Mengapa Saya Suka WFH?

Barusan saya kaget melihat ada seseorang dari kementerian yang cukup penting di masa pandemi ini yang merasa kaget bahwa ada kantor yang masih WFH. Ya gimana nggak kaget, wong varian Omicron baru masuk, artinya kita masih harus berjauh-jauhan sebenarnya kan…

Tapi kok..

Cuma ya sudahlah. Satu hal yang pasti, pasca 3 bulan merasakan WFH dan WFO serta Dinas dengan seimbang, sesungguhnya saya harus mengutarakan bahwa saya lebih suka WFH.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Pertama, tentu saja karena saya tidak perlu menambah risiko dengan pergi ke luar rumah untuk bersua orang-orang terutama di transportasi umum. Dari situ saja saya sudah senang. Bukan apa-apa, segalak-galaknya petugas mereka juga akan takluk oleh situasi. Benar bahwa masuk stasiun harus scan aplikasi PeduliLindungi, tapi yang nge-share screenshot-an juga ada. Saya pernah lihat di salah satu stasiun. Belum lagi yang batuk-batuk ke KRL dan sejenisnya. Masih ditambah lagi saya kudu naik bis, naik ojol, dst. Ketemu orang dengan faktor risiko semua kan…

Kedua, berkaitan dengan risiko di atas ada risiko lainnya yaitu risiko finansial. Buat ke kantor saya harus nitip motor Rp8.000 lalu naik KRL Rp3.000 kemudian lanjut TransJakarta Rp3.500 lalu dipungkasi dengan ojol Rp17.000. Sudah Rp31.500 berangkatnya saja. Kemudian pulangnya Rp25.000 ojol dari kantor ke stasiun. Hampir Rp60.000,- Ini tentu belum termasuk biaya beli masker yang tentu beda jika saya kerja di rumah dan nggak pakai masker. Dengan gaji yang pas-pasan begini, sudah pasti saya mending nggak keluar Rp60.000,- sehari untuk bekerja.

Ketiga, waktu yang sangat berharga. Saat WFO, saya berangkat jam 6 dan sampai kantor 7.40-an. Ada 1 jam 40 menit yang sebenarnya bisa saya habiskan di depan laptop untuk mengerjakan banyak hal. Demikian pula dengan pulangnya. Dari 16.30 sampai 18.00 itu juga bisa saya pakai untuk kerja. Sementara kalau WFO, pada jam-jam itu saya lebih banyak ngelamun.

Photo by Elena Saharova on Pexels.com

Keempat, fasilitas. Internet di kantor saya ya ada, tapi kan yang pakai banyak. Sementara kalau di rumah, saingan saya cuma Isto. Sepanjang saya Zoom Meeting dari rumah, nggak pernah sekalipun ada peringatan berupa sinyal warna merah karena ya saya penguasa internet di rumah. Belum lagi kalau mau 2 atau 3 Zoom sekaligus, saya bisa bajak laptopnya Mama Isto, atau laptop Isto-nya sekaligus.

Kalau di rumah, begitu Mama Isto ngantor, maka saya segera menyalakan laptop dan bisa kerja mulai 6.30. Nanti jam 8 Aunty akan datang dan Isto dialihkan pengasuhannya ke Aunty dan saya bisa kerja terosss sampai siang. Rehat sedikit makan siang, saya kemudian bisa stay di depan laptop sampai Mama Isto pulang. Durasinya memang lebih panjang dan pekerjaan juga jadi lebih banyak yang bisa dikerjakan. Lebih pusing, sih. Cuma pekerjaannya kan memang tipe semua pakai laptop, jadi ya mau di kantor atau di rumah kan saya sama-sama lihat laptop.

Masalahnya memang banyak orang yang menjadikan WFH ini sebagai liburan dan bikin sejumlah bos enggan me-WFH-kan pegawainya. Model beginilah yang saya agak sebal karena saya sendiri merasakan bahwa banyak hal yang bisa saya kerjakan di rumah dalam mode WFH dan bahkan lebih ciamik pula hasil kerja saya di WFH.

Hari Jumat kemarin soal ini sudah saya sampaikan sendiri ke pimpinan dan semoga dapat menjadi hal yang baik ke depannya. Bukan apa-apa, pandemi ini belum berakhir. Gitu, sih.