka berbagai website–termasuk website resmi maskapai. Hotel juga begitu, cek list hotel di Google, kemudian cari telepon hotel, lantas telepon sendiri berharap dapat government rate. Belum lagi kalau catatan tiket keselip waktu mengurus hotel. Bubrah kabeh.

Hingga akhirnya pencarian saya berujung pada Traveloka yang menyediakan sarana memesan tiket pesawat merangkap hotel sekaligus. Sungguh hemat waktu, dibandingkan klak-klik dan telpan-telpon yang lama itu tadi. Mudah dan saving time. Andalan. Tidak ada beda juga dengan pemesanan yang standar, masih ada menu infant yang memang saya perlukan untuk mendaftarkan Istoyama sebagai pemilik tiket. Kalau luput, masak emak bapaknya berangkat, anaknya ditinggal?

Dan ternyata Acha Septriasa benar kala menyebut berdua lebih baik. Terbukti pasangan tiket pesawat dan hotel ini jatuhnya jadi lebih hemat. Hemat waktu, hemat biaya. Lebih murah daripada pesan terpisah, sungguh hemat beb nan paripurna! Kalau kata Traveloka dalam menu Flight + Hotel itu adalah Better Together. Jadi kapan kamu to get her, mblo?

Pilihan hotel dari Traveloka juga sudah tidak diragukan lagi. Maka, saya juga bisa leluasa cari-cari pilihan di sekitar Malioboro. Tempat yang lebih dekat dengan arena royal wedding kelak. Apalagi, Traveloka sudah dikenal dengan pembayaran yang mudah dan pas banget untuk e-commerce. Kan ada tuh, e-commerce yang pembayarannya ribet sehingga kadang-kadang bikin saya dipliriki orang di ATM karena kelamaan. Dikira mau money laundrying. ATM isi cuma sejuta kok di ATM lama bener.

Nah, sekarang kami tinggal bersiap-siap menggotong barang bawaan Istoyama yang variasi bin pritilannya begitu banyak itu dari Jakarta ke Jogja untuk menghadiri royal wedding itu. Kalau pada mau ikutan dapat hemat beb ya hayuk cari tahu informasi lengkap mengenai Hotel Malioboro di Blog Traveloka yang menggabungkan order tiket dan hotel dalam satu kesempatan. Zaman makin susah, lho, jadi kita butuh piknik yang hemat tapi tetap yahud. Biar nggak edan.

Ergobaby Blog

Sekarang, saya mau packing popok Istoyama dulu ya. Persiapan buat royal wedding. Ciao!

Advertisements

Semalt On Types Of Content Useful In Boosting SEO Rankings

Online marketers appreciate the need to maintain an appealing and seemingly fresh looking website when trying to hook potential clients. The best way to go about this is by ensuring your website has new and fresh content. This technique not only maintains web traffic but also pushes the website higher up the SEO rankings.

Nevertheless, plain or rather blindly writing and uploading articles for ranking will get you to nowhere. If you need an evidence of this fact, so talk to SEO experts and web administrators. Web content for SEO purposes must be structured and flawless. In fact, before dwelling into SEO content, one must inquire about the types of content available. When SEO practice was relatively new, and search engines were not as smart as they are today, a few simple paragraphs or a blog posted on a sales website could significantly boost your rankings. Unfortunately, those days are gone, and SEO content has grown into an entire industry. In this article, Andrew Dyhan, the Semalt expert, conveys an in-depth information on the types and uses of SEO content. They include:

Videos – They say content is king. Well then, videos are an emperor. Website users find it monotonous reading blogs and long paragraphs of information. To break this challenge, information on websites is converted into detailed videos. In these videos, marketers use their expertise to describe and demonstrate their goods and services. This practice has even evolved into the hosting of live video sessions where the sales person or marketer deliberates on queries raised from an online audience. Videos are popular today because most consumers spend the majority of their time online and just like watching a movie, a sales video is similarly interesting and catchy.

Infographics – This has been a very useful tool even in the days of traditional marketing. Images and word descriptions are effectively designed and arranged in a manner that seamlessly flows and transmits the idea or concept at hand to the target market without the need for further explanation from a third party. Infographics rely on a high level of creativity to succeed; hence it requires the input of a talented design team. Not to worry though, there are plenty of infographic creating tools online to assist you. These tools are quick and accurate also. The only concern with infographic is that search engines are yet to scan or read through images and you need to add Alt tags to the image so it can be picked up as content by search engines.

Guest Blogs – Yes, guest blogs are still relevant and useful. Forget the bad guest blogging practice that gained SEO a bad reputation. Back then, people thought they could cheat the system by merely spamming content to increase backlinks. Today, guest blogs must contain factual, relevant and engaging content that users find useful. Every blog must have the authority of a well-researched topic so that when users can share it online, it generates interest and website traffic.

Lontang Lantung di Pasar Terapung Lok Baintan

Saya tidak bisa berenang. Itu fakta yang bahkan saya sampaikan dengan polos di tengah danau mini Mekarsari kala kaki saya tidak bisa menapak apapun saat banana boat yang saya tumpangi dibalik. Gembel bener itu si operator, padahal di awal perjanjiannya tidak dibalik. Maka, jangan heran bahwa saya suka jauh-jauh dari air. Termasuk air mandi sehari-hari.

Akan tetapi, ketika ada kesempatan ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin, rasanya kok rugi kalau jauh-jauh dari sungai. Terlebih saya menginap di Swiss-Belhotel Borneo yang lokasinya persis di pinggir Sungai Martapura dan–yang paling penting–menyediakan akses gratis naik perahu klotok guna menuju salah satu spot khas Kalimantan Selatan, Pasar Terapung.

Sempat was-was bin deg-degan. Naik kapal Putri Kembang Dadar di Palembang saja saya ngelu, apalagi naik perahu klotok? Untungnya saya sekelebat melihat pelampung warna oranye. Yha, amit-amit kenapa-kenapa, saya bisa lari ambil pelampung dan melakukan hal yang sama dengan kejadian di Mekarsari.

Apabila hendak naik perahu klotok fasilitas dari hotel ini, sebaiknya memang pukul 5.15 sudah siap di lobi untuk berangkat pukul 5.30. Dan untuk itu pula, hotel menyediakan morning call pukul 4.30. Bye-bye turu penak pokoknya. Dalam skala normal, perjalanan dalam 1 perahu bisa diikuti oleh belasan orang. Kalau lagi sepi, ada juga klotok yang isinya cuma 3. Pas yang saya naiki, kebetulan lagi ada PNS-PNS dari Pasaman Barat yang ikut pertemuan nasional. Jadi agak banyakan.

Continue reading

Anti Banjir dan Ramah Difabel di Harapan Indah

Sekian tahun cahaya tidak ada postingan #KelilingKAJ selain selintas tentang Gereja Santo Matius Penginjil Bintaro. Nah, ini mumpung saya dapat dinas di Kota Harapan Indah, Bekasi, yang kebetulan juga lokasi hotelnya dekat dengan Gereja, pada akhirnya saya berkesempatan mampir di paroki termuda kedua di KAJ. Termuda kedua digusur oleh Santo Ambrosius di Melati Mas.

Untuk sampai di Gereja Katolik Santo Albertus Agung Harapan Indah ini begitu mudah. Dari akses masuk Harapan Indah tinggal ke kiri, begitu lihat Giant, lurusin lagi, nanti sesudah Gramedia, kita akan mendapati bangunan dengan identitas segitiga. Nah, itu dia Gerejanya.

Pada mulanya adalah tahun 1990-an, ketika Jakarta mulai penuh dan pembangunan semakin ke pinggir hingga muncul Harapan Indah. Pelayanan iman mulai dilakukan, tapi di ruko. Dari ruko kecil sampai ruko yang lebih luas. Seperti ditulis di santoalbertus.org pada bulan Desember 2012 pada tahun 2006, jumlah warga telah mencapai 4.686 jiwa dengan lima wilayah.

Misa di kompleks Harapan Indah dihelat pertama kali pada April 1996. Atas anjuran dosen Universitas Katolik Atmajaya, Pastor Damianus Weru, SVD, area ini lantas dijadikan stasi Harapan Indah dan resmi pada tanggal 23 Juni 1996.

Pastor Damianus juga yang memberi usul penggunaan nama Santo Albertus, berdasar pada semangatnya. Beberapa fasilitas di Gereja ini pernah dibakar pada tahun 2009, sebagaimana pernah ditulis oleh tempo.co yang katanya adalah karena kesenjangan sosial.

Sepekan kemudian, misa kembali diadakan di tempat yang dibakar ini Adalah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana yang merintis jalan untuk mengatasi masalah klasik keagamaan di Indonesia dengan aneka rupa cara.

Nama Ibu Christina ini sangat luar biasa. Wanita yang telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2016 ini adalah wanita pertama yang memiliki pangkat Laksamana Muda dari Asia. Beliau juga wanita pertama yang mengikuti Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di Royal Australian Naval Staf Course di Sydney. Beliau juga anggota Kowal perdana yang pernah menjabat anggota DPR RI untuk periode 1997-1999 dan 1999-2004. Termasuk juga wanita pertama yang jadi Direktur Sekolah Kesehatan Angkutan Laut dan juga anggota Kowal pertama yang jadi staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada bidang Ideologi dan Konstitusi.

Paroki Santo Albertus Agung Harapan Indah sendiri diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada hari Kamis, 14 Mei 2015 bertepatan dengan Pesta Kenaikan Tuhan. Bahkan #KelilingKAJ sudah duluan dimulai alih-alih paroki ini diresmikan. Gitu.

Pada saat peresmian, hadir 42 pastor baik dari Paroki Kranji, dari pastor-pastor SVD yang pernah berkarya di Harapan Indah, pastor-pastor Dekenat Bekasi, dan lain-lainnya lagi. Diresmikannya paroki yang satu ini memang terhitung pelepas dahaga karena sebelumnya sudah cukup lama tidak ada Gereja Katolik yang diresmikan.

Walau terhitung baru, Gereja Santo Albertus ini masih menganut konsep lawas, tanpa AC. Entah ada atau tidak, tapi dalam kehadiran saya pada misa harian, saya lihat benar keringat yang menetes di wajah Romo plus deru kipas yang tiada henti serta pintu-pintu yang terbuka. Gerejanya sendiri cukup luas, mungkin kurang lebih mirip dengan Paroki Duren Sawit. Bahkan kalau urusan luas juga bisa saya bandingkan dengan Gereja Katolik di Kuta.

Gereja Santo Albertus memiliki desain yang seperti Gereja pada umumnya yakni tinggi, menjulang, serta lancip, plus pilar-pilar kokoh. Konsep kemah menjadi kunci, sehingga kalau dilihat dari jauh ada kemiripan dengan Gereja Pulomas, misalnya. Semacam mirip-mirip yang ketimuran.

Satu hal yang paling menarik dari Gereja ini adalah sangat ramah difabel dan boleh dibilang salah satu Gereja terbaik di KAJ untuk soal difabel. Dengan koor di sisi kanan altar, maka sisi satunya lagi ada tempat khusus difabel dan lansia. Jalur untuk kursi roda juga sudah disiapkan. Plus, dengan kondisi yang diapit dua saluran air–meski ada di dalam kawasan elite–rupanya Gereja ini juga dipersiapkan untuk anti banjir. Untuk itulah bangunannya telah ditinggikan. Tidak setinggi Pademangan yang jadinya di lantai 2–dan juga ramah difabel–tapi cukup tinggi untuk jika amit-amit digenangi.

Adapun Gua Maria terletak di belakang altar dengan konsep segitiga yang sama dengan bangunan Gereja. Sedangkan misa mingguan dipersembahkan pada Sabtu pukul 17.30, Minggu pukul 06.00, 08.30, dan 17.30.

Semoga ada kesempatan untuk menambah koleksi cerita tentang Gereja-Gereja lain di KAJ, yha.

6 Tips Merawat Sepatu Airwalk Berbahan Kanvas

Bagi Anda yang suka bergaya santai dan kasual, sepatu berbahan kanvas pasti hadir melengkapi penampilan sehari-hari. Pasalnya, sepatu ini selain memberi kesan santai, juga memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga tidak mudah berbau.

Sepatu kanvas memiliki bahan yang terbuat dari serat yang menjadikan ia ringan namun juga kuat. Sejak tahun 70-an, sepatu kanvas menjadi pilihan populer para anak muda. Nah, hingga tahun 2000-an, sepatu kanvas ini kian diminati dengan beragam warna, motif, dan desain yang beragam.

sumber: gamegrin.com

Salah satu merk sepatu kanvas yang digemari oleh anak muda ialah Airwalk. Sepatu ini mulai meluncurkan produknya pada tahun 1986. Saat itu, Airwalk memopulerkan sepatunya untuk para pemain skateboard dan komunitas olahraga sejenisnya. Maka, Airwalk kini dikenal sebagai sepatunya para skaters.

Sepatu Airwalk memiliki banyak sekali jenis dan desain. Mulai dari sneaker klasik, moccasin, sandal, slip on, hingga boots. Semua terbuat dari berbagai bahan, seperti suede, kanvas, hingga bulu. Salah satu produk yang menjadi favorit para penggemar Airwalk adalah sneaker yang terbuat dari bahan kanvas.

Saat ini Airwalk sudah mudah didapatkan karena telah tersedia di toko-toko sport maupun toko online. Salah satu toko online yang menjual produk Airwalk adalah MatahariMall.com. Dibanding dengan jenis yang tersedia di toko sport, jenis Airwalk yang ada di MatahariMall lebih lengkap dengan semua ukuran dan semua varian warna. Kamu bisa langsung pilih yang mana sepatu yang kamu suka.

Sneaker kanvas dari Airwalk memiliki macam-macam warna dan model. Mulai dari warna aman seperti hitam, hingga warna “bersih” seperti putih. Sneaker berwarna putih memang memberi penampilan yang bersih dan rapi. Namun warna putih ini juga mudah sekali kotor, baik itu terkena lumpur atau debu sekalipun. Maka perawatannya pun juga cukup ekstra.

Namun tenang saja. Perawatan sepatu kanvas Airwalk tidak sesulit sepatu yang berbahan suede, kok. Apapun warnanya, sepatu kanvas Airwalk yang dirawat dengan benar akan terlihat seperti baru. Penasaran bagaimana caranya? Yuk, simak tipsnya berikut ini.

Cuci secara berkala

Meskipun tidak terlihat kotor terkena lumpur, sepatu berbahan kanvas juga perlu dicuci agar tidak berbau. Tapi juga jangan terlalu sering dicuci agar warnanya tidak pudar. Cuci sepatu kanvas Anda paling tidak sebulan sekali.

Cuci dengan sikat halus

Agar warna dan gambar motifnya tetap bagus, gunakan sikat halus seperti sikat gigi. Sikatlah sepatu Anda dengan air hangat yang telah diberi deterjen atau sabun cuci piring. Setelah dibilas, jangan langsung dijemur di bawah sinar matahari. Gantung dan angin-anginkan saja supaya kering dengan sendirinya.

 Air hangat untuk sepatu yang lebih bersih

Penggunaan air hangat memudahkan Anda untuk melepaskan noda dan kotoran yang menempel pada sepatu. Jangan gunakan air yang terlalu panas agar tidak merusak warna dan lem pada sepatu kanvas.

Gunakan pemutih jika perlu

Untuk sepatu kanvas berwarna putih, disarankan juga menggunakan pemutih pakaian. Kadang setelah dicuci dengan deterjen atau sabun cuci piring, sepatu masih terlihat kusam dan dekil, padahal nodanya sudah hilang. Untuk mengembalikan warna sepatu menjadi putih bersih, gunakanlah pemutih. Campur pemutih dengan air hangat, lalu sikat ke sepatu kanvas menggunakan sikat gigi.

Biarkan lumpur mengering pada sepatu

Tak jarang sepatu terkena noda lumpur yang banyak dan tebal. Untuk menghilangkannya, biarkanlah noda tersebut kering. Setelah itu, tepuk-tepuk alasnya untuk melepaskan noda tersebut. Jika masih ada yang menempel, korek sisa lumpurnya. Kemudian, cucilah dengan sikat gigi dan air hangat bersabun.

Sebaiknya hindari mencuci dengan mesin cuci

Beberapa orang ada yang menyarankan mencuci sepatu kanvas menggunakan mesin cuci karena lebih praktis. Nah, sebaiknya saran tersebut dihindari. Mengapa? Karena dikhawatirkan lem pada sepatu kanvas akan mudah lepas karena perputaran otomatis pada mesin cuci. Jadi sebaiknya, cucilah secara manual agar hasilnya lebih maksimal.

Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut

Pulau Bangka memang dikenal denngan kecantikan pantainya, demikian pula Pulau Belitung di sebelah. Selain itu, Pulau Bangka begitu identik dengan kepercayaan yang dipercaya berasal dari daratan Tiongkok sana seperti Budha dan Kong Hu Cu. Maka jangan heran kalau pagoda-pagoda dan semodelnya adalah jamak di sekitar Pangkal Pinang, sebagaimana mudah melihat Gereja di Kota Manado atau Jayapura.

Nah, selepas dari Pantai Pasir Padi, kami bergegas menuju destinasi tambahan ala bapak guide. Rencananya, bapak guide hendak menggunakan jalur alternatif yang nyatanya memang dekat sekali dengan Pantai Pasir Padi dan melewati calon lokasi yang katanya mau ada waterboom dan lain-lainnya itu. Namun, hujan hari kemarin–yang bikin perjalanan ke Tanjung Pesona terganggu dan bikin nyelup di Parai Tenggiri jadi gloomy–menyebabkan jalan tanjakan yang ada jadi hancur.

Walhasil, mobil kemudian diputar balik sebagaimana CPNS ketemu eselon 1. Balik kanan tanpa tedeng aling-aling. Seluruh isi mobil mempertimbangkan bahwa dalam mobil itu ada Kristofer yang kala itu ukurannya bahkan belum 1 sentimeter. Yah, kalau teman-teman pembaca baru baca serial Lost in Bangka ini sekarang, perlu diketahui bahwa perjalanan dilakukan pada bulan Oktober 2016 dalam keadaan istri saya hamil muda banget, kurang lebih 6 minggu. Sementara saat kisah nomor 9 ini ditulis, si bocah yang saat itu dibawa masih berada dalam bentuk serupa tanda koma sudah mau berusia 2 bulan.

PEMALAZ!

Baiklah, mari kita lanjutkan. Maka, guide Tintus mengambil jalur memutar, kalau tidak salah memang jalurnya menuju pantai lain di sebelah Pasir Padi, yakni Tanjung Bunga. Lokasi Kelenteng Dewi Laut sendiri kurang lebihnya sebagaimana tampak di peta:

Begitu mobil berhenti di bawah pohon, kami jalan kaki sembari buang snack di tempat sampah yang untunglah ada di sekitar situ. Kelenteng lumayan sedang ramai. Kelenteng ini terbilang baru, karena menurut berita-berita yang saya baca, berdirinya baru tahun 2011. Berada satu kompleks dengan Pura Penataran Agung dan Vihara Dharma Satya Buddhis Center, yang kebetulan juga tampak sambil lewat. Continue reading

Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

Perjalanan panjang di Lost in Bangka hari Minggu bikin kami–ehm, tepatnya saya–terlelap dan kemudian menyebabkan saya harus jalan keliling pasar dekat Hotel Menumbing pada pukul 12 malam. Maklum, istri lagi hamil. Kalau nggak diturutin, nanti anaknya mirip saya. Lha.

Nah, pagi hari Senin adalah hari kepulangan. Namun kepulangan tentu harus diawali dengan yang seru-seru. Daftar perjalanan kami masih panjang karena hari terakhir ini direncanakan jalan-jalan ke dua destinasi utama, yakni Pantai Pasir Padi dan Danau Kaolin. Wow!

Kami sarapan dengan bahagia di pinggir kolam hotel dengan sebelumnya telah bersiap-siap untuk check out. Lantas, menggunakan mobil sewaan, kami bergegas ke rumah Tintus untuk menjemput sang driver sekaligus penyandang dana yang ogah disauri sekaligus juga guide lokal–walaupun dia aslinya Lampung.

Selfie dahulu, kak.

Continue reading

Berburu Kuliner Padang di Tanah Minang

Selain identik dengan budaya Minang, sebagian orang yang mendengar kata Padang juga otomatis akan teringat dengan… rumah makan. Terutama bagi penduduk di Pulau Jawa, nama ibu kota Sumatra Barat itu sangat ikonik dengan kulinernya. Bumbu yang khas dan tajam membuat lidah yang mencicipi senantiasa ketagihan.

via: bhellabhello.wordpress.com

Akan tetapi, jika Anda datang langsung ke Padang, ada banyak makanan khas lainnya yang tidak Anda jumpai di rumah makan padang biasanya. Soal kelezatan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dijamin, kenikmatannya akan terbayang-bayang dan membuat Anda ingin segera kembali ke kota ini.

1. Nasi Kapau

Sekilas, nasi kapau memang tidak berbeda dengan nasi padang. Namun rupanya selain peletakan menu di atas meja yang lebih rendah dari penjual—jika nasi padang, menu disajikan di etalase yang lebih tinggi dari penjual—bahan dasarnya pun berbeda. Nasi kapau yang autentik menggunakan bahan dasar kol, nangka, dan kacang panjang serta kuah gulai berwarna kuning dengan rasa sedikit asam.

Selagi di tanah Minang, sempatkan mencicipi nasi kapau asli terlezat. Mulai wisatawan dari kalangan rakyat hingga pejabat, Nasi Kapau Uni Cah menjadi tujuan kuliner yang digemari. Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, rumah makan ini siap melayani pembeli.

2. Sate Itjap

Bila sedang ingin menikmati sate, sebaiknya Anda datang ke Sate Itjap yang beralamat di Jalan Rasuna Said. Anda tidak akan susah menemukan tempat kuliner ini. Selain kemahsyurannya yang dikenal masyarakat luas, lokasinya juga berada di ruas jalan utama.

Mulai pukul 16.00 hingga malam, warung sate ini diberondong oleh pembeli. Selain harga tiap porsinya yang relatif murah, cita rasanya juga sangat khas. Sate tanpa gajih ini memiliki memiliki daging bakaran yang terasa agak manis. Selain itu, tusukan daging ini disiram kuah yang asin dan gurih sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang sangat lezat. Satu porsinya juga sudah lengkap disajikan dengan potongan kupat.

3. Soto Rajawali

Untuk mengawali hari, Anda bisa sarapan di Soto Rajawali. Soto padang ini menyajikan daging sapi goreng yang dipotong kecil-kecil dengan siraman kuah bening yang lezat dan gurih. Nasinya disediakan di piring terpisah dengan taburan kerupuk merah. Jika ingin semakin menggugah selera, tambahkan paru yang digoreng renyah.

Bofet Rajawali berada di Jalan Juanda. Tempat ini sebenarnya merupakan cabang, tetapi lokasinya lebih strategis dan besar. Tak hanya wisatawan biasa, bahkan hingga tamu kenegaraan hingga anggota Kerajaan Brunei pun pernah singgah di sini. Terbayang kan, bagaimana lezatnya Soto Rajawali hingga seterkenal ini?

4. Martabak Malabar Arham

Malam yang dingin memang paling tepat dinikmati bersama kudapan hangat. Setelah menghabiskan sepanjang hari beraktivitas, Anda dapat bersantai di hotel dengan seporsi martabak Malabar yang gurih.

Di Padang, Anda dapat menemukan Martabak Malabar Arham yang terkenal dan banyak diburu orang. Lokasinya berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No. 1 dan baru buka mulai pukul 17.00. Jika ingin makanan yang lebih berat, Anda bisa memilih nasi goreng kambing, sup buntut, dan lain-lain.

Selain empat kuliner di atas, ada pula nasi goreng patai, sate danguang-danguang, itiak lado hijau, es durian, dan masih banyak lainnya. Tentu saja, sajian ini tidak akan Anda dapatkan di rumah makan padang.

Karena itu, sempatkanlah mencicipi kayanya kuliner Minang selagi di Padang. Soal akomodasi menginap, serahkan pada Airy Rooms. Beragam pilihan hotel murah di Padang tersedia sesuai dengan kelas dan bujet yang Anda inginkan.

Cukup dengan koneksi internet, Anda dapat memilih hotel murah di Padang melalui situs web dan aplikasi Airy Rooms pada ponsel. Untuk pembayaran, Anda dapat melakukannya via kartu kredit, bank transfer, atau di gerai Indomaret. Praktis, bukan?

Liburan Penuh Kejutan di Anyer

Sebagai negeri yang begitu memuja garis pantai–meski sebagian kecil diantaranya lantas ditimbun reklamasi–maka sudah layak dan sepantasnya kita keluyuran ke pantai-pantai ciamik di Indonesia. Salah satu tempat yang menyediakan kecantikan pantai tiada lain adalah Anyer. Selain lokasinya yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta, Anyer juga memiliki value kawasan wisata nan berbeda pasca Oddie Agam melalui Sheila Madjid memperkenalkan Anyer via lagu kondangan dan karaokean sepanjang zaman “Antara Anyer dan Jakarta”. Sebuah lagu yang sebenarnya bisa dijawab dengan Cilegon, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Atau juga dapat dijawab dengan Tol Merak.

Bicara Anyer tentu juga tidak boleh lepas dari sosok kesohor, Herman Willem Daendels. Sosok yang menurut buku Ragam Pusaka Budaya Banten karangan Drs. H. Tri Hatmaji mendarat di Anyer pada tanggal 1 Januari 1808. Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1808 hingga 1811 tersebut berhasil menciptakan karya monumental dan selalu dikenal dalam rupa Jalan Anyer-Panarukan alias Jalan Raya Pos. Jalan yang satu ini terbilang bergelimang rekor. Mulai dari durasi pembangunannya yang hanya (!) setahun hingga jaraknya yang setara Amsterdam ke Paris, seribu kilometer.

Daendels tiba pertama kali di Anyer seperti Calon PNS baru masuk: tampak cupu. Berangkat diam-diam sejak Maret 1807, via Paris, lantas ke Lisbon, kemudian ke Pulau Canary dan selanjutnya Pulau Jawa. Ya, di Anyer itu tadi. Cupunya adalah karena Om Londo Galak ini tiba di Anyer nyaris tanpa pengawalan. Dia sampai di Anyer sesudah kabur kiri-kanan. Perjalanan dari Belanda sampai Anyer itu dilakoni dalam durasi kurang lebih 10 bulan. Pada tahun 2017, 10 bulan itu adalah antrean gedung untuk resepsi. Durasi yang menyebabkan banyak pasangan keburu putus sebelum resepsi.

Anyer menawarkan tipe pantai yang berbeda, sebab posisinya ada di sisi barat pulau paling dominan se-Indonesia Raya, Jawa. Sensasi Anyer sebagai pantai jelas beda dengan Ancol yang pantai utara. Juga lain dengan Parangtritis yang pantai selatan.

Pesona Anyer sebagai tempat wisata sejak dahulu kala begitu mudah ditangkap dengan melihat hotel-hotel yang berdiri di sepanjang Anyer. Hampir semua grup hotel tenar Jakarta punya cabang di Anyer. Mulai dari Jayakarta sampai Marbella, Dari Acacia sampai Aston. Anyer juga menawarkan lokasi yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta. Masih bisa dicapai dengan 3-4 jam, jarak yang sepantaran dengan Bandung, dengan tawaran tipe wisata yang berbeda. Belum lagi jika kita menyebut Tanjung Lesung sebagai salah satu destinasi Bali baru Pak Presiden. Menuju Tanjung Lesung ya lewat Anyer. Mampir adalah kunci.

Walau begitu, sekadar liburan di pantai adalah basi. Apa sih bedanya main ombak di Ancol, Kuta, Miami, sama di Anyer? Sama-sama asin ini. Untuk itulah Anyer secara gilang gemilang menyediakan elemen paling kunci yang sangat dibutuhkan dalam berwisata: kejutan. Percayalah, liburan di Anyer akan penuh dengan kejutan.

Continue reading

Selamat Jalan, Paktuo!

Halo Paktuo, bagaimana perjalanan menuju surga? Lancar, kan? Pastinya lancar, dong. Semua orang yang kenal Paktuo pasti meyakini itu. Saya sedang antre BPJS di PGI Cikini kala Cici memberi kabar bahwa Paktuo sudah nggak ada. Sumpah, ingin menangis di tempat rasanya. Kita baru ketemu tanggal 11 Juli yang lalu, lho. Kita juga saling berkata, “Nanti kan ketemu lagi…”

Tapi kok jadinya begini, Paktuo?

Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Paktuo, sebagaimana abang-abang, kakak, dan terutama Petra mengetahuinya. Ya bagaimana, kita ketemu tidak cukup intensif dalam durasi yang begitu lama, tapi perjalanan waktu membawa kita kepada diskusi-diskusi hangat. Ah, paling senang saya melayani diskusi dengan seorang old man yang penuh ide-ide perubahan. Setidak-tidaknya bisa jadi bahan untuk nakal dalam tulisan.

Sebelum semuanya seperti sekarang ini, Paktuo ada kala saya kecil. Yha, dari 1987 sampai 1993, jelas sekali memori itu dalam kepala saya. Paktuo adalah wali baptis saya. Tentu memilih wali baptis tidaklah sembarangan. Sebagaimana saya memilih Paklek Beny sebagai wali baptis Kristofer juga sangat dipertimbangkan. Sebagai sosok kakak yang tersedia di Bukittinggi kala itu, maka pilihannya ya pasti Paktuo.

Continue reading