Tag Archives: oksigen

Habis Curhat

Saya habis curhat. Ini sebuah kemalangan besar sebenarnya bagi saya yang selama ini lebih sering menerima curhat daripada melakukan curhat. Saya ini orangnya penuh rahasia, dan hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang bisa menganalisa keadaan, utamanya di blog ini. Sebenarnya pasti banget ketahuan.

Dan kenapa saya curhat?

Karena saya sudah benar-benar nggak punya jalan. Gimana sih rasanya hidup tapi nggak hidup? Gimana sih rasanya mau bernapas tapi napas itu nggak punya value, nggak punya isi, hanya sekadar mengisi oksigen ke jantung? Gimana sih rasanya hidup tapi (kasarannya) nggak guna?

Apa yang saya pikirkan ini sudah panjang, dan memang demikian. Ada poin utama yang kemudian saya curhatkan. Dan balasannya pun sungguh mengejutkan saya.

Iya. Mengejutkan. Karena sebenarnya, apa yang dibilang ke saya, ya sama persis dengan isi hati dan kemauan saya yang sebenarnya. Jadi sebenarnya saya nggak perlu curhat dong?

Nggak. Ini curhat yang benar. Saya hanya akan curhat pada tempat yang tepat, dan ini juga tepat. Sesungguhnya, tempat curhat yang ini memang belum pernah keliru. Maka, karena saya sudah mendapatkan pembenaran, yang kita perlukan berikutnya adalahhhhh… EKSEKUSI.

Yuk. Mari kita persiapkan 🙂

Thanks a lot Mas atas advice-nya 😀

Apa Aku Membencimu Saja?

Sudah bertahun-tahun lamanya. Ketika aku dan kamu dalam dua jalan yang berbeda. Meskipun aku selalu berusaha membuatnya sama, tapi sulit.

Dalam setiap pertemuan kita, dalam setiap kata-kata yang kamu ucapkan, dalam setiap baris-baris pesan singkat, bahkan dalam setiap pesan di Facebook, sungguh selalu menggugah perasaan rindu. Tidak untuk siapa-siapa, hanya untukmu.

Pantaskah aku merindumu di saat seharusnya aku merindukan orang lain? Makanya, orang bilang rindu itu indah. Waktu teman-temanku melepas rindu bersama kekasihnya tampak sekali indah. Lantas aku? Aku begitu tersiksa karena rinduku padamu hanya sekadar rindu belaka.

Tidak ada keharusan kamu untuk juga merinduku, tidak juga ada sarana atau upaya untuk melepas kerinduanku kepadamu.

Apa aku membenci dirimu saja?

Waktu kamu menjatuhkan hatimu pada orang lain, sungguh aku sudah mendapatkan perasaan itu. Aku berhasil membencimu. Namun waktu ternyata tidak berjalan semudah yang aku kira. Kamu terluka, kamu sakit, kamu lantas memutuskan sesuatu yang besar, dan tidak ada lagi alasan bagiku untuk membencimu lagi.

Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menyentuhmu. Tidak pernah dan tidak akan pernah bisa memilikimu. Tapi aku selalu dan akan selalu merindumu. Bahkan ketika aku sudah berhasil membencimu, satu-satunya alasanku berbuat itu sirna dengan mudahnya.

Aku berada di persimpangan jalan. Persimpangan yang sulit. Apakah aku harus memilihmu, sementara tidak mungkin aku memilikimu? Apakah aku harus bertahan dengan pilihanku, sementara di dalam hatiku selalu ada kamu?

Ini persimpangan tersulit dalam hidupku.

Kupejamkan mata dan berdiri di persimpangan itu. Kuhirup nafas dalam, hingga paru-paru penuh dengan oksigen. Semua memompakan darah ke otakku. Berharap aku bisa berpikir.

Tapi sia-sia, darah itu malah mengalir ke hati dimana satu-satunya pilihan menurutnya adalah kamu!

Tampak bayangan seluruh hidupku datang menghampiri. Kupeluk erat dia, kuharap dapat memberikan sesuatu yang berharga untuknya. Aku ingin dia menikmati seluruh perjalanannya. Dan itu tidak lain butuh pilihanku. Jalan mana yang hendak kupilih. Jalan itu tak jauh, persis di depanku.

Waktu sudah mengayuh dirinya terlalu jauh. Dan semakin aku terbawa olehnya! Sungguh sulit. Memang lebih baik seharusnya aku membencimu saja. Tapi membaca tulisan-tulisanmu, membaca kata-katamu, dan memaknai detail-detail kalimat manismu, aku betul-betul tak bisa membencimu.

Tolonglah, beri aku cara!

* * *

Pria galau itu masih berdiri lemah di persimpangan berdebu. Berteriak penuh keluh kesah. Pilihan hidup tentunya tidak mudah. Apalagi disuruh memilih hati dan otak.

Pria itu semakin lemasnya tapi masih ada senyum tersungging di bibir tebalnya. Hmmm.. agaknya dia sudah mendapatkan keputusan.

 * * *

Aku berjalan disini, memilih jalanmu. Sederhana bukan? Terserah padamu, meski aku tahu kamu mencintai yang lain, tapi biarkan aku mencintaimu. Ada atau tiada cinta, bagiku tiada mengapa. Setidaknya dengan ini, aku bisa menemukan diriku yang telah lama hilang.

Aku memang tidak bisa membencimu. Sungguh.