Tag Archives: refleksi

Tentang Mereka yang Tidak Lagi Bersama

Usia Facebook saya pada Januari 2026 ini adalah 17 tahun. Sudah cukup matang sebagai sebuah akun media sosial. Paling berasa di Facebook itu adalah ketika setiap hari dia merilis unggahan kita bertahun-tahun silam. Konten-konten masa muda yang kalau direfleksikan sekarang adalah perihal:

“ngapain gue ngetik beginian dulu?”

Salah satu momen yang kerap muncul adalah dokumentasi kehadiran saya pada pernikahan teman-teman. Kalau diingat-ingat, dulu itu saya cukup ekstrim juga urusan kondangan ini. Paling ekstrim adalah ada waktu Ketika saya kondangan pagi di Bekasi, malamnya di Surabaya. Pada pernikahan pertama dari personil kumpulan saya waktu kuliah yang Bernama UKF Dolanz-Dolanz, saya terbang langsung dari Padang ke Jogja di 1 Januari 2012. Belum lagi kisah-kisah naik kereta untuk menghadiri pernikahan di Bandung, Jogja atau Ambarawa.

Memang ihwal pertemanan ini menjadi penting karena kemudian mayoritas teman yang saya hadiri pernikahannya itu lantas hadir waktu pernikahan saya di Bandung tahun 2016. Benar-benar datang dari Jakarta ke Bandung untuk kondangan saya. Keren, sih.

Sambil terus menggulirkan layar media sosial berselang-seling dengan warta perselingkuhan dan perceraian figur publik, saya lantas menyadari bahwa ternyata tidak semua pernikahan yang saya hadiri dalam 17 tahun tersebut masih berada di jalur yang sama.

Ada pernikahan yang melibatkan saya sebagai pendamping pengantin pria dan usianya tidak panjang karena teman saya tersebut meninggal dunia. Ada pula beberapa pernikahan yang saya hadiri dengan cukup upaya dan kini mereka sudah menjalani hidup masing-masing, baik dengan pasangan baru maupun tetap sendiri.

Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Di usia pernikahan yang baru akan 10 tahun pada 2026 ini serta kondisi negara yang model begini, saya cukup bisa memahami bahwa hidup berumah tangga bukanlah perkara mudah. Kalau menurut AI Consensus, berakhirnya rumah tangga umumnya didorong oleh pertengkaran dan ketidakharmonisan yang terkait erat dengan tekanan ekonomi, disertai perselingkuhan, KDRT, campur tangan keluarga, dan konteks perubahan sosial.

Saya tentu tidak punya nasehat pernikahan, sebab kalau saya jago maka saya akan daftar Seksi Kerasulan Keluarga di paroki dan jadi pembicara di giat Membangun Rumah Tangga. Saya sendiri bersama istri masih terus belajar membangun rumah tangga yang baik.

Saya juga tidak akan memberikan opini apapun pada teman-teman yang memilih untuk pisah jalan karena saya tidak tahu masalahnya. Satu hal yang saya pahami adalah bahwa setiap orang berusaha mencari solusi atas permasalahannya masing-masing dan boleh jadi perpisahan itu adalah solusi.

Semoga teman-teman semua sehat dan bahagia selalu, yha~

Sebuah Pagi Bersahaja di Pantai Sanur

photogrid_1464103239473.jpg

Pagi hari, berbekal perut penuh babi guling yang enaknya setengah mati, saya terjaga. Pagi yang biasa di sebuah kota nan tidak biasa, namun lama-lama ya biasa juga. Mungkin yang bikin tidak biasa adalah karena begitu saya terjaga dan melangkah keluar kamar, tanah bisa langsung dijejak dengan sempurna. Kota kesebelas, baru kali ini dapat kamar yang menempel langsung pada tanah. Bukan mengawang strata title layaknya di kota-kota lainnya.

Sebuah pagi yang kesekian ribu dalam hidup. Namun pagi yang semacam ini selalu berbeda, tentu saja karena tempatnya berbeda. Di kota pertama, Kendari, saya memberanikan diri untuk keluar hotel sendirian menyusuri pantai teluk yang penuh sampah, semata-mata hendak menikmati matahari yang terbit begitu tenangnya. Di Manado saya beranjak pagi-pagi buta untuk mencari Tuhan, yang ternyata ada persis di sebelah hotel. Di Jayapura, saya melintas sepinya hari sabat untuk merasakan pagi yang berbeda di pulau surga. Sebuah pagi pada prinsipnya selalu berbeda, apalagi ketika pagi itu tiba ketika kita sedang berada dalam sebuah perjalanan.

Maka, pagi itu kedua kaki saya lantas menempel pada sandal hotel berwarna khas, karena saya memang tidak membawa sandal. Langkah demi langkah kemudian membawa saya melintasi gerbang lapangan golf, homestay-homestay kecil, sisa-sisa malam nan belum berakhir, dan aroma laut yang tiada bisa ditipu. Semuanya khas pagi yang saya rindukan. Pagi yang tidak tergesa-gesa, pagi yang sunyi dan tenang, pagi yang bersahaja.

Tidaklah cukup jauh kaki saya melangkah untuk kemudian jejak pada aspal berpindah menjadi jejak pada pasir. Ya! Pantai! Aroma laut, angin khas penuh lembab, hingga desir ombak menjadi satu di dalam otak melalui panca indera.

photogrid_1464102893272.jpg

Inilah Pantai Sanur. Sebuah nama yang bertahun-tahun silam hanyalah sebuah mimpi bagi saya. Menginjakkan kaki di Bali adalah suatu ketidakmungkinan pada suatu masa, namun lantas menjadi sebuah probabilitas yang begitu mudah pada masa lainnya. Dan kini saya telah menginjak Bali, setelah terlebih dahulu melihat Jalan Mandara dari atas langit. Jalan yang hanya tinggal diisi tanah saja, sudah bisa mengubah tol tengah laut menjadi tol pinggir laut. #TolakReklamasiBali

Matahari terbit dengan jelas, meski langit tidaklah cerah benar. Perlahan dia tampak naik, meski sebenarnya bumi yang berputar. Terang perlahan-lahan membuat dirinya paripurna sebagaimana hakikatnya. Sementara itu, saya menyibukkan diri dengan menghirup segar udara pantai. Ah! Surga nan sederhana.

Cukup banyak orang yang menghabiskan waktu dengan berendam di Pantai Sanur ini. Tampaknya hidup mereka begitu selow, sementara saya sebentar lagi harus bergegas mandi, makan, berangkat, bekerja, kemudian kembali ke Jakarta. Adakah nanti kiranya waktu bagi saya untuk menikmati kehidupan layaknya mereka? Oh, saya rasa tiada perlu. Toh, saya sekarang justru tengah menikmati kehidupan via kesempatan yang diberikan untuk menjejakkan kaki di Bali.

photogrid_1464102953399.jpg

Sementara mentari bertambah tinggi, tampak anjing-anjing muda berkejaran satu dengan lainnya di sela-sela bebatuan yang ada di pantai. Ada yang tercebur ke laut, mencoba berenang sendiri dengan susah payah, namun lantas berhasil mencapai bebatuan dan bermain kembali tanpa tampak takut akan terjatuh lagi.

Begitulah. Sanur di pagi hari menawarkan kesahajaan. Entah jika saya datang lagi di siang atau sore hari. Entah pula jika saya datang ke Kuta pada pagi hari, mungkin saya bisa beroleh pagi nan bersahaja pula. Bukankah hidup ini adalah soal kesempatan yang mungkin kita dapat dan semaksimal mungkin usaha kita untuk mengelolanya?

Maka dengan paru-paru yang penuh saya berbalik pulang, pulang dalam terminologi pendek–tentu saja. Meninggalkan pagi yang bersahaja di Sanur, sambil berharap jiwa pagi itu bersemayam dalam hati nan penuh gegabah ini.

Tabik.

Happy Reborn

Suatu hari di bulan Januari 2011–sepertinya di komputer mess–saya mengetik posting ini.

Kalau malas klik link-nya, saya tulis kembali disini:

Terima kasih kepada Mbah Google yang membawaku kembali ke dunia yang sangat kucintai ini. Berawal dari sekadar mengetik sebuah keyword, aku menemukan kembali sebuah blog yang penuh dengan kisah-kisah dan refleksi menarik. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari diriku.

Jadi, mari kita restart.

Ibarat komputer, ketika dia hang, maka langkah tercepat adalah melakukan restart. Dan segera ia akan kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

So, mulai hari ini, aku akan kembali!!

Semangat!!!

18 Januari 2011, dan sekarang 18 Januari 2013. Sudah 2 tahun pas kebangkitan kembali blog ariesadhar.wordpress.com, yang tiga hari silam saya migrasikan ke ariesadhar.com

2 tahun yang memberi makna bahwa saya bisa menulis tanpa henti (dengan record archive yang tidak ada bulan bolong). Semoga hal itu tetap bisa dipertahankan.

Dan semoga ada banyak hal yang bisa saya perbuat melalui dunia yang sangat saya cintai ini. 🙂