Kondangan Deg-Degan ke Jambi

Pada bulan Oktober, bos saya ketika itu menggelar kondangan pernikahan anak pertamanya di homebase-nya. Iya, sebagai orang Jambi, tentu saja pernikahannya digelar di Jambi. Mosok di Oregon?

Posisi saat itu, saya sudah lepas dari jabatan. Walhasil, tentu tidak dimungkinkan untuk mendapat biaya-biaya apapun dari kantor. Jadilah, saya berangkat dan pulang pakai uang sendiri. Kebetulan masih ada.

Soal itu sih nggak masalah. Yang masalah dan sangat bikin deg-degan, adalah satu problematika lagi.

ASAP.

Sejak pindah dari Palembang tahun 2011 sesungguhnya saya sudah kurang akrab sama asap. Ada sih kena asap sesekali ketika pergi dinas ke kota-kota yang familiar dengan asap. Tapi overall sudah lupa sama asap.

Nah, kondangan Pak Bos ini juga bertepatan dengan kabut asap yang lagi pekat-pekatnya. Saya sendiri membeli tiket balil hari. Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ya jam 4-an gitu. Untuk penerbangan lintas pulau, saya berasa pergi ke Bekasi karena hanya bawa 1 tas dan itupun isinya laptop (untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu-waktu luang yang ada).

Karena penerbangan pagi, belum ada halangan berarti meskipun kabutnya sudah jelas. Tapi masih bisa landing. Okesip.

Begitu sampai Jambi-nya. Wew. Lihat saja gambar-gambar berikut ini:

Ini adalah sesuatu yang pernah saya alami bertahun-tahun silam ketika masih di Bukittinggi atau di Palembang. Tentu tidak akan terjadi ketika saya ngekos nggak jauh dari istana negara. Memang begitu, yang jauh-jauh dari pusat kekuasaan itu agak kasihan. Ini adalah contohnya.

Kondangannya sendiri berlangsung baik-baik saja. Ketika sudah mulai cabut, saya mampir sejenak di sebuah warung kopi sembari menunggu waktu yang pas untuk ke bandara.

Ketika tiba waktunya, saya mendapati bahwa bandara Sultan Thaha ramai sekali. Cek flightradar24, eh, ternyata sudah ada beberapa penerbangan yang divert ke Palembang. Bandara sini ditutup karena jarak pandang.

Bayangkan posisinya saya sudahlah nggak punya uang, nggak punya baju pula. Sudah kebayang kalau mau menginap bagaimana ini caranya~

Well, pada akhirnya sih jarak pandang kembali terbuka. Meski memang sangat minimal tapi masih sesuatu standar sehingga setidaknya bisa terbang. Saya kemudian naik pesawat dengan deg-degan dan begitu pesawat menembus awan akhirnya agak legaan.

Btw, ini adalah penerbangan balik hari saya yang kedua. Pertama kali itu tahun 2008, ke bandara cuma minta tanda tangan dosen pembimbing 2. Saya dari Jogja ke Jakarta, bawa 8 skripsi untuk ditanda tangan. Kebetulan bapaknya mau dipaksa ke bandara. HAHAHAHAHA.