All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Perspektif Wanita Menikah

“Kamu harus belajar masak, baru pantes nikah,” kata Ibu.

Dan kalimat yang sama selalu berulang setiap kali Nora pergi ke dapur dan mengambil makanan. Selalu berulang, saking seringnya, kadang Nora sudah membaca kalimat itu sendiri sebelum Ibu mengutarakannya.

“Memangnya kalau nggak bisa masak, nggak pantes nikah?”

“Ya nggak to nduk. Wanita itu hakikatnya memasak itu.”

“Lha, mamang nasi goreng?”

“Jangan pandang secara sempit nduk. Coba deh kamu pahami filosofi memasak,” jawab Ibu, bijak.

Bahhh.. apa pula ini?

Nora membawa kalimat Ibu ke kantor. Diantara wanita-wanita galau, Nora mencurahkan isu yang dibawanya dari dapur rumah itu.

“Temans, memangnya cewek kalau mau nikah kudu bisa masak ya?” tanya Nora, dengan mata tetap di layar komputer.

“Nggak bener itu. Aku nggak bisa masak, terbukti bisa nikah,” sahut Dini dengan bersemangat.

“Lha ini yang bisa masak, nggak nikah-nikah,” timpal Fiona dengan muka bertambah galau.

“Terus kok nyokap bilang begitu ya?” gumam Nora setelah mendapat input-input yang tidak tervalidasi dari teman-temannya.

Sepulang kantor, Nora berjalan kaki ke warung sea food depan kantor. Yah, depan sih, tapi kudu nyebrang. Dan ini JAKARTA bung. Penyebrangan jalan saja ada sertifikatnya, saking susahnya nyebrang.

Nora menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses memasak dari awal. Mulai dari memanaskan wajan, memasukkan bahan-bahan, mengaduk dan mencampur dengan sepenuh hati, menata makanan yang dipesan ke dalam piring, hingga menyajikannya ke pelanggan.

“Filosofi? Apa ya?”

Nora berjalan terus sambil merenung. Entah kenapa sekali ini dia serius berpikir soal filosofi, biasanya mendengar kata itu saja dia sudah pingsan. Maklum, otaknya agak kurang sampai kalau yang berat-berat begini.

Dan benarlah memang otaknya nggak sampai. Tangannya kemudian menggapai BBnya dan masuk ke twitter.

@M_A RT @Filosofi: hidup itu seperti memasak, mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat.

Ups?

Memasak itu mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat? Sepele sekali?

“Ibu bener juga,” gumam Nora lagi, “Memasak itu soal mencampur berbagai hal dalam hidup dan membuatnya nikmat. Yupp.. menikah kan soal percampuran berbagai hal. Hahahaha…”

Nora tertawa di jalan, seorang gembel berlari, takut orang gila lewat katanya.

“Baiklah..,” bisik Nora lagi, “Filosofi sudah ditemukan. Sekarang bagian paling penting, mari mencari calonnya..”

Dan Nora masih tersenyum. Karena senyum bisa bermakna sebuah awal.

Seulas Senyum

pablo (2)

NSP! Wah, masih musim nggak tuh? Sejak pencurian pulsa yang marak dilakukan sama provider kaya raya, NSP mendadak distop! Ah, ini mah menggalaukan saja. Bagaimana mungkin NSP dihilangkan? Bagaimana pula nanti aku akan digunakan kalau NSP mati. Bayangkanlah, kalah NSP ditiadakan, maka aku akan jarang-jarang ditelepon. Dan aku juga akan jarang-jarang membunyikan nada dering.

Yah, NSP yang ada padaku dan nada dering yang tertanam padaku, sama persis.

Awalnya aku menganggap ini hanya praktek mellow seorang pemilik handphone. Tapi ternyata lama-kelamaan aku memaknai lagu itu. So sweet lah untuk didengarkan dan so sulit untuk dinyanyikan.

Aku hanyalah seonggok handphone yang so jadul alias cukup jadul. Jangan panggil aku tua. Aku memang masih candy bar, tapi jangan salah, kekuatanku lebih dahsyat daripada pegangan generasi terbaru. Apa itu? Ah, BB.. Coba celup dalam kopi, habis itu BB. Sama apalagi itu? Android? Sama aja.

Mana ada handphone sepertiku, tahan jatuh dari ketinggian 5 meter, pernah masuk gelas teh, pernah dipakai melempar anjing waktu pemilikku ketakutan.

Aku hanya seonggok handphone yang diam pada zaman. Dulu aku adalah handphone paling tipis yang pernah ada. Ingat, paling tipis! Tolong jangan keras-keras waktu bilang DULU. Agak menyakitkan hati.

Tapi karena aku berasal dari masa lalu, aku sangat paham tentang masa. Akulah saksi ketika pacar pertama pemilikku mentransfer fotonya dengan bluetooth. Yak, fitur paling canggih padaku, memang bluetooth, gigi biru. Belum ada BBM atau Whatsapp tertanam padaku. Waktu itu? Pasti kalian juga belum mikir. Waktu itu akulah yang terhebat.

Aku juga saksi ketika pesan singkat masih merajalela. Aku terlalu panas untuk selalu meladeni pesan singkat yang bertubi-tubi masuk. Tapi aku kuat, mana pernah aku hang? Ah, nggak mungkin itu. Aku handphone kuat.

Aku juga saksi ditindih oleh pemilikku ketika dia baru putus dengan pacarnya. Orang sinting! Ketika sakit dan sedang nggak perlu handphone aku dibiarkannya terselip diantara dua belah springbed. Ketika butuh, sambil nangis-nangis dia mohon aku tiba-tiba muncul di permukaan.

Tapi tak apa. Aku menikmati detail peristiwa pemilikku. Tidak ada yang mengenalnya sedalam aku.

Karena aku pula yang menyimpan semua pesan singkat tentang cintanya yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun. Handphone-handphone terkini, ayo sini, memangnya di memorimu ada pesan singkat dari 5 tahun silam? Mana ada! Hanya aku yang punya.

Akulah saksi ketika pemilikku dengan seulas senyum, sesekali membaca kembali pesan-pesan singkat yang masih ada di handphoneku. Baginya, lebih baik beli handphone baru alih-alih menghapus pesan-pesan itu. No! Itulah pesan cinta yang sebenarnya.

Pesan cinta yang tidak terungkap.
Pesan cinta yang terus menerus terlampaui masa.
Pesan cinta yang tidak eksplisit.
Pesan cinta yang hanya dimaknai dengan seulas senyum.
Pesan cinta yang meninggalkan luka, bahwa cinta tak harus dimiliki.
Pesan cinta yang terwujud dengan bebas.

Dan hanya aku yang mengerti makna senyum itu.

Karena senyumpun dapat bermakna tangis.

 

Di Ujung Horison

Bahwa hidup itu seperti memandang horison, aku sungguh paham itu.
Sesuatu bisa dengan mudah kamu lihat.
Tapi tak seluruhnya.
Siapa yang tahu ada apa di balik horison itu?
Sampai Colombus dianggap orang gila karena hendak mencari tahu.

Dan jangan kamu pungkiri, bahwa kamulah ujung horison itu.
Aku masih bisa melihatmu, menikmati keindahanmu.
Sedikit menikmati sisa ombakmu yang sampai ke tempat aku berdiri.
Tapi kamu akan tetap disana, di tempat itu.

Aku tidak bisa kesana.
Aku tidak bisa berenang, dan lebih lagi, aku tak tahu ada apa dibalik horison itu.
Dan aku bukan Colombus.

Aku hanya berharap bisa seperti Colombus.
Berani dibilang gila, berani dianggap aneh.
Untuk membuktikan kebenaran yang dia percayai.

Lantas aku?
Apakah kebenaran yang aku percaya?

Satu-satunya kebenaran itu adalah bahwa hatiku hanyut, menuju ujung horison, tersimpan nyaman disana.

Tahukah kamu soal itu?

Tak perlu.

Simpan saja hatiku.
Sepenuhnya itu milikmu.

 

 

Tes Kepribadian

Teman-teman pasti sudah tahu soal tes kepribadian, yang isinya melankolis, sanguin, dan kawan-kawannya.. Nah, ini ada file, yang bisa diunduh dan sedikit bisa memberikan gambaran tentang kepribadian yang dimaksud.

Hehehe..

Monggo cedikot.

TES KEPRIBADIAN

Semoga bisa membantu menggalaukan.. #halah

Tampannya Mantanmu

Pendekatan adalah bagian cukup sulit dalam mencari jodoh, bagian yang agak sulit itu melakukan rekonfirmasi alias nembak, dan bagian paling sulit adalah mempertahankannya. Nah, karena sama-sama SULIT, maka mencari jodoh itu tampak penuh warna. Apalagi untuk Rio yang dikejar target kudu punya cewek.

Siapa yang kasih target?

Nggak ada sih. Cuma, menurut Rio, nggak wajar kalau kemudian memperkenalkan diri begini:
Nama: Rio Adam
Status: Jomblo sejak lahir

Astaga! Ini sudah mendekati usia 25. Dan dalam waktu dekat, Rio akan merayakan PESTA PERAK JOMBLO, alias 25 tahun menjomblo pada usia 25 tahun. Artinya lagi, Rio akan diketahui sebagai cowok yang belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Mengganggu, ya tidak juga. Tapi ketika hormon lagi tinggi, melihat pasangan pacaran peluk-pelukan di atas motor waktu lampu merah sudah cukup meningkatkan tensi. Entahlah, apakah punya itu suatu keharusan?

Rio punya standar yang tinggi. Kalau Rio mau, pasti dengan mudah dia memperoleh cewek. Ya tinggal bilang sama bude-budenya, pasti bisa dikenalin sama kembang desa. Bayangkan, kembang desa loh ini. Fisik? Pasti oke. Otak? Bagaimanapun, manusia itu punya otak, dan itu bisa diisi dengan belajar.

Masalah paling mendasar adalah spesifikasi material eh pasangan hidup Rio itu rada ribet. Harus dari suku tertentu, nggak enak ngomongnya, nanti dikira saru eh SARA. Harus usia sekian, harus tampang demikian. Dan spesifikasi lain yang ketinggian untuk dipasangkan dengan muka pas-pasan ala Rio.

Yah, pas-pasan pokoknya. Pas orang mau gampar, ya bisa, saking mukanya Rio itu MARMOS alias marai emosi alias melihat aja sudah bisa bikin emosi. Belum lagi kalau pas di mall, karena mukanya itu, paling mentok Rio hanya ditawarin es krim, padahal pernah 2 jam ngubek-ubek pameran mobil, ditawarin brosur saja nggak. Malah satpam mengikuti sepanjang waktu. Yah,PALING alias tampang maling. Bayangkan seorang cowok dengan tampilan PALING MARMOS, tampang maling marai emosi. Kayak gitu aja spesifikasi minta tinggi. Ngawur! Dari sisi tampang, Rio ini ibarat bumi dan langit sama cowok paling tampan sekantornya, Sammy. Meski tidak pakai marga Simorangkir, tapi Sammy yang ini tampannya memadai. Saking memadainya, ketika melihat Sammy dan kemudian melihat Rio, 80% orang akan muntah dengan segera, 10% lain akan masuk UGD, dan 10% lainnya kehabisan napas. Shock.

Hasil penelusuran Rio, dengan bantuan rombongannya yang rata-rata sudah berpacar, rekomendasi mengarah pada staf di kantor seberang, namanya Dina. Nama klasik, kayak Dina Rahman. Ada ya?

Pengalaman sebagai cowok dengan riwayat pendekatan memadai, membuat naluri detektif Rio cukup terasah. Maka dengan mudah, Rio bisa mengetahui tentang Dina. Tanggal lahir, nomor telepon, alamat rumah, pekerjaan orang tua, hingga riwayat percintaan orang tua Dina. Sungguh sesuatu, begitu kata Syahroni.

Cuma ya itu tadi, namanya juga pengalaman pendekatan, berhubung belum ada yang berhasil, jadi tidak ada yang paham guna data-data itu tadi.

Menunggu bus adalah pekerjaan paling menarik bagi Rio beberapa hari belakangan. Kupingnya bagaikan penangkap sensor. Harap maklum karena kantor seberangpun kalau nunggu bus di halte yang sama dengan anak-anak kantor Rio, dan tentunya Rio juga. Makanya, sedikit diksi Dian terlontar, telinga Rio akan mendekat ke arah pembicaraan lalu kembali lagi setelah pembicaraan usai. Pernah sekali telinganya kebawa bus karena pembicaraan belum selesai.

“Iya tuh.. Si Dina kan masih single. Kebanyakan milih dia mah…” kata cewek yang tampan.

Single? Wah, peluang!

“Padahal ya cyinnnn… mantannya gantenggg boooo…” timpal cowok yang kemayu.

Yah, dunia memang mudah berotasi. Bahkan jenis kelamin kadang ikut berotasi juga.

“Setampan apa sih?” gumam Rio. Apakah cukup tampan atau pas tampan, atau pas-pasan dan tidak tampan macam dia?

Maka informasi ini kemudian dibawanya sampai jauh, akhirnya ke laut. Pelan-pelan komunikasinya dengan Dina mulai dijalin. BBM mulai dilancarkan, meski terkadang tanpa balasan. Itu biasa dalam pendekatan. Tapi tidak biasa dalam hubungan.

“Soreeeee.. Mendung nih.. Pulang?”

Send. Sebuah pesan Whatsapp disampaikan, paket BBM lagi habis. Harap maklum. Ini tanggal tua, saking tuanya, si tanggal sampai ubanan.

“Belum ah.. Nanti aja..”

Pesan-pesan mulai saling berbalas antara Rio dan Dina. Terus menerus, sampai mentari terbenam, sampai OB mengantarkan makanan ke meja masing-masing, sampai keduanya makan bersama. Ya sama-sama makan, di kantor yang berbeda. Anggaplah penjajakan untuk makan bersama.

Pesan berjalan sampai yang agak pribadi.

“Sudah berapa kali pacaran sih?” tanya Rio iseng.

“Sekali doang. Kamu?”

“Saya sih sudah sering. Sering ditolak.”

“Wah, kasihan. Mukanya nggak memadai ya?”

Asem. Pikir Rio. “Mantannya anak mana Din?”

“Nggak jauh-jauh. Itu ada di kantor kamu.”

Lho? Taring kepo mulai keluar. Kepo adalah penyakit berbahaya yang kadang-kadang perlu digunakan, sesekali.

“Siapa?”

“Yakin mau tahu?”

“Yakin! Siapa sih? Mau ngetes aja, siapa tahu saya menang ganteng.”

“Sammy.”

Upssss…. Dina ini mantannya si Sammy? Dan dia baru sekali pacaran? Artinya, kalau nanti Rio jadian sama Dina, maka pertanyaan dari teman-teman yang mungkin terjadi adalah, “Kok nggak seganteng yang kemarin?” atau “Ini dapat peliharaan darimana?”

“Mantanmu terlalu tampan Din. Aku tak cari yang lain sajalah,” gumam Rio, sambil menutup laptopnya dan bergegas pulang.

Beringsut

Sekadar komentar, diksi saya memang agak aneh, mohon dimaklumi.

Kalau di posting sebelumnya ada istilah beringsut, ini dia. Dikutip dari sini.

ing·sut v, ber·ing·sut v bergeser sedikit-sedikit; beralih perlahan-lahan: dia ~ ke kiri dan ke kanan; meng·ing·sut v beringsut; bergeser; meng·ing·sut·kan v menggeserkan (memindahkan) perlahan-lahan: anak itu ~ duduknya ke samping ibunya; ing·sut·an n hasil mengingsut; ~ fase Fis sudut fase antara sinyal masukan dan keluaran pd suatu gejala atau sistem

Mohon dipahami ya.. 😀

Damri Cikarang – Bandara

Untuk akses ke bandara dari Cikarang sebenarnya mudah, tapi khusus penghuni Jababeka II.. hehehe.. Pool bus Damri arah Bandara ada di Plaza Jababeka. Jadi dekat patung kuda. Mungkin boleh tanya si kuda kalau kesasar, dari posisinya, sang kuda melihat terus itu halte. Hehehe..

Tarif mendasar, kalau nggak salah bulan Desember kemarin 30 apa 35 ribu begitu. Busnya lumayan, karena memberikan tempat untuk tas. Cuma ya sempit sih kalau duduk.

Bus ini berangkat dari jam 04.00, 05.00, 06.00, 07.00, 08.00, 09.00, 10.00, 11.00, 12.00, 13.00, 14.00, 15.00, 16.00, 17.00, 18.00 alias setiap jam dimulai dari jam 4.

Ya nggak tepat-tepat amat sih.. Normalnya, bus akan lewat patung kuda, lalu masuk ke jalan Cikarang-Cibarusah, lalu masuk tol. Jadi, bisa juga nunggu di tepi-tepi jalan itu daripada capek ke Plaza JB. Berharap saja tidak penuh. Bus juga akan masuk di Grand Wisata, putar sekali lalu masuk tol lagi.

Kalau berangkat jam 5, belum sampai jam 7 sudah sampai Bandara. Selainnya, saya nggak pernah naik, jadi mohon maaf lahir batin kalau infonya kurang memadai.

Untuk pulangnya, alias dari Bandara ke Cikarang, tertulis sih ada dari jam 6.00 sampai 21.00

Masalahnya, leadtimenya kadang lama. Dulu pernah nunggu 3 jam. Itu ditambah bus putar-putar cari penumpang 3 kali, baru berangkat. Tapi yang pasti sih ada. Makanya, kalau hendak ke Cikarang usahakan sampai jam siang, sehingga waktu menunggu bisa lama dan pasti ada kendaraan ke Cikarang dengan harga terjangkau.

🙂

Shuttle Bus Lippo Cikarang – Jakarta (PP)

Lippo Cikarang katanya adalah kota terlengkap di timur Jakarta. Iyakah? Hmmmm.. Yah, mungkin lengkap juga sih. Karena Lippo Cikarang adalah kiblat menghibur diri, bagi warga Cikarang. Kalau mau ke Bekasi kadang jauh bin malas, jadi ya sudah ke daerah selatan saja.

Lippo juga punya bus Shuttle ke Blok M yang agak enakan, dengan tarif terkini Rp. 13.000,- yang sesudah BBM naik, tarifnya jadi Rp. 15.000,- Habis BBM naik lagi, kabarnya jadi 22.000, tapi saya belum nyoba lagi.

Bus yang digunakan adalah Bus AO dengan jadwal sebagai berikut:

sumber: blognyarumah.wordpress.com

Lewatnya biasa sih, Senayan dan sekitarnya sampai blok M.

Bus tidak masuk terminal, tapi berhenti di Jalan Palatehan, dekat lapangan. Kalau mau naik dari Palatehan, cek dulu, karena juga ada shuttle bus ke Sentul. Demikian juga yang di terminal Lippo, cek dulu ke Sentul atau ke Blok M. Soalnya itu nyasarnya krusial.

Ada juga shuttle internal dengan jadwal kayaknya antara jam 6-9 kemudian 12-15 dan rasanya ada satu lagi. Shuttle-nya dua jenis, satunya ke arah Lembah Hijau, satunya Cibiru-Cibodas. Jangan tertukar ya. Lumayan juga kalau jalan kaki itu. Soal tarif? Kemaren saya Googling katanya 2500, tapi kok pas bayar malah ditagih 5000. Makanya, saya bingung.

Beginilah Pria, Beginilah Wanita

Yona masih terjaga, tapi kantong matanya jelas memperlihatkan bahwa dia sudah ngantuk, sangat ngantuk malah. LCD TV sesekali sudah menonton Yona yang terkapar di sofa. Hari sudah jam 11 malam, Yona masih disitu, tidak ke tempat tidur. Yah, teman untuk tidur bersamanya masih belum sampai di rumah. Alan masih belum bersamanya di rumah.

“Aku nggak suka kamu pulang malam. Kamu masih ingat aku nggak? Masih ingat rumah nggak?” Yona mengingat perkataannya, marah tentunya. Dan itu belum lama. Baru tadi pagi, jam 1. Dan belum 24 jam, Alan kembali mengulangi hal yang sama.

“Aku kan nggak main, aku nggak selingkuh, aku nggak mampir-mampir. Aku kerja, sayang,” kilah Alan.

“Justru! Kalau kamu main dan bukan kerja, aku nggak marah. Kamu nggak ingat kesehatan kamu?”

Alan diam saja, melepas kemeja, dan segera pergi mandi.

Ini bukan pertengkaran yang pertama. Mungkin bulan ini sudah yang ketujuh belas. Kebetulan ini sudah tanggal 30. Hanya ada 13 hari tanpa marah-marah. Dan 8 diantaranya Sabtu-Minggu. Jadi, sebulan ini, Alan pulang tepat waktu 5 kali. Ya! Hanya 5 kali.

“Apa aku perlu telepon bos kamu?” teriak Yona pada Alan yang masih di kamar mandi.

“Woooo.. jangan dong sayang..”

“Jadi besok pulang on time?”

“Diusahakan…”

Yah, jawaban paling diplomatis dari seorang pria. Pria ya begitu itu, janji melulu, akan diusahakan. Paling mentok tahan seminggu, sisanya? Ya kayak biasa lagi.

* * *

Alan memacu mobilnya dengan kencang. Jalan tol di malam hari dapat didefinisikan sebagai jalan bebas hambatan yang sebenarnya. Dan ini sudah jam 11 malam. Hari ini banyak meeting. Ada demo, pekerjaan stop, sehingga Alan perlu mengatur jadwal pengiriman dan seabrek pengaturan lainnya. Resiko jadi Manager PPIC.

“Yona pasti marah lagi..” gumam Alan seraya menginjak gas lebih dalam. Matanya sesekali melihat ke BB yang terletak di dashboard mobil. Tidak ada balasan BBM dari Yona. Bahkan Yona yang biasanya rajin menelepon, kali ini nggak melakukan hal itu.

“Padahal aku kan sudah bilang, aku kerja. Kalau mau lanjut, bisa banget. Rugi juga selalu menolak ajakan Pak Weksa. Huhhhhh.. Dasar wanita!” Alan membanting tangannya pelan ke setir.

Sebenarnya Alan juga sudah berusaha pulang cepat. Kesalahannya hari ini adalah pamit ke bos. Kalau saja jam 5 tadi dia langsung hilang dari meja, pasti tidak akan ada meeting jam 5 sore. Dan bos selalu begitu. Meeting jam 5 sore, data harus dapat besok, pagi pula. Ini mah sama saja meminta anak buahnya lembur.

“Panggilan.. Jalani ajah..” bisik Alan lagi, persis ketika dia selesai membayar tol di pintu keluar.

* * *

Deru mobil terdengar dari luar. Yona terjaga. Bantingan pintu Alan menjadi penanda alami bahwa yang di depan itu Alan. Lagipula, mana ada tamu nongol jam setengah 12 malam, kalau bukan emergency atau maling.

“Sayang….,” kata Alan sambil mengetuk pintu.

Yona beringsut dari sofa. Bangkit dan berjalan gontai menuju pintu rumah, lalu membuka pintu dan berkata, “Jam berapa ini?”

“Kan aku udah SMS kalau meeting sayang..”

“Kamu ingat tadi pagi ngomong apa? Belum 24 jam Alan!”

“Tapi aku kan…”

“Tapi aku kan kerja, nggak mampir, nggak main? Basi kali. Aku udah bosen dengernya..”

“Kalau kenyataannya begitu?”

“Terserahhhh…”

Yona mengusap matanya, mau nangis. Setiap kali marah begini, capek juga. Alan pun demikian, setiap kali pulang, bukannya disambut manis, malah dimarahin terus.

Maka dua insan yang sejatinya saling mencinta itu diam. Emosi tinggi dan fakta bahwa ini sudah malam membuat mereka diam satu sama lain.

Sampai 48 jam kemudian.

“Sayang…,” Alan datang ke rumah tepat waktu. Jam 6 sore. Ini termasuk keajaiban dunia ke delapan.

Sepi.

Alan membuka pintu dengan kunci yang dia punya. Bingkisan besar yang dia bawa membuatnya agak sulit bergerak. Surprise untuk Yona mungkin obat mujarab untuk tidak tidur dengan batu. Bayangkan 2 malam tidur hening, meski ada orang di sebelahnya.

Alan beringsut pelan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.

Alan bingung, pergi kemana istri tercintanya.

Tujuan akhir dari langkah Alan adalah di kamarnya. Aneh, pintu terkunci, dari dalam.

“Sayang…,” ketuk Alan, “Aku pulang cepet nih…”

Tidak ada jawaban.

Ketukan ke dua.

Masih tidak ada jawaban.

Ketiga kali mengetuk.

Masih tak terjawab.

Alan memilih mundur, meletakkan bungkusan yang dia bawa di sofa. Lalu kemudian terkapar di sofa yang lainnya.

Lima detik setelah Alan kabur ke alam mimpi, Yona membuka pintu.

“Cintaaa… katanya uda pulang?”

Hening.

Kamar mereka berdua sudah selesai dihias. Manis sekali. Yona ingin rekonsiliasi malam ini. Daripada masuk ke hari 3 tidur dengan guling hidup yang kali ini tidak bisa dipeluk dan memeluk.

“Cintaaaa…”

Masih hening.

Tanpa jawaban, Yona pun mengintip ke ruang tamu. Hanya tampak Alan yang tertidur mangap di sofa. Yona berbalik malas. Pulang cepat, buat tidur, ngapain itu?

Tambah panas, Yona pun kembali ke kamar yang sudah dihias manis, dan memilih untuk tidur saja.

Maka ini malam ketiga.

Pagi buta, Alan terbangun. Tidur di sofa membuatnya agak pegal. Dia berjalan ke kamar, dan kamar itu terbuka.

Dekorasi indah, ranjang penuh bunga, dan wangi semerbak ada di ruangan itu. Sebuah tulisan di meja rias Yona, “Maaf ya Cinta.. Aku marah karena aku sayang kamu.. Itu saja kok.. Luv U..”

Alan tersenyum simpul. Mendadak dia enggan membangunkan Yona.

“Biarin deh..”

Alan lantas berangkat mandi dan kemudian pergi ke kantor, seperti biasanya.

Suara deru mobil yang meninggalkan carport membangunkan Yona. Sudah 12 jam dia tidur. Mungkin terlalu lelah seminggu ini menunggu Alan pulang malam.

“Cintaaa..”

Masih hening.

Yona mengintip lagi ke ruang tamu. Tidak ada siapapun, kecuali sebuah bungkusan dengan tulisan “I’m Sorry and I Love You”.

Yona membuka bungkusan itu. Sebuah album foto lengkap dengan puisi. Mana foto-foto jaman pacaran pula. Yona mendadak galau maksimal.

Bahwa pria demikian dan wanita juga demikian. Keduanya sama, saling mencintai. Bahwa perspektif mencintai itu berbeda, wajar. Beginilah Alan danYona, keduanya tetaplah insan yang saling mencinta, meski marah. Karena marah pun tidak lain karena cinta. Beginilah Alan, beginilah Yona.

Yona memeluk album foto dan puisi tersebut.

Alan memasang ucapan Yona di buku agendanya.

Mereka tetap saling mencinta.