Ketika Anak Kereta Naik MRT Jakarta

mrt-1

Saya adalah anker alias anak kereta, yang setiap hari berjibaku di padatnya KRL Jalur Serpong. Saya bahkan merasa tidak cukup kuat untuk melakoni Jalur Bogor sehingga untuk mengontrak rumahpun mlipir ke Tangsel alih-alih Depok apalagi Bogor.

Maka, ketika kemudian ada MRT Jakarta dari Lebak Bulus ke Bundaran HI, saya tentu tertarik. Apalagi, dalam 2 kesempatan ke luar negeri, saya sangat mengagumi kelancaran MRT di Singapura dan Hong Kong.

Stasiun Hong Kong Central, misalnya, bagi saya adalah hub yang sangat luar biasa besar namun nggak bikin bingung nubitol kayak saya. Hawa-hawanya, peran itu akan dibawakan oleh Manggarai kalau di konteks Jabodetabek, tapi ya Manggarai kan bukan buat MRT.

Kesempatan untuk mencoba MRT Jakarta akhirnya datang juga melalui uji coba publik yang digelar oleh pihak MRT. Tanpa menunda, saya langsung memesan tiket uji coba pada menit-menit awal pendaftaran dibuka. Untunglah masih dapat.

Saya memilih untuk naik dari Bundaran HI, karena yang paling masuk akal kalau dari kantor dan kebetulan juga stasiun ujung, jadi pasti agak gede.

Kesan apa yang saya peroleh tentang MRT Jakarta?

Pertama, betul-betul mirip dengan yang ada di luar negeri! Mulai dari pintu masuk hingga pengaturan interior bahkan sampai signingnya begitu mirip dengan yang ada di HK atau SG. Lift hingga mesin isi ulang kartu juga sangat mirip atau bahkan sama. Jadi, nggak usah jauh-jauh ke HK atau SG kalau cuma pengen nyicip MRT. Sudah ada di jantung Jakarta.

mrt-jakarta-5

Kedua, stasiun bawah tanahnya memang dalam sekali. Menjadi wajar ketika pembangunannya butuh waktu kurang lebih 5 tahun ketika butuh bikin 2 tingkat bangunan di bawah jalanan protokol Jakarta. Segitunya sih masih biasa karena di jalur-jalur transit di HK atau SG bahkan jalur bawah tanahnya pun bisa bersilangan.

Ketiga, minim tempat sampah! Saya masuk ke stasiun dengan plastik es degan dan keluar lagi dengan plastik yang sama di kantong jaket. Ha, bahkan di toiletnya saja juga tidak ada tempat sampah. Menurut berita, hal ini disebabkan karena MRT hendak menciptakan budaya baru. Namun menurut saya, ya gimana ya, ada tempat sampah saja kita masih suka nyampah sembarangan.ย Apalagi nggak ada.

Keempat, stasiun layangnya versi modern jalur Cikini-Jakarta Kota. Di Jakarta sudah sejak lama ada stasiun layang, mulai dari Cikini, Gondangdia, Juanda, hingga Jayakarta. Nah, si MRT ini bedanya paling hanya di pagar pembatas ke jalur kereta, sesuatu yang memang tidak ada di KRL Jabodetabek.

mrt-jakarta-3

Toilet di Stasiun Dukuh Atas Pada Awal Uji Coba

Kelima, saya masih bingung siapa yang akan pakai MRT. Kecuali orang-orang yang beli apartemen di jalur MRT dan orang-orang sekitar Lebak Bulus, saya belum paham siapa yang akan naik MRT pada saat orang-orang tinggalnya di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Hanya saja, karena MRT ini adalah proyeknya Pemprov juga, memang wajar ketika seluruh stasiunnya ada di tanah Jakarta.

mrt-2

MRT ketika bersilangan dengan TransJakarta Koridor 13

Jalur sekarang boleh dibilang menumpang koridor TransJakarta paling rapi, koridor 1. Sehingga wajar kalau anak TJ mulai curiga bahwa koridor 1 itu bakal dipangkas armadanya demi mendorong orang naik MRT. Kalaulah diperpanjang sampai Tangsel, entah di Pondok Cabe atau bahkan sampai Ciputat baru saya yakin sama faedah MRT ini.ย Lah, ini malah mau dibangun sampai Ancol.

Keenam, bagaimanapun MRT adalah kemajuan bagi bangsa ini, meskipun operasionalnya subsidi dan pembangunannya pakai pinjaman. Sekarang, bolehlah kita angkat kepala kala berhadapan dengan negeri seperti HK atau SG. Setidaknya, di ibukota, sudah ada transportasi masal yang cukup maju dan untuk itu kita perlu mendukung operasionalnya.

mrt-jakarta

Oh, satu lagi, yang ketujuh, jalur MRT ini punya interkoneksi ciamik di Dukuh Atas dengan TransJakarta langsung di pintu keluar, akses ke Stasiun KRL Sudirman yang sedang digarap sebagai pedestrian, hingga akses ke Stasiun Sudirman Baru alias BNI City yang merupakan akses ke Bandara. Singkat cerita, hidup di Sudirman, Thamrin hingga Bundaran Senayan dan Blok M akan semakin dimudahkan.

Kalau kamu kerja di Jakarta bagian lain seperti saya di Salemba, ya itu masalahmu dan MRT Jakarta bukanlah solusinya. Heuheuheu.

mrt-jakarta

Stasiun Dukuh Atas

Advertisements