
CFX after show


Entah dari mana saya harus mulai posting ini.
Suatu ketika Mas Mbong menulis di FB, menantang seluruh alumni CF untuk konser bersama berkedok reuni. *halah*
Lalu, dalam rangka nyari duit, pas ada lomba, pas lomba natal, dan segala pas-pas lainnya, akhirnya Oon bikin invitasi, siapa yang hendak turut.
Sampai disini, saya hanya sebagai pemirsa.
Kemudian datang lagi invitasi lanjutan, dan melihat list yang mau ikut, saya tertampar sendiri. Kalau si Nana (Bekasi) dan si Sammy (Bogor), serta Mas Alex (Depok) mau ikut, masak saya nggak?
Ya sudah, akhirnya ikut.
Tentu ada pengorbanan waktu beberapa orang untuk mengurusi administrasi lomba. Juga pengorbanan tenaga untuk mempersiapkan teks yang ternyata harus dikonversi dari not balok. Saya, lagi-lagi, menjadi pemirsa saja. Dan terima beres.
Dalam hati terus berpikir. Bagaimana ceritanya, orang-orang yang ada di JAkarta, BOgor, DEpok, TAngerang, dan BEKasi ini bersatu dan latihan macam dulu? Kalau dulu semudah mengumpulkan di Mrican dan Paingan. Sekarang?
Sekadar melatih lagu pertama (The Twelve Days of Christmas) saja rasanya sudah setengah mati. Lagu dengan modulasi berkali-kali itu susah, apalagi birama 120. Sampai suatu hari kita membanting teks itu dan berteriak, “Mas Mbongggg..”
Itu di latihan pertama di Taman Suropati. Jangan ditanya juga bagaimana ceritanya mengumpulkan orang-orang di Taman Suropati itu. Satu hal, tidak lengkap.
Latihan kedua, di tempat yang sama, saya nggak hadir gegara hujan dan macetnya ibukota. Juga latihan di Gading Serpong, nggak hadir juga.
Saya baru nongol lagi ketika latihan di Gereja di belakang Sarinah. Dari siang sampai sore. Ini juga tidak lengkap. Malah ada yang baru pertama kali latihan, ya disini ini. Hehe.. Dan syukurlah, disini juga birama 120 itu pertama kali dinyanyikan dengan benar.
Latihan terakhir, di sebuah sekolah internasional di Gading Serpong. Ini latihan yang HAMPIR lengkap alias ya nggak lengkap juga. Sudah mulai benar nyanyi dan geraknya. Ehm, saya dari Gading Serpong jam 4, sampai Cikarang jam 7. Suwi men rek.
Dan itu adalah latihan terakhir, saudara-saudari!
Saya nggak berasa hendak ikut lomba. Ikut latihan cuma 3 kali, sangat tidak terbandingkan dengan yang saya alami lima tahun silam di Jogja.
Sampailah hari H, 8 Desember 2012, di sebuah kampus di Semanggi. Nomor undian 6. Orang-orang dari Jabodetabek yang nggak pernah komplit latihan itu akhirnya berkumpul komplit.
Jadi, paduan suara ini baru berkumpul semuanya lengkap, ya pas hari H.
Masuk ke Ruang Siaga 2, hanya 1 lagu yang bisa terlatihkan, ya lagu pokok. Dan si solo tenor (Jati) sempat luput. Sampai kemudian mukanya berubah tegang begitu. Hehehe.. Mana birama 120 itu ternyata buyar.
Sampailah saat terakhir, Siaga 1 (backstage). Rasanya aneh, hendak ikut lomba lagi. Sejujurnya lomba itu jauh lebih ganas daripada sekadar show peresmian pabrik. Show peresmian pabrik, sejelek apapun kita pasti ditepukin. Kalau lomba? Nilai jelek. Hal yang sangat berbeda.
Langkah pun dilakukan di atas panggung. Tidak banyak penonton, ada sedikit rasa syukur disana. Hehe.. Setidaknya mengurangi grogi. Habis foto-foto mulailah, orang-orang yang baru sekali ini tampil bersama komplit itu beraksi. Ya, pertama kali tampil komplit, ya pas di panggung. Entah buat yang lain, tapi buat saya itu gila.
Dan, kehendak Tuhan terasa benar. Ya, solis-solis tampil mulus, bahkan birama 120 yang mengenaskan itu akhirnya bisa terlewati dengan baik. Baik sekali malah. Asli mulus.
Dan penampilan ini sudah cukup membuat lepas di 2 show berikutnya. Yah, Sigulempong sama Jingle Bells Rock dilibas abis dengan gokil. Sampai-sampai di komentar juri tertulis “Great Showmanship“. Hehehe.. Bangga juga..
Dan nyatanya kemudian adalah paduan suara ini masuk final. Bersama 7 paduan suara lain yang (beberapa) dari nama sudah mengisyaratkan 1 tempat (lokasi) dan pasti nggak ada ceritanya baru sekali-kalinya komplit yang pas di panggung.
Apakah ini disebut well prepared?
Mungkin tidak.
Tapi kenapa bisa lolos?
Buat saya ini perpaduan dua hal, yakni kualitas dan kehendak Tuhan. Kualitas individu mungkin memang sudah cukup, secara mayoritas dulu digembleng di kawah candradimuka CF, belum lagi mengembangkan diri di choir lainnya. Lalu kehendak Tuhan?
Tentu saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas perjuangan orang-orang ini untuk bisa berkumpul, dengan jarak yang jauh-jauh untuk niat mulia menambah dana konser reuni tahun depan. Ya, Tuhan memang LUAR BIASA!
Mau tahu yang lebih luar biasa?
Dengan formasi yang lebih sedikit, tim yang sama akhirnya bisa JUARA 1! Saya nggak ikut final karena harus opening meeting. Andai saja meeting ini bisa ditunda (apa dibatalkan sekalian). Fiuhh.. Tapi rasa ikut senangnya, LUAR BIASA!
Buat saya, ini bukan sekadar kemenangan. Nilainya lebih kepada pertemuan kembali (dengan luar biasa–karena faktor jarak) dan berkumpul kembali di panggung, setelah sekian lama.
Awesome..

Semakin labil anak muda masa kini, semakin banyak istilah bermunculan. Salah satunya adalah HTS. Ini tentu saja bukan Heka Teki Silang atau Henyakit Tenular Seksual *garing* tapi Hubungan Tanpa Status. Seorang teman pernah menyebutnya sebagai intimate friend. Ya, teman yang lebih intim.
Parameternya?
Tentu intensitas komunikasi. Logisnya, dua orang berlawanan jenis akan berkomunikasi sepanjang hari jika dia (1) punya hubungan keluarga, (2) PDKT pada level hampir diterima, (3) lagi janjian di mall dan nggak ketemu-ketemu, saking gede-nya mall tempat janjian, dan (4) berteman.
Ehm, berteman.
Jadi mari kita bahas jenis-jenis HTS ini.
Mantan yang masih saling cinta
Ada kalanya dua insan saling mencintai tapi terpaksa meluputkan komitmen yang sudah ada karena faktor eksternal. Misalnya perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Hal ini pedih banget. Ya, namanya juga masih cinta, masih perhatian, masih curhat kalau sakit, masih nanya sudah makan apa belum. Ehm, nanya siapa tuh? Pacar bukan, mantan iya.
Satu berharap, satu belum dulu
Nah, misal si cewek yang habis putus karena perbedaan tadi. Begitu lepas jadi jomblo, datanglah seorang cowok mendekati, menawarkan kedekatan, keintiman, ciee.. ciee…, dan lainnya. Hasilnya? Ya, komunikasi tiap hari lancar. SMS, telepon, BBM, Whatsapp lanjut terus. Tapi si cowok pasti menemukan tembok besar ketika mau nembak. Kenapa? Ya, si cewek jelas menerima rekan curhat, teman, tapi belum berkehendak lebih. Si cowok menunggu waktu yang tepat, dan terbentuklah HTS.
Sama-sama malas berkomitmen
Hal yang parah dari status ‘pacaran’ adalah komitmen. Ada pergaulan yang harus dibatasi, baik di linimasa maupun di dunia nyata, semata-mata menghormati komitmen. Buat saya sih ini bisa didiskusikan. Tapi ada saja kalanya dua orang saling suka, tapi tidak hendak terkendala komitmen, cemburu, dan lainnya. Hingga kemudian memilih dekat, tapi tidak dalam naungan komitmen.
Sudah punya pacar
Well, bagaimanapun ada yang begini. Kadang nih, cewek butuh teman cowok untuk curhat tentang masalah cowok. Kenapa? Karena perkara perspektif. Nah, namanya juga COWOK mennn.. dekat sama cewek (apalagi kalo lagi LDR) pasti ada harapan untuk mengisi ruang yang kosong disana. Ini nggak selingkuh kok, karena nggak ada komitmen diantara mereka berdua. Kan cuma teman. Teman tapi kok ngingetin makan, teman macam apa itu?
Temen Kos
Di era kos campur merajalela, ada aja yang namanya hubungan dekat karena teman kos. Ya, secara, kadang perlu pinjem gunting kuku, nebeng nonton, tukar-tukaran DVD terbaru, sampai nonton bareng di bioskop. Kadang nih, ya sedekat itu saja, jadian kagak. Padahal tinggal serumah. Eleuhh..
Teman Sejenis
Namanya cinta kadang nggak mandang jenis kelamin. Dan di era yang masih sok menabukan ‘perbedaan dari kelogisan’ tentunya persoalan ‘sejenis’ ini belum hendak dikomitmenkan. Apalagi dipublish ke social media (meskipun Facebook sudah memfasilitasinya). Jadinya? Ya, seperti saya melihat dua pria belai2an di TransJogja. *no comment*
Yah, sekian saja. Semoga tidak membantu. Sekian dan selamat sampai tujuan.
Bahwa saya mungkin nekat ketika mengiyakan ajakan kawan2 lama saya di CF untuk ikut lomba Choir. Ya, nekat.
Pertama, karena kebanyakan mereka berbasis di Tangerang dan sebagian lain Jakarta. Tapi begitu ada 1 orang Bekasi dan 1 orang Bogor ikutan, saya lalu berbisik, “Mosok sih aku nggak ikut?”
Kedua, dengan personel yang ting jlentreng di Jabodetabek, tentu intensitas latihannya nggak sering, dan harus pula berkualitas. Well, soal kualitas, tentu saya percaya kualitas teman-teman saya yang digembleng dengan batako di CF dulu. Hahaha..
Pada akhirnya saya setujui, dan saya sukses bolos beberapa latihan. Saya ikut 1 kali latihan di Taman Suropati, 1 kali di Gereja Theresia (Sarinah), dan 1 kali di Sekolah Stella Maris Gading Serpong. See? Hanya 3 kali! Kalau mau membandingkan dengan yang saya alami ketika ikut KPS Unpar IV tentu jauhhhh banget. Tapi, ya begitulah adanya.
Itu saja, saya sudah gila-gilaan. Ya, perjalanannya nggak semudah itu. Cikarang ke tempat-tempat itu bukan pula mudah. Ada cerita saya nunggu K67 di Blok M sampai 1,5 jam. Ada kisah saya menyaksikan hujan di dalam Agra Mas untuk perjalan Tangerang-Cikarang. Ada pula cerita dikasih tarif ojek yang alamakjang.
Dan lusa lombanya.
Dan pas pula, sudah 2 hari ini saya cumleng nggak karuan. Asli, langsung teringat kejadian lima tahun yang lalu.
2007.
Saya masih jadi panitia Titrasi dan sukses jatuh sakit di Sinolewah. Lalu? Ya, saya tetap berangkat menuju Bandung untuk lomba. Waktunya pas banget. Jadi pas lomba saya hanya perlu OBH untuk ekspektoran (sisa-sisa batuk).
Lha ini?
Entahlah. Memang sedang musimnya, karena seminggu ini saya sudah hujan-hujanan beberapa kali. Nanti juga sembuh.
Sebagai apoteker, saya sudah mendapat banyak pelajaran tentang sakit. Satu hal, sakit selalu ada penyebabnya. Sakit juga selalu memberikan dampak pada tubuh manusia. Dan tidak semua sakit bisa disembuhkan. Sakit bagi saya adalah keadaan tidak setimbang yang terjadi pada tubuh.
Misal, ketika sekarang, common cold menyerang saya. Ya ini karena si virus itu masih hidup. Nanti juga mati (kan self limiting). Sakit menjadi terasa benar karena kemudian saya HARUS kerja dan saya menjelang lomba.
Ya, semoga saya bisa. Ini lomba pertama sejak terakhir kali Desember 2007, alias sudah 5 tahun berlalu. Ini juga pertama tampil (lagi) sejak Maret 2011. Nyaris 2 tahun silam.
Sesungguhnya saya rindu menjadi berkualitas.
Semoga bisa 🙂
Salah satu keseharian saya dengan si lappy adalah mengecek dashboard blog ini. Lalu melihat berapa kali blog ini dilihat dalam sehari, posting mana saja yang dilihat, dan sesekali melihat search engine terms yang digunakan orang di Google, Yahoo, Bing, atau apapun hingga kemudian masuk atau (mungkin) kesasar ke blog saya ini.
Dan hari ini saya melihat sebuah search engine terms yang unik.

Ya, sebuah search engine terms berbunyi “aku pengen ketrima farmasi usd”.
Sebegitu dahsyatnyakah almamater saya itu sehingga kemudian sampai ada orang yang memasukkan terminologi itu ke search engine?
Waktu saya masuk kuliah tahun 2004, saya mungkin kurang kontemplasi. Saya hanya merasa agak terjebak oleh nama dan kemudian atas dasar nama itu, saya lalu memilih fakultas yang termahal karena biasanya termahal itu terbaik. Ya, so simple. Dan pada akhirnya saya masuk, berkuliah di tempat yang kemudian ditulis di search engine itu.
2004 itu 8 tahun yang lalu. Dan selama 8 tahun tentu banyak yang berubah dan berkembang. Kebetulan, saya ikut serta di beberapa kesempatan pertumbuhkembangan almamater saya itu. Mulai dari akreditasi (2005) ketika saya diwawancara asesor dengan pertanyaan pertama “kenapa kamu suka Inter Milan?” dan percakapan kedua “kemarin abis menang lho lawan Roma (bukan Irama)”. Lalu juga ikutan beberapa rapat-rapat persiapan program hibah. Dan ikut juga dalam assessment hibah. Ya meskipun saya lulus dengan IP yang teramat sangat pas-pasan *hiks* tapi saya menikmatinya.
Dan tentunya ikut bangga, sampai segitunya ada yang desperate menulis search engine terms seperti judul tulisan ini. Hehehe..
Ya sudah, begitu saja kok. 🙂