Di Ujung Horison

Bahwa hidup itu seperti memandang horison, aku sungguh paham itu.
Sesuatu bisa dengan mudah kamu lihat.
Tapi tak seluruhnya.
Siapa yang tahu ada apa di balik horison itu?
Sampai Colombus dianggap orang gila karena hendak mencari tahu.

Dan jangan kamu pungkiri, bahwa kamulah ujung horison itu.
Aku masih bisa melihatmu, menikmati keindahanmu.
Sedikit menikmati sisa ombakmu yang sampai ke tempat aku berdiri.
Tapi kamu akan tetap disana, di tempat itu.

Aku tidak bisa kesana.
Aku tidak bisa berenang, dan lebih lagi, aku tak tahu ada apa dibalik horison itu.
Dan aku bukan Colombus.

Aku hanya berharap bisa seperti Colombus.
Berani dibilang gila, berani dianggap aneh.
Untuk membuktikan kebenaran yang dia percayai.

Lantas aku?
Apakah kebenaran yang aku percaya?

Satu-satunya kebenaran itu adalah bahwa hatiku hanyut, menuju ujung horison, tersimpan nyaman disana.

Tahukah kamu soal itu?

Tak perlu.

Simpan saja hatiku.
Sepenuhnya itu milikmu.

 

 

Tes Kepribadian

Teman-teman pasti sudah tahu soal tes kepribadian, yang isinya melankolis, sanguin, dan kawan-kawannya.. Nah, ini ada file, yang bisa diunduh dan sedikit bisa memberikan gambaran tentang kepribadian yang dimaksud.

Hehehe..

Monggo cedikot.

TES KEPRIBADIAN

Semoga bisa membantu menggalaukan.. #halah

Tampannya Mantanmu

Pendekatan adalah bagian cukup sulit dalam mencari jodoh, bagian yang agak sulit itu melakukan rekonfirmasi alias nembak, dan bagian paling sulit adalah mempertahankannya. Nah, karena sama-sama SULIT, maka mencari jodoh itu tampak penuh warna. Apalagi untuk Rio yang dikejar target kudu punya cewek.

Siapa yang kasih target?

Nggak ada sih. Cuma, menurut Rio, nggak wajar kalau kemudian memperkenalkan diri begini:
Nama: Rio Adam
Status: Jomblo sejak lahir

Astaga! Ini sudah mendekati usia 25. Dan dalam waktu dekat, Rio akan merayakan PESTA PERAK JOMBLO, alias 25 tahun menjomblo pada usia 25 tahun. Artinya lagi, Rio akan diketahui sebagai cowok yang belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Mengganggu, ya tidak juga. Tapi ketika hormon lagi tinggi, melihat pasangan pacaran peluk-pelukan di atas motor waktu lampu merah sudah cukup meningkatkan tensi. Entahlah, apakah punya itu suatu keharusan?

Rio punya standar yang tinggi. Kalau Rio mau, pasti dengan mudah dia memperoleh cewek. Ya tinggal bilang sama bude-budenya, pasti bisa dikenalin sama kembang desa. Bayangkan, kembang desa loh ini. Fisik? Pasti oke. Otak? Bagaimanapun, manusia itu punya otak, dan itu bisa diisi dengan belajar.

Masalah paling mendasar adalah spesifikasi material eh pasangan hidup Rio itu rada ribet. Harus dari suku tertentu, nggak enak ngomongnya, nanti dikira saru eh SARA. Harus usia sekian, harus tampang demikian. Dan spesifikasi lain yang ketinggian untuk dipasangkan dengan muka pas-pasan ala Rio.

Yah, pas-pasan pokoknya. Pas orang mau gampar, ya bisa, saking mukanya Rio itu MARMOS alias marai emosi alias melihat aja sudah bisa bikin emosi. Belum lagi kalau pas di mall, karena mukanya itu, paling mentok Rio hanya ditawarin es krim, padahal pernah 2 jam ngubek-ubek pameran mobil, ditawarin brosur saja nggak. Malah satpam mengikuti sepanjang waktu. Yah,PALING alias tampang maling. Bayangkan seorang cowok dengan tampilan PALING MARMOS, tampang maling marai emosi. Kayak gitu aja spesifikasi minta tinggi. Ngawur! Dari sisi tampang, Rio ini ibarat bumi dan langit sama cowok paling tampan sekantornya, Sammy. Meski tidak pakai marga Simorangkir, tapi Sammy yang ini tampannya memadai. Saking memadainya, ketika melihat Sammy dan kemudian melihat Rio, 80% orang akan muntah dengan segera, 10% lain akan masuk UGD, dan 10% lainnya kehabisan napas. Shock.

Hasil penelusuran Rio, dengan bantuan rombongannya yang rata-rata sudah berpacar, rekomendasi mengarah pada staf di kantor seberang, namanya Dina. Nama klasik, kayak Dina Rahman. Ada ya?

Pengalaman sebagai cowok dengan riwayat pendekatan memadai, membuat naluri detektif Rio cukup terasah. Maka dengan mudah, Rio bisa mengetahui tentang Dina. Tanggal lahir, nomor telepon, alamat rumah, pekerjaan orang tua, hingga riwayat percintaan orang tua Dina. Sungguh sesuatu, begitu kata Syahroni.

Cuma ya itu tadi, namanya juga pengalaman pendekatan, berhubung belum ada yang berhasil, jadi tidak ada yang paham guna data-data itu tadi.

Menunggu bus adalah pekerjaan paling menarik bagi Rio beberapa hari belakangan. Kupingnya bagaikan penangkap sensor. Harap maklum karena kantor seberangpun kalau nunggu bus di halte yang sama dengan anak-anak kantor Rio, dan tentunya Rio juga. Makanya, sedikit diksi Dian terlontar, telinga Rio akan mendekat ke arah pembicaraan lalu kembali lagi setelah pembicaraan usai. Pernah sekali telinganya kebawa bus karena pembicaraan belum selesai.

“Iya tuh.. Si Dina kan masih single. Kebanyakan milih dia mah…” kata cewek yang tampan.

Single? Wah, peluang!

“Padahal ya cyinnnn… mantannya gantenggg boooo…” timpal cowok yang kemayu.

Yah, dunia memang mudah berotasi. Bahkan jenis kelamin kadang ikut berotasi juga.

“Setampan apa sih?” gumam Rio. Apakah cukup tampan atau pas tampan, atau pas-pasan dan tidak tampan macam dia?

Maka informasi ini kemudian dibawanya sampai jauh, akhirnya ke laut. Pelan-pelan komunikasinya dengan Dina mulai dijalin. BBM mulai dilancarkan, meski terkadang tanpa balasan. Itu biasa dalam pendekatan. Tapi tidak biasa dalam hubungan.

“Soreeeee.. Mendung nih.. Pulang?”

Send. Sebuah pesan Whatsapp disampaikan, paket BBM lagi habis. Harap maklum. Ini tanggal tua, saking tuanya, si tanggal sampai ubanan.

“Belum ah.. Nanti aja..”

Pesan-pesan mulai saling berbalas antara Rio dan Dina. Terus menerus, sampai mentari terbenam, sampai OB mengantarkan makanan ke meja masing-masing, sampai keduanya makan bersama. Ya sama-sama makan, di kantor yang berbeda. Anggaplah penjajakan untuk makan bersama.

Pesan berjalan sampai yang agak pribadi.

“Sudah berapa kali pacaran sih?” tanya Rio iseng.

“Sekali doang. Kamu?”

“Saya sih sudah sering. Sering ditolak.”

“Wah, kasihan. Mukanya nggak memadai ya?”

Asem. Pikir Rio. “Mantannya anak mana Din?”

“Nggak jauh-jauh. Itu ada di kantor kamu.”

Lho? Taring kepo mulai keluar. Kepo adalah penyakit berbahaya yang kadang-kadang perlu digunakan, sesekali.

“Siapa?”

“Yakin mau tahu?”

“Yakin! Siapa sih? Mau ngetes aja, siapa tahu saya menang ganteng.”

“Sammy.”

Upssss…. Dina ini mantannya si Sammy? Dan dia baru sekali pacaran? Artinya, kalau nanti Rio jadian sama Dina, maka pertanyaan dari teman-teman yang mungkin terjadi adalah, “Kok nggak seganteng yang kemarin?” atau “Ini dapat peliharaan darimana?”

“Mantanmu terlalu tampan Din. Aku tak cari yang lain sajalah,” gumam Rio, sambil menutup laptopnya dan bergegas pulang.

Beringsut

Sekadar komentar, diksi saya memang agak aneh, mohon dimaklumi.

Kalau di posting sebelumnya ada istilah beringsut, ini dia. Dikutip dari sini.

ing·sut v, ber·ing·sut v bergeser sedikit-sedikit; beralih perlahan-lahan: dia ~ ke kiri dan ke kanan; meng·ing·sut v beringsut; bergeser; meng·ing·sut·kan v menggeserkan (memindahkan) perlahan-lahan: anak itu ~ duduknya ke samping ibunya; ing·sut·an n hasil mengingsut; ~ fase Fis sudut fase antara sinyal masukan dan keluaran pd suatu gejala atau sistem

Mohon dipahami ya.. 😀

Damri Cikarang – Bandara

Untuk akses ke bandara dari Cikarang sebenarnya mudah, tapi khusus penghuni Jababeka II.. hehehe.. Pool bus Damri arah Bandara ada di Plaza Jababeka. Jadi dekat patung kuda. Mungkin boleh tanya si kuda kalau kesasar, dari posisinya, sang kuda melihat terus itu halte. Hehehe..

Tarif mendasar, kalau nggak salah bulan Desember kemarin 30 apa 35 ribu begitu. Busnya lumayan, karena memberikan tempat untuk tas. Cuma ya sempit sih kalau duduk.

Bus ini berangkat dari jam 04.00, 05.00, 06.00, 07.00, 08.00, 09.00, 10.00, 11.00, 12.00, 13.00, 14.00, 15.00, 16.00, 17.00, 18.00 alias setiap jam dimulai dari jam 4.

Ya nggak tepat-tepat amat sih.. Normalnya, bus akan lewat patung kuda, lalu masuk ke jalan Cikarang-Cibarusah, lalu masuk tol. Jadi, bisa juga nunggu di tepi-tepi jalan itu daripada capek ke Plaza JB. Berharap saja tidak penuh. Bus juga akan masuk di Grand Wisata, putar sekali lalu masuk tol lagi.

Kalau berangkat jam 5, belum sampai jam 7 sudah sampai Bandara. Selainnya, saya nggak pernah naik, jadi mohon maaf lahir batin kalau infonya kurang memadai.

Untuk pulangnya, alias dari Bandara ke Cikarang, tertulis sih ada dari jam 6.00 sampai 21.00

Masalahnya, leadtimenya kadang lama. Dulu pernah nunggu 3 jam. Itu ditambah bus putar-putar cari penumpang 3 kali, baru berangkat. Tapi yang pasti sih ada. Makanya, kalau hendak ke Cikarang usahakan sampai jam siang, sehingga waktu menunggu bisa lama dan pasti ada kendaraan ke Cikarang dengan harga terjangkau.

🙂

Shuttle Bus Lippo Cikarang – Jakarta (PP)

Lippo Cikarang katanya adalah kota terlengkap di timur Jakarta. Iyakah? Hmmmm.. Yah, mungkin lengkap juga sih. Karena Lippo Cikarang adalah kiblat menghibur diri, bagi warga Cikarang. Kalau mau ke Bekasi kadang jauh bin malas, jadi ya sudah ke daerah selatan saja.

Lippo juga punya bus Shuttle ke Blok M yang agak enakan, dengan tarif terkini Rp. 13.000,- yang sesudah BBM naik, tarifnya jadi Rp. 15.000,- Habis BBM naik lagi, kabarnya jadi 22.000, tapi saya belum nyoba lagi.

Bus yang digunakan adalah Bus AO dengan jadwal sebagai berikut:

sumber: blognyarumah.wordpress.com

Lewatnya biasa sih, Senayan dan sekitarnya sampai blok M.

Bus tidak masuk terminal, tapi berhenti di Jalan Palatehan, dekat lapangan. Kalau mau naik dari Palatehan, cek dulu, karena juga ada shuttle bus ke Sentul. Demikian juga yang di terminal Lippo, cek dulu ke Sentul atau ke Blok M. Soalnya itu nyasarnya krusial.

Ada juga shuttle internal dengan jadwal kayaknya antara jam 6-9 kemudian 12-15 dan rasanya ada satu lagi. Shuttle-nya dua jenis, satunya ke arah Lembah Hijau, satunya Cibiru-Cibodas. Jangan tertukar ya. Lumayan juga kalau jalan kaki itu. Soal tarif? Kemaren saya Googling katanya 2500, tapi kok pas bayar malah ditagih 5000. Makanya, saya bingung.

Beginilah Pria, Beginilah Wanita

Yona masih terjaga, tapi kantong matanya jelas memperlihatkan bahwa dia sudah ngantuk, sangat ngantuk malah. LCD TV sesekali sudah menonton Yona yang terkapar di sofa. Hari sudah jam 11 malam, Yona masih disitu, tidak ke tempat tidur. Yah, teman untuk tidur bersamanya masih belum sampai di rumah. Alan masih belum bersamanya di rumah.

“Aku nggak suka kamu pulang malam. Kamu masih ingat aku nggak? Masih ingat rumah nggak?” Yona mengingat perkataannya, marah tentunya. Dan itu belum lama. Baru tadi pagi, jam 1. Dan belum 24 jam, Alan kembali mengulangi hal yang sama.

“Aku kan nggak main, aku nggak selingkuh, aku nggak mampir-mampir. Aku kerja, sayang,” kilah Alan.

“Justru! Kalau kamu main dan bukan kerja, aku nggak marah. Kamu nggak ingat kesehatan kamu?”

Alan diam saja, melepas kemeja, dan segera pergi mandi.

Ini bukan pertengkaran yang pertama. Mungkin bulan ini sudah yang ketujuh belas. Kebetulan ini sudah tanggal 30. Hanya ada 13 hari tanpa marah-marah. Dan 8 diantaranya Sabtu-Minggu. Jadi, sebulan ini, Alan pulang tepat waktu 5 kali. Ya! Hanya 5 kali.

“Apa aku perlu telepon bos kamu?” teriak Yona pada Alan yang masih di kamar mandi.

“Woooo.. jangan dong sayang..”

“Jadi besok pulang on time?”

“Diusahakan…”

Yah, jawaban paling diplomatis dari seorang pria. Pria ya begitu itu, janji melulu, akan diusahakan. Paling mentok tahan seminggu, sisanya? Ya kayak biasa lagi.

* * *

Alan memacu mobilnya dengan kencang. Jalan tol di malam hari dapat didefinisikan sebagai jalan bebas hambatan yang sebenarnya. Dan ini sudah jam 11 malam. Hari ini banyak meeting. Ada demo, pekerjaan stop, sehingga Alan perlu mengatur jadwal pengiriman dan seabrek pengaturan lainnya. Resiko jadi Manager PPIC.

“Yona pasti marah lagi..” gumam Alan seraya menginjak gas lebih dalam. Matanya sesekali melihat ke BB yang terletak di dashboard mobil. Tidak ada balasan BBM dari Yona. Bahkan Yona yang biasanya rajin menelepon, kali ini nggak melakukan hal itu.

“Padahal aku kan sudah bilang, aku kerja. Kalau mau lanjut, bisa banget. Rugi juga selalu menolak ajakan Pak Weksa. Huhhhhh.. Dasar wanita!” Alan membanting tangannya pelan ke setir.

Sebenarnya Alan juga sudah berusaha pulang cepat. Kesalahannya hari ini adalah pamit ke bos. Kalau saja jam 5 tadi dia langsung hilang dari meja, pasti tidak akan ada meeting jam 5 sore. Dan bos selalu begitu. Meeting jam 5 sore, data harus dapat besok, pagi pula. Ini mah sama saja meminta anak buahnya lembur.

“Panggilan.. Jalani ajah..” bisik Alan lagi, persis ketika dia selesai membayar tol di pintu keluar.

* * *

Deru mobil terdengar dari luar. Yona terjaga. Bantingan pintu Alan menjadi penanda alami bahwa yang di depan itu Alan. Lagipula, mana ada tamu nongol jam setengah 12 malam, kalau bukan emergency atau maling.

“Sayang….,” kata Alan sambil mengetuk pintu.

Yona beringsut dari sofa. Bangkit dan berjalan gontai menuju pintu rumah, lalu membuka pintu dan berkata, “Jam berapa ini?”

“Kan aku udah SMS kalau meeting sayang..”

“Kamu ingat tadi pagi ngomong apa? Belum 24 jam Alan!”

“Tapi aku kan…”

“Tapi aku kan kerja, nggak mampir, nggak main? Basi kali. Aku udah bosen dengernya..”

“Kalau kenyataannya begitu?”

“Terserahhhh…”

Yona mengusap matanya, mau nangis. Setiap kali marah begini, capek juga. Alan pun demikian, setiap kali pulang, bukannya disambut manis, malah dimarahin terus.

Maka dua insan yang sejatinya saling mencinta itu diam. Emosi tinggi dan fakta bahwa ini sudah malam membuat mereka diam satu sama lain.

Sampai 48 jam kemudian.

“Sayang…,” Alan datang ke rumah tepat waktu. Jam 6 sore. Ini termasuk keajaiban dunia ke delapan.

Sepi.

Alan membuka pintu dengan kunci yang dia punya. Bingkisan besar yang dia bawa membuatnya agak sulit bergerak. Surprise untuk Yona mungkin obat mujarab untuk tidak tidur dengan batu. Bayangkan 2 malam tidur hening, meski ada orang di sebelahnya.

Alan beringsut pelan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.

Alan bingung, pergi kemana istri tercintanya.

Tujuan akhir dari langkah Alan adalah di kamarnya. Aneh, pintu terkunci, dari dalam.

“Sayang…,” ketuk Alan, “Aku pulang cepet nih…”

Tidak ada jawaban.

Ketukan ke dua.

Masih tidak ada jawaban.

Ketiga kali mengetuk.

Masih tak terjawab.

Alan memilih mundur, meletakkan bungkusan yang dia bawa di sofa. Lalu kemudian terkapar di sofa yang lainnya.

Lima detik setelah Alan kabur ke alam mimpi, Yona membuka pintu.

“Cintaaa… katanya uda pulang?”

Hening.

Kamar mereka berdua sudah selesai dihias. Manis sekali. Yona ingin rekonsiliasi malam ini. Daripada masuk ke hari 3 tidur dengan guling hidup yang kali ini tidak bisa dipeluk dan memeluk.

“Cintaaaa…”

Masih hening.

Tanpa jawaban, Yona pun mengintip ke ruang tamu. Hanya tampak Alan yang tertidur mangap di sofa. Yona berbalik malas. Pulang cepat, buat tidur, ngapain itu?

Tambah panas, Yona pun kembali ke kamar yang sudah dihias manis, dan memilih untuk tidur saja.

Maka ini malam ketiga.

Pagi buta, Alan terbangun. Tidur di sofa membuatnya agak pegal. Dia berjalan ke kamar, dan kamar itu terbuka.

Dekorasi indah, ranjang penuh bunga, dan wangi semerbak ada di ruangan itu. Sebuah tulisan di meja rias Yona, “Maaf ya Cinta.. Aku marah karena aku sayang kamu.. Itu saja kok.. Luv U..”

Alan tersenyum simpul. Mendadak dia enggan membangunkan Yona.

“Biarin deh..”

Alan lantas berangkat mandi dan kemudian pergi ke kantor, seperti biasanya.

Suara deru mobil yang meninggalkan carport membangunkan Yona. Sudah 12 jam dia tidur. Mungkin terlalu lelah seminggu ini menunggu Alan pulang malam.

“Cintaaa..”

Masih hening.

Yona mengintip lagi ke ruang tamu. Tidak ada siapapun, kecuali sebuah bungkusan dengan tulisan “I’m Sorry and I Love You”.

Yona membuka bungkusan itu. Sebuah album foto lengkap dengan puisi. Mana foto-foto jaman pacaran pula. Yona mendadak galau maksimal.

Bahwa pria demikian dan wanita juga demikian. Keduanya sama, saling mencintai. Bahwa perspektif mencintai itu berbeda, wajar. Beginilah Alan danYona, keduanya tetaplah insan yang saling mencinta, meski marah. Karena marah pun tidak lain karena cinta. Beginilah Alan, beginilah Yona.

Yona memeluk album foto dan puisi tersebut.

Alan memasang ucapan Yona di buku agendanya.

Mereka tetap saling mencinta.

 

Berbeda Itu Berbeda

Aku.

Kata orang aku ini terlalu tinggi kriterianya. “Si Lyana itu sok banget sih. Cakep kagak, standarnya tinggi banget,” begitu kata orang-orang yang mengetahui syaratku mencari pasangan.

Yah, katanya orang juga, banyak yang suka sama aku. Walaupun aku sendiri hampa cinta. Betul deh. Hampa bener aku ini. Sehampa pempek beringin yang dibungkus vakum. Dan pempek itu tahan lama. Persis seperti kehampaanku, tahan lama juga. Lama sekali sejak aku dan Bang Fano, kakak kelasku di kuliah dulu, sama-sama suka, bertahun-tahun lamanya, tapi tidak terungkap satu sama lain.

Syaratku sebenarnya cuma dua, aku tidak mau punya brondong plus aku mau yang seiman. Itu saja kok dan itu sebenarnya sudah ada pada pria tadi.

“Ya kalau mau yang seiman, yang sejenis sama kamu banyak kok. Banyak juga yang lebih tua dari kamu,” kata orang-orang dari golongan yang sama dengan yang menyebut standarku ketinggian.

Ah, persetan! Buat apa mereka mengurusi hidupku? Bahkan mereka bukan bagian dari orang-orang yang membuatku hidup. Kalau menghidupi, hmmm, sejauh aku tahu, owner dari perusahaan ini tidak ada yang mengomentari statusku. Jadi mereka yang ngomong itu sama sekali tidak menghidupiku.

Jadi buat apa aku urusi?

Bahwa cinta itu unik, aku paham benar. Terutama ketika aku mengenal Dino. Namanya mirip birokrat. Caranya mendekatiku juga persis birokrat. Lobi sana, lobi sini, sehingga perlahan aku luluh.

Dia pun lebih tua dari aku.

Masalahnya cuma 1: kita mempercayai Tuhan yang sama, dengan cara yang berbeda. Dan buatku itu selalu menjadi masalah besar. Besar sekali.

Bagiku setiap agama itu baik, dan agamaku paling baik. Bukankah harusnya begitu? Bolehlah aku disebut pluralis bahwa menyebut setiap agama itu baik. Tapi kalau agama-agama nggak baik, menurutku namanya bukan agama! Perkara, agama kita yang paling baik, nah.. itu dia mengapa sampai sekarang kita memegang agama itu.

Dan begitulah aku dan Dino masih memegang teguh kepercayaan kami masing-masing.

Aku dan Dino.

Yah, romantis memang iya. Meski Dino sama sekali tidak pernah menembakku, apalagi aku melakukan itu, amit-amit. Kami malam minggu bersama. Berlibur bersama ke Ancol. BBM sepanjang hari. Kadang dia menjemputku disela kemacetan Sudirman.

Sudah semacam suami istri saja.

“Eh, lu sama Dino mo nikah kapan?” tanya  Anita, tablemate-ku, suatu siang sebelum meeting.

“Heh? Gue kan belum punya calon. Dino mah temen doang, Nit.”

“Temen, tapi jemput tiap hari? Temen apaan tuh, Ly?”

Aku diam saja. Dipikir-pikir, hubungan aku dan Dino memang sudah cukup dekat. Fakta bahwa aku dan Dino berbeda tidak bisa menutupi keinginanku untuk tetap dekat dengan Dino, sepanjang hari.

Sore hari tiba. Meeting hari ini melelahkan. Aku kadang nggak habis pikir bagaimana meeting ini bisa membuatku menerima uang dalam jumlah lumayan di rekeningku setiap akhir bulan. Sementara, di luar sana, orang dengan panas hujan jualan bakso, dan tidak mendapat uang di rekeningnya setiap akhir bulan.

Sekadar berpikir galau saja.

Dino datang menjemputku, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, kalau tidak macet, ya tidak Jakarta. Di tengah kemacetan di jalan bebas hambatan yang tiba-tiba berubah nama menjadi jalan penuh hambatan ini, aku dan Dino terjebak.

Macet!

“Eh Ly, aku ditanyain nyokap tuh.. kapan kawin..” cetus Dino di tengah kemacetan.

“Ya makanya nyari dong..”

“Susah nyari yang klop di hati, Ly.”

“Masak nggak ada?”

“Ada sih..”

“Nah itu ada, siapa Din?”

“……”

Hening. Mobil Dino merayap bak kura-kura ngesot. Beginilah Jakarta.

“Kamu.”

Aku tersentak kaget, “aku?”

“Ya, kamu yang klop di hati Ly.”

“Dino, bukankah kita berbeda?”

“Apakah perbedaan harus membuat kita tidak bersatu?”

“Beda itu aneh Dino. Okelah, kita mungkin sama dalam banyak hal. Tapi kita berbeda untuk hal itu. Aku nggak mungkin mengkhianatinya. Sekarang, misalnya aku atau kamu bersatu dan harus ada yang mengalah. Coba pikir. Kalau, aku yang baru kenal kamu beberapa bulan ini sudah bisa meninggalkan sesuatu yang aku percaya dari kecil, bukankah aku juga bisa meninggalkan kamu suatu saat. Begitu kan?”

“Mungkin kita bersatu dalam perbedaan itu, Ly.”

Hening (lagi).

Berbeda itu beda. Menanggapi perbedaan tidaklah bisa dari perspektif yang sama. Aku beda dengan kamu, beda dengan dia, beda pula dengan mereka. Cara pandang perbedaan itu berbeda satu sama lain. Dan berbeda itu adalah hak orang. Kalau aku memandang dan menyikapi perbedaan dengan cara ini, tentu tidak salah. Pun, kalau kamu, dia, atau mereka menyikapi perbedaan dengan caramu, caranya, atau cara mereka, itu juga tidak salah kan?

“Berbeda itu beda Din. Caramu dan caraku memandang perbedaan saja sudah beda. Itulah perbedaan terbesar diantara kita, bukan soal kepercayaan kita,” jelasku, “baiklah kita tetap berteman saja.”

“Oke, Ly. Mungkin aku perlu lebih banyak memahami soal perbedaan.”

Jalanan di depan sudah berubah menjadi parkiran. Yah, kami masuk ke dalam tol, membayar mahal, hanya untuk parkir. Ya! Parkir alias berhenti. Lagi-lagi, itulah Jakarta.

“Kamu lihat di depan Din. Tidak semua orang sama dalam menyikapi tempat parkir ini. Pasti banyak orang yang marah-marah, banting setir, teriak-teriak, dan ada pula yang kalem mendengarkan musik. Begitulah. Perbedaan adalah kekayaan, tapi bagaimanapun pasti ada yang sama,” uraiku, “dan kamu pasti menemukan orang yang punya kesamaan denganmu. Pun dengan aku.”

Hening kembali. Hanya suara klakson bersahutan.

Perjalanan penuh keheningan ini berlanjut, sampai Dino menurunkanku di depan kompleks perumahan tempat aku tinggal.

“Oke Ly. Terima kasih sudah mengajariku soal perbedaan ya.. You’re truly nice friend.”

“Kamu juga Din. Semangat! Hehehe.. Be careful..”

“Oke.. Duluan ya..”

Dan Dino berlalu dari hadapanku.

Langkah gontaiku khas setiap kali pulang bekerja. Tapi inilah hidup. Kalau tidak begini, aku tidak akan menikmati rumah hasil jerih payahku ini. Ini KPR 15 tahun yang baru selesai 3 bulan. Masih jauh sekali.

Sesosok pria berdiri di pintu rumahku. Ada tamu rupanya. Membawa bunga pula. Sejak kapan aku pesan bunga?

“Cari siapa ya?” tanyaku sambil mendekati pintu. Rumahku di dalam cluster sehingga tidak ada pagar sama sekali.

Pria itu berbalik, dan aku terkejut.

“Lyana?”

“Bang Fano?”

“Apa kabar? Akhirnya ketemu juga rumahmu. Nyarinya bertahun-tahun lo Ly. Hehehe.. Aku cuma mau bayar hutang.”

“Hutang apa bang?”

“Aku hutang perkataan. Dari dulu seharusnya aku bilang ini. Dari 6 tahun yang lalu. Aku cinta kamu Ly.”

Dan pria ini, tanpa tahu apakah aku masih sendiri, tanpa aku tahu apakah dia juga masih sendiri, tanpa tahu isi hatiku, tanpa informasi apapun. Pria itu tiba-tiba masuk ke hatiku dengan cara yang berbeda.

Dia kembali dengan cara berbeda. Tapi hatiku tidak berbeda.

PS: tulisan ini hanya perspektif penulis saja, bagaimanapun berbeda pendapat itu wajar dan diperbolehkan kan? Terima kasih…

Buku Pinjaman

‘Lagi baca apa sekarang?’

Getar aplikasi percakapan Whatsapp secara otomatis menggerakkan tangan Dila. Tampak nama Mora disana. Dila melepaskan tangannya dari buku Heart Emergency yang baru dia baca, dan segera memainkan layar sentuh di ponsel pintarnya.

‘Heart emergency. Punya Falla Adinda. Dokter muda, bagus lo. Rekomen. Kamu?’

Send.

Tidak berapa lama, pesan berbalas.

‘Masih 2 cm, belum abis-abis dari kemarin’

Dila ngakak sejadi-jadinya. Sampai kecoa yang lagi ngumpet di balik lemari ngintip, siapa tahu bisa ikutan ketawa.

‘2 cm? ini terusannya 5 cm apa?’

‘Iya, yang buknya merah tebel itu’

‘Itu mah judulnya 2 kaleeee masbrowwww’

‘Smiley’

Emoticon adalah salah satu metode pengakhiran percakapan. Seseorang yang menulis emoticon bisa jadi sudah kehabisan kata-kata untuk meneruskan percakapan. Jadi, biasanya, kalau ada percakapan dengan emoticon, abaikan saja.

‘Tapi aku masih ada yang baru nih’

Ponsel pintar Dila kembali bergetar. Tampak lagi nama Mora disana. Ternyata dia belum selesai. Nah, biasanya kalau yang seperti ini, berharap emoticon ditanggapi, tapi karena tiada tanggapan, terpaksa memulai percakapan baru lagi.

‘apaan?’

‘Banyak. Ini ada Manusia Setengah Salmon, ada Perahu Kertas, ada Madre, ada 9 Summer 10 Autumn jugak’

‘Weehhhh.. boleh-boleh.. Jualan buku pak? wkwkwk..’

‘Pecinta buku ya kayak gitu tante’

‘Kalau cinta buku ya dibaca dong. Kalau nggak mau sini tak baca.’

‘Boleh.. Mau yang mana?’

‘MSS aja Mor. Sekalian ngelanjutin Marmut Merah Jambu kemarin.’

‘Boleh-boleh. Tak antar? Ini kayak perpus keliling yak? Hahaha..’

‘Kalau tidak merepotkan :)’

‘OK. Nanti dikabarin. Sip.’

‘Sip’

Whatsapp sudah diam kembali. Dila pun kembali memelototi halaman demi halaman Heart Emergency. Nyata ya, putus setelah 4,5 tahun berhubungan itu nggak mudah.

Membaca buku sore-sore itu ada tidak bagusnya. Karena kemudian, persis dengan buku masih di tangan, Dila malah memejamkan matanya. Mungkin menjiwai cerita pahit manisnya Falla.

Rrrtttttt….

Getaran ponsel pintar membangunkan Dila.

10 pesan baru. Masih dari nama Mora.

‘Oi tante…’

‘PING!’

‘PING lagi!’

‘Buzzzz’

‘Jiaahhhh…’

‘Mesti bobo yakkkk..’

‘Jadi dianterin bukunya?’

‘Nanti jam 7 aku kesana’

‘Halowwwww’

‘Tantee….’

Dila langsung melek. Merasa bersalah sama perpus keliling yang mau delivery buku ini.

‘Siappppp.. Silahkan datang jam 7. Oke.. Oke.. Maap, baru menikmati hidup.. hehe’

‘Noted. Ah, tante ngantukan wkwkwk..’

“Dilaaaaaaa… ada yang nyariin tuhhh…” teriak Tere dari luar.

“Siapaaaa?” Dila berteriak balik.

Maka jadilah kos-kosan itu seperti hutan belantara, ketika monyet-monyet berteriak satu sama lain saling memanggil.

Dila membuka pintu kamarnya, menapak turun ke teras, masih dengan muka bantal.

“Eh, Don, ngapain kesini?”

“Biasaa.. Mo curhat.. Nggak mo pergi kan? Dari mukanya sih kelihatan abis pulang dari alam mimpi.”

“Ngeceee… nggak sih, di kos aja.”

Doni dan Dila adalah saudara sepupu yang kebetulan satu kampus sehingga kos di daerah dekat-dekat kampus juga. Dan sebagai saudara yang akrab, curhat adalah salah satu kebiasaan mereka. Apalagi mereka adalah tipe-tipe manusia galau dan labil yang butuh pencerahan. Bagaimana rasanya jika dua makhluk labil saling mencerahkan? Mungkin malah tambah gelap.

Doni dan Dila ngobrol asyik di teras kos. Masih soal kegalauan Doni tentang pacarnya. Ini sudah terjadi setiap awal pekan. Mungkin akhir pekan Doni selalu berakhir pahit.

Deru sepeda motor memasuki area kos Dila. Sebuah sepeda motor yang nggak jelek-jelek amat, bagus amat juga jelas bukan. Lebih tepatnya adalah jelek sekali.

Mora turun dari sepeda motor dan kemudian berjalan ke arah teras. Di malam hari, semua tampak remang-remang. Termasuk Dila dan Doni yang sedang curhat itu tampak seperti dua orang berlainan jenis lagi mangkal di warung remang-remang, dan Mora tampak semacam pelanggan yang haus.

“Permisi…,” kata Mora, pandangannya tercekat pada dua insan yang sedang duduk berdekatan di teras kos.

“Eh.. Mora..” Dila bangkit berdiri dari kursinya, kemudian menemui Mora.

“Ini, MSS-nya. Semoga habis baca nggak jadi kayak Salmon,”

“Enak ajee… Makasih ya.. Mampir dulu?”

“Nggak usah Dil. Masih banyak event. Halah..”

“Oom Mora sok sibuk. Horeee.. Nyari gebetan om?”

“Hussshhh.. Udah ah.. Pamit ya..”

“Oke.. oke.. Makasih ya Mora.”

Mora berjalan ke arah sepeda motornya yang masuk kategori jelek sekali itu tadi. Sebelum menyalakan sepeda motornya, Mora duduk di jok sejenak. Membuka telepon genggamnya, akses opera mini, masukkan alamat m.facebook.com, lalu mengetik di sebuah kolom.

‘Ternyata sudah ada guguknya’

Update.

Mora mengambil nafas dalam, menggerakkan kaki semacam anjing mau gali lubang, menginjak tuas untuk menyalakan mesin, terus-menerus. Mesin kemudian menyala pada ayunan ke-99. Asap mengepul dari knalpot. Memenuhi hidung, paru-paru, sampai ke hati Mora.

Bapak Millennial