Bandung lagi-lagi ramai di media sosial. Kali ini menyoal transportasi. Rencana pemerintah untuk menonaktifkan bandara Husein Sastranegara guna mengoptimalkan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati mengundang diskusi yang panjang lebar. Salah satunya termasuk usulan bahwa seharusnya bandara itu di Bandung Selatan dan sejenisnya.
Pada intinya, sih, Bandung adalah salah satu destinasi idaman yang sebaiknya memang terkoneksi dengan bandara. Hal ini juga terkoneksi dengan salah satu konten dari akun Instagram Kereta Cepat yang menawarkan ide bagi pekerja Jakarta untuk (((makan siang di Buah Batu))).
Yakali makan siang doang di Buah Batu? Padahal di Bandung itu ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, selain tentu saja kulineran di bandung.
Pertama, lari pagi-siang-sore-malam di Gasibu
Lapangan yang pernah bernama Wilhelmina Plein alias lapangan Wilhelmina ini terletak persis di depan Gedung Sate. Kenapa namanya Gasibu? Ada kemungkinan terkait dengan aktivitas Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara yang dulu pernah aktif bermain di sekitar situ.
Sumber: Musafir Kehidupan
Yang menarik dari Gasibu ini adalah treknya benar-benar trek serius buat lari. Bagus betul. Saya pernah beberapa hari menginap di Ibis (karena mengawal bos yang di Pullman) dan sering sekali memanfaatkan Gasibu untuk mencari keringat. Sebab di Ibis nggak dapat fitness. Tentu saja.
Ngadem di Taman Hutan Raya
Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda adalah bagian dari daerah cekungan Bandung dan punya latar belakang sejarah dengan zaman purba hingga sekarang sebab berdasarkan aspek geologis daerah ini berubah oleh gejolak alam dalam kurun waktu ke waktu.
Sumber: tahurabandung.com
Tahura Ir. H. Djuanda awalnya tadinya adalah kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang berubah fungsi menjadi Taman Wisata Alam (TWA) Curug Dago. Pada tahun 1985 atau bertepatan dengan kelahiran Ir. H. Djuanda, TWA Curug Dago diresmikan sebagai Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang merupakan Tahura pertama di Indonesia.
Dan sudah barang tentu, selain ke tempat-tempat tersebut di atas, maka Bandung identik dengan kulinerannya. Sebagai mantan warga ber-KTP Bandung (Barat) dan sekaligus punya anak kelahiran Bandung, berikut sedikit banyak rekomendasi kulineran di bandung versi ariesadhar.com.
Batagor Depan Sekolah Aloysius
Ini rekomendasi pribadi istri. Pernah suatu hari cuti, kami jauh-jauh dari Ngamprah ke tengah kota Bandung cuma buat makan batagor ini.
Sumber; @infobandung_food
Sisi positif dari Batagor ini adalah lokasinya yang di deretan makanan enak lainnya, seperti misalnya Seblak Sultan dan sederet makanan enak lainnya.
Lumpia Basah Jalan Ganesha
Lagi-lagi karena rekomendasi istri, maka untuk kategori lumpia basah tentunya mengarah ke ITB. Dengan pelanggan yang tersebar di seluruh dunia, ITB tentu menjadi magnet sehingga lumpia basah ITB ini selain enak juga laris karena berkuah kenangan. Heuheu. Intinya sih kalau buat anak ITB, lumpia basah ini sudah pasti jadi destinasi kulineran di bandung yang penuh kenangan.
Oya, saya juga bertanya ke Bard-nya Google soal rekomendasinya dia mengenai aktivitas yang sebaiknya kita lakukan di Bandung. Dan menurut si mamang Bule ini, rekomendasinya adalah:
Mengunjungi Gedung Sate
Sebuah hal yang menarik, sih. Tapi tadi kan sudah lari di Gasibu. Jadi bisa sekalian mampir. Saran saya jangan foto-foto Gedung Sate dari Gasibu. Soalnya bakal ada kabel melintang. Hehe.
Mengeksplorasi Jalan Braga
Nggak usah panjang-panjang, ada posting legendarisnya di blog ini yakni Braga, I’m in Love.
Mencicipi Kuliner Lokal
Nah, cocok sekali bukan. Lebih lanjut soal kulineran di bandung bisa merujuk ke tautan yang ada di posting ini, selain juga beberapa yang sudah disebutkan.
Demikianlah sedikit kisah tentang Bandung dan aktivitas serta kulineran yang menyertainya. Semoga berkenan. Bhay~
Selamat datang kembali di blog yang sebenarnya makin mahal bayarnya tapi empunya makin jompo untuk mengisi kontennya~
Alkisah beberapa hari lalu, saya dan keluarga berlibur ke Legoland. Tentu saja Legoland-nya tidak jauh-jauh ke Dubai, apalagi Florida. Cukup ke Johor Bahru saja. Segitu saja tabungan sudah menyusut dengan drastis, gaes.
Jadi sejak lama Kristof memang nonton Ryan Kaji di YouTube Kids. Ada episode main di Legoland. Lalu kemudian pada beberapa ulang tahun, teman-temannya memberi bingkisan lego yang plastik sebagai penyerta chiki dan sejenisnya. Saya masih berpikir miskin kala itu dengan membelikannya lego curah. Cuma pas dibeliin jadi aneh karena banyak yang tidak berpasangan.
Singkat cerita, hasil hitung-hitungan sama istri akhirnya kami memutuskan untuk dijadikan saja liburan ke Legoland ini. Lagipula, Kristof ini dari umur 2 tahun sudah punya paspor. Gara-gara pandemi saja dia batal diajak ke luar negeri. Sekalianlah dia sudah umur 6 tahun dan sudah mau masuk SD. Jadi biar nanti kalau-kalau ditanya soal pengalaman ke luar negeri, minimal dia tidak kosong melompong sama sekali.
Ada banyak kisah sebenarnya, tapi kali ini saya mau cerita soal naik bis dari Singapura ke Legoland saja karena bagian ini yang agak sulit mencarinya dalam proses penyusunan itinerary kemarin.
Jadi, Singapura ke Legoland ini dekat sekali sebenarnya. Naik bis itu hitungan 1 jam lebih sedikit. Apalagi di Singapura jalanan terbilang tidak macet dan Legoland pun sebenarnya belum masuk ke pusat kota Johor Bahru. Jadi benar-benar masih di pinggir. Dalam banyak video di YouTube, bahkan pada naik Grab dari Singapura ke Legoland.
Okey. Jadi, hasil cari-mencari sebenarnya soal beli tiket bis ini bisa diperoleh di Klook dan bahkan Traveloka. Cuma atas beberapa pertimbangan, saya kemudian mencoba meluncur ke sumber aslinya. Jadi kalau di Klook itu memang bisnya akan WTS Travel yang bisa diakses di https://www.wtstravel.com.sg/. Dan situswebnya sendiri terbilang mudah diakses dan bisa untuk transaksi dari Indonesia. Jadi, kami eksekusi sekalian.
Bis ini hanya ada 1 kali sehari yakni di pukul 09.00 pagi waktu Singapura. Di tiket, penumpang diharapkan sudah bersiap 08.45. Kemudian bis balik ke Singapuranya adalah pada pukul 17.00 dengan bersiapnya 16.45.
Sebenarnya secara realita tidak 15 menit juga. Dalam perjalanan kemarin, bisnya baru tiba sekitar 8 menit sebelum jam keberangkatan. Tapi memang berangkatnya pas tepat jam 9. Yang nyupir kemarin babang-babang keturunan India yang memang banyak di Singapura. Kebetulan sekali pas berangkat di tanggal 25 Juni, kami dapat double decker. Cocoklah Kristof bahagia sekali karena dapat bis semacam ini. Tujuan membahagiakan anak tercapai.
Lantas di sebelah mana menunggunya?
Benar-benar di Singapore Flyer-nya. Nanti bisnya akan berhenti di depan halte ini. Cuma, karena di seberang itu adalah pit stop untuk F1, saya kurang paham kalau musim F1, di sebelah mana bisnya akan berangkat. Soalnya saya nggak nemu ada semacam Kalibanteng-nya Mangkang di Singapura sini.
Satu hal yang perlu dicatat adalah kita tidak bisa pilih kursi. Ketika membeli tiket tidak ada opsi itu. Dan pas mendapat tiket dari Babang Driver, langsung sudah dikasih nomor kursi. Bagasi kita taruh di bawah, lalu kitanya naik.
Selanjutnya, kita akan masuk ke Malaysia melalui Tuas Point. Nah jadi kalau di Singapura ini modelnya seperti terminal yang tertutup begitu. Ketika masuk Tuas Point, nanti kita akan masuk ke ruangan kaca (yang tidak boleh difoto), lalu akan bersua kamera canggih imigrasi Singapura. Nanti saya akan cerita sedikit prahara anak saya dengan imigrasi Singapura. Semoga dia nggak keburu SMP ketika saya sempat menuliskannya.
Sesudah kelar imigrasi, bis akan muncul di sisi satunya lagi. Dan konsepnya benar-benar seperti terminal yang ada bis plat ini parkir di jalur inu.
Sudah selesai?
Tentu belum. Saatnya memasuki imigrasi Malaysia melalui imigrasi Sultan Abu Bakar. Di bagian ini, ruangannya tidak sebesar Singapura. Pas saya ngantri kemarin, ada beberapa alat yang aneh-aneh aja error-nya. Jangan lupa kalau turun di Malaysia ini, semua barang bawaan turut dibawa serta dan akan dicek di Custom. Ini catatan penting karena saya sempat ngantri, lalu lari ambil tas bocah, untuk kemudian ngantri lagi.
Nah di “terminal” imigrasi Malaysia akan ada petugas dari WTS yang akan memberikan rambu-rambu perjalanan. Pas kami datang itu, petugasnya om-om. Dari mereka akan mengingatkan soal jam berkumpul jika balik hari dan beberapa keterangan lainnya.
Jadi, dengan naik bis jam 9 sebenarnya sampai ke Legoland-nya saja bisa jam 11 lewat. Sedangkan Legoland-nya tutup jam 6 kalau tidak salah. Maka, kalau saya sih menyarankan untuk tidak perlu balik hari kalau rutenya Singapura-Legoland. Mending besoknya sekalian baru pulang.
Ketika pulang, hal yang harus diperhatikan adalah mengisi aplikasi untuk masuk ke Singapura di https://eservices.ica.gov.sg/sgarrivalcard/ sejak dari Legoland dan sudah melihat plat bis yang akan kita naiki sebab antreannya dapat kena pengaruh apabila belum mengisi aplikasi tersebut. Bukan apa-apa, isiannya cukup panjang apalagi kalau 1 rombongan.
Sci-Hub is a website that provides free access to millions of scientific papers and books. The site was founded in 2011 by Alexandra Elbakyan, a researcher from Kazakhstan. Elbakyan created Sci-Hub in response to the high cost of scientific publications. She argued that the high prices of scientific papers were preventing people from accessing the information they need to do research and make new discoveries.
Sci-Hub works by illegally downloading scientific papers from subscription-based journals and then making them available for free online. The site has been praised by some for making scientific knowledge more accessible. However, it has also been criticized by others for copyright infringement.
In 2015, Elsevier, one of the world’s largest scientific publishers, sued Sci-Hub for copyright infringement. The case is still ongoing, but Sci-Hub has continued to operate despite the legal challenges.
In 2017, Sci-Hub was blocked by Google. However, the site has since been moved to new domains and continues to be accessible to users around the world.
Sci-Hub has had a significant impact on the scientific community. The site has made it possible for people who cannot afford to subscribe to scientific journals to access the information they need to do research. This has helped to level the playing field for researchers from developing countries and has made it easier for people to participate in the scientific process.
Sci-Hub has also been credited with helping to increase the visibility of scientific research. By making papers freely available online, Sci-Hub has made it easier for people to find and read scientific papers. This has helped to raise awareness of new research and has made it easier for scientists to collaborate with each other.
Sci-Hub is a controversial site, but it has had a positive impact on the scientific community. The site has made scientific knowledge more accessible and has helped to increase the visibility of scientific research. Sci-Hub is a force for open access, and it is likely to continue to play an important role in the future of science.
Here are some additional details about Sci-Hub:
The site has over 80 million papers in its database, including papers from major scientific journals such as Nature and Science.
Sci-Hub is accessed by millions of people around the world each month.
The site is blocked in some countries, but it can be accessed using a VPN.
Sci-Hub is funded by donations from users.
The site’s founder, Alexandra Elbakyan, has said that she is committed to making scientific knowledge freely available to everyone.
What are the pros and cons of Sci-Hub?
Pros:
Sci-Hub makes scientific knowledge more accessible to people who cannot afford to subscribe to scientific journals.
The site has helped to increase the visibility of scientific research.
Sci-Hub is a force for open access, and it is likely to continue to play an important role in the future of science.
Cons:
Sci-Hub is illegal in some countries.
The site’s founder, Alexandra Elbakyan, has been accused of copyright infringement.
Sci-Hub has been criticized for its impact on the scientific publishing industry.
What is the future of Sci-Hub?
It is difficult to say what the future holds for Sci-Hub. The site is facing legal challenges in several countries, and it is possible that it could be shut down in the future. However, Sci-Hub has a large and dedicated user base, and it is likely that the site will continue to operate for the foreseeable future.
Bard is a large language model (LLM) chatbot developed by Google AI. It was first announced in May 2023, and is currently in beta testing. Bard is trained on a massive dataset of text and code, and can generate text, translate languages, write different kinds of creative content, and answer your questions in an informative way.
Bard is still under development, but it has learned to perform many kinds of tasks, including:
Following your instructions and completing your requests thoughtfully.
Answering your questions in a comprehensive and informative way, even if they are open ended, challenging, or strange.
Generating different creative text formats of text content, like poems, code, scripts, musical pieces, email, letters, etc.
Bard is still under development, but it has the potential to be a powerful tool for communication, creativity, and learning. It can be used to:
Help you with your work or studies.
Generate creative content, such as poems, code, scripts, and musical pieces.
Answer your questions in a comprehensive and informative way.
Help you learn new things.
Bard is still under development, but it has the potential to be a powerful tool for anyone who wants to be more creative, productive, and knowledgeable.
How does Bard work?
Bard is powered by LaMDA, a large language model from Google AI. LaMDA is trained on a massive dataset of text and code, which allows it to understand and generate human language in a way that is similar to how a human would.
When you ask Bard a question, it uses its knowledge of the world to generate a response. This response is based on the information that Bard has been trained on, as well as the context of your question.
For example, if you ask Bard “What is the capital of France?”, it will use its knowledge of the world to generate the response “Paris”. This response is based on the fact that Bard has been trained on a dataset of text that includes the information that Paris is the capital of France.
What are the benefits of using Bard?
There are many benefits to using Bard. Bard can help you with your work or studies, generate creative content, answer your questions in a comprehensive and informative way, and help you learn new things.
Here are some specific examples of how Bard can be used:
If you are a student, Bard can help you with your research by providing you with information on a variety of topics.
If you are a writer, Bard can help you generate ideas for stories or articles.
If you are a teacher, Bard can help you create lesson plans or grade assignments.
If you are a business owner, Bard can help you with marketing or customer service.
What are the limitations of using Bard?
Bard is still under development, so it has some limitations. For example, it may not always be able to answer your questions accurately or completely. It may also generate text that is not grammatically correct or that does not make sense.
If you encounter any problems with Bard, you can report them to Google AI. Google AI is working to improve Bard, and your feedback will help them make it a better tool for everyone.
How can I use Bard?
To use Bard, you can visit the Bard website or use the Bard app. The Bard website is available at https://bard.google.com/. The Bard app is available for iOS and Android devices.
Once you have visited the Bard website or opened the Bard app, you can start using Bard by typing in a question or prompt. Bard will then generate a response.
You can also use Bard to generate different creative text formats of text content, like poems, code, scripts, musical pieces, email, letters, etc. To do this, simply select the desired format from the drop-down menu.
Bard is a powerful tool that can be used for a variety of purposes. If you are looking for a way to be more creative, productive, and knowledgeable, Bard is a great option.
Sepertinya sudah 2 pekan ini hujan terus di Jabodetabek. Tapi hujan yang terbilang lucu karena gerimis tipis-tipis namun lama sekali. Model gini pengen disyukuri tapi ya kehujanan, tapi pengen dikutuk kok ya masih bisa beraktivitas.
Tadi pagi saya mengantar Kristof kunjungan SD. Kebetulan di kantor status saya dinas fullday meeting jadi masih cocoklah untuk hadir di lokasi tepat waktu. Terlebih lokasi meeting dekat dengan Stasiun.
Jarak dari rumah ke SD itu sekitar 7 kilometer. Dan separonya macet parah. Untungnya, kami naik sepeda motor. Bukan untungnya juga sih, tapi ya adanya itu. Jadi walaupun kebasahan karena gerimis tapi motornya masih melaju dengan gembira.
Sambil nyelip-nyelip di antara mobil-mobil bagus, saya merenung, kenapa sih saya miskin begini, padahal kalau dibilang gaji ya nggak bisa dibilang sedikit juga. Gaji saya sama istri itu kalau ditotal sebenarnya lumayan, tapi kok ya urip tetap nelangsa. Yah, sesederhana mobil saja nggak punya.
Dalam renungan itu saya akhirnya tiba ke SD yang dituju. Eh, begitu saya mengantarkan Kristof ternyata di belakangnya muncul 2 orang teman sekolah yang anak artis. Anak pertama adalah putra kedua seorang gitaris dari band yang cukup kondang. Tidak berselang lama muncul putra tunggal pasangan komika dan selebgram. Yang unik, keduanya sama-sama naik motor.
Memang sih, si anak vokalis itu diantar emaknya pakai Vespa. Tapi ya tetap saja roda doa. Tetap saja hujan-hujanan. Sama saja dengan anak saya.
Demikianlah kiranya saya sebagai adik kelas jauh dari Rafael Alun Trisambodo menjalani refleksi dalam bermiskin-miskin ria sambil membandingkan kok bisa-bisanya ada kejadian 2 pekan belakangan.
Cinta adalah hal yang indah, menyenangkan, dan membawa harapan. Namun, pada suatu saat, cinta tersebut bisa berakhir dan kadang-kadang berakhir dengan sakit hati. Sama seperti halnya dengan mantan gebetan. Mantan gebetan adalah seseorang yang pernah kita cintai, namun kita harus merelakan mereka pergi.
Banyak orang yang merasa sedih atau kesal ketika harus merelakan mantan gebetan pergi. Mereka bisa merasa ditinggalkan atau tidak memahami mengapa cinta yang pernah ada harus berakhir. Namun, pada kenyataannya, relasi cinta yang kandas memiliki beberapa manfaat bagi kita.
Pertama, mengalami putus cinta membuat kita memahami arti sebuah cinta yang sejati. Kita belajar bagaimana untuk mencintai orang yang tepat, bukan hanya orang yang ada di depan mata. Kita juga belajar bagaimana untuk menghargai orang yang kita cintai dan tidak membiarkan mereka pergi.
Kedua, putus cinta juga membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Kita harus mengatasi sakit hati dan menemukan cara untuk bangkit dan melanjutkan hidup. Kita menjadi lebih dewasa dan memahami bahwa hidup tidak selalu indah, namun kita harus terus bergerak maju.
Ketiga, relasi cinta yang berakhir membantu kita memfokuskan pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup. Kita belajar bahwa cinta adalah bagian dari hidup, bukan segalanya. Kita menjadi lebih fokus pada keluarga, karir, dan hobi.
Dalam kesimpulan, mantan gebetan adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh dalam hidup. Kita harus menerima kenyataan bahwa cinta bisa berakhir dan memahami bahwa hal ini memiliki manfaat bagi kita. Kita harus terus bergerak maju dan mencari cinta yang sejati. Cinta yang sejati akan datang pada waktunya dan kita harus siap untuk menerimanya.”
Catatan: postingan ini sepenuhnya dibuat sama ChatGPT~
Salah satu cara yang sangat efektif dalam memasarkan produk saat ini yaitu dengan menggunakan social media marketing. Hal ini bisa dikatakan cukup efektif karena hampir semua orang menggunakan platform media sosial. Sebagai pebisnis, kamu harus memanfaatkan teknik pemasaran yang satu ini dengan sebaik-baiknya.
Apalagi cara ini merupakan langkah yang paling ampuh mengingat pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Oleh karena itu, kamu tak boleh jadi pebisnis terbelakang yang akhirnya gigit jari karena tak mampu mengimbangi perkembangan zaman. Nah, untuk belajar tentang social media marketing, kamu bisa mengikuti kursus social media marketing.
Untuk membantu kamu memahami lebih dalam mengenai pemasaran melalui sosial media, berikut ini adalah ulasan mengenai 5 pondasi utama dalam pemanfaatan marketing media sosial. Jadi, simak ulasan ini hingga selesai.
5 Pondasi Utama Dalam Pemanfaatan Social Media Marketing
Marketing melalui media sosial merupakan satu langkah untuk memasarkan produk atau jasa dengan cara yang lebih luas. Maknanya, saat kamu memasarkan produk kamu harus membuat sebuah konten yang menarik guna mempromosikan produk atau jasa.
Selain itu, kamu juga dapat membangun komunitas, serta menarik orang lain untuk berkunjung dan melirik bisnis yang kamu lakukan. Cara pemasaran seperti inilah yang sangat diperlukan oleh perusahaan atau para pebisnis. Utamanya bagi mereka yang ingin memasarkan produk dengan efisien dan praktis.
Ketika akan menerapkan konsep pemasaran menggunakan media sosial, ada hal yang harus kamu perhatikan. Satu diantaranya adalah bagaimana cara untuk menyampaikan pesan secara tepat hingga efektif. Bukan cuma itu saja, ketika memanfaatkan marketing media sosial ini, kamu pun perlu mengetahui 5 pondasi utama yang mendasarinya, yaitu:
Skema atau strategi
Ketika kamu memutuskan memanfaatkan media sosial untuk pemasaran produk, sebaiknya kamu menyiapkan strategi atau skema yang tepat. Terutama sebelum kamu mengunggah konten di media sosial yang kamu pilih. Untuk menyusun strategi atau rencana tersebut kamu harus bisa menjawab beberapa pertanyaan penting seperti:
Apakah goal atau tujuan yang ingin kamu capai saat memasarkan produk melalui sosial media?
Bagaimana media sosial bisa memberikan kontribusi bagi bisnis kamu?
Jenis media sosial seperti apa yang akan kamu gunakan?
Tipe konten seperti apakah yang ingin kamu bagikan?
Konten yang bagaimanakah yang sekiranya efektif untuk meningkatkan penjualan?
Inilah beberapa pertanyaan yang harusnya bisa kamu jawab. Sehingga pondasi pertama dalam memanfaatkan media sosial marketing yakni strategi atau skema bisa kamu susun dengan optimal.
Publikasi dan planning
Pada sebuah brand baru, metode marketing media sosial biasanya diawali dari konsistensi ketika mempublikasikan konten. Untuk itu kamu perlu membuat perencanaan serta publikasi secara kontinyu dan konsisten. Dari sini nantinya kamu akan memperoleh cara yang tepat untuk terus meningkatkan performa media sosial yang tengah dijalankan.
Secara sederhana, mulailah dengan menyiapkan perencanaan secara keseluruhan. Yakni rencana jangka pendek baik mingguan dan bulanan serta jangka panjang mulai dari kuartal, semester serta tahunan.
Menjaga dan memonitor
Apabila media sosial yang kamu gunakan untuk pemasaran mulai menunjukkan peningkatan maka interaksi yang terjadi juga akan semakin banyak. Interaksi tersebut bisa berupa komentar, review, kritik, saran bahkan mungkin keluhan. Semua ini bisa disampaikan dengan menggunakan direct message.
Semua interaksi yang terjadi ini harus kamu jaga dan monitor secara periodik. Tujuannya agar reputasi positif yang sudah kamu bangun terhadap brand bisa bertahan.
Analisa dan laporan
Saat semua perencanaan dan publikasi konten sudah diterapkan dengan konsisten maka kamu harus mengukur performanya. kamu harus memperhatikan bagaimana perkembangan followers yang positif. Selain itu kamu pun harus memperhatikan performa konten secara spesifik. Contohnya rata-rata jangkauan serta engagement rate yang telah dihasilkan.
Bagi kamu yang memiliki brand dan baru menggunakan social media marketing, sebaiknya jangan lewatkan penggunaan iklan. Rencanakan dan terapkan iklan dengan maksimal. Harapannya, jika penerapan iklan ini bisa dilakukan secara terus menerus maka kamu bisa mengintegrasikan konten yang nantinya bakal dipublikasi.
Dengan demikian, keuntungan atau hasil yang akan kamu dapatkan dengan menggunakan metode marketing media sosial ini bisa lebih optimal.
Untuk lebih memantapkan keahlian dalam menerapkan metode pemasaran menggunakan media sosial, ada baiknya jika kamu melakukan upgrade skill. Bisa dengan cara mengikuti kursus social media marketing, kelas, atau bootcamp yang berisi pendalaman materi mengenai metode pemasaran tersebut.
Salah satu penyedia jasa bootcamp untuk metode pemasaran menggunakan media sosial adalah Belajarlagi. Bootcamp ini sangat ramai di twitter, bahkan pernah sold out 500 seat dalam hitungan 2 menit.
Di Belajarlagi kamu dapat mempelajari fundamental, best practices, hingga reporting social media organic dari para instruktur yang berasal dari unicorn startup sampai multinational digital agency dengan 5+ tahun lebih pengalaman di bidang digital. Sehingga bisa dipastikan para pengajar ini akan menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan pengalamannya masing-masing.
Metode pembelajaran dari Belajarlagi sudah bertaraf international, salah satu bootcamp pertama di indonesia yang mendapatkan sertifikasi pengakuan internasional dari EAF (Education Alliance Finland).
Di samping unggul karena memiliki instruktur yang berpengalaman, Belajarlagi juga memiliki keunggulan lain. Yaitu proactive community, dedicated facilitator, hands on project serta industry expert. Akan ada tugas berdasarkan case real di dunia kerja, dan setiap tugas akan mendapatkan feedback personal.
Adapun beberapa materi yang akan kamu pelajari secara intensif ketika mengikuti bootcamp antara lain:
Introduction to Social Media (recorded)
Introduction to Advance Social Media
Campaign dan Content Ideation I dan II
Brand Building (recorded)
Copywriting I dan II
Personal Branding & Public Speaking
Dan masih banyak lagi lainnya.
Selain itu, dengan bootcamp ini nantinya kamu bahkan bisa mempelajari bagaimana taktik menggunakan media sosial. Seperti YouTube, TikTok, Twitter, dan lain sebagainya. Jadi, jika kamu tertarik dan ingin segera mengikuti program belajar ini maka segeralah mendaftar.
Memang pendaftaran belum dibuka untuk saat ini, namun kamu tetap bisa registrasi agar masuk dalam waiting list. Masalah biaya tak perlu kamu khawatirkan, karena bootcamp Belajarlagi menawarkan paket belajar dengan harga yang terjangkau. Jadi tunggu apalagi, segera mendaftar bootcamp social media marketing melalui Belajarlagi sekarang ya!
Pembukaan IDF 2022 oleh Sekretaris Kementerian Bappenas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Bagaimana rasanya jika dalam 2 hari, hidup kita dipenuhi oleh ide dan inovasi? Antara excited dan optimis, bercampur keraguan dan tendensi apatis terjadi. Hal itulah yang terjadi ketika saya berada di tengah-tengah acara Indonesia Development Forum 2022 tanggal 21-22 November 2022 silam.
Oya, sebagai pendahuluan mungkin saya perlu menyebut bahwa kalaulah ada suatu rangkaian kegiatan yang panjangnya (ternyata) minta ampun karena terdampak pandemi COVID-19, maka kita harus menyebut Indonesia Development Forum 2022 sebagai salah satunya.
Begini saya ceritakan dahulu…
Saya kebetulan mengikuti Call for Submission (CfS) di IDF 2021 pada kategori Ide dan kebetulan pula masuk list. Sebagai gambaran, kala mengikuti CfS tersebut, status saya adalah pegawai tapi non-aktif karena tengah menjadi mahasiswa pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. Mendekati akhir tahun 2021, saya mendapat surel bahwa kegiatan ditunda sebagai dampak pandemi. Di sisi lain, saya kemudian menanggalkan status mahasiswa dan kembali menjadi remah-remah birokrasi pada umumnya.
Karena posisinya adalah saya sebagai mahasiswa UI, maka seluruh kontak terkait IDF ada di email UI saya. Email itu memang masih ada, tapi sesudah lulus tentu saya sudah jarang-jarang buka. Eh kok ya pada awal tahun saya melihat Instagram IDF dan melihat nama saya ada di dalam salah satu publikasi. Saya kemudian membuka email kampus itu dan melihat bahwa prosesnya ternyata sudah berlangsung nyaris 3 minggu dan saya baru tahu 3 hari sebelum sesi pemaparan ide.
Namanya orang Indonesia, saya masih bisa bilang, “untungnya masih kebaca…”
Sesudah sesi pemaparan tersebut, masih banyak rangkaian kegiatan lainnya di berbagai kota di Indonesia dengan kemudian acara pamungkasnya di Bali pada tanggal 21-22 November 2022. Kebetulan sekali, saya berkesempatan mengikuti langsung kegiatan puncak Indonesia Development Forum 2022 tersebut.
Sebagai remah-remah birokrasi, saya tentu menginap di hotel yang berbeda dengan lokasi kegiatan. Dengan semangat tinggi, saya datang pagi-pagi untuk bisa mengikuti kegiatan IDF2022 tanpa kehilangan 1 sesipun. Maka pada pukul 07.00 WITA alias 06.00 WIB, yang notabene itu adalah jam saya keluar dari rumah pada hari-hari biasa, saya sudah tiba di Movenpick Resort Jimbaran, Bali.
Pernak pernik IDF 2022 menghiasi hotel. Saya melangkahkan kaki ke arah belakang untuk turun tangga 2 kali. Seketika makna development langsung terasa begitu melihat pintu masuknya yang sangat futuristik berikut ini:
Kegiatan ini sungguh kaya akan perspektif. Bagaimanapun, development memang harus berasal dari ragam ide dan perspektif. Pada sesi pembuka, peserta disuguhi dengan perspektif dari Prof. Ricardo Hausmann selaku Director of Harvard’s Growth Lab and the Rafik Hariri Professor of the Practice of International Political Economy at Harvard Kennedy School. Beliau memang dari jauh, tetapi ide yang disampaikan tidak hilang arah sama sekali dan dapat ditangkap oleh peserta kegiatan dengan optimal.
Salah satu keypoint dari paparan beliau adalah tentang transformasi dengan logika scrabble. Begini. Kalau kita main scrabble, mengubah BEAR ke ZEBRA yang secara jumlah berbeda (4 dan 5 huruf) jauh lebih mudah daripada mengubah BEAR ke LION. Soalnya, BEAR ke LION itu membutuhkan perubahan total terhadap 4 huruf yang ada. Sementara dari ZEBRA ke BEAR kan cuma nambah Z.
Pesan ini terkait dengan karakteristik komunitas yakni complexity, connectedness, dan dari market size. Hubungan yang dimaksud adalah seberapa dekat antar produk. Jika kita bisa membuat 1 produk, maka kita kembangkan produk lain yang terkait terlebih dahulu dengan logika BEAR ke ZEBRA.
Kemudian, sampailah pada sesi tanggapan oleh mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Bambang Brodjonegoro, yang menggarisbawahi beberapa poin kunci dari paparan Prof. Hausmann.
Pertama, data menyebut bahwa Indonesia ada masalah pada diversifikasi produk. Kita bahkan kalah dari Vietnam dan Srilanka. Sebagai mantan pegawhy di pabrik ekstrak bahan alam berbasis riset awalnya saya tidak setuju. Akan tetapi, Pak Bambrod menyebut tentang minimnya Research and Development (RnD) di Indonesia. Dan rupanya itu baru disadari oleh beliau ketika berada di Kementerian Riset dan Teknologi.
Iklan sedikit, video saya pas kuliah tentang pentingnya RnD:
Jadi, kita itu cenderung menjadi tukangnya tapi kurang dalam product development. Dan saya kemudian baru sadar bahwa teman-teman saya yang pintar-pintar di kantor lama sebagian besar awet betul di posisinya ya karena itu memang sudah merupakan tempat terbaik. Sulit buat S3 Bioteknologi untuk pindah ke perusahaan yang mengedepankan riset. Cocok betul dengan yang disampaikan Pak Bambrod.
Sebagai produk kebijakannya di periode akhir Kementerian Ristek, Pak Bambrod memperkenalkan tax deduction, yang diharapkan mampu membuat perusahaan mau berinvestasi lebih pada RnD untuk pengembangan bisnis dan menghasilkan produk yang kompetitif. Data di Indonesia menyebut bahwa selera perusahaan untuk melakukan RnD masih terbatas. Kalaulah ada contohnya yang produktif antar lain adalah food processing. Industri jenis ini menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk RnD dan menghasilkan new product. RnD-nya pun nyambung dengan market research sehingga inovasi itu ada yang beli.
Sesudah menikmati hidangan, maka sesi beranjak ke pemaparan dari Bapak Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas yang membuka pemaparannya dengan durasi Indonesia terjebak di middle income trap yang 29 tahun dan berbeda bermakna dengan negara tetangga seperti Korea Selatan, Jepang, Hongkong, dan Singapura yang lolos dari middle income trap pada durasi 18-20 tahun. Pak Menteri juga menyebut bahwa Cile bisa 14 tahun.
Pendorongnya apa dong? Jelas industri manufaktur!
Permasalahan mendasarnya dari dulu ternyata sama ketika ada perspektif baik pemangku kepentingan maupun periset bahwa, “Kalau lebih murah beli, kenapa kita harus bikin?”
Hal ini yang menyebabkan insinyur akhirnya bukan jadi maker malah jadi marketer. Ujungnya, kita menjadi generasi enigma yang hanya mengekor dan menjadi pemakai. Faktor stakeholder menjadi penting dan Pak Menteri menceritakan kisahnya di masa lalu tentang garbarata. Pengalaman ini jelas spesifik dengan pengalaman kerja beliau di PT Bukaka yang saat ini begitu mudah kita lihat begitu keluar dari pintu pesawat.
Intinya sih di dalam industri, penting untuk memahami di mana intervensi yang pas oleh pemerintah pada value chain, baik dalam fiskal, penguasaan teknologi, atau pilihan lain.
Kembali sedikit ke Pak Bambrod, ada 4 sumber pertumbuhan Indonesia yang sangat dekat yakni manufaktur (industri pengolahan), servis (khususnya ekspor jasa), ekonomi digital, dan ekonomi hijau. Nah, intervensi yang dimaksud lebih spesifik dapat dilihat pada paparan hari berikutnya.
Pada hari kedua, ruangan yang bernuasa futuristik itu tetap tidak berubah. Tetap memperlihatkan aura development dan tentu saja tetap ramai. Pada sesi ini, sebanyak 4 perwakilan dari CfS memberikan paparan singkat di hadapan Bapak Airlangga Hartarto, Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita, dan di depan Bapak Suharso Monoarfa yang makbedunduk sudah ada di Jakarta. Padahal baru kemarin di depan situ memberikan pemaparan.
Konsep pada hari kedua adalah Pemerintah Mendengar. Jadi, muatan yang didengar itu dimaksudkan pada 4 CfS dari berbagai sudut pandang. Setiap ide tersebut kemudian dikomentari langsung oleh ketiga Menteri. Model-model begini baik juga jika diterapkan dalam forum-forum lainnya. Bapak Menteri PANRB, Bapak Komisioner KASN, dan Bapak Plt Kepala BKN bisa lho berlaku sama untuk sesi khusus ASN. Bapak Menteri Kesehatan, Ibu Kepala BPOM, dan Bapak Kepala BKKBN juga bisa hadir dalam sesi yang sejenis pada topik kesehatan.
Pada kesempatan pertama, Ibu Samintang dari SDG Center Unhas memperkenalkan soal kemasan berbahan dasar porang dan ekstrak daun bidara sebagai edible bioplastic. Transformasi ini tidaklah mudah, apalagi untuk mempengaruhi pola pikir dan pola hidup mitra. Akan tetapi, ada pendampingan pada level mikro, meso, dan makro yang menjadi penting.
Kalau dipikir-pikir, konsepsi pendampingan ini kan juga dilakukan oleh BPOM pada UMKM Pangan Olahan untuk memperoleh izin edar. Masuk target kinerja pula. Cuma kok ya tidak muncul. Mungkin pegawainya terlalu sibuk bekerja sehingga upaya menonjolkan ide-idenya jadi sedikit terlewatkan.
Dari perspektif industri, ada Bapak Ida Bagus Nama Rupa dari Bali Cokelat yang menekankan soal kompleksitas tadi. Jadi, bahan baku kakao ya dari Indonesia, dibeli secara kompetitif, lalu diekspor dalam bentuk produk jadi. Diperkenalkan juga dengan konsep edu-tourism.
Nah, model begini saya pernah ketemu di Tomohon, Sulawesi Utara. Namanya Tuur Ma’asering dan komoditinya adalah olahan minuman khas Minasa yaitu saguer. Jadi, sebenarnya ide-ide ini sudah ada di Indonesia. Tinggal digulirkan menjadi lebih optimal saja.
Bicara soal model industri, kawasan menjadi penting. Di IDF 2022 hadir Bapak Ngurah Wirawan dari Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Grand Batang City. KIT Batang sendiri boleh dibilang adalah kawasan industri masa depan di Indonesia. Saat ini, sejumlah perusahaan sudah memiliki tempat.
Luar biasanya, sejumlah industri penting terkait teknologi masa depan seperti Foxcon, Tesla, dan Volkswagen sudah antri d Batang. Hal ini menciptakan tantangan juga dalam hal kapasitas tenaga kerja sehingga dibutuhkan deteksi sejak awal untuk merancang sumber-sumber tenaga kerja agar match dengan teknologi maju yang masuk.
Bicara soal kawasan industri, hadir pula Bapak Yusliando dari Bappeda Kalimantan Timur. Ada 2 kawasan industri yang dikedepankan yakni Kariangau dan Buluminung. Kedua kawasan ini memiliki akses dekat dengan IKN Nusantara. Kaltim yang identik dengan penggalian dan pertambangan–karena kontribusi ekonominya mencapai 55%, tampaknya sudah bersiap untuk transformasi dengan target 45% dari industri.
Pada awal kegiatan, Sekretaris Kementerian PPN, Bapak Taufiq Hanafi menyebut bahwa, “IDF adalah forum lintas pemangku kepentingan yang mewadahi diskusi produktif dalam mengatasi berbagai isu strategis pembangunan Indonesia”. Hal ini yang kemudian tergambar pada sesi Pemerintah Mendengar.
Sesudah pemaparan dari pemenang CfS, Menteri Perindustrian memberikan tanggapannya. Ditekankan oleh Menperin bahwa terdapat 7 paradigma baru industrialisasi yakni digitalisasi, renewable energy, hilirasi, green industry, supply chain, perluasan industri di luar jawa, dan kesiapan SDM industri.
Sejalan pula dengan yang disampaikan oleh Pak Bambrod perihal food processing, terdapat benang merah dengan paparan Menperin perihal 7 sektor utama industri di Indonesia yakni makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronik, farmasi serta alat kesehatan. Kontribusi sektor ini mencapai 70% PDB dan ekspor, serta berkontribusi pula pada 65% tenaga kerja. Ternyata saya sebagai mantan budak korporat, tadinya adalah bagian yang berkontribusi pada PDB negeri ini ya.
Ada tambahan informasi dari Menperin perihal P3DN. Dalam waktu dekat akan muncul regulasi perhitungan TKDN khusus industri kecil sehingga pelaku usaha dapat melakukan self-assessment dari produknya, kemudian diinput, dan dalam waktu dekat alah rilis sertifikasi TKDN. Prosesnya free of charge alias gratis-tis-tis. Selain itu, untuk mendorong belanja pemerintah, maka sebanyak 1 hingga 1,5 juta produk akan ditargetkan masuk ke e-katalog.
Sebagai wakil dari Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto memberi penekanan mengenai digitalisasi dan dampaknya pada revolusi industri dan disrupsi. Untuk itu, Generasi Z dan milenial diharapkan dapat mengoptimalkan digitalisasi. Salah satu syaratnya adalah negara yang demokratis, kuat, dan bersih. Ide-ide yang ada hendaknya segera dimatangkan dan dikolaborasi. Kolaborasi tidak hanya berhenti pada kontribusi ide, tetapi juga sampai pada tahapan eksekusi.
Sebenarnya ada sesi-sesi khusus yang lebih mendetail untuk ide-ide tersebut, tapi kok ya nanti bakal terlalu panjang untuk sebuah posting blog. Lebih lengkapnya dapat kita simak di YouTube Bappenas RI berikut ini:
Sekali lagi, saya sangat berharap skema semacam ini diberdayakan oleh K/L lain dalam ruang lingkup kinerjanya masing-masing. Bukan apa-apa, biasanya saya mengikuti forum itu judulnya konsultasi publik, tapi publiknya dikasih sesi 10 menit karena presentasi instansi pemerintahnya kepanjangan. Sementara dalam forum IDF ini, peserta CfS diberi ruang yang luas dan bahkan beberapa kali kesempatan untuk memaparkan idenya.
Selamat untuk Bappenas atas kesuksesan IDF 2022. Semoga tahun depan ada lagi, biar saya ikutan lagi. Amin~
Saya termasuk rajin menemani anak main ke playground. Sebut sajalah nama-nama playground zaman sekarang, mulai dari Kidzilla, Zoomov, Kidzoona, dan sejenisnya. Nyaris semua sudah. Walaupun harga tiketnya seharga sekali fullday meeting, tapi apa sih yang nggak kalau buat anak semata wayang?
Tentu ada masa vakum saat Isto tidak playground. Kurang lebih 2 tahun lamanya. Sebab sejak Maret 2020 dia benar-benar dikunci dari dunia luar. Baru main lagi sekitar pasca Gelombang Delta karena memang sayanya juga sudah mau masuk kerja lagi. Tapi itu juga ke Jakarta Aquarium. Kalau ke Kidzilla sih sekitar November. Bermula dari apartemen yang pemadaman listrik dan saya tidak punya pilihan lagi untuk menjaga anak sembari Zoom, maka saya bawalah ke Kidzilla.
Dan memanglah akan selalu ada saja anak ber-DNA seperti yang disebut di twit tersebut. Dan sejujurnya saya tidak pernah menyalahkan anaknya. Anak mah tergantung pendidikannya. Dan model begitulah yang terjadi. Biasanya, orangtua dari anak semacam ini yang akan selalu berkata, “namanya juga anak-anak” ketika anaknya menyakiti anak saya dan anak-anak lain di sekitarnya.
Padahal, kalau lagi di playground, saya selalu berada di jarak aman dengan Isto. Sekurang-kurangnya, untuk memastikan bahwa dia akan bisa diamankan jika cari perkara. Tapi sejauh ini, cenderung aman-aman saja. Ketika kemudian suasana sudah tidak baik dengan kehadiran anak-anak yang tentunya berpendidikan baik karena masuk playground itu jelas nggak murah, saya langsung menarik anak saya sudah tidak kenapa-kenapa.
Paling enak sih sebenarnya kalau ada bapaknya. Bapack-bapack pada dasarnya enggan untuk konfrontasi. Secuek-cueknya bapack-bapack menemani anak sambil lihat hape, biasanya selalu tanggap kalau anaknya mengganggu anak lainnya. Itu dia kalau seorang anak sedang bertanya sama bapaknya, saya masih bisa menahan Isto senakal apapun anak itu. Cuma kalau sebaliknya, mending saya bawa jauh-jauh.
Tapi ya nggak selalu demikian, sih.
Kemarin dari Jakarta ke Medan, saya sebelahan persis sama ada lah gitu anak semacam ber-DNA demikian. Sudahlah nggak pakai masker, ini anak juga petakilan nggak karuan di dalam pesawat. Pakai tidur segala dengan kaki mengusik kaki saya. Eh, begitu saya lihat, bapaknya malah turu. Ini salah satu contoh Bapak Dajjal memang~
Saya sebalnya adalah sudah tahu bawa anak, ya mbok preparasi. Saya pas sama Isto dari Solo itu benar-benar berusaha menaruh Isto antara jendela dan saya. Biar nggak mengusik orang lain kalau dia petakilan. Caranya? Ya kalau memang harus beli add-on saat pesan tiket ya lakukanlah. Jangan terus bikin anak jadi pengganggu orang lain.
Dari dulu, blog ini selalu ada 1 posting minimal sebulannya. Dan ini baru sadar sudah 31 Agustus 2022 tapi belum ada post. Saya sungguh mikir-mikir untuk mempertahankan blog pakai dot com begini ketika mengisinya saja sudah tidak sempat. Dulu dia bisa menghidupi diri sendiri, sekarang sudah tidak. Ya bagaimana orang tertarik pasang konten berbayar kalau diisi saja tidak~
Jadi ya sudah, ini post memang sengaja dibuat biar sekurang-kurangnya ada konten di bulan Agustus 2022. Semoga sih ke depan nggak seperti bulan ini. Heuheu.