Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Nama Itu, Senyum Itu, Kamu Itu

Kadang aku ingin bertanya pada Tuhan, mengapa Ia membiarkan udara mengantarkan gelombang yang isinya sebuah kata berisi namamu. Kadang aku berharap waktu itu aku sedang mendengarkan seseorang lain yang berbicara yang lain pula, bukan berbicara sebuah kata yang isinya adalah namamu.

Ya, sejak gendang telingaku menangkap dua patah kata yang adalah namamu, semuanya tak lagi sama. Namamu berlari menyusuri sistem sarafku, memenuhi cairan-cairan perantara neuron yang ada di otakku, bahkan ikut main-main dengan tekanan darahku. Entah mengapa semuanya soal kamu.

Mungkin sebenarnya aku harus jujur bahwa yang kusesali bukanlah saat aku mendengar namamu. Baiklah, aku memang harus jujur.

Satu hal yang kusesali adalah karena mendengar namamu aku telah memberikan cintaku kepadamu, yang tampaknya takkan pernah mencintaiku. Sebenarnya hanya itu. Sayangnya, cinta itu bertumpuk, terpendam, bahkan terbenam di dalam hatiku. Cinta itu telah mengendap bersama toksin-toksin kronis di dalam tubuhku.

Apakah mungkin karena kita cukup dekat?
Apakah mungkin karena aku seolah-olah mendekati kamu sebatas ingin berteman?
Apakah mungkin karena kamu memang tidak punya rasa padaku?
Sungguh aku tak tahu.

Kamu telah menjadi hemoglobin dalam darahku. Sungguh tanpa kamu, otakku seakan tidak pernah menerima oksigen. Dia hampa. Bahkan kalau bukan karena kamu, maka kata-kata ini tidak mengalir.

Hanya dari namamu yang tampak biasa tapi entah kenapa membuatku menggila. Lantas aku bertemu kamu yang juga entah kenapa malah membuat aku seperti perlu minum obat penenang. Dan terutama, ketika kamu tersenyum.

Sungguh dunia menjadi terang benderang. Aku hanya berharap sehabis melihat senyummu, aku tidak perlu memakai kaca mata, karena senyummu sungguh menyilaukan.

Satu hal yang kusesali, ya hanya satu saja. Sayang, yang satu itu berakar banyak.

Aku tidak tahu apakah selama ini kamu menyadari cintaku? Aku yakin kamu pasti menyadari tentang aku karena kita sering berinteraksi. Dan aku yakin kamu bukanlah orang aneh yang berinteraksi sendiri, karena itu memang tidak mungkin dilakukan.

Apakah kamu tidak sadar bahwa selama ini aku merindumu? Meskipun aku menulis kata-kata lewat pesan singkat yang seolah-olah bercanda, tapi sejatinya itu nyata.

Mungkin aku memang terlalu banyak bercanda.
Tapi sebenarnya itu lebih karena aku mencintaimu.
Dan yang terjadi kemudian adalah aku tidak punya daya untuk mengungkapkan cinta kepadamu.

Apakah kamu tidak peka sedikitpun tentang panggilan hatiku? Mungkin kini dia sedang sirosis, membatu, karena siapa? Karena kamu.

Kamu adalah senyuman paling indah.
Kamu adalah tawa paling menghangatkan.
Kamu adalah kerlingan yang paling menawan.
Kamu adalah binar paling cemerlang.

Sungguh itu kamu, dan memang hanya kamu.

Kala berulang usaha membuatku berhenti pada ketidakpedulianmu akan aku, maka aku akan selalu berlari.

Sayangnya, aku jatuh terlampau dalam di hatimu.
Aku tidak bisa memanjat lagi.
Bibir jurang hatimu sudah terlalu jauh karena aku terperosok sedemikian dalam di hatimu.

Aku menangis kala mendengarmu bersama seseorang yang kamu cintai.
Aku tertawa kala kemudian orang itu justru menyakitimu.

Aku tertawa, karena akhirnya aku punya ruang kembali untuk masuk ke sisi hatimu.  Tapi tetap saja, aku rasa kamu tidak tahu.

Pernahkah kamu menyepi sejenak?
Pernahkah kamu mendengarkan jeritanku dalam dasar jurang hatimu?
Pernahkah kamu sejenak melihat ke bawah, ketika aku menatap penuh harap bahwa kamu akan membantuku keluar dari jurang ini dan menaruhku di sisi hatimu?

Ketika kamu selalu menyebut hendak mencari sosok lain, aku selalu berharap bahwa kamu akan berpaling padaku.

Sayangnya tidak.

Hah..
Kamu ini memang bikin gila. Kamu sudah seperti Diazepam yang masuk secara intravena ke dalam pembuluhku. Aku tak berdaya karena kamu.

Lantas apa?
Aku harus berusaha untuk sadar sendiri, berupaya bangkit sendiri, dan berjuang untuk tegak kembali.

Aku tahu kamu sebenarnya tidak salah karena akulah yang memberikan cintaku kepadamu. Dan salahku juga tidak pernah meminta cintamu.

Sungguh, aku hanya tidak berani.

Kini aku baru mengerti sungguh bagaimana rasanya mencinta. Sayangnya rasa itu harus kudapatkan dengan mencintaimu, yang tidak akan pernah mencintaiku.

Yah, kini aku sudah tahu rasanya.
Terima kasih telah memberikanku pengalaman yang tidak akan terlupa soal rasa mencinta.
Ini sungguh berharga bagiku.

Dan pasti akan jauh lebih bermakna, kalau kamu pada akhirnya ada di sampingku.

* * *

Malam menjelang dan suasana laboratorium, seperti biasa, sepi. Seorang dalam balutan jas laboratorium tampak berbicara sendiri dengan memegang gelas ukur dan pipet.

Dan orang itu masih melontarkan kata-kata, kadang manis, tapi lebih banyak galaunya. Mungkin percobaannya sedang gagal, mungkin peak HPLC yang diharapkannya tidak muncul, mungkin ia harus mengulang preparasi, Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang tahu? Mungkin juga tidak.

Karena ada sosok lain di ujung ruangan yang mendengarkan dengan saksama racauan orang itu. Sangat saksama malah.

Satu hal saja yang perlu dipertanyakan, apakah sosok lain itu sadar bahwa orang itu meracau panjang tentangnya?

Tidak ada yang tahu. Sungguh.

* * *

Tulisan saya yang dimuat dalam buku Tahu Bagaimana Rasanya
Sebuah buku antologi yang diinspirasi dari lagu berjudul sama ciptaan Mbak Lala Purwono 🙂

 

Sebungkus Senja Untukmu

Matahari bergegas menuju barat. Sudah jatahnya untuk tidak saja menerangi belahan bumi tempat aku berpijak. Ia harus beralih ke bagian bumi lain untuk tugas yang sama. Yah, itu memang tugasnya. Tidaklah perlu aku mengurusi soal itu.

Seharusnya memang demikian.

sumber: bailaconmigo-jola.blogspot.com

Tapi kali ini aku ada perlu dengan matahari. Dan parahnya, aku terlambat. Sudah menjadi tabiatku untuk menunda pekerjaan sebisa mungkin itu ditunda. Dan benarlah. Ketika aku sampai di tempat aku punya urusan dengan matahari, ia sudah bergegas pergi.

“Hai, tunggulah sebentar!” Aku mengejarnya dengan nafas yang semakin tidak teratur.

“Bukankah kita berjanji untuk bertemu 1 jam yang lalu? Aku masih banyak urusan sobat!” katanya sambil terus berjalan.

Aku terus berlari mengejar langkahnya yang besar. Sebenarnya, sudah nyaris tidak terkejar. Betapa tidak, sebuah langkahnya harus kukejar dengan ratusan langkah berlari. Tapi, sungguh, aku membutuhkannya sekarang.

“Tapi tolonglah! Aku betul-betul membutuhkanmu sekarang!” Aku berteriak semakin kencang. Nafas terengah itu aku konversi menjadi suara yang mendesah keras, berharap matahari bisa berubah pikiran untuk bertahan sejenak.

Langkahnya melambat, tapi tentu saja itu masih butuh dikejar. Aku melihatnya melambat perlahan, dan dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku berlari lebih kencang.

“Satu kali ini saja, Tuan!”

Dan ajaib! Ia kali ini benar-benar berhenti. Pada posisi yang sungguh tepat, sungguh baik, dan sungguh membentuk SENJA.

“Apa yang kamu perlu dariku, sobat?”

“Aku hanya hendak membungkus senjamu, Tuan. Apakah aku bisa melakukannya?”

“Hahahahaha…,” tawanya besar, tampak ia sungguh tergelak bukan main atas permintaanku, “Kau pikir aku bisa mengabulkan permintaanmu sobat?”

“Kau yang membuat senja, pastinya kau juga bisa membungkus sedikit untukku. Tolonglah Tuan!”

Matahari tampak berpikir. Mungkin ia baru kali ini mendapat permintaan yang aku ajukan.

“Mendekatlah, sobat!”

Aku berlari mendekat, tapi panas. Maka aku melambatkan laju lariku.

“Mendekatlah!” katanya lagi.

Panggilan kedua darinya membuatku mendekat lagi. Bukan hal yang mudah. Sungguh panas! Kulitku mulai terbakar dan sebagian menghitam. Aku tidak lagi tampan. Itulah keadaannya.

Tapi aku telah mengejar matahari ini sedari tadi, maka sungguh tanggung kalau aku melewatkan panggilannya.

“Ulurkan tanganmu, sobat!”

Panas semakin menderaku dan mataku bahkan tidak bisa lagi melihat keadaan sekitar karena hanya ada cahaya terang beredar di jangkauan mataku.

“Apa ini Tuan?”

Matahari mengulurkan tangannya dan sejurus kemudian sebuah bungkusan berada di tanganku.

“Terimalah, sobat. Baiklah kini aku pergi. Banyak yang menungguku di belahan lain. Selamat bersenang-senang.”

Panas itu perlahan hilang, pun dengan cahaya terang. Di tanganku ada sebuah bungkusan. Hanya sebuah bungkusan kecil yang tidak sempat kutanyakan isinya. Kuanggap saja itu pemberian dari matahari, dan seharusnya ia memberikannya sesuai permohonanku tadi.

Dengan badan melepuh, kulit terbakar, dan mata yang belum kembali pada daya akomodasinya aku berlari kembali. Aku menuju tempatmu. Aku tahu kamu pasti berada di atap rumahmu. Entah bagaimana caranya, kamu menyukai tempat itu.

Wajahmu sendu, aku yakin kamu pasti kehilangan sesuatu.

“Hei, mengapa kamu bersedih?” teriakku dari bawah.

“Aku kehilangan senjaku!”

Dan air matamu perlahan berlinang. Entahlah, apa pula hebatnya sang senja sampai kamu berlinang air mata karena kehilangannya.

Aku hanya berharap, senja yang hilang itulah yang ada di bungkusan dari matahari. Tentu saja hilang, karena senja itu pasti ada di tanganku sekarang!

“Aku punya kado buatmu! Janganlah bersedih lagi!” Aku masih berteriak dari bawah.

“Kecuali kamu menghadirkan senja kembali untukku, saat itulah aku tidak bersedih. Senja adalah hidupku!”

“Baiklah! Tapi kamu mau menerima hadiah ini kan?”

Dan kamu terdiam menghapus air mata, masih menerawang ke tempat seharusnya senja itu ada. Tanpa jawaban bukanlah hal yang baik. Maka dengan sisa tenagaku, kupanjat dinding rumahmu. Dengan hati-hati kubawakan bungkusan dari matahari sambil memanjat dinding merah jambu itu.

Kini, hanya ada aku dan kamu, di tempat semacam ini.

“Janganlah bersedih.”

“Senja adalah hidupku, tidak ada alasan untuk tidak bersedih,” katamu sendu.

“Mungkin ini bisa menghapus kesedihanmu,” kataku sambil menyerahkan bungkusan kepadamu.

Paras cantikmu masih sendu kala memegang bungkusan itu.

“Bukalah…”

Tangan mungilmu membuka bungkusan, yang aku pun tidak tahu isinya. Perlahan, tampak kilau sinar dari dalam sana.

Dan yang tampak lebih perlahan adalah sesungging senyum dari bibirmu.

“Inikah penghapus sedihmu?” tanyaku.

Kamu tidak menjawab, hanya tersenyum manis kepadaku. Wajahmu mulai tampak bersinar kembali.

“Ini untukku?” tanyamu ketika akhirnya membuka suara.

“Iya! Tentu saja!” jawabku bersemangat.

“Terima kasih. Terima kasih telah memberikan senja ini untukku.”

Kisah Pria Tua, Kersen, dan Hujan

Pria tua itu selalu duduk di bawah pohon kersen kala lewat. Pria tua dengan segala kisah hidupnya. Pria tua yang merasa nyaman dengan bisa beristirahat di bawah pohon kersen. Pria tua yang selalu mengutuk kehadiran hujan. Baginya hujan itu mengganggu istirahatnya.

Atau mungkin, mengganggu kebersamaannya dengan pohon kersen.

Pria tua ini tidak pernah melewatkan waktu istirahatnya tanpa pohon kersen. Ia duduk dibawah pohon itu, mengagumi pohon kersen itu, di dalam hati. Pun ia pula yang merasa bunga gladiol tidak cocok ada disitu. Apalagi kumbang dan kupu-kupu. Itu mengganggu.

Parkit? Ah, biarlah ia diatas sana.

Telah berkali purnama lewat, pria tua memandang pohon kersen dalam keadaan yang nyaris tanpa asa. Ada apa?

Pria tua tidak dapat berbahasa layaknya pohon kersen kepada hujan, hujan kepada awan, awan kepada parkit, atau parkit kepada bunga gladiol. Ia hanya dapat berbahasa sendiri. Ia, pria tua, yang sendirian, pria tua dengan kesakitannya, dengan asa yang tersisa, merasa bahwa pohon kersen itu terlalu indah untuk berdiri tanpa asa seperti sekarang.

Ia masih bisa lebih dekat dan lebih indah.

Semakin banyak purnama lewat, semakin perih ia melihat keadaan pohon kersen. Semakin layu, semakin galau, dan tentunya tanpa asa.

“besok, akan kuselamatkan kamu. Kamu itu berharga, daripada kamu hanya menunggu hujan yang tidak kunjung tiba. Toh, hujan itu mengganggu. Besok kamu akan menjadi keindahan di dalam rumahku”

Petang menjelang, hujan yang sudah berkali purnama tiada tiba itu, muncul juga akhirnya. Pria tua hanya tersenyum kala hujan tiba. Toh, hujan tidak akan menghalanginya untuk semakin dekat dengan pohon kersen. Ia semakin tekun mengasah kapaknya.

Tiba saatnya, kita berdekatan, dan saling menyelamatkan.

Pagi tiba, pria tua menatap pohon kersen yang sejatinya dalam keadaan lebih baik. Mungkin karena telah bertemu hujan. Ia memandang pohon itu berdiri untuk terakhir kalinya.

“Kita akan bersama segera”

Dengan tekun, ia menebang pohon itu. Ini bukan untuk menyakiti. Ini untuk maksud lain yang lebih baik, lebih indah.

Karena ia yakin pohon kersen pun tidak kesakitan

Petang menjelang, ketika ia membawa pohon itu dengan susah payah ke rumahnya. Ia tidak sabar, ia tidak dapat menunggu esok hari. Maka dengan segera, melewati malam, menjelang pagi, menyelesaikan apa yang ia impikan akan pohon kersen.

Dan ketika matahari terbit, pria tua menyelesaikan suatu meja cantik, dari pohon kersen. Pohon itu kini tidak merana, ia dalam keadaan yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih dekat. Itu yang penting.

Ia letakkan meja itu dekat jendela, agar ia bisa menikmati hujan dengan berpangku tangan pada meja kersen ini. Baginya itu suatu kepuasan. Ia bersama kersen, tanpa diganggu rinai hujan.

Mereka aman dibawah atap dan dibalik tembok.

Pria tua itu kini tiada lagi putus asa. Ia merasa lebih hidup. Jauh lebih hidup dari sebelumnya. Bersama meja itu ia melakukan banyak hal. Ia banyak menelurkan karya. Entah untuk dirinya, maupun untuk orang lain.

Ada baiknya ketika semua bisa bahagia.

Pria tua sesekali juga memandang parkit yang datang di sudut jendela. Ia hanya tersenyum, parkit pasti merindukan kersen. Tapi kersen sekarang dalam keadaan yang jauh lebih baik, bersamanya.

Indahnya kehidupan, ketika kehilangan menjadi jalan untuk menemukan.

* * *

terinspirasi dari:

http://dancingintherain-tere.blogspot.com

http://cicilia-menulis.blogspot.com

http://bailaconmigo-jola.blogspot.com

Pohon Kersen dan Bunga Gladiol


Kelas I SMA, pelajaran yang paling menarik di sesi Bahasa Indonesia adalah membuat cerita. Ketika kita mengalami kebuntuan: (1) ambil satu cerita, (2) lanjutkan cerita itu dalam 3 paragraf, (3) buang cerita asli, dan (4) lanjutkan 3 paragraf itu menjadi sebuah cerita lagi.

Special thanks kepada pemilik cerita asli 😀

Tersebutlah sebuah pohon kersen di suatu taman. Ia sendirian, hanya kadang parkit dan hujan yang menemaninya.

“Ada baiknya kita tanam bunga disini..” sebut seseorang yang berdiri di bawah pohon kersen, pada suatu siang yang terik.

“bunga apa?”

“Gladiol agaknya menarik”

Bunga gladiol adalah salah satu bunga kebun yang terindah dan merupakan tanaman bunga hias yang termasuk dalam keluarga iridaceae. Tanaman ini berasal dari Afrika selatan dan sebagian kecil spesis lainnya berasal dari Eurasia. Julukan lain dari bunga gladiol ini adalah “sword lily” atau pedang kecil dikarenakan bentuknya yang merupai. Bunga gladiol ini dapat tumbuh di ketinggian 90 sampai 150 cm dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup baik. Warnanya juga bervariasi ada yang putih, kuning, oranye, merah-muda, dan merah. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik pada tanah ber-pH 5,8-6,5 dalam suhu 10-25⁰ C sangat toleran pada berbagai struktur tanah, dari tanah yang ringan berpasir dengan berbahan organik rendah sampai tanah yang berat berlempung atau liat. Tanaman gladiol akan berbunga sekitar 60-90 hari setelah tanam. Kelebihan dari bunga potong yang satu ini adalah kesegarannya bisa bertahan sampai sekitar satu setengah minggu dan dapat berbunga sepanjang waktu. Warnanya dan penampilannya akan tampil maksimal jika ditanam di kondisi dimana mereka mendapatkan cahaya matahari yang penuh, dan dapat membantu tanaman ini menyimpan energi matahari tersebut untuk masa pertumbuhannya di tahun berikutnya. Perlu diingat juga bahwa bagian tertentu dari bunga gladiol ini mengandung racun, jika dimakan atau disentuh bisa mengakibatkan reaksi iritasi atau alergi. Manfaat dari bunga gladiol ini adalah untuk sarana peralatan tradisional, untuk keperluan agama, ritual ritual tertentu, dan upacara kenegaraan. Bunga gladiol ini adalah salah satu cut-flowers atau bunga potong yang paling banyak dicari orang baik sebagai bunga hias atau untuk keperluan tanaman kebun karena bunga ini sangat menarik perhatian atau “eye-catching”.

Gladiol, pikir pohon kersen, terdengar menarik. Ia memang terlalu lama disana, sehingga wawasannya kurang. Ia tidak tahu seperti apa bentuk bunga gladiol itu, hanya kedengarannya menarik.

Ia begitu menanti kehadiran gladiol, setiap kali sang pemilik taman tiba, ia selalu berharap dapat melihat sosok bernama gladiol itu. Baginya gladiol dapat menjadi tambatan dari kesendiriannya di taman ini. Lagu lawas berkata “I knew I love you, before I met you

Sampai suatu ketika, di suatu senja, ketika pohon kersen dalam kantuk dan kesendiriannya, ia merasakan sesuatu yang lain ketika benar-benar terjaga. Sesosok indah bunga gladiol ada di dekatnya, sungguh-sungguh dekat.

Gladiol itu masih baru dan kecil. Meskipun besar nanti, pasti tidak akan sebesar pohon kersen. Itu keniscayaan.

Pohon kersen pada dasarnya telah dapat akrab dengan gladiol, namun itu semata-mata dalam halnya melindungi si kecil gladiol. Meskipun pohon kersen berharap agar keindahan di depan mata itu benar-benar menjadi pelangkap dirinya.

Suatu kali, pohon kersen hendak mendekat, bercerita lebih dalam.

Ia melihat sesosok kumbang bercengkrama manis bersama gladiol. Hatinya tertusuk. Mengapa kumbang yang datang dan pergi itu bisa begitu dekat dengan gladiol, sementara ia yang selalu ada disana, tidak dapat menyentuhnya.

Satu hal, pohon kersen tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ini berbeda dengan upaya-nya yang lain, ia masih dapat bercerita dengan parkit, dengan hujan, bahkan dengan awan.

Pohon kersen kemudian menjadi saksi, ketika kumbang gila meninggalkan gladiol dalam keadaan terluka dan menangis. Pohon kersen kemudian menjadi pelindung, penyemangat sampai akhirnya gladiol dapat tersenyum kembali.

Namun, hanya sampai disitulah pohon kersen bertindak.

Lagi-lagi ia tiada mampu menyatakan, bahwa gladiol telah dapat memberi semarak pada jiwanya. Dan ia hanya mampu menyimpan itu sendiri. Hanya sendirian.

Kini ia hanya mampu menyaksikan gladiol tengah menikmati keindahan hidup bersama kupu-kupu. Pun gladiol masih sempat menyampaikan ketakutannya akan terluka lagi. Pohon kersen hanya dapat mendengar dan berucap seolah-olah tanpa ada hati yang terluka.

Mungkin ia harus mengutuk seseorang yang pernah berkata, “apabila kamu mencintai sesuatu, kamu pasti bahagia apabila sesuatu itu bahagia”

Yang ada saya sedih Tuan, batin pohon kersen.

Dan itulah yang terjadi sekarang, pohon kersen dalam kesendiriannya, menatap gladiol menggapai asa dengan kupu-kupu yang selalu hinggap manis kala senja hari.

Ini ironi, ia begitu dekat, tapi kau tak mampu-bahkan sekadar-untuk menyentuhnya.

Teori menyebut gladiol beracun, tapi bukan racun itu yang membuat pohon kersen iritasi dan alergi, tapi ketidakmampuannya mengucapkan cinta.

Hanya 1 soal, mengapa pohon kersen tak mampu mengucapnya, sedangkan ia begitu dekat?

Tidak ada yang tahu, karena memang pohon kersen memilih untuk menyimpannya sendiri.

* * *

inspired by: http://bailaconmigo-jola.blogspot.com/