Tentang Ketertiban di Transportasi Umum

Sering mengeluh tentang betapa sulitnya orang Indonesia tertib, terutama di tempat umum? Saya juga sering. Heuheu. Akan tetapi, perlahan saya mulai memahami akar masalahnya karena sering naik transportasi umum.

Ya, terakhir sih 2 bulan yang lalu. Siapa sangka saya balik dari kuliah Kebijakan Publik hari Kamis malam sambil hujan-hujanan itu adalah terakhir kali saya naik KRL setidaknya sampai sekarang?

Oke, skip dulu curhatnya. Tapi begini, seburuk-buruknya KRL di weekday, sesungguhnya lebih parah di weekend. Itu kalau menurut saya. Separah-parahnya di Tanah Abang mau jam berapapun, orang-orang yang selow di tangga dan bahkan di tangga berjalan itu umumnya terjadi ketika weekend.

Demikian pula dengan MRT. Kalau kita ikutan wisata MRT di Sabtu atau Minggu, selain kepadatan nggak kira-kira, perilaku manusianya juga nggak karuan. Hal itu berbeda kalau kita naik MRT di hari kerja.

Nih, saya punya buktinya. Rapi sekali.

Kenapa itu terjadi?

Dugaan saya, ini adalah soal kebiasaan. Di weekday, para pengguna adalah pengguna rutin yang tiap hari ya menggunakan moda yang sama. Setidak terburu-burunya mereka, sudah ada pemahaman perihal perilaku yang seharusnya dilakukan. Saya bilang tadi, seburuk-buruknya Tanah Abang, kalau weekday itu satu-dua doang orang yang diam di sebelah kanan tangga berjalan atau santai-santai di tangga manual.

Jadi, para pengguna rutin itu sudah tahu aturan dasarnya. Di MRT cenderung lebih tertib lagi kemungkinan karena faktor pendidikan dan pekerjaan dari para penumpang. Pemandangan antre serapi di foto tadi adalah hal biasa di stasiun MRT manapun dan jam berapa saja peristiwa itu ada asal pas hari kerja.

Boleh jadi karena cukup pendidikan dan cukup pengetahuan, para pengguna MRT di kala weekday ini jauh lebih tertib dan bisa sekali membuat MRT Indonesia serapi di Singapura atau Hong Kong.

Kesimpulan sementara saya adalah tatanan itu tidak dimengerti para pengguna sekali-sekali yang umumnya menggunakan moda transportasi umum itu di kala weekend alias hanya Sabtu-Minggu atau hari libur saja. Karena tidak mengerti, jadi suka bingung. Ya mending kalau bingung lalu diingatkan terus minggir atau membenahi diri. Masalahnya, kalau penumpang weekend itu suka enaknya sendiri. Kalau ditegur, suka sengak dan malah marahin yang negur.

Kan asem.

Hal yang serupa juga saya dapati ketika naik TransJakarta. Kalau jam 8 atau 9 di setiap halte ramai sekitar Sudirman itu kelihatan kok ketertiban orang-orang antre keluar dengan membentuk barisan atas dasar kesadaran sendiri. Paling kondang ya halte Dukuh Atas yang sempit tapi hub penting jadi kalau sore antrenya bisa mengular sampai atas dan antreannya terbentuk tanpa masalah.

Jadi intinya sih kebiasaan dan lingkungan. Hal itu sebenarnya sudah terbentuk ketika weekday namun seringkali bablas kala weekend.

Bujet Riset Dalam Kelindan Isu Kesehatan Indonesia

Sebagian dari kita mungkin ingat kontroversi cuitan CEO BukaLapak, Achmad Zaky, pada pukul 22.25 WIB tanggal 13 Februari 2019 tentang omong kosong industri 4.0, bujet riset dan pengembangan, serta presiden baru. Sebagian lagi mungkin mengingat dampaknya yang cukup panjang. Pertama, tentu saja perkembangan tagar #UninstallBukaLapak yang bekalangan jadi semakin politis karena kata ‘BukaLapak’ malah diganti dengan ‘Jokowi’, padahal jelas-jelas Jokowi adalah Presiden, bukan aplikasi, jadi ya nggak mungkin di-uninstall, toh?

Kedua, Zaky sendiri sampai datang ke istana karena Jokowi khawatir bahwa tagar untuk meng-uninstall aplikasi yang belum lama di-endorse olehnya itu akan berdampak pada para penjual. Yha, bagi yang doyan belanja daring sih pasti paham bahwa mayoritas penjual itu punya toko di sekurang-kurangnya 3 marketplace besar di Indonesia alias kalau satu ditinggal, tokonya masih bisa dikunjungi via marketplace lainnya.

Ketiga, publik penggerak #UninstallBukaLapak ternyata sama saja pemikirannya dengan #UninstallTraveloka cuma gara-gara hal sepele. Lebih parah lagi, malah jadi lupa pada substansi.

Walaupun ditengarai datanya salah tahun, namun poin Zaky pada pentingnya bujet riset dan pengembangan itu sudah selayaknya jadi perhatian. Supaya isunya tidak seliar cuitan pria Solo tersebut, mari kita coba tempatkan pembahasan pada sektor yang sangat riil kebutuhan akan riset dan pengembangannya yakni industri kesehatan. Lebih spesifik lagi: industri farmasi.

Konsep Riset Industri Farmasi

Saya beruntung pernah hampir 5 tahun berkecimpung di sebuah industri farmasi papan atas Indonesia yang menguasai pangsa pasar obat generik berlogo namun juga pemiliknya cukup edan untuk memiliki sebuah unit riset tersendiri dengan bujet setahun yang nilainya bisa menghidupi sebuah industri farmasi kecil. Dengan demikian, saya bisa cukup percaya diri dalam mengurai perkara riset dalam konteks kefarmasian.

Bagaimanapun, industri farmasi itu unik karena yang dihadapi tidak hanya kompetitor bisnis, namun juga perkembangan penyakit hingga pemutakhiran data keamanan suatu obat sehingga kemudian peran riset dan pengembangan alias R&D menjadi sangat penting.

Apabila pada industri makanan dan kosmetik, R&D bisa dikembangkan ke arah variasi produk seperti rasa maupun warna—hingga kemudian kita bisa mendapati mi instan rasa rendang atau keripik rasa mi instan, misalnya, maka berbeda halnya dengan industri farmasi.

Para peneliti farmasi sejak mula mengembangkan suatu molekul dengan target yang jelas, yakni mengobati suatu penyakit. Metode yang digunakan memang semakin modern dan semakin menggunakan pendekatan bioteknologi untuk hasil yang lebih optimal. Namun tetap saja harus ada harga yang dibayar untuk itu.

Biaya riset menjadi besar setidaknya karena 4 hal, yakni teknologi yang digunakan, bahan aktif baru yang lebih kompleks, fokus riset pada penyakit kronis dan degeneratif dengan biaya yang lebih mahal, dan persyaratan regulatori yang lebih ketat. Dikutip dari penelitian mantan Kepala BPOM, Sampurno, dengan judul ‘Kapabilitas Teknologi dan Penguatan R&D: Tantangan Industri Farmasi Indonesia’ yang dimuat pada Majalah Farmasi Indonesia (2007) estimasi biaya yang dikeluarkan untuk penelitian sejak dari laboratorium hingga dipasarkan pada tahun 1979 adalah 54 juta dolar, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 897 juta dolar. Itupun, tingkat keberhasilannya terbilang rendah. Artikel yang sama menyajikan data bahwa pasca Uji Klinis Tahap III, hanya 20% molekul obat baru yang disetujui untuk diproduksi dan dipasarkan. Forbes pada tahun 2017 menyitir beberapa riset terbaru dan kisarannya sudah semakin dahsyat, bisa mencapai 2,7 miliar dolar per produk!

Makanya, saya suka berpikir kalau di grup WhatsApp ada yang bilang bahwa suatu penyakit adalah konspirasi suatu negara atau kalangan agar mereka bisa menjual obatnya atau suatu obat diarahkan untuk wajib karena ingin membunuh generasi suatu bangsa. Dalam pola pikir ilmiah dan bisnis, kedua konspirasi itu sungguh sangat tidak relevan dan hanya akan terpikirkan oleh otak yang penuh dengan kebencian.

Faktanya COVID-19 sekarang ini sampai nyaris 5 bulan belum ada obatnya. Sampai-sampai obat Ebola yang belum kelar uji klinik diberdayakan.

Biaya riset yang tinggi untuk suatu molekul obat itu tentu saja membutuhkan perlindungan. Tidak ada entitas bisnis yang cukup dungu membiarkan hasil risetnya ditiru dengan serta merta oleh pesaing. Maka dalam dunia farmasi dikenal adanya perlindungan paten. Dampaknya tentu saja adalah harga yang tinggi sebagai upaya untuk balik modal biaya riset dan juga sarana untuk meraih keuntungan sebagaimana hakikat sebuah industri pada umumnya. Begitulah yang terjadi di luar negeri.

Riset Farmasi di Indonesia

Masih menurut Sampurno, di Indonesia agak berbeda karena industri farmasi adalah industri formulasi, bukan research-based company. Kegiatan R&D lebih banyak dilakukan untuk pengembangan formula produk dengan mengandalkan obat-obat yang sudah atau akan segera habis masa patennya. Misalkan untuk obat diabetes Metformin, R&D akan difokuskan pada pencarian kombinasi zat aktif dan eksipien yang akan memberikan hasil paling optimal pada proses produksi, paling mendekati standar kualitas yang telah ditetapkan, serta juga paling efisien dari sisi akuntansi.

Meski begitu, masih ada beberapa pemilik perusahaan yang cukup gila dalam inovasi. Kantor saya dulu, misalnya, berani membayar ratusan miliar untuk mendirikan gedung riset berbasis bahan alam Indonesia, termasuk juga memanggil pulang anak bangsa yang lama berkecimpung dalam riset di luar negeri—tentu saja dengan bayaran yang memadai dan berarti cost yang tinggi bagi perusahaan.

Riset yang baik tentu didukung oleh penelitian tentang kebutuhan obat yang tepat, metode berbasis bioteknologi dan komputasi yang baik, alat-alat yang mutakhir, periset yang kompeten, bahan baku riset yang cukup untuk bereksplorasi, fasiilitas untuk memadai untuk upscaling dari skala laboratorium ke skala industri, fasilitas produksi yang terkini, hingga pemenuhan terhadap standar yang ditetapkan baik oleh regulator maupun oleh calon mitra tujuan ekspor. Sekali lagi, itu semua butuh cost.

Perlu lebih dari 5 tahun hingga unit riset tersebut bisa menelurkan suatu produk sampai ke pasar dan itupun setelah melewati tahapan-tahapan yang tidak mudah terutama dari aspek regulasi. Ketika itu, tidak ada insentif khusus, misalnya, karena riset bahan alam Indonesia maka ada tahap-tahap yang boleh dilewati. TIdak ada sama sekali. Kalaulah ada yang agak bisa membanggakan adalah pengembangan unit riset tersebut menjadi salah satu pabrik pertama di Indonesia yang diakui sebagai Industri Ekstrak Bahan Alam dengan peresmian yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan berikut Plt. Kepala BPOM pada tahun 2013 silam.

Proses registrasi produk hasil riset sendiri berjalan sesuai dan sejalan dengan regulasi yang ditetapkan. Begitulah, untuk proses yang sepanjang itu, dipastikan butuh perusahaan yang cukup kuat secara finansial dan pemimpin yang cukup nekat untuk terus menggelontorkan bujet pada risetnya, yang belum tentu balik modal dengan segera.

Tidak Dapat Kompromi Pada Mutu

Sekali lagi, industri farmasi punya kekhasan, yakni tidak dapat kompromi pada 3 hal yakni keamanan, mutu, dan khasiat. Hal itulah yang menyebabkan proses registrasi dari produk yang merupakan hasil karya anak bangsa sekalipun juga harus mengikuti tahapan-tahapan yang ditetapkan tanpa perlakuan khusus. Pada posisi ini, pemerintah harus menjalankan beberapa peran sekaligus yakni mendukung sektor industri pada satu kaki, mendukung tambahan terapi pada sektor kesehatan pada kaki yang lain, namun juga harus menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk tersebut pada kaki yang lain lagi.

Aspek mutu ini juga bersisian dengan daya saing. Pada era persaingan bebas, banyak negara menyiapkan perlindungan kepada warganya untuk tetap bisa mendapatkan produk yang bermutu dengan menerapkan pagar berupa standar yang tinggi kepada suatu produk agar bisa masuk ke pasar negara tersebut. Demikian juga dengan sektor farmasi. Walhasil, industri farmasi nasional yang memiliki pasar di luar negeri, mulai ASEAN hingga Eropa harus senantiasa menerapkan standar yang tinggi agar bisa memenuhi standar yang diterapkan di negara tujuan. Dan siapapun tahu, semakin tinggi kualitas yang diharapkan, maka biaya juga akan menyesuaikan.

Ihwal biaya baik untuk riset maupun untuk kualitas yang berstandar internasional ini di Indonesia akan sangat terkait dengan pendapatan suatu industri farmasi yang dalam konstelasi tata kelola kesehatan di Indonesia akan begitu lekat pada isu yang selalu hangat: BPJS Kesehatan.

Sebagai perlindungan kesehatan nasional, BPJS Kesehatan memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah untuk pembenahan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, BPK RI pun telah melakukan pemeriksaan kinerja pada layanan BPJS Kesehatan ini. Persoalan tentang tersendatnya pembayaran dari BPJS Kesehatan ke Rumah Sakit menjadi salah satu perkara yang sering diangkat ke publik.

Pada konteks ini, industri farmasi dipastikan terkena dampaknya. Obat sebagai produk industri farmasi hanyalah salah satu komponen dari pelayanan kesehatan. Artinya, terhadap pembayaran yang tersendat ke rumah sakit akan berdampak pula pada pembayaran obat ke industri farmasi dan kalaupun pembayaran sudah dilakukan boleh jadi akan dialokasikan terlebih dahulu untuk pembayaran listrik atau air hingga tenaga kesehatan, baru kemudian obat. Bagi industri, pembayaran yang tersendat berarti uang yang diam dan tidak dapat diapa-apakan, padahal ada potensi untuk dikelola salah satunya pada riset dan pengembangan.

Jadi, ketika pendiri BukaLapak membawa isu R&D ke ranah netizen nan kejam dan terlalu fokus pada tahun data dan perkembangan angka, sejatinya problematika R&D itu sendiri telah sedemikian rumitnya di industri farmasi. Persoalannya bukan lagi sekadar besarnya dana sehingga butuh komitmen bersama dari elemen pemerintah yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, industri farmasi maupun yang relevan dengan dunia kesehatan lainnya, hingga stakeholder lain untuk bisa mengurai problematika riset dalam rumit serta ganasnya gorengan isu kesehatan di negeri ini.

Satu hal yang pasti, untuk membahas soal ini kita tidak perlu membawa-bawa politik yang sarat kepentingan. Bukan apa-apa, kepentingan rakyat dalam persoalan kesehatan itu saja sudah begitu besar dan lebih dari cukup untuk menjadi dasar berpikir bersama demi kesehatan dan industri farmasi Indonesia yang lebih baik.

Hal-Hal Yang Mungkin Kamu Tidak Tahu Tentang Kabinet Indonesia Maju

Data-data ini sebenarnya sudah saya kumpulkan sejak jam pertama Kabinet Indonesia Maju diumumkan. Sayang sekali, saya kepentok satu nama. Pada hari pengumuman itu, saya sama sekali tidak mendapati informasi perihal tangal lahir Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Google dengan keyword apapun.

Jadi kemudian datanya saya diamkan saja. Heuheu.

Kemarin saya buka lagi ketika ada pengumuman dari Gugus Tugas bahwa orang-orang yang berusia 45 tahun bakal diizinkan beraktivitas lagi. Ya, tanpa peduli bahwa di bawah umur 45 tahun tapi di rumah boleh jadi ada suami atau orangtua atau bahkan kakek nenek yang berusia jauh lebih tua yang bisa jadi berpotensi ketularan COVID-19.

Berangkat dari fakta itu, sama kemudian googling lagi tanggal lahir Mendag dan ketemu. Jadilah saya bisa mengolah datanya. Asik. Jadi, berikut beberapa hal yang mungkin kamu tidak tahu tentang anggota Kabinet Indonesia Maju, khusus dari faktor usia dan tanggal lahir.

Tidak Ada yang Ulang Tahun Barengan

Ini serius. Dari 38 nama penting itu semuanya memiliki tanggal lahir yang berbeda-beda. Ya 38 nama dari 365 hari, gitu lho. Wajar sekali. Tapi yang unik bahkan yang ulang tahunnya dekat-dekatan juga tidak banyak. Paling hanya Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah (16 Juli 1969) dengan Jaksa Agung ST. Burhanudin (17 Juli 1954) atau Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya 28 Juli 1956 dengan Menko PMK Muhadjir Effendy 29 Juli 2020. Sama satu lagi Agus Suparmanto 23 Desesember 1965 dengan Edhy Prabowo 24 Desember 1972.

Kebijakan Kontroversial Menteri Edhy Prabowo Halaman 1 ...
Sumber: Kompasiana

Rentang 30-an Sampai 70-an

Kabinet berisi orang-orang dari usia 30-an sampai 70-an. Adapun yang umurnya 30 sampai 40 tahun hanya satu, Nadiem Makarim. Sedangkan yang 40 sampai 50 tahun ada 5. Ini saya masih memasukkan Erick Thohir yang akhir Mei nanti HUT ke-50. Jadi sudah naik ke rentang 50-60 tahun. Posisi sekarang 15 orang ada di rentang 50-60 tahun dan 15 lagi antara 60 sampai 70 tahun.

Izinkan TKA China masuk, Luhut singgung pendidikan orang daerah ...
Sumber: hops.id

Rata-Rata Usia 58,5 Tahun

Per 13 Mei 2020, rata-rata usia komponen kabinet adalah 58,5 tahun. Itu kalau golongan bukan Fungsional Madya dan bukan Eselon II ke atas sudah pensiun.

Hanya Ada Satu yang Lahir Hari Kamis

Secara menakjubkan dari 7 hari dalam seminggu, anggota kabinet tersebar merata. Ada 8 menteri/pejabat setara yang lahir di hari Minggu dan Rabu, sebagaimana ada 7 yang lahir di hari Sabtu. Dan secara menakjubkan orang itu adalah menteri yang ketiadaan tanggal lahirnya di Google sempat membuat saya menunda bikin statistik ini. Ya, Mendag Agus Suparmanto.

Politikus PKB Agus Suparmanto Dipanggil ke Istana, Jadi Mendag ...
Sumber: Tirto

Ada 4 yang Lahir di Bulan Ramadhan

Saya menggunakan rumus, bukan tabel, jadi beberapa saya crosscheck tanggalnya agak selisih 1 ke depan atau belakang. Tapi bulannya sih nggakk berubah. Intinya sih ada nama Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, kemudian Menteri Agama, Fachrul Razi yang lahir di bulan Ramadhan. Sisanya ada 2 lagi nggak merayakan tapi kayak anak saya, lahirnya juga di bulan nan suci, yaitu Yasonna Laoly dan I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Setelah Orde Baru, Fahrul Razi Pensiunan Jenderal Pertama Jabat ...
Sumber: Merdeka.com

Hanya Ada Satu Orang Berzodiak Aquarius

Dari 38 nama, ada 6 berzodiak Cancer serta masing-masing 5 Leo dan Libra serta 4 Gemini dan Sagitarius. Nah, hanya ada 1 orang Aquarius yang tidak punya teman. Orang itu adalah Mensesneg, Pratikno.

Menteri Pratikno Paparkan Program Prioritasnya - Aktual.Com ...
Sumber: Aktual.co

Agama Tertua, Pendidikan Termuda

Betapa pentingnya agama dan pendidikan di Indonesia tergambar di sosok menterinya. Menteri Agama, Fachrul Razi yang lahir 26 Juli 1947 menjadi yang tertua sementara Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan KEbudayaan lahir pada 4 Juli 1984 dan menjadi satu-satunya milenial di dalam kabinet.

Paling Banyak Lahir 1962

Dari 38 nama, ada 6 orang yang lahir pada 1962 sekaligus menjadi tahun terbanyak. Orang-orang itu adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Pratikno (lagi), Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Desa dan PDTT Abdul Halim Iskandar, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali.

Ada 3 Agus Tapi Hanya 1 Yang Beneran Lahir Bulan Agustus

Yak, ada nama Agus Gumiwang Kartasasmita, tapi lahir 3 Januari 1969. Ada nama (lagi-lagi) Agus Suparmanto, lahir Desember. Satu-satunya Agus yang lahir pada bulan Agustus, tepatnya 5 Agustus 1964 adalah menteri yang tentu kita sama-sama rindukan pernyataannya yang (((menenangkan hati))): dokter Terawan Agus Putranto~

Kala Terawan Gagal Menenangkan Masyarakat soal COVID-19 - Tirto.ID
Sumber: Tirto

King Henry dan Monaco Yang Terlalu Sibuk Berbisnis

Marcus Lilian Thuram-Ulien berlari membelah lini pertahanan AS Monaco yang sepi. Sejurus kemudian, putra Prancis kelahiran Parma itu mendapat bola cantik dari Ludovic Blas yang mengelabuhi Giulian Biancone. Tidak ada Kamil Glik disana, pun Benoit Badiashile—sosok yang viral di video karena kena marah Thierry Henry akibat tidak membereskan kursi konferensi pers. Putra Lilian Thuram itupun kemudian memperdaya Diego Benaglio. Gol untuk En Avant de Guingamp.

Tujuh menit kemudian, dengan skema serangan balik yang serupa, Blas kembali mengirim bola cantik. Kali ini, Nolan Roux yang sukses membuat bola melewati Benaglio dan bersarang ke gawang. Dua untuk Guingamp, nol untuk AS Monaco yang merupakan tuan rumah dalam laga papan bawah tersebut. Guingamp, si juru kunci Ligue 1 yang sebelum ini hanya pernah menang sekali di kandang Angers SCO pada pekan ke-8, berhasil menghapus rekor buruk mereka.

Guingamp tetap di dasar klasemen, namun jarak dengan tim diatasnya tinggal sedikit. Ya, tim yang baru mereka taklukkan. Tim yang dua musim lalu adalah jawara Ligue 1. AS Monaco.

Kekalahan dari satu-satunya tim yang berkinerja lebih buruk dari mereka tersebut benar-benar menenggelamkan AS Monaco, tim yang gilang gemilang dalam urusan penjualan pemain di bursa transfer dua tahun belakangan. Kini, AS Monaco yang dua musim lalu adalah juara liga itu terjerembab di peringkat 2 dari bawah dengan 3 kemenangan, 4 imbang, dan 11 kekalahan. Mereka memang punya simpanan 1 laga tunda versus Nice—yang seharusnya bakal seru karena itu berarti Thierry Henry akan ketemu Patrick Vieira—tapi rasanya 1 laga tidaklah signifikan saat ini.

Sebagai gambaran, 11 kekalahan itu merupakan sudah lebih 1 dari total kekalahan yang mereka derita di Ligue 1 pada musim 2015/2016 dan 2016/2017 digabung. Bahkan, kalau merujuk ke era kejayaan rezim Leonardo Jardim, total kekalahan mereka di 2016/2017 dan 2017/2018 hanya 9 kali untuk dua musim sekaligus. Jadi kekalahan ke-11 hanya dari 18 pekan pertandingan itu sungguh betul-betul mengerikan.

Pada tahun 2010/2011 ketika terakhir kali AS Monaco terdegradasi, dalam semusim mereka juga hanya kalah 12 kali dalam semusim. Melihat buruknya performa AS Monaco kemarin, rasanya 1 kekalahan pasti akan diperoleh dalam waktu yang tidak lama. Mungkin akan langsung diperoleh kala melawat ke Marseille untuk membuka tahun 2019.

Terakhir kali AS Monaco tidak ada di 10 besar selepas akhir pekan ke-18 adalah pada tahun mereka terdegradasi. Ketika itu, bermodal 2 kemenangan dan 10 hasil imbang, AS Monaco nangkring di peringkat 18. Ya, masih 1 strip lebih baik dibandingkan AS Monaco musim ini.

Penampilan AS Monaco musim ini memang suram betul. Pasca meraih juara pada saat Paris Saint Germain nan kaya itu agak keteteran di musim perdana Unai Emery, AS Monaco tampak lebih seperti entitas bisnis alih-alih olahraga. Dalam dua musim terakhir, mereka mampu meraih lebih dari 400 juta Poundsterling hanya dari penjualan pemain! Tidak ada tim lain yang lebih untung daripada AS Monaco dalam 2 musim belakangan.

Penjualan Kylian Mbappe memang menyumbang porsi terbesar, kurang lebih sepertiga angka penjualan 2 musim terakhir. Namun dari daftar itu juga terselip Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Benjamin Mendy, hingga Fabinho yang dijual dengan harga sangat untung. Bahkan AS Monaco sempat-sempatnya menjual striker yang jarang benar dipakai, Guido Carillo, ke Southampton dan menjadi pembelian termahal sepanjang sejarah di tim semenjana itu.

Ketika pertama kali diambil alih oleh Dmitry Rybolovlev dan keluarganya, Monaco tampak akan menjadi tim serupa Chelsea-nya Roman Abramovich. Sesudah naik ke Ligue 1, Monaco mendatangkan nama besar seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, hingga Joao Moutinho dan Geoffrey Kondogbia. Uang besar ini memang mendatangkan prestasi. Masih diasuh Claudio Ranieri, mereka meraih peringkat kedua dalam status sebagai tim promosi.

Sesudah itu, kursi pelatih diambil alih Jardim yang memang tampak cocok dengan ide bisnis Rybolovlev tapi prestasi tetap jalan. Empat musim Jardim mengasuh AS Monaco, mereka selalu berada di 3 besar dengan 1 kali juara Ligue 1. Prestasi yang betul-betul istimewa.

Model berdagang memang tampak jelas ketika Jardim menjabat. James yang kinclong di Piala Dunia 2014 langsung dilepas ke Real Madrid. Falcao yang psikisnya goyah karena cedera dipinjamkan ke Manchester United dengan fee setara dengan harga beli Tiemoue Bakayoko dari Stade Rennais ditambah sedikit. Betul-betul pintar jualan!

Sosok Jardim harus diakui mampu memberikan kestabilan pada Monaco meskipun setiap musim berganti pemain kunci. Lihat saja, sejak 2014/2015, Monaco telah melepas James dan Falcao. Musim berikutnya, Martial, Kondogbia, Layvin Kurzawa, dan Yannick Carrasco yang pergi. Paling dahsyat adalah musim 2017/2018 pasca juara. Mereka melepas Benjamin Mendy, Silva, Bakayoko, dan terutama Mbappe.

Sepandai-pandainya Jardim mengelola tim, pada akhirnya dia jatuh juga. Betul bahwa sepakbola itu soal datang dan pergi. Masalahnya, Monaco belakangan ini kehilangan kemampuan transfernya. Rekrutan mereka dua musim belakangan nyaris semua flop. Walhasil, sesudah 9 pekan musim ini berjalan, Jardim dipecat untuk digantikan oleh Henry.

Pemain termahal musim lalu yang digadang bisa menggantikan Mbappe, Keita Balde, gagal bersinar. Bintang muda Belgia, Youri Tielemans yang diharapkan menghapus jejak Bernardo Silva juga biasa saja. Terence Kongolo yang diangkut dari Feyenoord saat lagi jaya-jayanya juga tidak memberikan nilai tambah.

Yang lucu, pemain-pemain rekrutan musim lalu itu kebanyakan malah dijual untung oleh Monaco. Jadi, mereka benar-benar tidak menciptakan fondasi baru untuk tim. Lihat saja, Keita Balde dilepas dengan pinjaman seharga 4,5 juta Pound. Rachid Ghezzal yang didatangkan gratis, dilepas ke Leicester City di atas 10 juta Pound. Kongolo? Dilepas ke Huddersfield Town di Liga Inggris bersama Adama Diakhaby. Monaco untuk sekitar 5 juta Pound dari dua pemain ini. Penjualan itu di luar lepasnya para bintang seperti Thomas Lemar (Atletico Madrid), Joao Moutinho (Wolverhampton Wanderers), dan terutama Fabinho (Liverpool).

Pada musim yang suram ini, Monaco melengkapi diri dengan bintang Rusia di Piala Dunia 2018, Aleksandr Golovin. Datang juga sosok muda dalam diri Benjamin Henrichs dan Willem Geubbels. Sosok senior sendiri didapat Monaco dalam diri Nacer Chadli yang diangkut dari West Brom. Seharusnya, musim ini tidak buruk-buruk benar bagi Monaco.

Apa daya, tim ini telah benar-benar kehilangan pondasinya. Ibarat amblasnya jalan di Gubeng, kekuatan Monaco tidak kuat kalau dikeruk terus menerus hingga akhirnya jebol. Rupanya, kehilangan sosok Fabinho jadi cukup krusial. Musim lalu, dengan lepasnya Silva hingga Mbappe, Monaco masih bisa tetap kokoh dan masih jadi runner up. Kini, Kamil Glik (dan Diego Benaglio) benar-benar harus berjuang sendirian bersama bocah-bocah dalam formasi King Henry yang tampak frustasi dengan pemain-pemain lama seperti Jemerson dan Andrea Raggi.

Dalam laga versus Guingamp, Monaco memainkan Glik bersama Badiashile (17 tahun) di tengah. Biancone yang kena tipu bola cantik Blas itu juga baru 18 tahun. Henrichs sendiri baru 21 tahun dan itu lebih tua 3 tahun dari Sofiane Diop yang main di depannya pada sisi kiri lapangan Monaco. Sosok lain di tengah adalah Romain Faivre (20 tahun), Tielemans (21 tahun), dan Youssef Ait Bennasser (22 tahun). Di depan, Falcao ditemani Moussa Sylla (19 tahun).

Buruknya tim ini semakin diperjelas dengan profil (sedikit) gol yang dibuat Monaco di bawah asuhan Henry, utamanya di Ligue 1. Hanya 7 gol dari 9 laga, tiga diantaranya dari titik putih dan satu dari tendangan bebas, plus satu set piece (Kamil Glik vs Dijon). Ya, hanya 2 gol saja yang dicetak dari betul-betul permainan terbuka. Sebuah catatan yang semakin mengenaskan bagi tim yang diasuh striker legendaris.

Henry—yang sebenarnya adalah legenda Arsenal itu—harus putar otak benar-benar untuk menyelamatkan timnya. Diharapkan jadi penyelamat, Henry bisa saja mengulangi nasib Alan Shearer, sesama legenda klub yang justru jadi pelatih yang membawa timnya degradasi. Sebuah beban yang sungguh berat, apalagi untuk seorang manajer newbie yang diminta mengasuh tim doyan jualan.

Pada akhirnya Henry tidak lama menjadi manajer AS Monaco. Dirinya kemudian digantikan lagi oleh Jardim dan kemudian menyelamatkan tim itu dan hingga kini AS Monaco belum lagi bisa kembali pada keajaibannya waktu itu.

Tamu Istimewa dari Nigeria

November 2018, saya sebenarnya diset untuk ikut cerdas cermat kepemiluan di KPU. Tiba-tiba, saya malah dapat penugasan agak absurd. Jadi ceritanya, kantor saya menghelat sebuah konferensi internasional dengan mengundang banyak tamu dari negara-negara Islam di dunia. Eh kok ya, tiba-tiba nama saya ada di daftar Liaison Officer~

Ini perhelatan besar yang membawa nama baik kantor dan negara. Terus saya disuruh memegang satu delegasi dari negara-negara Islam. Pertanyaan pertama saya tentu saja: emang saya bisa? Tapi ya namanya juga PNS, apapun kudu siap. Termasuk tugas yang lumayan menantang ini.

Semakin takjub ketika H-1 penugasan, saya mengetahui bahwa saya akan memegang tamu dari Nigeria. Persoalannya adalah Nigeria merupakan salah satu delegasi terbesar (4 orang). Artinya, saya sendiri harus meng-handle 4 orang Nigeria. Semakin nggak kepikiran.

Dari daftar yang ada saya mendapati bahwa 1 dari 4 nama delegasi adalah orang kedutaan besar. Maka, dengan naik ojol, saya berangkat dari kantor ke Kedubes Nigeria di Kuningan sana. Sebuah pengalaman menarik bahwa saya bisa masuk ke dalam kedutaan bahkan sampai ke ruangan salah seorang petinggi. Kalau tidak salah, orang di bawah Dubes langsung.

Hal pertama yang saya tahu adalah mereka berempat itu tidak berkoordinasi satu sama lain. Ini mulai repot. Lebih repot lagi karena kemudian yang 3 sisanya juga dibagi 2. Pertama, Mr. Umar Musa seorang direktur di NAFDAC. Kedua, Ade dan Umar, saya lupa keduanya dari instansi mana.

Saya sendiri terlambat untuk mengenali Mr. Umar karena tidak terinformasi. Posisinya adalah saya mengetahui belakangan bahwa tamu saya itu sudah di kamar. Dengan nekat dan tentu saja boso enggres pas-pasan ala saya, menelepon langsung ke kamar menjadi alternatif tunggal agar koordinasinya mudah. Bukan apa-apa, bapak ini juga pembicara dalam konferensi. Jadi, saya nggak bisa ngasal mengurusinya.

Dua lainnya, beda urusan pula. Ade dan Umar datang tanpa booking hotel terlebih dahulu. Jadi, saya pertama-tama mengakses hotel yang sudah rekanan dengan panitia terlebih dahulu. Apalagi, mereka datangnya nyaris tengah malam. Itu ya saya tungguin sampai mereka masuk. Bahkan, saya duluin bayarnya, sebab mereka nggak pegang rupiah.

Lha wong baru datang.

Jadi, sepanjang konferensi saya berurusan dengan 4 orang dan 3 sumber kedatangan. Repot sih jelas sekali. Tapi lumayan, gara-gara mengurusi Mr. Umar, saya dapat jatah makan di hotel berbintang dan biasanya jadi langganan penginanan atlet-atlet badminton Denmark kalau main di Indonesia.

Secara umum, kalau menurut testimoni sih mereka puas dengan servis saya. Khusus Ade dan Umar sempat saya antar ke Sarinah untuk cari oleh-oleh, tapi kemudian saya lepas sendiri. Ada begitu banyak obrolan karena dari Senayan ke Sarinah pada sore hari itu macet sekali. Nanti kapan-kapan saya share kalau nggak lupa. Salah satunya sih Ade yang takjub melihat mamang nasi goreng.

Adapun Mr. Umar sang pejabat saya bawa ke Thamrin City untuk belanja-belanja dan habisnya lumayan. Terakhir, saya bawa ke salah satu lapak jamu kondang di dekat kantor dan dia membawa beberapa untuk oleh-oleh.

Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa sepanjang umur saya. Bisa mengakses orang yang langsung berbahasa Inggris, dari negara yang 11-12 dengan Indonesia, para pejabatnya pula. Dan secara umum merekanya juga puas dengan pelayanan saya.

Yha, lumayan~

Tentang Bahan Sosialisasi Pak Sekda

Salah satu hal yang menarik dari persiapan Pilkada tentu saja materi sosialisasi dari para calon. Sebagai orang Tangerang Selatan, yang saya lihat sehari-hari tentu tidak jauh-jauh dari beberapa orang yang siap maju. Beberapa diantaranya adalah Azmi Abubakar, Tomi Patria, Ruhamaben, serta tiga orang yang digadang-gadang sebagai calon paling kuat yaitu Pak Wakil Walikota, Pak Sekda, serta anaknya Pak Wakil Presiden.

Nah, salah satu bahan sosialisasi yang menarik dan sempat beredar di dekat Stasiun Jurangmangu pada bulan Desember 2019 adalah punya Pak Sekda ini. Dalam soal ini, saya rasa tim yang memasang alat peraga ini perlu diberi brief yang lebih jelas.

Pertama, tentu saja karena desainnya yang sangat biasa untuk profil setinggi Pak Sekda. Lebih gawat lagi tentu saja font-nya~ Banyak tim media sosial masa kini menggunakan Canva dan pilihan font-nya tentu jauh lebih mendingan.

Belum lagi penulisan nama dan gelar Pak Sekda yang nyaris tanpa tanda baca. Bpk Drs H itu masing-masing harus diakhiri oleh titik. Demikian pula gelar Pak Sekda itu tidak sembarangan nulis M.si. Kuliah S2 itu susah, coy. Nggak sembarangan lah nulis gelar.

Perihal tagline di paling bawah tentu tidak diragukan lagi. Namanya Sekda tentu merupakan orang yang bukan hanya mengerti, tapi paling mengerti kota tempatnya bertugas. Namun, alat peraga ini justru menimbulkan sedikit pertanyaan di kepala saya.

Begini, jikalau memang Pak Sekda adalah orang yang mengerti kotanya, mestinya tahu bahwa di kotanya itu banyak sekali tempat printing poster dan banner, tidak sedikit pula yang 24 jam bukanya. Di masing-masing tempat itu ada jasa desain pula dan untuk profil setinggi Pak Sekda nggak mungkin juga ditolak walaupun buru-buruk, kan?

Alat peraga yang semacam ini malah kontradiktif sekali. Meskipun tentu saja nggak ngaruh banyak. Pak Sekda, misalnya sudah berhasil mendapatkan rekomendasi dari salah satu partai yang dikenal sebagai partai anak muda. Partai anak muda mendukung Sekda. Sungguh sangat Mata Najwa, bukan?

Sementara calon-calon lain dengan desain poster lebih wow justru kalah kondang. Ya memang, sih, ini kan Pilkada yak, bukan lomba desain alat peraga~ Tidak jauh dari lokasi alat peraga ini, Pak Wakil Walikota petahana punya alat peraga yang lebih besar serta lebih rapi desainnya. Kalau kemudian nanti jadi bersua di medan laga, semoga alat peraganya lebih ciamik lagi ya Bapak-Bapak…

Pilih Nilai atau Nias?

Saya mau cerita agak pribadi sedikit. Alkisah, belasan tahun lalu, saya lulus S1 dengan IP pas-pasan. Kalau saya nggak salah, IPK saya adalah yang paling rendah dari 20-an mahasiswa yang lulus 3,5 tahun. Iya, lulus tapi IP-nya ambyar. Saya kebanyakan sampingan sih ketika S1.

Untunglah saya masih diberi sarana lain untuk memperbaiki diri, yaitu karena ada jalur berikutnya Profesi Apoteker. Saya sangat niat ketika itu. Buktinya, dari seluruh mata kuliah di Semester 1 alias seluruh kuliah teori di program profesi itu, nilai saya hanya A dan B saja. B-nya juga cuma dua. Kalau saya nggak salah, nilai B itu adalah di Compounding and Dispensing serta Etika dan Perundang-undangan.

Sisanya A. Bahkan untuk kuliah CPOB juga A. Saya jadi ada peluang untuk tampil sebagai lulusan terbaik. Lha kan tinggal mengulang 2 ujian saja, kok.

Semuanya tampak baik-baik saja sampai kemudian 2 pekan sebelum ujian saya mendapat penawaran yang sangat menarik tapi penuh dilema. Ya, sebuah peluang untuk mendapatkan pengalaman baru sebagai asisten fasilitator bidang obat dan logistik medis di…

…NIAS!

Selain nilai uang yang sangat lumayan bagi uang saku saya ketika itu, bisa pergi ke Nias juga menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Apalagi, project itu adalah penutup kerja Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Aceh-Nias 2004.

Intinya, sih, kalau saya berangkat ke Nias maka saya melewatkan kesempatan mengikuti 2 ujian ulangan yang berarti akan meniadakan mimpi saya mendapat nilai sempurna untuk semua mata kuliah. Tapi kalau saya menolak kesempatan itu, entah kapan lagi saya akan bisa pergi ke Nias.

Gamang sekali saya ketika itu. Sebuah pilihan menarik hadir ketika saya hendak lulus sekaligus memberi gambaran berbagai pilihan yang ada di depan mata ketika dunia kerja menerjang. Pada akhirnya, di dunia kerja (kecuali PNS) kita kan berhadapan dengan berbagai pilihan. Pindah atau nggak pindah dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, daya tarik untuk ikutan di Nias mengalahkan ambisi saya untuk bisa lulus dengan IP 4. Ketika sedang kuliah lagi sekarang ini saya juga sempat berambisi untuk IP 4, tapi saya realistis saja mosok ya di UI orang seperti saya bisa IP 4. Wkwk. Jadi, saya targetnya yang penting lulus saja.

Yha, 2 bulan kemudian kelulusan, IP saya 3.88 alias memang hanya ada 2 nilai B. Nilai B yang terjadi karena saya tidak mengulang ujian. Sementara yang dipanggil maju adalah teman saya, Rissa, sebagai IP 4. Plus, beberapa teman lain sebagai IP 3.92 alias 1 nilai B. Kalau ada juara tiga ya saya pasti kepanggil, tapi kebetulan nggak ada. Heuheu.

Walau demikian, ambisi itu ditukar dengan berbagai pengalaman menarik dalam kurang lebih 2 pekan saya di Nias. Mulai dari brengseknya birokrasi, enaknya seafood di Nias, bisnis apotek yang sangat menggiurkan, hingga tentu saja sekali-kalinya saya bisa sampai di Teluk Dalam, Nias Selatan. Oh iya, satu lagi, dalam perjalanan Jogja-Nias ini pula saya seumur-umur bisa menikmati kelas Bisnis Garuda Indonesia. Sesuatu yang justru sekarang ketika saya bolak-balik naik Garuda, tidak pernah terjadi lagi. Ketika itu, saya bersebelahan dengan manajernya Eko Patrio. Di kelas yang sama, ada Eko dan Ivan Gunawan.

Hidup itu adalah pilihan dan dalam hal ini antara nilai dengan Nias, saya memilih Nias dan tentu saja saya tidak menyesalinya~

Mengenal Tokoh-Tokoh di Peppa Pig

Saya diperkenalkan tokoh Peppa Pig oleh Mama Isto. Baginya, Peppa Pig adalah pilihan terbaik untuk memperkenalkan Bahasa Inggris kepada anak karena selain ceritanya nggak ribet-ribet amat, yang paling penting adalah pelafalannya sangat british. Sebagai lulusan Inggris, hal itu cukup krusial buatnya.

Kebetulan seminggu ini anak saya lagi doyan-doyannya nonton Peppa. Mengulang kondisi setahun lalu ketika awal mula diperkenalkan.

Melalui posting ini, saya mau memperkenalkan tokoh-tokoh dalam Peppa Pig. Rasanya Peppa Pig nggak akan diadaptasi ke Indonesia, soalnya babi. Ngok.

Klaster Babi

Tokoh utama tentu saja Peppa Pig, babi muda berusia 4 tahun yang hidup dengan Daddy Pig, Mummy Pig, dan adiknya George. Peppa gemar bermain dengan sohibnya Suzy Sheep. Peppa dikenal suka lompat-lompat di lumpur. Ya, namanya juga babi.

George Pig sendiri berusia 18 bulan dan paling suka dengan mainan dinosaurus hijaunya dan dibawa kemanapun. Sedangkan Mummy Pig adalah ibu-ibu babi yang work from home dengan komputernya. Secara umum, Mummy Pig lebih bijak daripada Daddy Pig. Sebab, Daddy Pig adalah bapak-bapak babi selow dan ketawa-ketawa mulu kayak kebanyakan utang. Suka naik mobil dan takut ketinggian.

Keluarga babi-babian lain adalah Granny Pig yang sebagaimana eyang-eyang lainnya, eyang babi yang satu ini suka memasak untuk cucunya. Oh, juga memelihara ayam. Granny Pig hidup bersama Grandpa Pig, yang merupakan salah satu tokoh favorit saya di Peppa Pig. Rajin menanam sayur-sayuran serta suka berlayar walaupun ngawur.

Aunty Pig dan Uncle Pig adalah klaster lain dari babi-babian. Aunty Pig dan Uncle Pig adalah orangtua dari Chloe Pig dan Baby Alexander. Uncle Pig sendiri adalah adiknya Daddy Pig. Uncle Pig identik dengan brewoknya. Chloe sendiri agak lebih tua daripada Peppa karena umurnya 9 tahun.

Klaster Rabbit

Daddy Rabbit sering disebut juga Mr. Rabbit, identik dengan aksen Wales-nya. Daddy Rabbit adalah bapaknya Rebbeca Rabbit, Richard Rabbit, Rosie Rabbit, dan Robbie Rabbit. Sebagaimana kelinci di dunia nyata: anaknya banyak. Mr. Rabbit adalah konco kenthel-nya Daddy Pig.

Istrinya Mr. Rabbit adalah Mummy Rabbit yang merupakan ibu rumah tangga sejati. Mummy Rabbit adalah kembarannya Miss Rabbit. Miss Rabit ini pekerjaannya paling absurd. Nyupir iya, jadi kasir juga iya. Atau kalau rajin mengikuti Peppa Pig, maka kita akan melihat bahwa Miss Rabbit ini betul-betul bekerja serabutan! Nyupir bis iya, jaga es krim iya, jaga perpus iya, kasir tadi sudah dibilang iya, pemadam kebakaran juga, penerbang helikopter juga dilakoni, bisa juga nyupir kereta api. Miss Rabbit dan Mummy Rabbit adalah anak dari Grampy Rabbit.

Grampy Rabbit adalah rabbit petualang yang eksentrik dan muncul dalam beragam episode absurd di Peppa Pig. Sempat ditunjukkan bahwa dia hidup di mercusuar. Iye, nggak paham juga gimana kelinci bisa lebih suka hidup di laut.

Adapun sepantaran Peppa-nya adalah Rebecca Rabbit. Teman baiknya Peppa dan kakaknya Richard plus si kembar Rosie-Robbie. Tetanggaan lubang dengan Molly Mole dan ya namanya kelinci, suka wortel.

Richard Rabbit sendiri adalah kalangan kecil yang kurang lebih setara George Pig dan Edmond Elephant. Umurnya ya sama, 2 tahun. Kalau si kembar umurnya masih nol, jadi betul-betul bayi seutuhnya.

Klaster Dog

Strukturnya sama, dimulai dari Granddad Dog dan Granny Dog. Granddad Dog ini teman-teman gimana gitu sama Grandpa Pig. Nggak jelas sebenarnya dia bapaknya Daddy Dog atau Mummy Dog. Yang jelas, Danny Dog adalah cucunya.

Granny Dog sendiri nyaris embuh karena jarang sekali muncul. Sementara Daddy Dog alias Captain Dog adalah pelaut. Mummy Dog juga terbilang jarang muncul cuma kurang lebih ya seperti mamak-mamak yang lain, baik dan sopan.

Mungkin klaster Dog ini agak patriaki karena yang tampil yang cowok-cowok saja. Danny Dog sebagai cucu juga terbilang sering muncul. Anjing berusia 4 tahun ini sering membantu Granddad Dog di garasinya serta ingin menjadi pelaut seperti Captain Daddy Dog.

Klaster Zebra

Tentunya dimulai dari Daddy Zebra dan Mummy Zebra. Ada Zoe Zebra, anak tertua dan adiknya Zuzu-Zaza. Zuzu dan Zaza adalah anak kembar berumur 2 tahun. Daddy Zebra atau Mr. Zebra adalah seekor tukang pos. Zoe sendiri sering membantu bapaknya. Adapun Mummy Zebra sering samaan dengan Mrs. Cow~

Sekian dulu, klaster hewan lainnya akan disambung pada post berikutnya. Tabik!

3 Atlet Bulutangkis Yang Wajib Dibuatkan Film Sesudah Susi Susanti

Dari sekian banyak olahraga yang beredar di Indonesia, harus diakui bahwa bulutangkis adalah olahraga yang konsisten dengan prestasinya sejak dulu kala. Kalaulah ada yang menemani dari sisi penyediaan prestasi tingkat dunia, mungkin angkat besi saja yang bisa. Paling terkenang tentu saja di London tahun 2012 ketika Triyatno meraih perak dan Eko Yuli Irawan bawa pulang perunggu Olimpiade. Pada tahun itu, bulutangkis Indonesia gagal total tanpa medali sama sekali.

Maka tidak heran jika bulutangkis menjadi topik menarik untuk dibuatkan filmnya. Film yang cukup kondang dari ranah bulutangkis adalah ‘KING’ yang begitu diingat pada zaman sekarang karena menampilkan Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya cilik.

Begitulah. Indonesia itu sangat bisa bersatu ketika olahraga, kala lawannya adalah negara lain dan bulutangkis adalah salah satu cabang yang bisa menjanjikan kemenangan. Terbukti ketika cebong dan kampret bersatu padu membela negeri di Asian Games 2018. Eh, sekarang cebong sama kampret apa kabar, ya?

Pada 24 Oktober 2019 lalu, giliran film ‘Susi Susanti’ yang tayang. Harus diakui, Susy Susanti—yang benar adalah pakai ‘y’—adalah salah satu nama yang nyaris selalu mewarnai prestasi Indonesia sejak akhir 1980-an. Susy belia memperpanjang nafas Indonesia di Piala Sudirman 1989 setelah menang 12-10 di game kedua atas Lee Young-suk, untuk kemudian menang dengan skor afrika 11-0 di game penentuan. Dua laga selanjutnya direbut Indonesia dan itu adalah pertama kali dan hingga kini satu-satunya momen Indonesia memenangi Piala Sudirman.

Gold Medal Indonesia GIF - Find & Share on GIPHY

Susy juga peraih medali emas perdana Indonesia di kancah Olimpiade sesudah mengalahkan Bang Soo-hyun di final. Alan Budikusuma—suaminya—juga adalah peraih medali emas, tapi rasanya agak berbeda karena yang dilawan di final adalah teman sendiri. Selain itu, Susy juga turut membawa pulang Piala Uber ke Indonesia pada 1994 dan 1996 setelah lama sekali piala itu tidak mampir dan sampai sekarang ya nggak mampir-mampir lagi.

Begitu sekarang jadi perpanjangan tangan Wiranto di lapangan sebagai Kabid Binpres, Susy juga menjadi orang Indonesia pertama yang memegang Piala Suhandinata, sebelum menyerahkannya ke Febriana Dwipuji Kusuma dan Leo Rolly Carnando. Yes, belum lama ini, Susy menjadi manajer tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior 2019 yang berlangsung di Kazan.

Dengan begitu harumnya nama Indonesia di kancah bulutangkis, sesungguhnya masih ada deretan atlet lain yang punya potensi untuk dibuatkan film dan punya potensi laris manis di pasaran.

Taufik Hidayat

Kalau Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992, maka Taufik Hidayat adalah peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena. Sejak 1992 dan selain 2012, Indonesia memang selalu meraih satu medali emas dan selalu dari bulutangkis. Taufik remaja mulai dikenal publik sesudah turut serta dalam tim di Asian Games 1998 yang meraih medali emas beregu putra.

Taufik Hidayat Smash 2 GIF | Gfycat

Soal kontroversi untuk dijadikan film, tentu saja Taufik punya banyak kisah. Dengan sederet prestasinya, Taufik yang sangat dikenal dengan backhand mematikan tersebut sempat berada dalam suasana kisruh dengan PBSI antara lain terkait dengan sosok pelatihnya, Mulyo Handoyo. Sampai sekarang hampir berumur 40 tahun dan terjun ke politik, Taufik juga dikenal dengan komentar-komentar pedasnya terutama untuk sektor tunggal putra.

Sebagai sosok bergelimang gelar, tentu saja setiap kritik dari legenda akan jadi pembahasan. Salah satu yang paling dikenang adalah dalam waktu singkat sesudah dikritik Taufik, dua tunggal putra andalan Indonesia, Anthony Ginting dan Jojo langsung bikin all-Indonesian final di Australia.

Dengan segala kontroversi yang melekat tapi tampang yang sangat baik-baik, Iqbaal Ramadhan adalah tokoh yang cocok untuk memerankan Taufik Hidayat.

Hendra Setiawan

Dewa Hendra adalah idaman kita semua dengan seluruh gelar yang sudah diraih dalam dua periode keemasan dan tiga kali keluar Pelatnas Cipayung. Julukan ‘Dewa’ sendiri bahkan diberikan oleh netizen Tiongkok yang sudah terlalu pasrah jika andalan mereka ketemu Hendra di lapangan.

Juara Dunia, Ahsan/Hendra Masih Sulit Samai Catatan 2013
Sumber: CNN Indonesia

Hendra juga sekarang sedang jadi kesayangan netizen pasca dua gelar bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia, pada tahun 2019, berikut lima kali bikin all-Indonesian Final bareng Minions, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang bikin netizen Indonesia bisa selalu jumawa pada tiap kejuaraan.

Film tentang Hendra Setiawan juga dijamin laku seiring kemunculan akun ‘Hendra Setiawan’ di YouTube dengan subscriber sudah puluhan ribu. Belum setara Atta Halilintar, sih, tapi pertambahan subscriber-nya terbilang eksponensial untuk sebuah akun yang foto profilnya saja masih huruf H.

Nama Ernest Prakasa adalah tokoh yang cocok untuk menggarap film ini sekaligus jadi bintang utama. Alasan utamanya adalah Ernest selalu menggarap film dengan konsep berbeda dan biopik sejenis Susi Susanti yang dikerjakan oleh Daniel Mananta belum ada dalam daftar karyanya.

Fitriani

Sejak Susy pensiun dan kemudian disusul pindahnya Mia Audina ke Belanda. Indonesi nyaris tidak punya tunggal putri yang mumpuni. Secara kebetulan pula Fitriani muncul pada saat yang salah, di era netizen dengan komentar tanpa adab.

Fitriani ikut di Piala Uber 2016 dalam usia 18 tahun, langsung jadi tunggal kedua sesudah Maria Febe Kusumastuti. Pada tahun itu dan sebenarnya sampai sekarang, sektor putri Indonesia masih agak bermasalah. Karena adanya cuma Fitri, maka dalam periode sejak 2016 itu hingga munculnya Gregoria Mariska Tunjung, Fitri hampir selalu dikirim ke berbagai kejuaraan internasional dan hampir selalu kalah di putaran pertama atau kedua.

Fitri muncul bersamaan dengan ramainya akun bulutangkis di media sosial sekaligus kelahiran Minions. Jadi, satu rombongan Indonesia ke kejuaraan manapun akan selalu diperhatikan, termasuk ketika nyaris selalu hanya sisa Minions di hari Minggu dengan Fitriani yang selalu kalah di awal.

Kondisi itu bikin Fitriani selalu jadi korban perundungan kejamnya netizen—yang sebenarnya kalau dites bisa servis dengan baik atau tidak ya paling belum tentu bisa. Padahal, ya kondisinya Fitriani dikirim karena yang bisa dikirim memang cuma dia. Dan kalaupun kalah, ya namanya juga atlet muda. Nggak semua atlet muda bisa semoncer Susy Susanti atau An Se-young, atlet remaja Korea yang tahun ini lagi gila-gilanya.

Fitriani baru dapat teman sesama dirundung netizen pasca Jorji naik kelas ke senior. Jorji menjadi lebih seksi untuk dirundung karena dia naik dengan status juara dunia junior tunggal putri dan punya pacar artis. Jorji dalam setahun sukses menyalip Fitriani namun penampilannya cenderung menurun tahun 2019 ini. Sementara itu, Fitriani sempat menghentak netizen julid lewat gelar di Thailand Masters pada awal tahun 2019. Gelar pertama di sektor tunggal putri sesudah sekian purnama.

Resep Fitriani Juarai Thailand Masters 2019 - Ragam Bola.com

Sebelum dibikin film, sebenarnya sinetron azab lebih dahulu bisa dibuat untuk konteks Fitriani. Tentunya jalan ceritanya menyangkut para netizen kejam di komentar-komentar Instagram dan livechat streaming di YouTube. Beberapa usulan saya adalah “Sering Nanya Fitriani Kapan Main, Seorang Netizen Meledak Karena Ditanya Kapan Nikah” atau “Azab Menyuruh Fitriani Ngulek Bawang di Dapur, Seorang Netizen Pingsan Ketiban Ulekan”.

Seriusan, khusus Fitriani, perundungan di linimasa itu sangat kejam. Untungnya, Fitriani sendiri tidak punya media sosial dan sebagaimana testimoni Putri KW, Fitriani adalah atlet senior yang paling rajin saat latihan.

Kalau ada aktris yang bisa dicoba untuk memerankan Fitri, kemungkinan adalah Rina Nose. Pertama-tama tentu karena Rina adalah aktris yang tabah luar biasa dalam menjawab komentar-komentar tidak beradab di media sosialnya.

Segitu dulu. Jangan tanya soal Kevin atau Jojo, yha. Nanti kapan-kapan tentu ada pembahasannya.

Corona yang Mengembalikan Fungsi Orang Tua

Sekolah-sekolah di banyak tempat ditiadakan. Bukan libur, melainkan belajar dari rumah. Berhubung ini era modern, maka belajarnya juga menggunakan yang online-online. Dalam 2 hari awal saja, KPAI langsung turun tangan sebagai orang-orang tua yang merasa mewakili anak-anak. Katanya, banyak siswa stres selama program belajar di (atau dari?) rumah. Sementara belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kaget bahwa di Indonesia banyak yang belum punya listrik apalagi televisi.

Nadiem Makarim Investigasi Ambruknya Bangunan Sekolah di Pasuruan ...
Sumber: NET Z

KPAI kayaknya belum tahu, bahwa orang tua justru lebih stres. Sebagian teman-teman saya yang mamak-mamak, menuju hipertensi hanya dalam sepekan. Sebagian lainnya mulai merasa bahwa program belajar dari rumah ini bisa bikin renggang hubungan dengan anak. Soalnya sepanjang waktu si orangtua bertensi tinggi terus sama anaknya.

Seorang teman, PNS yang sedang kuliah alias tugas belajar, punya 2 anak yang masih SD dan dua-duanya terkena program belajar dari rumah. Jadwalnya, astaganaga, padat betul. Aslinya mirip dengan sekolah, hanya saja gurunya ada nun jauh di sana, dilengkapi dengan tugas-tugas yang bikin stress itu tadi.

Nah, ini juga musim Ujian Tengah Semester (UTS). Saya lalu bertanya kepada teman tersebut, “tugas kuliahmu bagaimana, Mbak?”

Jawabannya tentu saja: TIDAK TERPEGANG.

Stressed GIF by SpongeBob SquarePants - Find & Share on GIPHY

Yha, selama ini kesehariannya adalah mengantar anak ke sekolah, lantas menuju kampus untuk kuliah atau sesekali mlipir ke kafe untuk mengerjakan tugas. Si anak ada di sekolah, bersama gurunya, jadi dia bisa fokus kuliah dan garap paper.

Sekarang? Selain masak dan mengurus rumah, dirinya harus mengelola dua anak SD dalam pembelajaran jarak jauh, sementara dirinya sendiri juga harus kuliah jarak jauh. Belum termasuk tugas paper yang mendekati tenggatnya.

Saya sih belum mengalami kondisi seperti itu. Anak saya baru 2 tahun lebih banyak. Hanya saja, paralel dengan sekolah, daycare anak saya juga ikutan tutup. Sementara istri saya adalah pekerja rumah sakit. Musim COVID-19 ini justru adalah medan perang baginya. Walhasil, saya yang sedang kuliah ini juga harus mengasuh bayi sembari mengerjakan tugas dan tentu saja harus nongol di kamera dalam perkuliahan jarak jauh.

OK COMPUTER SOLUTION: MASALAH KEYBOARD TAK BOLEH TEKAN | REPAIR ...

Kadang-kadang saya membatin, alangkah kuatnya para aunty pengasuh anak saya di daycare. Dengan 12 anak, aunty hanya berempat. Saya anak satu, anak sendiri pula, kadang naik darah dengan kelakuannya, bagaimana dengan para aunty?

Hal yang sama juga terjadi pada hubungan orangtua dan guru. Dengan anak belajar di rumah, orangtua jadi tahu bagaimana keseharian anak sebenarnya ketika belajar dan mendapati tugas-tugas. Biasanya kan selama berjam-jam anak dilepas bersama guru. Beberapa guru senior bahkan bilang, “Lha, baru 3 hari sudah naik darah? Kami lho 3 tahun bersama mereka.”

Problematika serupa tentu juga dirasakan para pelaku Work from Home (WFH). Bekerja di rumah itu jelas auranya beda. Sudahlah auranya mager—namanya juga di rumah—eh ada anak juga yang harus ditongkrongi belajarnya, pekerjaan sendiri juga harus diselesaikan. WFH kalau dijodohkan sama School from Home (SFH) kayaknya jadinya adalah WTF.

Belum lagi paket data yang harus disediakan. Dalam kasus saya, paket data itu harus dikali dua karena harus standby YouTube BabyBus, Pinkfong, maupun Tayo untuk sang buah hati.

Tayo Gif GIF | Gfycat

Dilema juga dirasakan para guru dan dosen. Sebagian guru tetap disuruh masuk ketika muridnya libur dan mereka menggelar pembelajaran jarak jauh dari kantor. Para guru itu kemudian bikin soal pilihan ganda yang cukup viral perihal alasan guru tetap disuruh masuk ketika pandemi Covid-19 dengan pilihan antara lain: guru adalah virus Corona itu sendiri, guru adalah profesi yang kebal virus Corona, serta guru termasuk umbi-umbian.

Bagi para guru dan dosen yang bisa bekerja di rumah, perkaranya juga tidak mudah. Kalau dosen S2 okelah, rata-rata kan beasiswa atau orang-orang bekerja yang kuliah lagi. Sederhannya, punya duit. Beda kasus dengan dosen anak D3 dan S1 yang notabene sebagian mahasiswanya adalah anak kosan yang paket internetnya harian dan biasanya sepanjang waktu juga mengadalkan WiFi Kampus. Kalau harus pembelajaran dari rumah, repotnya setengah mati karena nggak semua mahasiswa cukup mampu untuk menyediakan paket data yang memadai untuk konsep kuliah tatap layar.

Kalau KPAI bilang banyak anak stres, percayalah bahwa kalau ada Komisi Perlindungan Orangtua Indonesia, maka ada banyak orangtua yang juga stres, ya karena faktor pekerjaan, faktor anak-anak juga. Jadi, ya sama saja.

Akan tetapi, kita pada akhirnya kembali pada fitrah. Bukankah seharusnya belajar anak itu adalah tanggung jawab orangtua? Dalam konteks saya yang anaknya masih batita, bukankah memang mengasuh anak sehari-hari juga adalah tugas orangtua?

Kala anak saya nongol di layar ketika kuliah sedang berlangsung, saya kemudian menyadari bahwa ya beginilah konsekuensi menjadi pekerja atau mahasiswa sekaligus menjadi orangtua. Jika selama ini saya lebih banyak menyerahkan tumbuh kembang anak ke aunty sementara saya santai garap tugas di kafe, kini sayalah yang sepanjang waktu bertanggung jawab pada perkembangan buah hati sendiri. Sulit? Pasti.

Tapi bukankah dalam kondisi sekarang, hanya ini yang bisa dilakukan?

Semoga sesudah semuanya ini berakhir, nggak ada lagi orangtua yang ngamuk-ngamuk ke guru kalau mendengar kabar anaknya didisiplinkan, karena sudah tahu benar bahwa dirinya sudah naik darah duluan dengan kelakuan anaknya ketika belajar.