Nge-Zoom dari Pantai: Antara Keseruan dan Pertanyaan Soal Work-Life Balance

Saya tidak hadir sejak awal peralihan kerja ke sebagian Zoom seperti sekarang. Kala Zoom hadir, saya masih kuliah. Betul bahwa kuliah saya memang pakai Google Meet dan kemudian Zoom, tapi aktivitas Zoom itu ya hanya saya lakukan ketika dibutuhkan saja. Ketika kemudian teman mengunggah foto sedang Zoom dengan 2, 3, 4, atau bahkan 5 gawai, saya hanya melihat dengan takzim~

Sampai kemudian saya mengalami sendiri ketika dalam pekerjaan berbagai rapat datang bertubi-tubi dan semuanya pakai Zoom. Gawai saya ya paling HP dua biji sama laptop satu. Maksimal hanya bisa 3. Belum lagi telinga cuma punya 2. Tapi kok ya sering betul dalam 2 Zoom betul-betul pada jam yang sama dan seluruhnya berlabel penting.

Maka saya pernah nge-Zoom sambil menemani anak di playground (karena Zoom-nya sore bablas), pernah nge-Zoom sambil lari-lari di bandara. Zoompalitan pokoknya. Dan paling mutakhir, kemarin ketika snorkeling di Pulau Lihaga, saya sempat-sempatnya Zoom Meeting di pantai dalam kondisi tubuh masih basah karena memang benar-benar baru naik ke darat.

Tuntutan pekerjaan dengan Zoom ini buat saya mengerikan. Setiap yang nge-Zoom sekarang bikin Zoom Meeting tanpa memandang kapasitas. Dulu kan masih cek ruang rapat dulu, sekurang-kurangnya. Sekarang ruangnya virtual, bisa rapat sambil gimana saja, dan walhasil rapat demi rapat itu datang dan pergi sampai HP kentang saya lelah.

Belum lagi Zoom Meeting bersahut-sahutan itu bikin mata dan telinga lelah. Satu saja lelah apalagi tiga. Plus, jadi tidak bisa bekerja maksimal karena kan harus fokus mendengarkan dan memberikan pendapat. Saya sendiri, seperti barusan ini, akhirnya baru malam-malam bisa buka laptop tanpa distraksi Zoom Meeting sehingga bisa buka sana-sini beberapa dokumen yang sayangnya sudah lewat tenggat sehingga saya terlambat menindaklanjuti.

Kalau 1-2 tahun mungkin saya masih kuat. Tapi semakin berlalu, tampaknya saya nggak akan sekuat sekarang. Semoga ada kultur yang bisa diperbaiki di masa depan.

Mentalitas Staf

Saya ketiban gawean baru di kantor. Ya sebut saja ketiban, lah. Dibilang rejeki jelas bukan karena tidak ada benefit finansial yang saya peroleh. Malah rada-rada mambu tekor soalnya saya kudu lebih sering di kantor. Jika saya tidak mendapat gawean itu, dengan kondisi sekarang hampir pasti saya ikut WFH. Ingat, saya pernah menulis bahwa saya suka WFH.

Cuma ya sudahlah. Anggap saja sekalian belajar. Belajar hidup terutama. Wkwk.

Di gawean tambahan ini dan sesuai strata jabatan fungsional, saya “punya” anak buah. Yah, sederhananya, saya membawahi 2 orang staf yang sekurang-kurangnya absennya saya verifikasi dan SKP-nya harus saya pikirkan. Belum termasuk 3 honorer yang juga tentu perlu saya pikirkan kelanjutan karirnya.

Sungguh, bagi saya ini jetlag sekali. Bukan apa-apa, sejak di pabrik dulu, saya nggak pernah punya bawahan lebih dari satu. Di Palembang dulu admin inventory itu Mba Herpi seorang. Di Cikarang, operator palugada saya ya Triyono seorang juga. Sudah. Mereka saja. Nggak ada yang lain.

Dan lagi, saya resign dari pabrik itu sudah (((delapan))) tahun lalu. Selepas itu saya kembali ke nol, menjadi staf sepenuhnya yang siap disuruh melakukan apapun. Dan mentalitas itu terbawa betul.

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Dalam pekan-pekan pertama, saya merasa keplepekan karena semuanya saya pegang sendiri. Bukan apa-apa, sih, dulu saya masuk ketika kantor saya bahkan tidak punya sekretaris bos. Banyak hal yang dulu saya sebagai cecurut di kantor harus bikin sendiri dan lama-lama kok jadi biasa. Makin ke sini, saya suka lupa bahwa saya sudah berada pada posisi yang memungkinkan untuk delegasi dan kemudian supervisi tentu dengan tuntutan yang lebih tinggi dari atasan.

Sampai kemudian salah satu ‘anak’ saya bilang, “Lho, Mas, kalau cuma bikin form ya kami aja yang bikin…”

Tak pikir-pikir bener juga. Kalau katanya saya sudah kedapuk jadi level yang tanggung jawabnya naik sedikit walaupun tunjangan kinerjanya kagak, ngapain juga saya kudu terjun langsung bikin Google Forms atau sejenisnya.

Ya balik lagi, karena saya masih punya mentalitas bahwa saya ini staf dan apapun harus saya kerjakan sendiri. Mentalitas yang tentu saja buruk dan menyebabkan ada banyak target yang lantas terlewatkan karena saya terlalu sibuk ke printilan yang seharusnya bisa didelegasikan.

Sejujurnya saya pengen itu semuanya didelegasikan. Toh bocah-bocah sudah pintar-pintar. Saya tidak mewarisi staf-staf yang newbie, tapi justru saya yang menjadi nubitol, newbie dan tolol pada posisi yang sekarang. Cuma balik lagi, mentalitas staf menjadi problematika tersendiri dalam hidup saya.

Sebenarnya mirip juga kayak di rumah. Ada beberapa kali WFH bertepatan dengan pengasuh Isto tidak masuk karena satu dan lain hal. Sudahlah nge-Zoom dua, ketambahan kudu mendampingi anak sekolah online pula. Tapi ya itu, saya bisa saja bilang bahwa aunty harus datang. Tapi pada akhirnya saya selalu merasa bisa meng-handle semuanya walaupun ketika dilakoni yo spaneng juga. Pada titik ini, mentalitas staf justru membuat saya mampu melakoni semuanya.

Lantas apa intinya? Nggak ada. Saya baru saja bayar package blog ini lebih dari 700 ribu. Itu di luar biaya domain yang 400 ribuan. Lebih dari sejuta setahun kalau dipikir-pikir ya sayang juga jika tidak dimanfaatkan untuk menulis sesuatu. Ya siapa tahu kan bakal jadi sesuatu seperti halnya 2 buku saya yang notabene lahir dari tulisan-tulisan pendek semacam ini.

Tips Bermain Katla

Awalnya ada WORDLE lalu kemudian di Indonesia muncul yang namanya KATLA. Permainannya sederhana, sih. Jadi akan ada kata yang terdiri dari 5 huruf. Kita punya 6 kesempatan menebak kata tersebut. Perlu diketahui bahwa setiap hari hanya ada 1 kata untuk ditebak dan itu sama bagi setiap pemain.

Nah, aturannya adalah jika ada huruf yang memang merupakan komponen dari jawaban tapi tidak tepat posisinya, akan muncul warna cokelat. Apabila hurufnya sudah tepat di posisinya, akan muncul warna hijau. Kurang lebih begini:

Oke. Melihat jawaban di atas, saya hendak berbagi tips bermain KATLA yang kurang lebih akan ciamik dan berdaya ungkit.

Pertama, selalu masukkan kata yang hurufnya beda semua. Beberapa waktu yang lalu memang sempat ECENG muncul sebagai jawaban, tapi sejauh ini sih rata-rata jawabannya memang 5 huruf beda semua. Pilihan yang ambil adalah REMAS dan diperoleh E sudah benar serta S benar tapi salah tempat.

Kedua, jangan ikuti langkah saya diatas untuk kata kedua dan ketiga! Lihat, saya sudah tahu bahwa R itu bukan jawaban, tapi masih saya pakai di baris kedua. Itu sebaiknya tidak dilakukan karena akan menyia-nyiakan kuota. Langkah ketiga itu saya juga salah karena sudah jelas S bukan di belakang, tapi saya ulang lagi dan tentu saja salah.

Ketiga, hilangkan pilihan-pilihan melalui gambaran imajiner. Ya seperti S tadi. Ketika di belakang salah dan di depan juga salah, sementara hijaunya sudah tepat mestinya saya sudah tahu kalau S itu di tengah. Dengan begitu kita bisa mengira-ngira dengan lebih mudah ihwal jawabannya.

Keempat, kalau bisa selalu gunakan huruf-huruf seperti A atau S terlebih dahulu. Memang di jawaban ECENG dia nggak ada, tapi pas SABTU, atau BISON, maka S itu nongol kok. Ada beberapa huruf yang memang cukup menguasai kancah persaingan kata-kata di Indonesia.

Sejauh ini saya sih belum pernah gagal, ya. Hampir sih sering. Beda sama WORDLE atau KOTLA yang lumayan sering gagalnya. Buat yang pengen mencoba bisa langsung menuju situs katla.vercep.app ya.

Sambat vs Reformasi Birokrasi

Alkisah saya lagi ikutan suatu rangkaian acara berfaedah bernama ASN Academy. Sejujurnya saja, saya ikut acara begitu bukan untuk belajar system thinking atau apalah berbagai pengetahuan-pengetahuan penting yang terkait dengan inovasi, dll. Oh, bukan berarti nggak mau belajar juga lho ya. Hanya saja, kantor saya sebenarnya sudah cukup baik hati dalam membekali pegawainya pada ilmu-ilmu. Training itu walaupun standarnya 20 JP, tapi realitanya hampir semua bisa dapat lebih dan lebihnya itu berkali-kali lipat. Jadi, mau sekarang atau nanti, saya yakin pasti akan dapat pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Nah, lantas apa dong?

Saya terngiang kali pertama diklat prajabatan di PPMKP Ciawi bersama teman-teman dari Kementerian Koperasi dan UMKM, Badan Informasi Geospasial, PPATK, dan beberapa instansi lainnya. Saya lalu ingat pengalaman yang lebih seru di Pusdiklat lain di Ciawi ketika diklat Jabatan Fungsional. Saya bilang lebih seru karena mayoritas teman di kamar itu adalah bapack-bapack dari Pemerintah Daerah. Dari Aceh Singkil sampai Pegunungan Bintang. Dan percayalah, ceritanya itu betul-betul banyak dan sebagian diantaranya bikin speechless.

Sampai kemudian saya kuliah S2, saya juga hadir di kelas dengan teman-teman dari BPKP, Kementerian PAN dan RB, Kementerian Dalam Negeri, hingga Pemprov DKI Jakarta. Lagi-lagi, yang saya peroleh adalah insight. Cerita yang rupanya penting untuk menguatkan diri sendiri dalam menghadapi beratnya hidup di birokrasi.

Ya tentu saja itu termasuk mengetahui betapa besarnya Tunjangan Kinerja (atau nama lain yang setara di pemda) dari teman yang level Jabatan Fungsionalnya sama persis dengan saya. Yes, pedih tapi tidak berdarah sebab nominalnya itu benar-benar 4 kali lipat. Bukan sekadar 4 juta lebih banyak lho ya. Tapi memang tunjangan saya dikali 4, nah itulah tunjangan dia. Sekali lagi: dengan level JF yang sama. Tapi ya sudahlah~

Nah, kemarin ini dalam kerangka persiapan menuju kegiatan utama, ASN Academy menggelar sebuah sesi yang cenderung menjadi SAMBAT TERSTRUKTUR. Saya perlu menyebut demikian karena memang topik yang dipilih memang sangat SAMBAT-ABLE. Dan entahlah kalau dari dulu itu setahu saya dalam urusan sambat, para pekerja birokrasi itu banyak betul bahannya. Isu-isu seperti benturan kepentingan, generation gap, dan juga pengembangan pegawai diangkat dan terjadi diskusi yang 60%-nya adalah sambat itu.

Sejak jadi Magister Ilmu Administrasi, saya suka overthinking. Bukan apa-apa, sih. Dengan belajar paradigma ilmu administrasi, riwayat, serta praktik baik di negoro lain, saya sebenarnya mulai terbuka perihal ‘hal yang benar’. Cuma begitu melihat ke lapangan dan tampak ada hal-hal yang sebenarnya sangat bisa untuk diubah, saya nggak bisa apa-apa karena memang tidak punya kuasa dan lagipula kerjaan saya sudah banyak.

Harus diakui, dibandingkan 8 tahun lalu ketika saya baru masuk, sebenarnya sudah ada begitu banyak perbaikan di birokrasi negoro ini. Sayangnya, mengutip pendapat dari penulis buku ASN Sontoloyo, birokrasi di negoro ini berasa senam poco-poco. Maju dua langkah, sih. Tapi nanti mundur lagi. Geser sih ke kanan, tapi nanti ke kiri lagi. Ujungnya? Ora maju-maju. Parameter saya sederhana, sih. Ketika di akun ini masih banyak pegawhy yang sambat pada sistem, maka sebenarnya sistem itu masih banyak bolongnya.

Sejujurnya, kemarin itu saya mendengar beberapa kisah yang membuat saya terkesiap. Bahkan ada cerita gawat dari K/L yang sebenarnya dari luar tampak bagus, karena toh saya memang pernah ikutan study tour ke K/L itu. Rupanya, banyak yang dikisahkan di study tour itu ternyata berbeza dengan cerita orang dalam.

Di sisi lain, saya sih menangkap optimisme tinggi. Soalnya, banyak sambat kemarin itu sebenarnya positif dalam artian kelihatan kok niat baiknya, tapi ganjalan sistem yang jadi perkara. Cuma memang gimana sih agar api semangat tetap berkobar dan tidak lantas padam oleh perkara sistem, itulah PR-nya.

Oya, ngomong-ngomong, saya pernah baca sebuah artikel tentang pegawhy ngeri di Singapore. Sebuah negeri yang katanya adalah role model untuk urusan civil servant. Agak terkejut, sih, karena rupanya menurut orang dalam, pengaturannya nggak bagus-bagus amat juga. Lebih lanjut bisa dibaca di ARTIKEL INI.

Saya tentu masih menantikan sesi-sesi lanjutan dari agenda utama ASN Academy. Semoga ilmu dan cerita-cerita yang akan saya dapatkan bisa memberikan faedah bagi akal dan pikiran saya, sekurang-kurangnya untuk bisa tetap waras menjalani hidup. Haha.

Isto ke Barbershop

Pandemi ini memang sialan. Dia terjadi ketika anak saya berumur 2 tahunan dan belum belum berakhir ketika anak saya mau berumur 5 tahun. Bayangkanlah ada betapa banyak kesempatan eksplorasi yang hilang sebagai bagian dari mitigasi risiko yang diterapkan oleh saya dan Mama Isto sebagai orangtua.

Ya kalau disuruh memilih kesempatan eksplorasi sama keselamatan anak tentu kami akan auto menunjuk yang kedua, dong~

Di sisi lain, pandemi juga membuat kita belajar makna adaptasi. Anak saya karena dicekokin tentang makna masker dari usia 2 tahun lebih banyak, sampai sekarang urusan masker itu tertib minta ampun. Kalau kami lagi nongkrong di Starbucks, misalnya, ya dia pakai masker. Untuk minum, baru buka masker, dan kemudian dipakai lagi. Setertib itu, sih. Dan itu bukti bahwa anak-anak itu sebenarnya mau kok untuk pakai masker.

Pandemi juga membuat saya memperoleh kemampuan baru karena keterbatasan: cukur rambut. Ambyar sudah pasti. Ada kali 7-8 percobaan saya memangkas rambutnya Isto dan 2 diantaranya berakhir pitak. Waktu mencoba mesin bayi bahkan pitaknya paripurna. Untung dia belum paham bahwa penampilannya diusik oleh bapaknya. Jadi masih nggak apa-apa.

Akibatnya adalah rambut bagian belakang bawahnya itu jelek sekali. Awut-awutan. Sama sekali tidak cocok untuk dibawa ke sekolah. Penampilannya tampak memalukan dan untuk itu kami harus berbenah! Kebetulan, sejak September alias pasca gelombang Delta, saya sudah ke barbershop lagi. Dan saya lihat sendiri bahwa barbershop beradaptasi dengan baik. Bisa kok mencukur rambut sambil pakai masker, baik yang dicukur maupun yang mencukur. Di sisi lain, kalau saya yang nyukur, dia banyak alasan. Geli lah, gatel lah, dll. Saya pikir kalau dikasih ke orang yang dia nggak kenal, plus pakai alat bantu berupa apron dll mestinya dia lebih tenang.

Oya, kalau mau ngapa-ngapain, kami selalu berdiskusi. Hasil diskusi 3-4 hari, dia akhirnya mau cukur rambut di outside dengan orang. Kemarin, sepulang saya dari vaksinasi booster, begitu masuk rumah dia langsung nodong, “Pa, Eto mau cutting rambut di outside sama orang…”

Nah, mumpung mau, saya langsung bergegas membawanya berangkat ke salah satu barbershop yang direkomendasikan teman cocok untuk anak-anak. Tidak jauh benar dari rumah. Namun karena panasnya ngentang, kami naik taksi daring.

Mengapa barbershop dan bukan kiddy-kiddy-an seperti dahulu?

Pertama, saya agak tidak masuk akal sama tarif di kiddy-kiddy-an itu. Ha mosok rambut yang dipotong lebih sedikit, tapi tarifnya bisa dua kali lipat? Segitunya kalau cuma tempat duduk berupa mobil-mobilan juga ada di barbershop kan. Kedua, saya ingin Isto paham bahwa kelak di masa depan, tempat seperti barbershop adalah sarananya untuk berbenah diri. Yah, setidaknya berbenah rambut. Terakhir, saya sering melihat keintiman bapak-anak di barbershop dan tentu saya ingin mempraktikkan sendiri.

Seperti saya bilang tadi, kami berangkat dengan deal. Yha, bahwa Isto harus tenang, kalau tickle nggak apa-apa, harus nurut sama yang nyukur, dll-dll. Bagi saya inilah seninya parenting. Kita mungkin bisa mengancam dan dengan segera anak akan menuruti perintah. Hanya saja, apa gunanya sih mereka menuruti perintah kalau nggak paham esensinya? Mengancam itu hendaknya dipakai kalau lagi kepepet aja. Cuma, jangan dibuat juga keadaan kepepet terus biar bisa ngancem terus. Heuheu.

Dia masuk ke barbershop dengan girang dan tertawa-tawa. Seketika lantas masuklah barber berbaju Juventus dengan penampilan mirip Andrien Rabiot. Untunglah Isto tidak sedang pakai baju Inter. Kalau tidak, nanti judulnya kan ngeri:

INTER DICUKUR GUNDUL OLEH JUVE!

Ketika hendak meninggalkan rumah untuk cukur, Isto bilang bahwa dia adalah brave boy yang nggak akan nangis ketika cutting rambut di outside sama orang. Dan hal itu kemudian diulang-ulangnya ketika dia kemudian geli namun tetap tenang saat dicukur. Saya melihat bahwa dia sebenarnya pengen nggak nurut, tapi nggak kenal sama barber jadi perlawanannya nanggung.

Cukur rambut diakhiri dengan sesi keramas yang sayapun baru kenal itu beberapa tahun belakangan. Dulu ketika saya masih langganan Asgar kan nggak ada tempat keramas. Nah ini anak 4 tahun dikeramas pakai alat khusus yang ada di salon-salon itu. Dari matanya terlihat kan senyumnya. Hehe.

Mengantar anak ke barbershop adalah milestone baru dalam kehidupan saya. Berdua saja dengan keintiman bapak-anak yang kerap saya lihat sebelumnya. Ah, semoga saya bisa selalu ada di sampingnya, sekurang-kurangnya sampai dia cukup tangguh untuk mengarungi beratnya dunia ini.

Pengalaman Menenangkan Belanja Durex di Alfagift

“Kapan Isto punya adik?”

Pertanyaan model begini asli bikin malas. Pertama, saya suka anak-anak. Anak-anak itu secara umum sih lucu dan menggemaskan. Hanya saja, ada bagian dari memiliki anak yang notabene bukan hal mudah: dimuntahin, berjaga sepanjang malam ketika anak demam, ke dokter anak setiap bulan, bingung nitip sama siapa ketika kami bekerja, dan lain-lain. Akan tetapi, poin utamanya adalah seperti kata Pak Prabs:

Well, pilihan punya anak dan tidak itu tentunya pilihan masing-masing. Namun sejauh kami menghitung gaji berikut proyeksinya dan mengingat gaji hanya naik 5 tahun sekali maka jadilah rasanya anak 1 sudah cukup sejauh ini. Dan tentu saja untuk melakukan kontrol pada tidak bertambahnya makhluk hidup di dunia ini melalui saya diperlukan alat bantu bernama alat kontrasepsi, termasuk kondom.

Nah, percaya atau tidak, membeli kondom itu selalu jadi pengalaman yang menarik. Apalagi wajah saya yang setara mahasiswa dan jarang pakai cincin kawin karena kesempitan. Wkwk. Jadi, seringkali saya beli kondom itu kala jajan sama Isto. Supaya kelihatan bahwa saya ini bapak-bapak milenial sesuai tajuk blog ini. Bagaimanapun, kondom itu baik untuk rumah tangga. Saya ada teman yang justru menangis kala hamil anak kedua karena mereka masih Long Distance Marriage bahkan sampai sekarang. Sesudah anak kedua lahir, mereka selalu pakai kondom ketika bersua satu sama lain karena ya mengasuh dan membesarkan anak memang tidak sesederhana itu. Jadi, intinya sih gunakan kondom. Haha.

Salah satu cara untuk mengakalinya tentu saja tidak belanja langsung namun dengan bantuan aplikasi sebagaimana yang lagi trending di era pandemi. Dan salah satu pilihan saya adalah dengan menggunakan Alfagift.

Bicara Alfagift sebenarnya adalah tentang hal yang kerap ditanyakan oleh kasir Alfamart kalau kita belanja: ada membernya? Yes, Alfagift adalah aplikasi belanja online Alfamart. Alfagift ini juga mendukung gerakan go green karena termasuk juga menihilkan struk yang dicetak. Alfagift juga semacam datang ke Alfamart tanpa ke Alfamart sebab ongkirnya pun gratis-tis-tis tanpa syarat #gerceptanpabatas

Aplikasi belanja online Alfamart ini tentu menarik bagi bapak-bapak milenial kayak saya. Bukan apa-apa, kalau saya bawa anak, niatan belanja 20 ribu bisa berakhir jadi 200 ribu jika anak saya mengambil belanjaan sesukanya dan dimasukkan ke keranjang plus langsung diseret ke kasir. 

Lebih lanjut lagi, Alfagift sebenarnya juga bukan tentang produk yang ada di Alfamart saja sebab ada sederet toko official yang menyediakan berbagai kebutuhan kita secara lebih lengkap. Hal ini menjadi melengkap keunggulan jangkauan luas, pengiriman yang cepat, dan tentu saja gratis ongkir tanpa syarat. Produk kondom Durex berbagai varian yang saya angkut juga merupakan bagian dari isi Official Store Durex di Alfagift:

Untuk pembayaran juga disediakan sejumlah channel seperti Virgo, Gopay, Shopeepay, transfer ke BCA Virtual Account, hingga kartu kredit sekalipun juga dimungkinkan. Dengan demikian, belanja Durex menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana. Saya sendiri mengangkut Durex Invisible, Durex Extra Safe, dan Durex Fetherlite. Khusus yang Fetherlite, baru mau nyoba nih. Kalau dua yang lain sudah masuk referensi~

Produk-produk di Alfagift bisa diantar ke rumah dan bisa juga kita ambil ke toko terdekat. Nanti kalau pun stoknya kosong, pasti dikasih tahu kok. Jadi nggak akan zonk juga ketika di aplikasi bilangnya ada tapi pas ke lokasi malah nggak ada. Sejauh pengalaman saya sih tidak demikian.

Untuk hadirnya barang ke rumah, pengiriman cepat menjadi andalan. Bisa dilihat juga kok di aplikasi soal pilihan jamnya. Jika kita memilih untuk diantar dan mengambil semua ada pilihannya.

Jangan lupa juga ada sederet promo Alfamart yang bisa kita lihat begitu mengunduh Alfagift, seperti misalnya cashback melalui pembayaran Virgo maupun Gopay. Cashback sejatinya bukan sembarang cashback karena seperti kata pepatah di Wakanda Tenggara: cashback demi cashback lama-lama bisa jadi bukit juga.

Demikianlah pengalaman saya dalam hal belanja melalui Alfagift. Cukup menenangkan. Terutama sekali karena kita tidak perlu berhadapan dengan ninja yang ketika kita tiba di toko tidak terlihat lalu seketika hadir di hadapan mata sembari memegangi jok motor kita. Dan untuk mengunduh Alfagift silakan klik tautan Alfagift ini ya…

Ciat!

Mengapa Saya Suka WFH?

Barusan saya kaget melihat ada seseorang dari kementerian yang cukup penting di masa pandemi ini yang merasa kaget bahwa ada kantor yang masih WFH. Ya gimana nggak kaget, wong varian Omicron baru masuk, artinya kita masih harus berjauh-jauhan sebenarnya kan…

Tapi kok..

Cuma ya sudahlah. Satu hal yang pasti, pasca 3 bulan merasakan WFH dan WFO serta Dinas dengan seimbang, sesungguhnya saya harus mengutarakan bahwa saya lebih suka WFH.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Pertama, tentu saja karena saya tidak perlu menambah risiko dengan pergi ke luar rumah untuk bersua orang-orang terutama di transportasi umum. Dari situ saja saya sudah senang. Bukan apa-apa, segalak-galaknya petugas mereka juga akan takluk oleh situasi. Benar bahwa masuk stasiun harus scan aplikasi PeduliLindungi, tapi yang nge-share screenshot-an juga ada. Saya pernah lihat di salah satu stasiun. Belum lagi yang batuk-batuk ke KRL dan sejenisnya. Masih ditambah lagi saya kudu naik bis, naik ojol, dst. Ketemu orang dengan faktor risiko semua kan…

Kedua, berkaitan dengan risiko di atas ada risiko lainnya yaitu risiko finansial. Buat ke kantor saya harus nitip motor Rp8.000 lalu naik KRL Rp3.000 kemudian lanjut TransJakarta Rp3.500 lalu dipungkasi dengan ojol Rp17.000. Sudah Rp31.500 berangkatnya saja. Kemudian pulangnya Rp25.000 ojol dari kantor ke stasiun. Hampir Rp60.000,- Ini tentu belum termasuk biaya beli masker yang tentu beda jika saya kerja di rumah dan nggak pakai masker. Dengan gaji yang pas-pasan begini, sudah pasti saya mending nggak keluar Rp60.000,- sehari untuk bekerja.

Ketiga, waktu yang sangat berharga. Saat WFO, saya berangkat jam 6 dan sampai kantor 7.40-an. Ada 1 jam 40 menit yang sebenarnya bisa saya habiskan di depan laptop untuk mengerjakan banyak hal. Demikian pula dengan pulangnya. Dari 16.30 sampai 18.00 itu juga bisa saya pakai untuk kerja. Sementara kalau WFO, pada jam-jam itu saya lebih banyak ngelamun.

Photo by Elena Saharova on Pexels.com

Keempat, fasilitas. Internet di kantor saya ya ada, tapi kan yang pakai banyak. Sementara kalau di rumah, saingan saya cuma Isto. Sepanjang saya Zoom Meeting dari rumah, nggak pernah sekalipun ada peringatan berupa sinyal warna merah karena ya saya penguasa internet di rumah. Belum lagi kalau mau 2 atau 3 Zoom sekaligus, saya bisa bajak laptopnya Mama Isto, atau laptop Isto-nya sekaligus.

Kalau di rumah, begitu Mama Isto ngantor, maka saya segera menyalakan laptop dan bisa kerja mulai 6.30. Nanti jam 8 Aunty akan datang dan Isto dialihkan pengasuhannya ke Aunty dan saya bisa kerja terosss sampai siang. Rehat sedikit makan siang, saya kemudian bisa stay di depan laptop sampai Mama Isto pulang. Durasinya memang lebih panjang dan pekerjaan juga jadi lebih banyak yang bisa dikerjakan. Lebih pusing, sih. Cuma pekerjaannya kan memang tipe semua pakai laptop, jadi ya mau di kantor atau di rumah kan saya sama-sama lihat laptop.

Masalahnya memang banyak orang yang menjadikan WFH ini sebagai liburan dan bikin sejumlah bos enggan me-WFH-kan pegawainya. Model beginilah yang saya agak sebal karena saya sendiri merasakan bahwa banyak hal yang bisa saya kerjakan di rumah dalam mode WFH dan bahkan lebih ciamik pula hasil kerja saya di WFH.

Hari Jumat kemarin soal ini sudah saya sampaikan sendiri ke pimpinan dan semoga dapat menjadi hal yang baik ke depannya. Bukan apa-apa, pandemi ini belum berakhir. Gitu, sih.

The Tunan Waterfall

Our agenda is actually a morning flight from Manado to Jakarta. We were even in the hotel lobby to wait for the driver from our office. Suddenly, we got messages that there had been a flight delay to 2 p.m.

Considering that at 12 noon, we had to check out of the hotel, we decided to depart the hotel earlier while looking for tourist destinations that were around in line. Mr. Martin, the office driver, then directed us to Tunan Waterfall. He had never actually been to this waterfall. It’s just that he’s seen the directions.

Tunan Waterfall is located in North Minahasa Regency, not too far from Sam Ratulangi International Airport. From a distance, this waterfall is very high. Search results on Google mention it is about 85-86 meters. Physically, in my opinion, this waterfall is higher than the Anai Valley. If the wind is significant, the altitude factor causes visitors from a distance to be drenched.

The pool in this waterfall is actually quite spacious, but the access is limited. In fact, it can actually be conditioned, such as the Benang Kelambu and Benang Setokel in Lombok that closes the pool’s access and then diverts it slightly to the side.

The facilities in this place are actually quite decent. It just so happened that we went to this place early in the morning so that the places to eat tended to still close. On the other hand, the access was still relatively poor. Yes, simply put, we rode Inova, and it couldn’t if we had to cross paths with other vehicles. It’s more appropriate to use a motorcycle.

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python – Awalnya adalah keresahan pribadi ketika balik dari kuliah. Dulu itu, reviu RKA-K/L masih pakai aplikasi yang username dan password-nya DIPA. Saya bisa dengan mudah mengkonversi ADK ke format Excel dan dari situ saya bisa melalukan pekerjaan dengan mudah. Saya ada pengalaman cukup buruk soal itu, pernah dituding salah tapi tertolong oleh data bahwa pada proses reviu RKA-K/L saya diberikan data yang berbeda.

Blog secreet: Aplikasi RKAKL 2015
Aplikasi RKA-K/L zaman Pujangga Baru

Begitu balik dan aplikasinya jadi SAKTI, malah adanya cuma PDF. Saya lalu mengalami kesusahan karena note di PDF itu bagaimanapun sulit untuk direkap semudah pakai Excel dengan berbagai fiturnya.

Cukup Satu Aplikasi SAKTI (Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi)

Saya kemudian mencari-cari berbagai kombinasi. Pada akhirnya saya mencampurkan converter free yang ada di internet dengan teknik yang akan saya kisahkan pada konten ini. Sekadar ingin memudahkan diri. Kebetulan, pas kuliah kemarin sempat mempaparkan diri pada Python walaupun kalau cari coding selalu dari internet. Heuheu.

Sesuai dengan sumbernya, kode-kode yang digunakan memanfaatkan Google Colab. Saya juga punya Jupyter Notebook tapi sudah dicoba ke situ, script ini gagal. Hehe.

Mari kita mulai…

Intinya, library yang digunakan adalah Tabula. Dengan Tabula, tabel di dalam file PDF akan dikonversi ke Pandas Dataframes. Nah, Tabula ini bukan bagian dari library Google Colab, jadi kita perlu masukkan dulu.

!pip install tabula-py

Ketika Tabula sudah ter-install, maka kita dapat meng-import 2 library yang juga kita butuhkan:

import tabula
import pandas as pd

Sebagai gambaran, saya gunakan hasil penerimaan CPNS dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Kan lagi musim tuh tes CPNS dan sebenarnya data-datanya gurih untuk diolah bolak-balik. Karena pakai Google Colab, data yang sudah saya unduh tadi, kemudian saya unggah ke Google Colab tepatnya di logo folder sebelah kiri layar.

dfs = tabula.read_pdf("/content/BIG.pdf", multiple_tables=True, pages="all", encoding="utf-8")

Kalau diterjemahkan, bagian awal tentu saja nama file-nya. Untuk command selanjutnya adalah kita hanya memproses tabel yang dikenali di dalam PDF. True berarti kita mau semua tabel di dalam file akan diproses. Sedangkan untuk “UTF-8” digunakan karena dia adalah tipe encoding dari Pandas, library yang kita gunakan untuk memproses data.

Terakhir, kita menyimpan kode sebagai instance “dfs” sehingga kita dapat melakukan manipluasi lebih lanjut.

dfs[0]

Sesudah itu, kita perlu menambahkan library lain yakni Xlsxwriter.

!pip instanll Xlsxwriter
import xlsxwriter

Nah, dengan library tersebut, kita buat file Excel-nya:

writer = pd.ExcelWriter('BIG.xlsx',engine='xlsxwriter')

Writer sendiri memungkinkan kita untuk menyimpan setiap tabel atau dataframe sebagai tab sendiri dalam file Excel. Kadang jadi kosong ya namanya juga PDF, salah satu script yang bisa digunakan untuk mengantisipasinya adalah:

X = 0

for df in dfs:
if len (df) == 0
print("Empty Dataframe")

else:
df.to_excel(writer, sheet_name=f"sheet {X}")
print(f"Saved Sheet{X}")
X = X + 1

Script di atas kemudian dipungkasi dengan perintah menyimpan:

writer.save()

Kita bisa refresh file di sebelah kiri layar untuk mendapati file hasil export-nya muncul.

Sejujurnya masih agak berantakan karena 1 halaman jadi 1 sheet. Ini PR lagi dalam merapikannya, tapi hasil yang diperoleh lumayan untuk melengkapi hasil dari converter. Converter ini ada masalah lain karena biasanya kalau mau convert banyak halaman agak sulit dan harus berbayar, sementara saya kan miskin.

Kira-kira demikian, lebih lengkapnya bisa disimak di video YouTube berikut ya:

Ciao!

Sumber kode DISINI.

Liburan Pegal di Ancol

“Pa, Eto mau ke beach. Naik airplane ya…”

Demikian pesan bos besar di rumah. Kombinasi video YouTube yang memperlihatkan sejumlah anak bebas main di pantai plus beberapa kali bapaknya dinas naik pesawat membuat dia memberikan pesan itu. Pesan yang sulit diwujudkan, selain karena miskin, tapi juga karena lagi pandemi. Saya saja berusaha supaya tidak berangkat dinas karena takut ketularan COVID-19 di kota lain, lah masak bawa anak liburan?

Aslinya, saya jelas pengen bawa anak liburan. Kemarin di Bali kan saya menginap di Hotel Bali Mandira, pinggir Legian banget. Hotelnya juga asyik lah kalau bawa anak. Dan memang saya ingin banget bawa anak jalan-jalan. Tapi lagi-lagi, selain COVID-19 ada faktor kemiskinan yang membuatnya sulit terwujud~

Dan karena kita di Tangerang Selatan, maka jadilah kita ke beach yang paling masuk akal: Ancol. Kristof sudah pernah ke Ancol pada usia 2 tahun dan sekarang berarti dia kesini pada usia 4 tahun. Dulu pas 2 tahun sudah direncanakan bakal bawa ke Singapur lah, ke mana lah, ujung-ujungnya demi keamanan, selama 2 tahun dia malah di rumah…

Dulu kami pernah ke Ancol, tapi menginap di luar kawasan. Nah ini pikirnya kan biar liburannya asyik, jadi coba menginap di dalam kawasan. Kami menginap di salah satu hotel yang ada di dalam kawasan Ancol, tepatnya yang mefet banget sama laut dan dahulu kala pernah kondang dengan nama artis Lidia Pratiwi. Niatnya kan biar urusan ke pantainya gampang.

Sayangnya, gampang itu kalau kita bawa mobil sendiri.

Sobat misqueen kayak saya yang ke Ancolnya saja naik Blue Bird dengan kartu kredit, tentu nggak punya transportasi apapun di dalam selain kaki dan sedikit uang untuk sewa sepeda listrik. Tapi ya sudahlah, dinikmati saja karena niatnya kan liburan.

Secara umum, sesudah datang dan check in kami menuju ke Faunaland, suatu kebun binatang kecil-kecilan di dalam kawasan Ancol, tepatnya di tengah Allianz Ecopark. Kami naik taxol dari hotel ke Allianz Ecopark tersebut. Uniknya, itu posisi si taxol sudah di dalam dan saya tetap disuruh bayar 25 ribu. Padahal, ketika di masuk kan dia sudah dapat tiket keluar ya.

Tapi ya sudah. Gapapa.

Dari Faunaland, tampaknya anak saya ngebet benar pengen ke pantai. Walhasil, dengan berjalan kaki saya membawa dia ke Pantai Indah yang notabene paling dekat dengan Faunaland. Pantainya cukup ramai dengan tali melintang di area laut tanda tidak boleh berenang. Jadi memang hanya celup-celup sama main pasir. Anak saya sebagai anak prokes langsung keder begitu melihat anak-anak yang cukup ramai.

“Pa, banyak anak-anak…”

Dari Pantai Indah, kami kembali ke hotel untuk main pasir di depan kamar saja. Kami naik taksi. Jadi, ada sebuah taksi yang muter-muter Ancol pada Sabtu-Minggu untuk mencari orang-orang tidak berpunya seperti kami ini. Pas nganter kami, bapaknya malah curhat. Sedih memang. Benar bahwa di Ancol ada bus Wara Wiri, tetapi keramaian dan rutenya tidak cukup visibel untuk orang-orang seperti kami.

Kami memang berencana akan main pasir baru pada pagi hari berikutnya, sebelum pulang. Arahnya tentu saja beach pool yang dari proporsi pasirnya paling banyak. Pilihan kami kemudian adalah naik sepeda listrik yang disewakan di hotel dengan harga 100 ribu untuk 2 jam. Jadi dua sepeda ya 200 ribu. Dengan jarak 1 kilometer, menggenjotnya lumayan juga. Tapi namanya sepeda listrik kan kayak naik sepeda motor.

Dan sisi baiknya adalah ternyata anak saya sudah cukup seimbang sehingga bisa pegangan dengan baik dan benar di boncengan.

Kami main pasir dalam suasana yang gloomy dengan sedikit mendung dan beberapa tetes air hujan. Walau demikian, dalam durasi 2 jam tidak ada hujan yang terjadi sehingga keinginan Kristof untuk bisa bermain pasir di pantai setidaknya bisa terwujud dengan keterbatasan seperti tali, maupun kapasitas dan tentunya minim ombak. Memang lain kali saya sangat ini dia bisa menikmati pantai-pantai cantik yang pernah saya datangi, mulai di Padang, Bali, Kupang, Nias, hingga di Palu.

Memang baru dua kali dia ke pantai dan dua-duanya ke beach pool. Sebagai orang tua, sebenarnya ada keinginan dalam diri saya untuk mengajak dia. Cuma dulu takut saja dia tidak ingat. Jadi mau mencari umur yang kira-kira dia bakal ingat sampai kapan-kapan dan sepertinya ini sudah umurnya.

Kapan-kapan ya, Nak.

Bapak Millennial

%d bloggers like this: