Farewell Bruder

Ada satu masa saya gagal paham apa beda bruder dan pastor. Sampai kemudian, pada 1997 saya bertemu dengan adik mbah saya, seorang bruder. Beliau ini yang membawa pakde saya, menjadi seorang romo. Ceritanya katanya begitu.

Dan barusan saya dikasih tahu bapak, kalau bruder sudah meninggal.

Bagaimanapun kalau ada saudara meninggal, pasti ada rasa sedih.

Faktanya memang, mbah bruder sudah gaek. Dan terbiasa merokok entah dari kapan. Pun dilanjut meski sudah operasi jantung. Rokoknya Minak Djinggo pulak.

Tetap sedih.

Jujur saya nggak connect kalau ngobrol sama bruder, karena kadang pertanyaannya diulang-ulang dan ya semacam cucu dengan mbah-nya. Sesimpel itu saja.

Tapi satu hal yang menarik dari statement bruder ini, “nggak usah neko-neko buat tanda salib di tempat umum.”

Yang ngomong bruder loh ini!

Dalam hati, ada benarnya juga. Sebagai minoritas kadang kita nggak perlu menunjukkan sisi itu. Mestinya dari perbuatan dan karya, kita bisa menunjukkan ke-Katolik-an. Isn’t it?

Selamat Jalan Mbah Bruder Justinus Samidi, OSC. Salam ya buat Mbah Kakung disana.

Rest In Peace 🙂

Bolat

Jam 3 pagi, seisi bus sudah ngorok semua. Malah ada yang sampai mengalahkan suara desir AC. Mungkin sebelum berangkat tadi, bapak yang di belakang sono makan mikrofon. Abis ngoroknya kenceng banget.

Yana sebenarnya masih hendak terkantuk-kantuk. Sejak Jakarta, dia cuma tidur dari Cikarang ke Cikampek. Begitu Cikampek sampai Weleri matanya terang benderang. Meskipun dia sudah menarik selimut dan berusaha menutup mata, yang ada malah bayangan mesum. Huyyy, ngelamun jorok tidak diperkenankan dilakukan di atas bus. Dampak tidak ditanggung.

Dan sekarang Yana ngantuk pakai banget alias ngantuk banget. Dia ngantuk pada saat yang tepat, di jalan tol Semarang. Tepat sekali karena di ujung tol ini, Yana akan turun. Jadi tepat kan? Tepat ketika Yana turun, maka dia akan tertidur pulas di pinggir trotoar. Ingat, ini jam 3 pagi.

Takut akan terlelap di trotoar atau kebablasan, Yana menguat-nguatkan matanya. Mulai dari mengoles balsem, sampai dengan makan balsem. Harap dimaklumi, dia hanya punya balsem. Ehm, sebenarnya ada dua, balsem dan cinta. Yak betul, Yana hanya punya dua itu.

Tol yang baru tapi semacam tidak baru itu sudah mendekati ujung, Yana berdiri dan beranjak maju ke depan. Ya iyalah, mana ada maju ke belakang?

Bus keluar pintu tol, tak jauh dari situ, ada swalayan ADA. Ya memang ADA swalayan kok, beneran deh. Ini memang ADA, jadi nggak mengada-ada.

Di seberang swalayan itu, Yana turun.

Ini jam 3 pagi dan Semarang baru mulai menyalakan hidupnya. Aktivitas manusia menuju pasar di daerah Banyumanik mulai bergerak. Lampu-lampu menyala terang.

Masalah besar hari ini bagi Yana, hotelnya dimana yak?

Yana ini macam hendak backpacker, jadi dia sudah cari referensi macem-macem dan memilih hotel di Jalan Setiabudi. Nah, menurut googlemap dan tanya-tanya loket bus, pilihan paling oke adalah turun di ADA. Ya itu tadi, beneran ADA ini swalayannya.

Smartphone-nya lantas keluar dari sarangnya. Agak beresiko sih mengeluarkan benda yang dibeli pakai uang ikutan arisan ibu-ibu tetangga, di malam yang sesunyi ini. Padahal kan Yana sendiri, tiada yang menemani. Akhirnya Yana sadar bahwa barusan ini mirip lagu ‘Kisah Cintaku’.

Bateraipun tinggal setengah, dan Yana melupakan kebutuhan primer nomor 4 sesudah sandang, pangan, dan papan, yakni charger. Apalagi, menyalakan GPS sama saja dengan membunuh smartphone-nya lebih cepat karena pemakaian daya karena GPS sungguh sangat mempersona.

Mau tidak mau GPS dinyalakan.

2 km.
Sebuah profil yang cukup nanggung. Ya di pagi buta belum subuh, Yana harus berjalan 2 kilometer atau diam di tempat sampai ada kendaraan pengangkut. Mungkin bisa serupa truk sayur. Sungguh indah menumpang truk sayur lalu check in di hotel. Tampak bahwa ironi kehidupan itu bisa muncul pada saat yang sama.

Mengingat itu tadi, Yana hanya punya balsem dan cinta, maka dia memilih untuk berjalan kaki saja. Toh, kalau pegal, kan ada balsem. Apa susahnya?

Yana berjalan menyusuri jalan di depan ADA, terus ke utara. Gelap masih mendominasi, maklum, subuh saja belum. Yana asyik melihat bintang-bintang bercengkrama di langit, tikus-tikus berkelana dari got ke got, dan coro-coro menikmati hidup kotornya. Tentunya tetap waspada. Baik waspada kemalingan hingga waspada disangka maling. Jaket hitam, celana hitam, baju hitam, tas besar yang juga hitam plus kulit hitam tentu identik dengan maling. Mana ini jam belum subuh pula. Ngapain ada pria yang sepenuhnya hitam jalan-jalan sebelum subuh? Lebih banyak logika pembenaran bahwa Yana maling alih-alih calon menginap di hotel.

Jalannya perlahan sekali sambil menikmati dan memotret jejak-jejak malam, sehingga 1 jam hanya dapat beberapa ratus meter. Persis ketika keramaian mulai tampak, Yana mendapati penampakan lain.

“Semacam Rida..,” gumam Yana, “kenapa bisa nongol disini?”

Yana tercekat, lamunannya melayang ke masa lima tahun silam. Ehm, maksudnya, dari lima tahun yang lalu sampai beberapa waktu silam. Sebuah durasi panjang Yana untuk menjalani ketololan terbesar dalam hidup, mencintai tanpa tendensi memiliki. Dan Rida adalah gadis yang dicintainya itu.

Logika Yana mulai berjalan, berlompatan satu persatu. Di suasana pagi buta dan kantuk, namanya lamunan bisa tampak realistis, atau kalau tidak ya ini makhluk semacam jadi-jadian. Siapa yang tahu?

Batin Yana masih menolak fakta bahwa gadis yang sedang lari pagi itu adalah Rida. Nggak mungkin, katanya begitu.

Tapi fisik Yana tak peduli sama perintah otak. Soalnya, hati kali ini menang. Dia menggerakkan tubuh Yana kencang, setengah berlari, separuh melompat, dan sesekali berputar. Macam balet saja.

Pertama, pastikan dulu ini manusia. Yana mengamati langkah demi langkah gadis yang lari pagi dan yakin bahwa itu beneran manusia.

Kedua, pastikan orangnya benar. Nah ini susah. Manusia itu ada-ada aja. Dia pernah ngawur menyapa orang gara-gara mirip, Yana kenal di Bogor, nyapa orang di Palembang. Hemmmm..

Yana lantas mengejar perlahan, mengamati detail gadis pelari pagi itu. Matahari masih mengintip malu-malu sehingga tahi lalat di pipi kanan yang menjadi identitas Rida, tidak kelihatan. Sayang ya, coba tahi lalat itu bisa berflourensensi, kan jelas bercahaya.

Maka tidak akan ada orang yang berani ronda kalau begitu.

Tidak ketemu cara, Yana akhirnya nekat.

“Ridaaa…” setengah berteriak, Yana memanggil gadis pelari pagi. Kalau stop berarti bener, kalau lanjut berarti bukan. Beres.

Gadis pelari pagi tidak berhenti, masih lanjut saja.

“Oh, bukan.. hehehe..” gumam Yana sambil memuluk jidatnya.

Posisi orang mukul jidat itu biasanya melihat ke bawah, Yana juga demikian. Sambil senyum-senyum macam orang gila, pun dengan Yana. Sampai dia nggak lihat di depannya ada orang.

“Yana?” suara lembut manis yang Yana sangat hafal nada dasarnya.

Yana mengangkat pandangannya, lurus, dan ada gadis pelari pagi. Hemmm..

“Rida?”

“Ngapain nyasar kesini Yan?”

“Biasa.. Bolang, bocah ilang.. Lha ini ada gadis cantik lari pagi-pagi, maksudnya apa?”

“Nggak lihat nih kentongan maling. Uda kayak kakinya SNSD,” ujar Rida sambil memperlihatkan lengannya.

“Hahahaha.. perut pasti menyesuaikan..”

“Dasarrrrr…”

“Emang sekarang disini ya?”

“Iya, itu di seberang masuk dikit belok kiri. Masih buruh gitulah..”

“Sama kali.. Sesama kaum buruh..”

Nostalgia cinta tanpa tendensi memiliki itu pahit. Yana masih memandang dengan kekaguman yang besar dan dengan jarak yang jauh untuk dapat memiliki keindahan di depan matanya. Termasuk kentongan maling itu tadi, pasti itu kentongan terindah yang pernah ada di dunia.

Obrolan merangsek jauh. Macam Barcelona memainkan tiki taka, maka bola dan obrolannya sudah kemana-mana.

“Jadinya, sama yang itu nggak?” tanya Rida.

“Hahaha.. Bubarrr.. Bubar jajan..”

“Kok bisa?”

“Ya bisa, kan pelik pakai K.”

“Huuu.. Saru… Trus single dong Yan?”

“Ya begitulah. Kenyataan kadang pahit. Lha kamu?”

“Ya beginilah..”

“Jiahh.. tiru-tiru..”

“Hehehe.. Masih kayak biasa.”

“Pasti isu lawas. Kamu pasti terlalu memilih. Nggak berubah dari jaman batu non?”

“Dari jaman kuda gigit besi sampai besi gigit kuda. That’s me Yana..”

“Ya, ya.. bisa dipahami. Aku kan sangat paham kamu Rid. Apa sih yang aku nggak tahu soal kamu?”

“Lha itu tadi nanya?”

“Anggap saja retorika. Hehehe..”

Yana menikmati percakapan indah itu, sampai mentari menjelang naik. Kantung mata Yana sudah semacam Pak Bueye. Maklum, nggak bobok dari Cikampek sampai ke ADA.

Dan tiba-tiba, dalam obrolan sambil jalan itu, di sebuah mobil yang berhenti, Yana mendengar sebuah lagu.

“Kalau cinta ya bilang cinta
Kalau sayang bilang-bilang sayang
Jangan ditunda-tunda
Nanti diambil orang.”

Penta Boyz. Haishhh.. Kenapa nongol di saat semacam ini? Yana mendadak menggelegak hendak meledak. There is something to explode.

“Rid..”

“Hmm..”

“Kenapa kamu jatuh cinta?”

“Pada?”

“Ya, pada siapa aja..”

“Nggak tahu, kalau hatiku sreg, ya jatuh deh..”

“Pernah nggak jatuh cinta dari pendengaran pertama?”

“Apaan tuh Yan? Pandangan pertama kali..”

“Serius kali Rid, aku pernah jatuh cinta pada pendengaran pertama. Baru denger namanya, udah jatuh cinta. Klepek pokoknya,” urai Yana.

Rida tersenyum dan berkata, “Ada-ada aja.. Kapan? Dulu jaman SD?”

“Ya, beberapa waktu silam lah. Dan aku lengkapi dengan keindahan bercinta lho..”

“Apa lagi nih?”

“Jatuh cinta tanpa tendensi memiliki. Hehehe.. Seru kan?”

“Ngeri. Apaan cinta trus nggak memiliki?” protes Rida.

“Yah, sampai pada titik tertentu, itu indah Rid. Sampai pada titik tertentu lho..”

“Aku masih nggak paham. Agak absurd kamu Yan. Pasti gadisnya istimewa banget tuh..”

“Tentu. Mana ada orang berpikir dan merasa gitu kalau bukan untuk orang istimewa?”

“Sure.”

“Titik itu menjadi nggak indah, ketika tendensi memiliki itu nongol. Dari mana, dari hasil pengamatan bertahun-tahun pastinya. Jatuh cinta biasa, tapi kalau ketemu sifat dan sikap yang oke dan prinsipil, baru deh ada rasa ingin memiliki.”

“Misal?”

“Simple, Rid. Misal hobi ternyata sama. Visi hidup juga sama. Banyaklah. Kalau kamu?”

“Aku mah simpel Yan. Nggak kayak kamu. Aku mau memiliki yang aku cintai.”

“Sekarang pun aku begitu, Rid. Rasa itu udah nggak ketahan lagi.”

“Ungkapin dong. Keburu diembat orang.. Galau lagi ntar..”

“Hahaha.. Bisa aja. But, it’s serious. Bagaimana kalau orang yang aku kisahkan panjang lebar itu tadi adalah kamu?”

“Maksudnya, Yan?”

Bahwa wanita itu sukanya yang pasti-pasti aja, tapi nggak suka membuatnya pasti-pasti aja. Penyakit zaman kalau ini.

“Oke, diperjelas. Semuanya yang tadi, tentang cinta, memiliki, dan semuanya. Kamu gadis yang aku cinta sejak pertama kali mendengar namanya.”

Rida diam. Seribu satu bahasa. Seribunya diam, satunya helaan nafas.

“Hihihi.. Ngobrol pagi buta, aku malah jadi nembak orang deh..” Yana langsung garuk-garuk kepala. Kutu berserakan, coro juga. Itu rambut atau selokan?

“Sebenarnya masih sulit Yan. Sudah lebih dari setahun berjuang. Ampun-ampun dah.”

“It’s oke Rid. Aku tahu itu kok. Sesulit aku melupakanmu dan gagal. Hehe..”

“Hihihi.. Ya.. ya.. bisa dimengerti. Tapi apa kamu yakin Yan? Gimana kalau pandangan kamu selama ini tentang aku salah?”

“Heyyy Rid. Aku memantau kamu itu bukan sebulan dua bulan. Lima tahun lebih. Masak ya salah?”

“I’m deep, Yan.”

“Tentu saja. Supaya aku tahu, aku harus mencoba memilikimu dulu. Kan gitu biar tahu kamu sedalam apa. Paling juga kalah sama dalamnya cintaku padamu.”

“Malah gombal..”

“So?”

“Hmmm.. OK, let’s try. Kadang kita nggak tahu kalau nggak dicoba. Tapi, bantu aku meyakinkan jawaban ini ya..”

“Dengan senang hati tuan putriku. Aih, dari dulu aku pengen manggil kamu begini.”

“Hehehe.. Jadi kamu dulu sama si dia itu, sayang bener apa nggak?”

“Halah, malah diungkit. Bagaimana tuan putriku ini. Kan tadi aku udah bilang, aku cinta kamu tanpa tendensi memiliki. Jadinya aku nyari yang bisa dimiliki. Eh, kok ya ternyata hati ini nggak bisa dilawan. Bubar juga. Hehe..”

“Dasarrrrr…”

Semarang sudah terang. Percakapan panjang lebar di pagi hari. Aneh kalau orang lihat, bayangkan seonggok hitam yang macam maling dengan kantong mata macam Pak Bueye berjalan bersama gadis cantik dengan pose jogging. It’s about black and white. Macam Yin dan Yang, di dalam putih ada hitam, dan sebaliknya.

“Jadi aku ini bukan bolang lagi Rida,” kata Yana sambil menyambar tangan halus pacar barunya itu.

“Apaan dong?” tanya Rida sambil mengeratkan genggaman baru itu.

“Bolat. Bocah ilang mencari cinta. Hehehehe..”

“Ngawurrrr..”

Tawa lepas ke udara, sepasang keceriaan ikut menghangatkan pagi hari. Keceriaan yang bermula dan berakhir pada satu kata, cinta.

 

Pengumuman Seleksi Antologi Komedi Cinta 3

It’s a good news!!!!!

——————————————————————————–

Kumpul, kumpuuuul…. tok-toroktok-toktok! *pukul kentongan*

Pengumuman penting bagi yang merasa ikutan Seleksi Antologi Komedi Cinta 3 kerjasama Blogfam – Gradien Mediatama. Jadi, setelah para juri nggak bisa mingkem dan gigi mereka pada kering semua kebanyakan  nyengir, akhirnya terpilih sudah 12 Cerpen yang tersaring dari 90 cerpen yang masuk. Pusing milihnya? Banget! Suwer, kocak semua!

Tapi eh tetapi, tetap saja harus ada 12 nama yang akhirnya harus ditampilkan di sini. Kelucuan dan kegalauan kisah cinta yang mereka usung, sukses membuat para juri jungkir balik, ngakak, ngikik, dan ngukuk. So, ini dia 12 Cerpen yang terpilih yang layak tampil dalam buku Antologi Komedi Cinta 3 yang akan diterbitkan oleh Gradien Mediatama.

Ada kah nama kamu di antara 12 orang yang karyanya terpilih di bawah ini?

3 Cerita Utama

  •  High Class – Pradna
  • Kebelet Kawin, Emak! – Zoel Ardi
  • Mantan Pacar – Barokah Ruziati

9 Cerita Unggulan

  • Raja Galau – Haris Firmansyah
  • Cuminya Kasihan Banget – Eri Ilyas
  • XXXL – Muhimmah
  • Kameramen Chemonk – Wuri Nugraeni
  • Jangan Main Api Kalau Tidak Mau Kesiram –  Arie Sadhar
  • Lain Hidung, Lain Belangnya – Cizu Chan
  • Menunggu Jawaban Galau – Sulaiman Hari Prabowo
  • Move On, Yuk Ah! – Yunisri Mur
  • Galau Sampai Akhir – Windi Teguh

Selamat!

Untuk yang belum terpilih, yakinlah bahwa kesempatan lain akan segera datang untuk naskah-naskah menarik seperti itu. Pokoknya tengkyu banget sudah ikut berpartisipasi dan meramaikan hajatan kita kali ini.

 

Salam,

Blogfam & Gradien Mediatama

Iwok Abqary

Amril T. Gobel

Indah Juli

———————————————————————

Gileeeeeeee… MAJOR!!!! Akhirnya!!!!!!!

Sumber: www.blogfam.com

 

Sebuah Masa

Bandara Soekarno-Hatta. Ahiiyyy, sesudah berbulan-bulan, akhirnya Nayla menginjakkan kaki lagi di tempat itu. Setelah berbulan-bulan menikmati indahnya Pantura dan Pasel Jawa, berikut sesekali menikmati erangan rel kereta api. Akhirnya!

Bahwa kerinduan itu ternyata dipengaruhi masa, Nayla barusan memahami itu. Sebuah kerinduan muncul belum setahun sejak Nayla muak dengan tempat yang sama. Nayla pernah datang ke tempat itu jam 10, lalu pulang lagi jam 18, pada hari yang sama.

Nayla juga pernah, dalam tiga kali Senin berada di tempat itu untuk sebuah perjalanan singkat yang menguras tenaga.

Dan Nayla juga pernah, mondar-mandir ke tempat itu hanya hendak menggapai cintanya.

Cinta yang kini hilang.

Bahwa cinta itu pengorbanan, tentu saja, Nayla paham soal itu. Hanya kadang Nayla tidak habis pikir, pengorbanan seorang gadis untuk lelaki idamannya hanya menjadi angan-angan tongkol yang menggila.

“Aku kuat,” gumam Nayla. Tempat ini penuh kenangan baginya. Pertemuan dan perpisahan, dengan lelaki idamannya, yang kemudian pergi, bak sebuah radikal bebas yang melompat dari satu molekul ke molekul lain dengan mudahnya.

Tidak mudah bagi Nayla untuk kembali ke tempat ini, tempat yang bagai mesin waktu mengulang masa. Tapi hidup harus terus berjalan bukan? Bahkan tanpa Nayla harus menginjak tempat ini.

Bandara yang kadang semrawut ini menyimpan kenangan dan juga harapan. Itulah yang Nayla paham, sehingga berani kembali ke tempat pertemuan dan perpisahan itu terjadi.

“Aku capek,” kata lelaki itu.

“Aku juga,” balas Nayla.

“Sama-sama capek? Baiklah, tuntaskan saja!”

“Demi semua yang sudah pernah kita lakukan?”

“Pernah itu tentang masa, Nay. Dan masa itu tak akan kembali.”

Lelaki itu berbalik pergi.

Ahhh, Nayla gagal mempertahankan dirinya. Memori itu datang lagi persis di pintu keberangkatan yang macam pasar beras ini.

“Aku bisa. Aku kuat. Aku berani,” gumam Nayla kencang.

Lehernya menengadah, keberanian muncul padanya. Tatapannya mendadak anggun. Nayla tidak tampak lemah.

“Sudah paham arti masa Nay?” suara yang tidak asing bagi Nayla bergetar dari arah belakang.

“Steve?”

“Who else?”

Nayla kaget bisa bertemu dengan teman lamanya di tempat semacam ini.

“Mau kemana?”

“Ke hatimu.”

“Haisshh.. Gombal!”

“Tidak ada gombal Nay. Kalau kamu paham arti masa.” Steve tersenyum penuh misteri.

“What? Any simple explanation?”

“Hahaha.. Kalau kamu paham arti masa, maka kamu pasti akan paham berapa sering aku melihatmu bertemu dan berpisah disini. Kamu akan paham berapa lama aku menanti kamu berada disini seorang diri. Kamu akan paham berapa lama aku berharap akan masuk ke hatimu.”

“……”

“Kalau kamu paham soal masa, kamu pasti mengerti tentang indahnya mencinta tanpa tendensi memiliki.”

“Nice quote, Steve. I’ll try to understand.”

“Good, Nay.”

Sebatas kata, sebatas pertemuan. Nayla dan Steve berjalan beriringan mengikuti alur penumpang yang lain. Steve masih dalam melankolinya, Nayla tetap dalam upayanya tetap tampak tegar. Siapa yang tahu akan masa? Siapa yang tahu kemana masa membawa kedua insan ini kelak?

Tidak ada yang tahu. Masa adalah sebuah tanya yang hanya dapat terjawab oleh waktu.

Lelaki Dan Hatinya

Lelaki itu, entah siapa namanya, mungkin kita tak perlu memberinya nama. Hal ini juga tidak cukup urgen. Kalaulah nanti nama itu perlu, silahkan ganti sesukanya. Dipersilahkan, dengan senang hati.

Lelaki itu melangkah mantap ke atas podium. Toga hitam kebesaran dengan samir yang khusus, ah semua orang bermimpi seperti itu. Berdiri di atas podium, dipindahkan arah talinya, dan sudah. SELESAI! Ini katanya wisuda. Lelaki itu baru diwisuda, dia melewati tahapan paling membanggakan dalam hidupnya. Kini, fotonya dan toga hitam sewaan itu akan nampang dengan manis di ruang tamu rumahnya yang minimalis. Setiap tamu yang masuk ke situ akan berdecak kagum karena lelaki itu terbukti sarjana.

Badannya masih bagus, mantap, penuh daya, penuh gairah. Sempurna untuk ukuran lelaki.

Lelaki itu memasuki hidupnya yang baru, layaknya makhluk sebaya. Dia turut serta antri dimana saja. Dia tidak lepas dari interview. Dia selalu mengantungi CV di sakunya, tentulah dalam flash disk. Langkahnya mantap, pada hari pertama. Kemantapan langkahnya menggontai di setiap pergantian hari. Ah, mencari pekerjaan itu sulit.

“Kamu sih terlalu pemilih, buat anak baru mah yang penting kerja.”

Gaung yang dulu terabaikan itu mendadak mencuat, memenuhi gendang telinga dan membran timpani. Begitu dahsyat, sampai ke otak, dan.. ah.. berhasil. Sebuah perspektif telah berubah.

Lelaki itu masih tegap berdiri, kali ini di sebuah gedung tinggi, lantai 15. Dengan kaca di sekitar ruangannya yang selalu mengingatkannya pada kejadian di Film Spiderman, ketika di ketinggian macam ini tiba-tiba ada benda konstruksi yang bergerak.

Ada dua hal, itu mungkin terjadi dan tidak ada Spiderman disini.

Tangannya gesit mengayun jemari, menelusuri kotak-kotak dan angka-angka. Ekspresinya memarah begitu mendapati warna merah, namun merona ketika mendapati warna kuning. Tawanya meledak ketika mengangkat telepon, dan dalam sekejap amarahnya ganti meledak.

“Nggak aku banget..,” gumam lelaki itu, entah pada bagian mana.

Lelaki itu bertanya pada hatinya, “haruskah? masihkah?”

Hatinya hanya menjawab, “sudahkah kamu mendengar aku?”

Dan lelaki itu diam. Dia bertanya, bukan menjawab, jadi ngapain ditanya kembali. Ah, hati yang aneh!

Lima tahun, pas sesuai jumlah jari, lelaki itu sudah duduk di tempat yang lebih nyaman, lebih dingin, dan lebih personal. Raut kelelahan teramat sangat terpancar di sorot matanya. Tapi apalah lelah kalau lelaki itu sudah punya rumah, mobil, dan berbagai gadget terkini.

Lelaki itu masih sama, ada yang terganjal dalam hatinya. Tapi apa?

“Aku nggak nyaman. Aku harus bagaimana?” tanyanya lagi pada hatinya.

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Sungguh jawaban yang membuat MALAS! Astaga!

Penolakan ini membuat hati lelaki itu perlahan mengecil. Paralel, raut-raut besi muncul dari sela raut kelelahan lelaki itu.

Beranjak lima tahun lagi. Wajah lelaki itu sungguh tidak mantap. Raut besi merajalela. Geraknya makin lambat. Dia sakit hipertensi dan diabetes. Hanya 10 tahun sejak badan bugarnya. Terlalu cepat? Mungkin.

Geraknya makin tak nyaman oleh struktur besi yang mulai membentuk tubuhnya. Pantas saja dia lambat. Dan geraknya itu membuatnya SEMAKIN tidak nyaman.

Dia bertanya kembali, “bagaimana ini?”

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Masih sama, meski beralih tahunan. Apakah hati hanya diset bertanya demikian. Jangan sampai. Parah kalau begitu. Lelaki itu tidak tahu bahwa setiap penolakannya berujung pada mengecilnya hati.

Bilangan jumlah tahun yang lain lagi sudah lewat. Lelaki itu sudah punya segalanya. Geraknya sudah lincah walau sepenuhnya sudah jadi besi. Tidak ada lagi ketidaknyamanan yang dulu berpuluh tahun dia rasakan. Dia sungguh nyaman dengan geraknya. Gerak lincah di atas mouse, gerak mantap ketika marah-marah, sorot tajam ketika meminta.

“Ada apa denganmu sobat?” tanya sahabat lelaki itu suatu kali.

“Aku menikmati hidupku. Ada yang salah?”

“Kamu yakin?”

“Tentu.”

Sahabat lelaki itu melihat dari atas ke bawah. Lelaki itu sudah betul-betul serat besi. Strukturnya rapi dan kokoh. Sahabat itu mengintip ke dalam rongga hatinya. Dan sebuah ledakan kecil terjadi. Sahabat itu langsung tahu, ada yang pecah. Dan itu… hatinya!

Lelaki itu berjalan, bergerak, berdinamika dengan caranya. Sebuah cara yang puluhan tahun terus berulang. Sahabatnya hanya terdiam membisu. Lelaki itu kini bukan lagi manusia karena bagian terpenting darinya sudah menghilang, hatinya.

-12.10-

Apresiasi

Teman-teman sekalian yang sering terpaksa klik link di facebook dan lantas nongol di blog ini, saya mau bilang terima kasih banyak atas kesediaan teman-teman untuk nge-klik dan membaca tulisan-tulisan saya.

Sebagai makhluk yang baru belajar (kembali) menulis, memang kadang tulisan-tulisan saya jadi agak GEJE. Hehe. Secara umum, tulisan saya memang nggak sedetail dan semanis punya Tere. Atau juga tidak se-sentimentil Yola. Apalagi sebijak Bos DP dan segila Pak Enade. Tapi namanya juga baru belajar (kembali) menulis. Hehehe.

Setiap teman-teman yang membaca adalah berkah buat saya. Sebuah tulisan hanya akan jadi paparan huruf tak bertuan tanpa ada yang membaca. Lebih baik lagi, jika memang ada feedback. Saya sangat senang jika ada yang bilang “bagus”, “menarik”, “galau”. Dan saya juga sangat senang apabila komentarnya ada buntutnya “bagus sih, tapi…”, “boleh juga, tapi lebih mantap kalau…”

Apapun itu teman-teman, setiap feedback adalah masukan yang berharga buat saya. Jadi, mohon, kalau ada sanggahan atau apapun ketika membaca tulisan-tulisan saya, silahkan di-feedback. Saya bukan orang yang mudah menerima kritik, pada dasarnya. Tapi dalam hal ini, saya memilih untuk terbuka pada apa saja karena saya sadar hanya cara itulah yang dapat mengembangkan saya.

Sekali lagi, terima kasih. Dan nantikan kisah-kisah sentimentil-melankolis berikutnya. Tapi btw, saya sudah berusaha menyisipkan komedi lho. Terasa nggak ya? 🙂

Salam!

Selamat Ulang Tahun, Na!

Lyona Sutanto/0809745
Hari gini jaman modern bro. Segala yang terkomputerisasi itu biasa 🙂 Do it with your hand!

Martin Yorizlavino/0905543
Bikin handmade gitu? Macam apa?

Lyona Sutanto/0809745
Apa kek, prakarya, sketsa, rumah-rumahan, atau simple, cukup surat cinta. Pakai tangan dong!

Martin Yorizlavino/0905543
Yeyeahh.. Nice idea my sist. Hahaha 🙂 OK. Thanks advisenya. Let’s continue our work. Zzzzzz….

Lyona Sutanto/0809745
Sleepy?

Martin Yorizlavino/0905543
Kalo ga sleepy bukan saya namanya hohoho.

Telepon berdering, layar memperlihatkan sumber telepon. Bos.

“Halo..”

“Yo, ke saya sebentar.”

“Siap pak.”

Martin Yorizlavino/0905543
Udah yak. Dipanggil bos.

Lyona Sutanto/0809745
Haha. Sip. Bonus gede tuh ntar 🙂

Chatting itu berhenti. Yo mengganti status aplikasi chatting internal itu dengan segera, “On Duty”. Hari gini semua bisa dikasih status, entah Facebook, BBM, Whatsapp, bahkan chatting internal kantor macam ini.

Yo beranjak ke ruang bos yang sebenarnya hanya 7 meter dari tempat duduknya. Perinciannya 5 meter lurus dan 2 meter lagi belok kiri. Pintu kaca  dengan tulisan COMPLIANCE MANAGER sudah terpampang jelas disana. Yo adalah anak bagian compliance, sehingga sesekali dia dipanggil su-comply alias sukomplai jika di-Indonesia-kan.

Skip. Nggak perlu tahu apa yang dibicarakan Yo dengan bos. Itu rahasia perusahaan.

Jam lima tepat, bel sudah berbunyi. Ini kantor apa sekolahan memangnya? Entahlah, yang jelas itu tandanya untuk slow down dari pekerjaan, meski Yo baru dapat meninggalkan kursi cokelatnya beberapa jam lagi. Yo anak kesayangan bos, maksudnya kesayangan adalah semua pekerjaan dikasih ke Yo. Dalam dunia kerja ini makna anak kesayangan, beda dengan konsep anak kesayangan ala orang tua kandung.

Yo mulai tergelitik mengunjungi Mbah Dukun paling ternama di dunia yang paling tahu semuanya, Mbah Google. Jemarinya menari mengetik handmade, handycraft, hand gift, dan segala yang berbau hand. Tampaknya chat dengan Lyona sesudah makan siang tadi masih membekas di kepalanya.

Gambar-gambar di Google Image perlahan masuk ke otak Yo.

“Just make a special gift. Handmade!” bisiknya sambil mematikan komputer. Kasihan sekali komputer itu dibunuh sia-sia.

Yo melangkah cepat menuju mobilnya. Dibukanya pintu belakang dan dilemparnya laptop kantor itu ke atas jok. Yo sudah tidak sabar hendak bermain-main dengan tangannya.

* * *

Jam 8 malam. Yo sudah siap dengan semangat 45 dan beberapa gulung kertas. Selama 25 tahun karier hidupnya, baru kali ini dia membuat prakarya di luar tugas sekolah. Dan baru kali ini dia membuat prakarya untuk seorang gadis. Rekam jejak dengan mantan-mantannya tidak mencatat hal ini. Paling mentok mug dan kaos dengan desain photoshop sederhana. Udah, mentok disitu.

Jari-jarinya menari manis bersama cutter, kertas, pensil, spidol, yang semuanya sungguh-sungguh baru. Tak lupa beberapa tumpuk koran lama juga duduk manis di dekatnya. Ada apa gerangan?

Yo tampak semakin serius, bahkan ketika jam sudah menunjuk angka 11. Tangan yang biasanya gesit di atas mouse itu kini kena noda-noda lem dan sedang asyik bergaul bersama kertas asturo berikut alat-alat pemotongnya. Jelas sekali, Yo sedang berusaha membuat karya, yang benar-benar handmade.

* * *

Martin Yorizlavino/0905543
Zzzz… Ngantuk.. Handmade-nya sudah jadi. Gimana cara ngasihnya sist?

Lyona Sutanto/0809745
Hahaha. Kasih sendiri dong.

Martin Yorizlavino/0905543
Lha kan gue dinas besok pas dia ulang tahun.

Lyona Sutanto/0809745
Bagusnya sih lu kasih sendiri. Saia tidak tanggung dampaknya jika tidak.

Martin Yorizlavino/0905543
Jiahhh.. Gue yang tanggung kalau kagak berangkat besok ini.

Lyona Sutanto/0809745
Up to you bro. Ekspedisi juga ada kan. Susah amat. Make it special tapi. Hahaha.

Lyona memang teman curcol dan pemberi tips paling jitu bagi Yo. Meski temannya itu punya nama semacam Singa, tapi dalam hal memberi solusi, Lyona tak kalah cerdik dari kancil.

* * *

Malam belum menjelang tapi Yo sudah sampai di mobilnya, satpam pada heran. Ini mungkin keajaiban dunia ke-8 kalau Yo pulang sebelum gelap. Tapi Yo kudu mengejar waktu ekspedisi tutup. Lagipula besok Yo harus berangkat pagi-pagi buta. Namanya juga dinas.

Yo dalam kegalauan maksimal. Sebenarnya akan sangat baik kalau dia menyerahkan sendiri. Tapi kendala teknis memaksanya berbuat dengan bantuan jasa pengiriman. Nah, perlukah Yo menulis namanya di sampul kadonya?

Menurut SOP-nya ekspedisi, itu wajib. Dan Yo merasa malu dengan itu. Pergumulan ini menemani Yo menyusuri jalan-jalan kecil menuju kantor ekspedisi. Keputusan akhirnya diambil terpaksa, daripada disangka pengirim paket kaleng, maka Yo, mau tidak mau, harus mencantumkan alamatnya sendiri. Ah, biarlah, sekali-kali.

* * *

Deg-deg-deg-ser, itulah suasana hati Yo malam ini. Di kamar hotelnya dia berguling kesana-kemari. Orang yang dikiriminya paket kemarin tidak memberi kabar apapun. Sudah sampai terima kasih, atau ini apa buat apa ngapain kamu kirim pun tidak ada. Sepi. Sebagai makhluk compliance yang biasa mengkonfirmasi banyak orang maka Yo harus memastikan. Meski dengan hati sepenuhnya deg-deg-deg-ser.

Yo mengetik sebuah nomor di telepon genggam sentuh paling ternama yang ada di pelukan jemarinya. Dia hafal nomor gadis itu.

“Tuttttttt…. Tuttttttt…”

“Halo?”

“Na?”

“Ya.. Kenapa Yo?”

“Ada terima kiriman paket dari aku?”

“Iya Yo. Uda kok. Makasih ya. Bagus banget. Dalam rangka apa tuh?”

Jegggeerrrrrr… Ini gadis nggak ngerti atau hanya mau konfirmasi.

“Seperti yang aku tulis, Na. Selamat ulang tahun dan kepentingan khusus. Hehe.”

“Yang mana sih yang khusus?”

Ya ampun. Inilah susahnya menghadapi makhluk unik bernama wanita.

“Kamu bukanlah biasa, karena kamu istimewa. Kamu tidak layak disiakan, karena kamu pantas diperjuangkan. Selamat ulang tahun, tetaplah menjadi si cantik yang tiada dua. Dan, ada sambungannya..”

“Nggak ada kok Yo. Cuma sampai tiada dua doang?”

“Eh.. eh.. Gimana ya? Hmmmm.. Dan bolehkah aku memperjuangkan diriku untuk kamu?”

Yo sudah pucat pasi. Segenap keberaniannya tumpah dalam sepotong kalimat barusan.

“Heh?”

Yah, inilah wanita. Faktanya, mereka memang butuh yang JELAS dan LUGAS. Tidak bertele-tele.

“Baiklah… Aku sayang sama kamu, Na. Bertahun-tahun aku menikmati indahnya jatuh cinta tanpa tendensi memiliki. Dan itu kepada kamu. Cinta tanpa upaya memperjuangkan. Ternyata indah, sebenarnya. Tapi aku sampai pada satu titik, Na. Bahwa kamu itu istimewa. Aku tidak sekadar jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada gadis yang istimewa. Dan aku ingin menghabiskan masa depanku bersama gadis yang istimewa. Jadi, ehm, kamu mau jadi pacarku?”

Yo semacam orang yang orgasme, lega selega-leganya. Tahanan menahun di dalam hati lepas pula. Hasilnya? Ah, biarkan, pikir Yo. Lebih penting untuk menyelamatkan hati alih-alih sirosis daripada yang lainnya.

“Hihihi.. Yo.. Yo…”

“Kok ketawa, Na? Ini serius loh..”

“Iya Yo, aku tahu. Sebenarnya masanya sudah lewat. Coba kalau kamu bilang begini dari dua tahun yang lalu. Pasti langsung tak terima dengan senang hati.”

Mampus. Menumpuk perasaan dan menahannya terlalu lama itu bisa punya konsekuensi logis, TERLAMBAT. Telat kok dua tahun?

“Kalau sekarang?”

“Sebenarnya hatiku belum sepenuhnya kosong Yo. Cuma, melihat cara kamu, ehmm.. ada yang bisa dipertimbangkan.”

“Jadi, Na?”

“Buktikan kalau kamu memang memperjuangkan diri untuk aku. Then, I will tell you the answer.”

Jawaban yang penuh teka-teki, tapi Yo kadung semangat dan lantas menjawab, “Mulai detik ini, Na. Janji!”

“Buktikan saja, Yo.”

Dan percakapan berakhir. Sebuah konfirmasi kado yang menjadi konfirmasi perasaan. Ah, gawat juga kalau berkelanjutan macam itu.

* * *

Martin Yorizlavino/0905543
Sist, happy birthday ya!!!!! Kapan dapat jodoh? Haha.

Lyona Sutanto/0809745
Asem. Btw, thanks eaaa.. Gimana kemarin?

Martin Yorizlavino/0905543
Cukup lancar. Gue disuruh membuktikan omongan dulu, baru tahu.

Lyona Sutanto/0809745
Hahayyy.. Okelah. Itu mah tanda-tanda.

Martin Yorizlavino/0905543
Semoga. Hati gue sudah kepentok sama Ina Sist. Hehehe.

Lyona Sutanto/0809745
Mantap! 🙂

Yo riang gembira, keputusan tidak final dari Ina adalah nafas. Penantian bertahun akan dibuktikan dengan perjuangan. Apapunlah. Apapun buat Ina.

* * *

@LyonaS: dan hatiku terdampar di pulau yang bertuan.

Lyona menaruh BB-nya. Sebuat twit diharapkannya dapat meredakan bulir air mata yang siap menetes begitu Yo menyampaikan kabar setengah gembiranya. Yo, tempat hati Lyona terdampar. Dan Yo sudah punya tuan. Sebuah silogisme sederhana yang bersangkut paut menimbulkan getir.

Ah, bahwa gembira dan getir memang bermula dari titik yang sama.

Mimpi Yang Tersisa

Binaka, sebuah bandara mini yang dikelilingi hutan. Macam inikah bandara? Ah, itu pertanyaanku dulu, waktu pertama kali menjejak di tempat ini. Dulu benar, ketika aku masih bekerja di tempat ini. Sebuah dulu yang memang sudah berlalu. Aku datang kembali ke tempat ini hanya hendak berwisata, bagaimanapun Pulau Nias ini indah.

Handphoneku yang setengah pintar berdering. Ya benar berdering, aku lupa menggantinya dengan nada dering yang lebih masa kini. Malas. Buat apa?

“Dimana pak?”

“Sedang nunggu bagasi.”

“Oke. Saya di luar, pakai Avanza hitam.”

“Sip.”

Dari pemilik mobil sewaan yang sudah kupesan dari beberapa hari yang lalu. Bandara ini lumayan jauh dari Kota Gunungsitoli. Meski ada angkutan on the spot, sebagai orang yang hendak berwisata, dan sebagai pemilik private time, lebih baik aku mengeluarkan uang lebih.

“Dari mana dik?” tegur seorang ibu dengan usia kutaksir di atas setengah abad.

“Jakarta bu. Ibu sendiri?”

“Sama kalau begitu. Langsung atau nginap dulu tadi?”

“Berangkat paling pagi bu, dari Jakarta.”

“Ohh.. Ini mau kemana dik?”

“Jalan-jalan bu. Hehe.. Ibu sendiri?”

“Mau tengok anak dik. Kerja disini.”

Ibu ini, sudah tidak cantik, tapi tampaknya dahulu cantik. Prediksi saja. Suaranya tidak mencerminkan orang Nias atau Batak sekalipun, halus sekali.

“Ke kota naik apa bu?” tanyaku.

“Paling naik itu mobil yang biasanya.”

“Ikut saya saja bu, saya sewa jemputan.”

“Tidak menyusahkan dik?”

“Nggak lah bu. Kota Gusit kan nggak gede-gede banget. Hehe.”

Aku dan ibu itu masih berdiri menunggu bagasi kami masing-masing. Maklum bandara kecil, metodenya juga masih sederhana. Dan tentunya, umpek-umpekan padat merayap tanpa harapan. Aku sendiri, karena dulu sudah biasa, memilih untuk mengambil jarak. Toh, pada akhirnya akan giliran kita juga.

Lima belas menit menanti, aku dan ibu itu mendapat gilirannya juga. Dua tas terakhir itu kemudian beralih kepada pemiliknya.

Mobil Avanza hitam sudah menanti di depan, sudah sepi parkirannya.

“Silahkan bu..” Aku mempersilahkan ibu yang tidak aku tahu namanya itu masuk duluan. Ini katanya harkat lelaki. Aku mengikuti masuk, dan mobil berjalan.

Perjalanan ini termasuk sepi. Apalagi untukku yang penat dengan hiruk pikuk Jakarta. Ada pohon tinggi di tepi jalan sudah membuatku shock, jangan-jangan ini pohon mau tumbang.

“Anaknya kerja dimana bu? Proyek ya?” Aku membuka pembicaraan.

“Iya dik. Kok tau?”

“Biasanya yang ke Nias kalau dari luar pulau, ya ngerjain proyek bu. Hehe. Dulu saya juga anak proyek.”

“Oh begitu. Memangnya adik lulusan apa?”

“Saya sastra sih bu.”

“Kok ngerjain proyek?”

“Hehe. Nggak apa-apa bu.”

“Kayaknya sekolahnya nggak sesuai cita-cita ya?”

Ups, jleb.. jleb.. jleb.

“Iya sih bu. Dulu mau jadi apoteker, tapi nggak kesampaian. Jadi daftar lagi. Nggak apa-apa, dari meracik obat jadi meracik kata-kata.”

“Dik.. dik.. sudah berkeluarga?”

“Calonnya aja nggak ada bu.” kilahku.

“Gebetan? Masak anak muda sukses, bisa plesir ke Nias, nggak ada bayangan kesitu.”

“Dalam bayangan bu.”

Ibu itu geleng-geleng sambil tersenyum simpul.

“Dik, dalam hidup ini ada 2 hal yang harus kita capai. Hidup kita hanya 24 jam sehari. Sebagian untuk apa?”

“Tidur sama kerja bu?”

“Sisanya?”

“Ya, sisanya bu. Macem-macem.”

“Sebagian kerja, kamu benar dik. Sebagian lagi yang masuk hidup kita ya orang yang akan bersama kita. Sepanjang hayat. Jodoh dik.”

Aku tertegun.

“Hidup yang indah itu kalau kita menjalani hidup sesuai mimpi kita dik. Maaf saya cerita ya. Saya dulu kerja di kantoran, tapi saya nggak nyaman dengan tembok-temboknya, sampai saya beranak dua dik. Hidup rasanya menderita sekali.”

“Ehm, maaf, lalu ibu keluar?”

“Sulit kalau sudah berkeluarga, sudah beranak dua apalagi. Untuk ada suami. Jadinya sebagian hidup saya masih tetap indah dik. Itulah, saya kalau ketemu anak muda, apalagi yang seperti adik ini, pasti akan ngomong hal yang sama.”

“Jadi maksudnya bu?” Aku garuk-garuk tanda tak mengerti.

“Kamu sudah terjun di bidang yang bukan mimpimu kan dik? Walaupun menikmati, pastilah tidak penuh. Nah, hidup ini singkat. Jangan sampai hidupmu musnah dari mimpi. Kalau yang pekerjaan sudah sirna, jodoh tadi itu, kejarlah, sampai dapat.”

Aku lagi-lagi tertegun.

“Ini kalau kamu mau hidup yang sebenarnya ya dik. Kadang kita harus realistis, tapi asal kamu tahu dik, realistis itu sejatinya tidaklah hidup. Hidup bergantung pada mimpi-mimpi kamu.”

Perjalanan mulai masuk ke kota Gunungsitoli. Dan aku masih tercenung nikmat.

“Iya ya bu.. Hehehe.. Baru sadar saja.. Ibu turun dimana?”

“Di Rumah Sakit saja. Anak saya tinggalnya dekat situ.”

Mobil Avanza hitam pun mulai menuju ke Rumah Sakit. Tidak banyak yang berubah, jalan-jalannya masih menantang maut disini. Maklum, bukit dan pantai bersatu, pastilah ada tikungan dan turunan.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Ibu itu lantas turun.

“Makasih banyak ya dik. Jangan lupa mimpinya dikejar ya.” kata ibu itu seketika turun dari mobil sewaan ini.

“Makasih banyak juga bu. Salam buat anaknya.”

Pintu tertutup, perjalanan berlanjut ke Hotel tempatku menginap. Yang punya hotel adalah saudaranya yang punya mobil sewaan ini. Tak perlu kusebut, mobil ini memang akan mengarah kesana. Debur ombak terdengar sesekali karena jalan menuju hotel memang dekat dengan pantai.

Kukeluarkan handphoneku, jemarimu menyentuh beberapa kali sampai muncul sebuah foto. Seorang gadis dari masa lalu. yang selalu membayangi dan menjadi mimpiku, tapi tak pernah dekat denganku. Jemariku menyentuh kembali, sampai ke deretan kontak dan lantas pada sebuah nomor. Ehm, sebenarnya aku hafal sih nomor itu, tanpa perlu melihat ke kontak.

Dengan jemari bergetar, kugeser layar sentuh itu ke kanan, Call.

Tutttt.. Tutttt… Tutttt..

“Halo?”

Bahwa aku harus mengejar mimpiku yang ini, yang tersisa.

 

Sesimpel Retweet

Saya join Twitter mid 2009, daftar di warnet di Palembang di masa-masa saya tidak punya apa-apa. Laptop belum ada, motor apalagi. Hiks. Dan parahnya, twit saya selama itu hanya 2000-an, baru 2123 tadi sore, sementara rekan lain sudah sampai 7000, meski daftar sesudah saya.

Okelah.

Tapi hari ini dapat pengalaman unik. Hehe. Dulu pernah di Retweet plus Mentions sama Sujiwo Tejo untuk pengamen yang membawakan monolognya. Sekarang, saya yang follow anggota DPR dan bekas aktivis Budiman Sudjatmiko, ikut serta dengan hashtag #SBY dengan pertanyaan ‘Apa Pendapatmu Tentang #SBY?”

Jujur, saya takut neko-neko. Makanya saya cari twit yang netral dan realistis. Ngeri saya terlibat dalam kegalauan politis, maka saya ikutan dengan menjawab ‘Bapak 2 anak dgn menantu yang cantik cantik’. Bagi saya, Pak Presiden SBY itu memang punya menantu yang ayu minta ampun.

Eh, malah di Retweet dan dijawab: Sepakat..

Dan twit saya juga di-RT 4 orang lain. Syukurlah.

Pentingkah?

Balik lagi, bagi seorang penulis pencari jatidiri, pengakuan adalah yang terpenting. Dan ketika Budiman melakukan RT pada twit saya, itu termasuk pengakuan, apalagi tidak semua twit dibalas, kebanyakan di RT saja.

Yang belum tembus di RT itu Raditya Dika sama Alberthiene Endah sekarang. Kapan-kapan ya.. 🙂

Salam-Salaman!

Ramalan, Mari Diramal

Ramalan Jodoh Lahir Maret
Buat orang yang lahir di Bulan Maret ini biasanya berkharisma, pemalu, agak penuntut, dan egois tapi menarik. Yeup!! para pasangan untuk Bulan maret harus ekstra sabar menghadapi kelakuan si dia yang kadang super bawel. Makanya orang – orang yang paling pas buat Bulan Maret adalah orang yang lahir di bulan Januari, April, Mei, Juni , Juli, Oktober dan Januari.

Dikutip disini

Wahhhhhh… Januarinya sampai disebut dua kali…

Siapa ya?

Hahahaha…

Bapak Millennial