Tag Archives: cinta

Cerita Liburan: Memang Tidak Terbalaskan

Salah satu pesan yang saya terima sebelum mudik kemarin adalah mengetik program kerja Mamak saya. Lalu pesan berikutnya adalah membuat DVD yang diputar di DVD Player bisa dilihat di TV.

Yah, saya melihat banyak benda baru di rumah, meski terakhir saya mudik itu baru Desember 2011 silam. Ada TV masa kini yang gede banget, ada laptop (ini sih milik kepala sekolah), dan yang bikin terpana, ada TV kabel segala. Selintas saya berandai-andai, kalau segala fasilitas ini sudah ada ketika saya SMP. Hmmm, saya pasti hanya akan menjadi bocah kecil yang manja, yang akan selalu tergeletak di depan laptop dan di depan TV menikmati hidup. Dalam hal ini saya justru bersyukur (banget).

Nah, bagian paling unik adalah ketika saya kemudian “mengajari” Bapak menggunakan laptopnya yang jauh lebih canggih daripada si lappy. Memori-nya 3 kali lipat, processor masa kini, sudah windows 7 pulak. Parahnya, laptop bagus itu hanya bisa buka MS Word karena MS Office-nya bukan versi Purchase. Buat saya ya sayang, seharusnya–karena ini barang dari pemerintah–budgetnya bisa banget kalau untuk beli license, tapi ini kok begini? Beli Windows 7-nya kuat, beli MS Office-nya nggak. Yak opo iki?

Nah, berikutnya saya diminta mengajari merapikan program kerja matpel yang diajarkan Bapak, yang barangnya sudah ada di laptop. Maka beraksilah saya. Kadang saya heran, kalau benar Bapak kursus, kenapa sekadar “block” hingga “copy paste” saja seperti nggak ngerti? Atau lupa? Atau bagaimana? Ah, entah..

Tapi saya menikmati sekali proses ini. Termasuk kemudian ketika saya memindahkan foto dari HP Bapak ke komputer rumah dan terus kesusahan karena memang HP itu belum pernah dibuka slot memory-nya. Juga memindahkan foto dari BB Mamak yang isinya foto artis lokal semua (kalau saya bilang sih, emak-emak labil.. hehehe… *ampun makkkk* *ditabok*). Juga ketika kemudian saya membuat panduan cara nge-burn CD. Hingga lantas membuat DVD yang diputar bisa terlihat di TV baru.

Huffffttt…

Saya nggak ngerti apa ini, tapi saya lantas ingat posting Bocah Rantau yang satu ini. Bahwa bocah tua nakal ini BENAR 100%. Yah, saya mungkin hanya mengajari hal yang dianggap remeh di masa kini dan lantas tampak pintar. Apa sih CTRL + C dan CTRL + V? Apa sih mindahin foto dari HP ke laptop? Itu semua simpel, tapi buat saya, kemarin ini, bermakna dalam.

Yah, kalau kemudian saya tahu soal CTRL + C, kita perlu bertanya, siapa yang membuat saya mengerti huruf “C”? Nggak lain, kedua orang tua saya. Ketika kemudian saya tahu bahwa untuk membuat TV bisa menayangkan DVD itu harus menekan tombol INPUT di remote, siapa yang membuat saya mengerti bahwa benda itu adalah remote control? Nggak lain juga, kedua orang tua saya. Kalau kemudian ketika saya asyik dengan laptop, lalu kebelet pipis, dan saya bisa pipis dengan lancar, siapa yang mengajari saya cara pipis? Tidak ada yang lain, kedua orang tua saya.

Begitulah hidup. Bocah tua nakal menulis soal kasih yang tidak akan pernah bisa terbalaskan. Saya menambahi, memang tidak terbalaskan. Apalagi ketika saya selesai dengan laptop atau DVD, segelas teh panas sudah tersedia. Ketika saya beres dengan merapikan program kerja, sepiring ayam kampung dengan sambel merah merona sudah siap. Bahkan ketika saya tidur dengan malas, sebuah selimut sudah ada menutup badan saya di pagi hari ketika terjaga. Demikian pula dengan sepiring nasi goreng dan segelas jus yang rasanya mantap. Apalagi yang perlu saya minta kalau sudah begini?

Huwaahhh… Begitulah.. Kasih orang tua pada anaknya, memang tidak terbalaskan. Kenapa? Semata-mata kadarnya yang nggak akan mungkin tercapai. Itu terlalu besar, sobat 🙂

Petualangan Pio

Langkah terseret-seret dengan nafas terengah-engah menjadi nuansa yang tampak di tempat yang sepi itu. Bahwa itu adalah satu-satunya benda bergerak di tempat yang sama sekali tanpa gerakan adalah fakta yang tak terbantahkan. Pio masih saja menyeret langkahnya dalam kelelahan yang amat sangat. Tapi kata orang-orang di bawah sana tadi, kalau ada halangan apapun tetap berjalan, kalau nggak bisa berabe. Jadilah Pio memaksakan langkah yang sudah tanpa energi itu.

Di sekeliling Pio hanya ada batu dan batu, semuanya batu. Bahkan lumut pun tidak ada. Batuan itu kering sama sekali, mungkin sudah tiga purnama tidak ada hujan di tempat itu.

“Apapun, demi Lena,” gumam Pio dalam lelahnya.

Pio kemudian sampai di sebuah tebing dengan kemiringan 92 derajat alias miring ke arahnya. Pio mendongak sekilas, ada lubang disana. “Pasti itu gua-nya. Lena, tunggu aku,” teriak Pio heroik macam di tivi-tivi.

Pio mengulurkan tangannya untuk memanjat tebing batu yang curam itu.

“Darrrrrr….”

Baru dua langkah naik, Pio terjatuh. Sebuah ledakan kecil terjadi hanya 5 cm dari jemari Pio yang menggapai-gapai.

“Huahahahaha.. Berani juga kau kesini, Pio!” tawa dengan suara dalam terdengar menggema di bebatuan.

“Acarbos?” bisik Pio lemah.

“Sudahlah Pio. Hentikan pencarianmu pada Lena. Jangan habiskan hidupmu sia-sia. Hahahahaha.”

“Tidak. Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Kalau kau bisa. Silahkan saja.”

Pio tampak seperti ngobrol dengan batu. Suara Acarbos hanya menggema di seluruh bebatuan tanpa jelas sosok itu ada di sebelah mana. Pio tahu, kalau memanjat konvensional, dia pasti tidak akan berhasil menuju lubang di atas tebing. Pio lantas menunduk dalam, penuh konsentrasi. Beberapa detik kemudian tangannya terangkat ke atas dan Pio berteriak, “Ubidekarenontranexa.”

Tiba-tiba angin yang awalnya sepoi-sepoi ringan mendadak mengumpul membentuk pusaran di sekitar Pio. Matanya masih terpejam penuh konsentrasi. Pusaran angin itu perlahan mengangkat tubuh Pio ke udara.

“Darrrr… Darrrr…” Suara ledakan-ledakan terdengar di tebing batu. Tampaknya Acarbos tidak mempersiapkan perlawanan untuk upaya Pio yang satu ini. Lewat udara!

Pusaran angin itu berhasil membawa Pio sampai di atas tebing. Matanya seketika terbuka dan ia melompat sekuat-kuatnya menuju lubang besar di atas tebing. Sayang, lompatannya kurang sempurna, Pio mendarat dengan kepala dahulu. Darahpun sontak mengucur dari kepalanya.

Dari luar masih terdengar ledakan-ledakan dinding tebing dan sesekali menggoncang landasan tempat Pio berdiri.

“Lenaaaaaa…,” teriak Pio. Lubang itu ternyata awal dari lorong yang sangat panjang. Teriakan Pio lantas tenggelam oleh ruangan. Pio menoleh sekeliling, ekspresinya mulai menyiratkan putus asa.

“Darrrrr…”  Ledakan terjadi lagi, kali ini di dekat kaki Pio, sontak ia berlari sekencang-kencangnya.

“Acarbos? Mau apa kau?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu? Mau apa kau di tempatku?”

“Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Hahahaha.. Cobalah kalau kau bisa!” Acarbos mengeluarkan pernyataan yang sama.

Pio berlari terus guna menghindari Acarbos. Sebuah pertaruhan karena Pio tidak tahu sama sekali ujung dari lorong yang ia lalui. Sepanjang jalan, sambil berlari, Pio berteriak, “Lenaaaa.. Lenaaaa…”

“Pio!”

Sebuah suara yang sangat Pio kenal terdengar memanggil. Pio berhenti dan melihat ke sekeliling. Pandangannya berhenti pada sosok gadis yang terikat di sebuah batu besar.

“Lena!”

Pio berlari mendekat, tapi ledakan kecil menghalangi langkahnya.

“Hahahaha.. Bagus sekali. Pioglitazon datang kesini mengorbankan dirinya untuk Adapalena. Sebuah kisah heroik. Luar baisa.” Suara yang sama dengan bauran gema di bawah tebing tadi terdengar lagi. Siapa lagi? Pastilah Acarbos.

Pio berdiri dengan kuda-kuda maksimal. Matanya awas ke sekeliling. Tiba-tiba ledakan-ledakan kecil tanpa jelas sumbernya terjadi di sekitar tempatnya berdiri. Pio melompat dan melangkah menyesuaikan ledakan yang terjadi. Perlahan Pio mendekat ke arah Lena.

Tapi aneh!

Setiap kali Pio mendekat ke arah Lena, batu besar itu tampak bergerak, sehingga Pio tidak pernah sampai ke tempat Lena berada. Pio mempercepat larinya, batu itu bahkan tidak tampak mendekat sekalipun. Pio perlahan menjadi lelah mengejar batu itu dan Lena yang terikat disana.

“Pio! Tolong aku!” teriakan Lena di ujung sana menggelorakan kembali semangat Pio.

Pio mulai berpikir kembali, dia harus memakai cara lain. Mantra. Tapi kalau mantra ini menghancurkan batu itu, tentunya Lena akan ikut hancur? Pio mendadak shock membayangkan kemungkinan itu. Tangannya mengepal tanda gemas dan bingung memilih solusi. Di balik kebingungannya Pio kembali mencoba berkonsentrasi.

“Hatimu yang menentukan, Pio. Hatimulah yang akan menang.” Tiba-tiba Pio teringat petuah Guru Besar Ceftrizidim.

“Hati! Hati! Hati!” gumam Pio, mencoba mencerna petuah Guru Besar Ceftrizidim. “Hatiku adalah Lena! Hyaaaaaa….”

Pio mundur doa langkah kemudian berlari maju tapi kali ini tubuhnya perlahan condong menjadi horizontal, tubuhnya juga berputar layaknya mata bor. Dalam pusaran tubuhnya Pio berteriak, “Klomifena Cisaxikam.”

Tubuh Pio melayang persis ke arah Lena terikat.

“Piooooo!” teriak Lena ketakutan.

Dua meter sebelum mencapai tubuh Lena, Pio membelokkan arah dan mulai memutari batu tempat Lena terikat. Pio mengitari batu itu dengan secepat kilat.

“Arrrrgggghhhhhh…” terdengar suara Acarbos. Aha! Ternyata Acarbos adalah batu tempat Lena terikat!

“Sekarang saatnya!” ujar Pio pada putaran ke 173. Tangannya mulai bersiap menggapai Lena. “Tangan, Lena! Tangan!”

Tangan Lena yang terlepas ikatannya karena efek pusaran Pio menggapai ke atas. Pio melihatnya dengan jelas, lalu berteriak, “Risedrona Mekobala.”

Sesudah berteriak demikian, tangan Pio menggapai tangan Lena dan menariknya seketika ke arah atas, sementara Acarbos tampak mulai retak-retak dan kemudian meledak.

Pio dan Lena yang terkapar dalam kondisi berpelukan melihat kehancuran Acarbos dengan jelas. Nafas keduanya terengah-engah, Pio malah baru merasa pusing.

“See? Jadi siapa yang nekat pergi?” kata Pio sambil mengusap kepala Lena.

“Iya Pio. Aku telah melakukan langkah yang salah. Aku pikir pergi ke Negeri Terazoten adalah pilihan bagus.”

“Bagus sih, sampai kamu diculik di jalan sama batu-batuan. Lagian ngapain kamu pergi jauh-jauh hanya alasan mengejar cinta?”

“Tadinya itu dorongan hati, Pio.”

“Dan dorongan hati juga yang membawaku ke tempat ini, Lena. Aku cinta kamu.”

“Sayangnya aku baru tahu itu setelah aku nyaris mati Pio. Kenapa nggak bilang dari dulu?”

“Selama ini aku realistis Adapalena. Bagaimanapun kamu lebih dekat dengan Meglumin dan Promelo. Siapapun tahu kalau mereka jauh lebih tampan dan pintar daripadaku.”

“Dan mereka tidak ada disini, Pio. Yang aku butuhkan bukan kata-kata, tapi bukti nyata. Dan kamu berhasil membuktikannya. Aku yakin aku juga punya perasaan yang sama, Pio.”

“Jadi?”

“Jadi mari kita pergi dari sini. Aku takut.”

“Takut apalagi Lena?”

“Jadi kamu pikir apa yang akan dilakukan dua orang saling cinta di tempat yang sunyi macam ini Pio?”

“Owww.. Baiklah. Mari kita pergi.”

Lena berpelukan erat pada Pio yang sedang berkosentrasi.

“Akril Iz Opagla.”

Mantra terbang telah disebutkan, Pio terbang bak superman dengan Lena berpegangan erat pada punggungnya.

Katakan, Jangan Tunggu Nanti

Temans, pastinya dua cerita ini sering kita baca di blog, di milis, di email-emailan kantor. Saya coba menuliskannya kembali di blog ini. Sekadar sebagai refleksi.

* * *

Peter dan Tina

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asyik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.


Tina : “Duh, bosen banget. Gue juga mau punya pacar yang bisa berbagi waktu sama gue.“
Peter : “Kayaknya tinggal kita berdua doang deh yang jomblo. Cuma kita berdua aja yang nggak punya pasangan.”
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina : “Kayaknya gue ada ide bagus nih. Kita adain permainan yuk?“
Peter : “Eh? Permainan apaan?”
Tina : “Enngg… Gampang sih permainannya, gue jadi pacar loe dan loe jadi pacar gue, tapi hanya untuk 100 hari aja. Gimana? Mau nggak?“
Peter : “Oke… lagian gue juga nggak ada rencana apa-apa buat beberapa bulan ke depan.”
Tina : “Kok loe nggak terlalu niat sih.. Semangat dong! Hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?“
Peter : “Gimana kalo kita nonton aja? Kalo nggak salah film Knowing lagi main ya? Katanya bagus tuh”
Tina : “Oke deh.. Yuk kita pergi sekarang. Ntar pulang nonton, kita ke karaoke ya.. ajak adik kamu sama pacarnya, biar seru“
Peter : “Boleh juga. Double date nih.. “
(merekapun pergi menonton, berkaraoke dan Peter mengantar Tina pulang malam harinya)

Hari ke 2 :
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membelikan sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke mall untuk mencari kado buat sahabatnya Peter. Setelah berkeliling mall, mereka memutuskan untuk membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat, duduk di food court, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling bersama teman-teman Peter. Tangan Tina sakit karena tidak terbiasa bermain bowling. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Segara, Ancol. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang pantai. Sekali lagi, Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahun.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy untuk Tina, dan Tina membelikan Peter sebuah kaos.

Hari ke 72:
Pergi ke sebuah acara festival. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang.” Kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempaskan kaki mereka. matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15.20
Tina : “Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar.”

Peter : “Tunggu di sini, aku yang beli aja minumannya. Kamu mau minum apa? Aku teh botol aja ah.”

Tina : “Aku aja yang beli. Kamu kan capek udah nyetir keliling kota hari ini. Bentar ya.”

Peter mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.

15.30
Peter sudah menunggu selama 10 menit dan Tina belum juga kembali. Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Peter : “Ada apa, Pak?”

Orang asing : “Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayak nya perempuan itu temanmu”

Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera mengambil mobilnya dan melarikan Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk diluar ruangan ICU selama 8 jam. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23.53
Dokter : “Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik, dia masih bernafas sekarang, tapi Yang Kuasa akan segera menjemputnya. Kami menemukan surat ini dalam kantongnya.”

Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan Peter segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan Tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter

Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku
Aku menyesal tidak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa
hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hati kebersamaan kita.
Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai
aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku.
Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya
dan berharap kau juga bisa berada di sisiku seumur hidupku.
Peter, aku sangat sayang padamu ♥

Tina

23.58
Peter : “Tina, apakah kau tau harapan apa yang aku ucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Akupun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kamu tidak bisa meninggalkanku! Hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, aku sayang padamu!!”

Jam dinding berdentang 12 kali… Jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100…

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tau siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak pernah kembali lagi.

* * *

Joe dan Jin

Aku mempunyai seorang pacar yang tumbuh besar bersamaku. Namanya Jin.

Aku selalu menganggapnya sebagai seorang teman, sampai tahun lalu ketika kami bersama-sama camping dalam suatu kegiatan pramuka. Aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta dengannya. Sebelum camp itu berakhir, aku mengambil langkah dan mengakui perasaanku kepadanya. Dan tidak lama kemudian, kami menjadi sepasang kekasih.

Tetapi kita mengasihi satu sama lain dengan cara yang berbeda.

Aku selalu memikirkan dirinya. Hanya dia yang ada dalam pikiranku. Tetapi dalam pikirannya, terdapat begitu banyak perempuan.
Bagiku, dia adalah satu-satunya. Namun bagi dia, mungkin aku hanyalah seorang wanita biasa…

“Jin, kamu mau pergi nonton bioskop?” Aku bertanya.
“Aku ngga bisa.”
“Kenapa? Kamu harus belajar ya di rumah?” Aku merasakan sedikit kekecewaan.
“Bukan… Aku mau pergi ketemuan sama teman…”

Dia selalu seperti itu. Baginya, aku hanyalah seorang ‘pacar’. Kata ‘cinta’ hanya keluar dari mulutku. Sejak aku mengenalnya, aku tidak pernah mendengar dia berkata “Aku mencintaimu”. Tidak pernah ada perayaan anniversary dalam hubungan kita. Bahkan mungkin dia sudah lupa dengan hari jadi kita.
Sejak hari pertama, dia tidak pernah mengucapkan “Aku cinta padamu”. Ini terus berlanjut sampai 100 hari … … 200 hari….
Dan setiap kali dia mengantar aku pulang, sebelum kita berpisah, dia hanya memberikan aku sebuah boneka. Setiap hari… tidak pernah sekalipun lupa. Aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu…

Kemudian pada satu hari, sebelum kita berpisah…

Aku: “Umm, Jin, aku …”
Jin: “Apa? Jangan berhenti.. Katakan saja.”
Aku: “AKu mencintaimu.”
Jin: “… … … kamu… … sudah, bawa saja boneka ini dan pulanglah.”

Itulah bagaimana caranya menghiraukan kata-kata “Aku mencintaimu” dari mulutku dan memberikan sebuah boneka. Lalu dia menghilang, sepertinya berusaha lari dariku. Boneka yang aku terima darinya tiap hari, mengisi penuh kamarku.
Ada banyak….

Kemudian datang satu hari, hari ulang tahunku yang ke 15.
Ketika aku bangun di pagi hari, aku memikirkan sebuah pesta dengannya dan menunggu telpon darinya di dalam kamar.
Tetapi…. jam makan siang telah lewat, makan malam telah berlalu dan langit telah menjadi gelap … Dia masih belum menelepon..
Lalu sekitar jam 2 pagi, dia tiba-tiba menelepon dan membangunkanku dari tidur. Dia mengatakan kepadaku untuk segera keluar dari rumah. Aku tetap merasakan kebahagiaan mendengarkan panggilannya dan segera lari ke luar rumah dengan gembira.

Aku: “Jin…”
Jin: “Ini … … ambillah.”

Sekali lagi, dia memberikanku sebuah boneka kecil.

Aku: “Apa ini?”
Jin: “Aku belum kasih boneka ini kemarin. Jadi aku kasih sekarang. Aku pulang dulu ya… Bye…”
Aku: “Tunggu, tunggu! Kamu tahu hari ini hari apa?”
Jin: “Hari Ini? Huh?”

Aku merasa begitu sedih, aku pikir dia akan ingat hari ulang tahunku. Tapi ternyata tidak.
Ia berpaling dan berjalan seakan-akan tidak ada apa-apa. Lalu aku berteriak: “Tunggu …”
Jin: “… ….Ada yang perlu kamu omongin?”
Aku: “Katakan! Katakan kalau kamu mencintaiku…”
Jin: “Apa?!”
Aku: “Katakanlah… … …”

Aku merasa begitu sedih, tertekan, dan kecewa. Dia hanya berucap kata-kata dingin lalu pergi.
“Aku ga mau bilang semudah itu kalau aku mencintai seseorang. Tapi kalau kamu benar-benar putus asa untuk mendengarkannya, ..carilah orang lain.”
Itulah kata-kata dingin yang diucapkannya sebelum dia lari menjauh. Kakiku terasa kaku, seketika aku jatuh ke tanah.
Dia tidak mau mengatakannya semudah itu… bagaimana dia bisa seperti itu….. mungkin, mungkin dia bukan orang yang tepat buatku…

Sebulan telah berlalu, aku sendiri masih bersama dengannya dan pergi ke sekolah bersama-sama. Tapi apa yang membuat rasa sakitku muncul adalah… aku melihat dia berjalan dengan … perempuan lain … Dia sambil tersenyum di wajahnya, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan padaku …

Aku langsung berlari ke rumah dan melihat boneka-boneka di kamarku.. dan air mata menetes.. Mengapa dia memberikan ini semua kepadaku. Mungkin boneka boneka ini berasal dari beberapa teman perempuannya.
Dalam kemarahan yang mendalam, aku melemparkan boneka-boneka itu ke sekitarku.
Kemudian tiba-tiba telepon berdering. Ternyata itu telepon darinya. Dia mengatakan kepadaku untuk datang ke bus stop di luar rumah. Aku mencoba untuk menenangkan diri dan berjalan ke bus stop. Aku tetap mengingatkan diri bahwa aku akan melupakannya… bahwa ini semua akan segera berakhir..
Kemudian ia datang ke hadapanku, memegang sebuah boneka besar.

Jin: “Jo, aku pikir kamu tidak akan datang.”
Aku tidak bisa membencinya. Aku mencoba berpura-pura bertingkah seperti biasa dan menganggap tidak ada yang terjadi.
Tapi ternyata, dia memegang sebuah boneka. Sama seperti biasanya.
Aku: “Aku tidak butuh itu lagi.”
Jin: “Apa? … …Kenapa?”
Lalu aku mengambil boneka dari tangannya dan melemparkan boneka itu ke jalan.
Aku: “Aku tidak butuh boneka ini, aku tidak membutuhkannya lagi!! Aku tidak mau lagi melihat orang seperti dirimu!”
Aku mengatakan semuanya. Semua hal yang ada dalam pikiranku saat itu. Tapi tidak seperti biasanya, ia terlihat sangat terkejut. Matanya bergemetar.
“Maafkan aku..” Dia meminta maaf dalam suara yang kecil.
Kemudian ia berjalan untuk mengambil boneka yang aku lempar itu di jalanan.
Aku: “Bodoh kamu. Mengapa kamu mengambilnya? Buang saja boneka itu!”
Tapi ia tidak mendengarkan kata-kataku. Ia menghiraukanku dan tetap berjalan mengambil boneka itu.

TIN!!..TIN!!..TIN!!~
Dengan suara klakson yang kencang, sebuah truk melaju kencang kearahnya.

“Jin! Awas!! Pergi dari situ!!” Teriakku.. Tapi ia tidak mendengarkanku dan membungkuk untuk mengambil bonekanya.
“Jin!! Minggirlah!!”
TIIIINNN!!!!..
“Braakkk!!!”
Itulah bagaimana dia pergi dariku. Pergi tanpa membuka kedua matanya untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya kepadaku.

Setelah hari itu, aku harus melewati hari-hariku dengan perasaan bersalah dan kesedihan akan kehilangan dirinya. Dan setelah melewati dua bulan seperti orang gila, aku mengambil boneka-bonekanya.
Boneka-boneka itu adalah satu-satunya peninggalan darinya untukku semenjak hari pertama kita berpacaran.
Lalu aku teringat hari-hari yang telah kuhabiskan dengannya dan mulai menghitung hari-hari dimana kita masih bersama-sama…
“Satu … dua … tiga …” Itulah bagaimana aku mencoba menghitung semua boneka itu.
“Empat ratus delapan puluh empat … empat ratus delapan puluh lima …” Itu semua berakhir dengan 485 boneka.
Aku kemudian mulai menangis lagi, dengan boneka di tanganku. Aku memeluk erat-erat boneka itu, dan tiba-tiba…

“I love you ~, I love you ~” Aku terkejut dan menjatuhkan boneka itu.
“I…lo..ve..you?” Aku lalu mengambil boneka itu dan mencoba menekan perut boneka itu.
“I love you ~ I love you ~” Mustahil! Kemudian aku menekan semua perut boneka-boneka itu..
“I love you ~”
“I love you ~”
“I love you ~”
Kata-kata tersebut datang tanpa henti. I..love..you …
Mengapa aku tidak menyadarinya. Di dalam hatinya selalu ada aku. Dia selalu berusaha melindungiku. Mengapa aku tidak menyadari bahwa dia mencintaiku seperti ini…
Aku mengambil boneka di bawah tempat tidurku dan menekan perutnya. Ini adalah boneka yang terakhir, boneka yang aku lempar di jalanan itu. Masih ada bercak darahnya di boneka itu.
Suara itu kemudian keluar dari boneka itu. Suara yang tidak pernah aku lupakan..

“Jo… Kamu tau hari ini hari apa? Kita telah saling jatuh cinta selama 486 hari. Kamu tahu, aku tidak bisa mengatakan aku mencintaimu….umm…itu semua karena aku malu untuk mengatakannya.
Kalau kamu mau memaafkanku dan mengambil boneka ini, aku berjanji akan mengatakan ‘Aku mencintaimu’ setiap hari.. setiap hari sampai aku mati Jo.. Aku mencintaimu…”

Air mata mengalir deras di wajahku.
Mengapa? Mengapa? Aku bertanya Tuhan.. Mengapa aku baru mengetahui ini semua sekarang?

Dia tidak berada di sisiku lagi.
Tetapi aku tahu kalau dia mencintaiku sampai detik terakhirnya..
Untuk itu… dan untuk alasan itu… … …menjadi pacuan semangat dalam hidupku..untuk terus berusaha dalam kehidupan yang indah ini.

* * *

Well, ada banyak kisah sejenis ini di internet. Saya yakin kita pernah membaca yang lain. Tapi, terlalu banyak pertimbangan dan terlalu emosional terkadang membuat kita menunda, untuk kemudian hanya bisa menyesal.

* * *

Distraksi

Apa itu distraksi? Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, kata ini tidak ditemukan. Jadi ini sebenarnya bukan Bahasa Indonesia?

Hmmmm…. Menurut Collins English Dictionary, distraksi memiliki 4 makna yakni:

(1) tindakan mengganggu dan turunannya atau keadaan menjadi terganggu,
(2) sesuatu yang berfungsi sebagai pengalihan atau hiburan,
(3) interupsi, suatu hambatan berkonsentrasi, dan
(4) gejolak jiwa atau kegilaan.

Kata ini sejatinya berasal dari kata dasar distract yang bermakna gila. Mulai dikenal sejak pertengahan abad 14 dan berasal dari kata distrahere yang berarti gambaran dalam kondisi yang berbeda. Pengertian tentang distraksi sebagai keadaan pikiran manusia yang paralel dengan definisi di awal tadi baru muncul sekitar tahun 1580-an.

Sumber lain menyebut distract sebagai keadaan yang membuat seseorang berhenti memberikan atensi pada sesuatu. Ada banyak sinonim untuk distract ini, yakni: discompose, amuse, lead away, unhinge, trouble, engross, abstract, perplex, upset, embarrass, confuse, entertain, harass, confound, mix up, beguile, throw off, frenzy, lead astray, turn aside, flurry, madden, occupy, divert, unbalance, derange, sidetrack, detract, rattle, catch flies, addle, call away, mislead, disturb, throw, disconcert, craze, daze, unnerve, agitate, puzzle, fluster, torment, draw away, befuddle, cloud, bewilder, stall.

Distraksi sebagai bagian dari ilmu sekarang banyak digunakan di bidang hipnotis. Menurut DiPiro (2005), distraksi adalah salah satu cara menghilangkan nyeri. Definisi distraksi disini adalah memusatkan perhatian menjauhi situasi yang tidak diinginkan dengan tujuan mengalihkan perhatian untuk mengurangi rasa tidak nyaman terhadap suatu objek. Terutama dilakukan pada pasien yang mengalami kecemasan atau gangguan rasa nyaman. Distraksi juga digunakan oleh para pesulap untuk mengalihkan perhatian penonton.

Jadi sebenarnya, distraksi tidak sekadar bermakna kegilaan 🙂

Sumber:
http://www.thefreedictionary.com
http://www.etymonline.com
http://www.realdictionary.com
http://www.nursinginformatic.wordpress.com