All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Pertumbuhan Kafe di Pondok Aren: Peluang Bisnis dan Tantangan

Tangerang Selatan telah bertransformasi menjadi sebuah destinasi kuliner dan gaya hidup terkemuka di Jabodetabek. Pertumbuhan sektor Makanan dan Minuman (F&B) di wilayah ini bersifat eksplosif, termasuk kafe.

Data pada akhir 2021 menunjukkan adanya lebih dari 600 kedai kopi yang terdaftar secara resmi. Angka ini diyakini hanya sebagian dari total yang ada. Sebagian usaha, terutama skala kecil atau yang belum terdaftar, belum tercakup. Angka ini secara gamblang mengilustrasikan ukuran pasar, namun di sisi lain, juga menjadi sinyal peringatan akan tingkat persaingan yang sangat tinggi dan potensi kejenuhan pasar. Fenomena ini menegaskan bahwa setiap pelaku usaha baru yang ingin masuk wajib memiliki Unique Selling Proposition yang kuat agar dapat bertahan dan berkembang.

Pondok Aren merupakan episentrum dari pertumbuhan ini. Secara geografis dan demografis, kecamatan ini adalah yang terluas dan terpadat di Tangerang Selatan, dengan luas wilayah sekitar 29,88 kilometer persegi dan populasi yang pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 295.812 jiwa. Kepadatan penduduk yang tinggi ini menciptakan basis konsumen yang masif.

Lebih dari itu, Pondok Aren adalah rumah bagi kawasan permukiman terencana berskala besar seperti Bintaro Jaya (Sektor 3 hingga 9), yang dihuni oleh kalangan kelas menengah hingga atas. Kehadiran pusat perbelanjaan modern seperti Bintaro Jaya Xchange Mall dan Transpark Mall Bintaro semakin mempertegas profil ekonomi wilayah ini. 

Demografi ini memiliki daya beli dan pendapatan siap pakai yang lebih tinggi, serta gaya hidup yang mengintegrasikan aktivitas makan di luar dan budaya kafe sebagai bagian dari rutinitas. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang Selatan yang menunjukkan tren peningkatan stabil sebelum pandemi, yaitu dari 7,30% pada 2017 menjadi 7,35% pada 2019, mengindikasikan fondasi ekonomi yang sehat untuk mendukung konsumsi. 

Karakteristik Pondok Aren sebagai bagian dari kota penyangga juga memainkan peran krusial. Wilayah ini menjadi pusat residensial bagi sebagian besar tenaga kerja yang beraktivitas di Jakarta. Data komuter menunjukkan arus pergerakan yang signifikan antara Tangerang Selatan dan Jakarta. Populasi komuter dan profesional inilah yang menjadi salah satu target pasar utama bagi bisnis kafe.

Pergeseran Gaya Hidup: Kopi sebagai Ritual Sosial dan Profesional

Perkembangan bisnis kafe tidak dapat dipisahkan dari evolusi budaya konsumsi kopi itu sendiri. Aktivitas minum kopi telah bertransformasi dari sekadar kebiasaan menjadi sebuah gaya hidup, ritual sosial, dan bahkan sebuah ritual wajib untuk menunjang produktivitas. Fenomena ini merangkul spektrum demografi yang luas, dari remaja dan mahasiswa hingga pekerja dewasa.

Kafe telah menjadi ruang ketiga yang vital. Nongkrong di kafe merupakan praktik yang lumrah di kota-kota satelit seperti Tangerang Selatan yang menjadikan kafe sebagai ruang sosial yang penting. Di sini terjadi perpaduan antara kebutuhan sosial untuk berkumpul dan kebutuhan profesional untuk bekerja atau belajar, yang secara kolektif mendorong permintaan akan ruang-ruang kafe yang nyaman dan fungsional.

Desentralisasi pekerjaan yang dipicu oleh pandemi COVID-19 telah mengukuhkan budaya Work From Home (WFH) dan Work From Cafe (WFC). Hal ini menciptakan audiens profesional yang ada di area suburban, secara aktif mencari ruang ketiga untuk bekerja, berkolaborasi, atau sekadar mencari suasana baru di luar rumah. Kafe-kafe di Pondok Aren secara cerdas merespons kebutuhan ini dengan menyediakan fasilitas pendukung WFC seperti WiFi, stopkontak, dan ruang rapat. 

Akibatnya, tercipta sebuah permintaan baru yang berkelanjutan pada siang hari di hari kerja, sebuah segmen pasar yang sebelumnya tidak sebesar ini. Para pengusaha pun berlomba untuk memenuhi permintaan ini, memandang kawasan suburban bukan lagi sebagai pasar sekunder, melainkan sebagai pasar primer yang sangat menguntungkan. Jumlah kafe yang masif adalah bukti nyata dari perlombaan untuk mengklaim pangsa di pasar suburban yang baru dan lukratif ini.

Instagrammable sebagai Produk Inti

Daya tarik visual sebuah kafe telah menjadi sama pentingnya dengan menu yang ditawarkan, terutama untuk menarik demografi muda yang aktif di media sosial. Konsep yang Instagrammable bukan lagi sekadar bonus, melainkan bagian dari produk inti.

Konsep industrial dan minimalis ditandai dengan penggunaan material mentah seperti dinding bata ekspos, lantai semen poles, dan furniture beraksen logam. Palet warnanya cenderung netral (hitam, abu-abu, krem), menciptakan nuansa modern dan urban. Contohnya adalah Suge Kopi & Eatery dengan interior minimalis dan perpaduan furnitur kayu dengan aksen hitam dan krim. 

Konsep Homey & Cozy bertujuan menciptakan suasana yang hangat, santai, dan akrab, seolah-olah pengunjung berada di rumah sendiri. Penggunaan material kayu yang dominan, sofa yang nyaman, dan tata letak yang menyerupai rumah adalah ciri khasnya. k.l.e.i Creative Space & Eatery adalah contoh kafe yang berhasil mengeksekusi konsep ini, membuat pengunjung merasa nyaman untuk berlama-lama.

Di tengah kepadatan area suburban, konsep nature and garden atau asri yang mengintegrasikan elemen alam menjadi daya tarik yang kuat. Kafe-kafe ini memanfaatkan ruang luar, tanaman hijau rimbun, dan material alami untuk memberikan nuansa sejuk dan pelarian dari hiruk pikuk kota. Kafe seperti Lot 9 dengan halaman luas dan pepohonan hijau adalah representasi dari tren ini.

Kafe yang tidak besar dengan konsep kopi serius seperti Simplicity by Sora sekalipun juga menambahkan buku-buku yang memberi unsur instagrammable layaknya kafe-kafe lainnya di Pondok Aren.

Dalam lanskap ini, konsep fisik dan suasana telah menjadi mesin pemasaran utama. Bagi kafe-kafe independen di Pondok Aren, ruang yang sangat fotogenik atau memiliki konsep unik secara otomatis menghasilkan konten buatan pengguna di platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Hal ini menjadi alat pemasaran yang jauh lebih kuat dan hemat biaya Dengan demikian, investasi yang signifikan pada desain interior yang unik dan fotogenik adalah investasi langsung pada pemasaran. Pelanggan dengan sendirinya menjadi pemasar, menciptakan siklus visibilitas dan daya tarik organik yang sangat krusial untuk bertahan di pasar yang sudah jenuh.

Analisis Lanskap Persaingan

Pasar kafe di Pondok Aren adalah ekosistem yang kompleks dan berlapis, terdiri dari berbagai jenis pemain dengan model bisnis, target pasar, dan strategi yang berbeda. Memahami segmentasi ini penting untuk memetakan posisi kompetitif dan mengidentifikasi peluang.

Kafe butik independen merupakan jantung dari kancah kafe Pondok Aren. Umumnya dimiliki dan dioperasikan secara langsung oleh pendirinya (owner-driven), kafe-kafe ini sangat mengandalkan konsep, atmosfer yang unik, dan sering kali kualitas kopi yang lebih tinggi. Salah satu contohnya adalah Simplicity by Sora di Apartemen Emerald Bintaro.

Para pemain besar dengan jaringan nasional dan internasional bersaing dengan mengandalkan kekuatan merek (brand recognition), konsistensi produk di semua cabang, dan efisiensi operasional. Kehadiran mereka, seperti Starbucks, Tomoro Coffee dan Fore Coffee, menandakan bahwa pasar Pondok Aren dianggap matang dan cukup menarik untuk ekspansi skala besar.

Perilaku Konsumen dan Target Audiens

Memahami siapa pelanggan di Pondok Aren dan apa yang mendorong keputusan mereka adalah fundamental untuk merancang proposisi nilai yang efektif. Pasar ini tidak monolitik; ia terdiri dari beberapa persona konsumen yang berbeda dengan kebutuhan, motivasi, dan preferensi yang unik.

Profesional jarak jauh menjadi persona sebagai produk era WFH/WFC. Mereka menghargai lingkungan yang tenang, nyaman, dengan WiFi yang andal dan ketersediaan stopkontak yang melimpah. Mereka cenderung tidak terlalu sensitif terhadap harga jika lingkungan kerja yang didapat sepadan. Durasi kunjungan mereka lama dan kemungkinan besar akan memesan lebih dari satu item, seperti satu minuman dan satu makanan ringan atau berat.

Segmen mahasiswa dan remaja gaul terkait dengan pembelian persona yang sangat dipengaruhi oleh teman sebaya dan tren di media sosial. Mereka sangat menghargai estetika yang Instagrammable dan harga yang terjangkau. Mereka sering datang dalam kelompok dan merupakan pendorong utama pemasaran viral dari mulut ke mulut. Kafe dengan desain unik dan harga ramah kantong menjadi pilihan mereka.

Terdapat pula segmen keluarga yang mencari tempat yang luas, nyaman, dan sering kali memiliki area luar ruangan atau fasilitas tambahan seperti taman bermain. Fokus mereka bukan hanya pada kualitas kopi, tetapi pada keseluruhan pengalaman yang ramah bagi seluruh anggota keluarga. Taman Jajan Pondok Aren dengan playground-nya, atau Lot 9 dengan halaman yang asri, adalah destinasi yang menarik bagi segmen ini.

Penikmat kopi serius menjadi segmen yang lebih berpengetahuan tentang kopi. Mereka secara aktif mencari seduhan berkualitas tinggi, biji kopi single-origin, atau metode seduh manual. Mereka bersedia membayar harga premium untuk kualitas dan pengalaman kopi yang otentik. Kafe dengan program kopi yang kuat, seperti yang menawarkan berbagai pilihan biji atau memiliki roaster sendiri, akan menarik persona ini.

Bisnis Kopi: Operasi, Tantangan, dan Strategi

Menjalankan bisnis kafe di Pondok Aren lebih dari sekadar menyeduh kopi. Ini melibatkan manajemen operasional yang kompleks, menghadapi tantangan pasar yang berat, dan menerapkan strategi yang cerdas untuk dapat unggul. Menu dasar yang terdiri dari minuman berbasis espresso seperti Americano, Latte, dan Cappuccino adalah standar minimum. Namun, untuk menonjol, inovasi adalah kuncinya. Minuman khas menjadi identitas merek yang kuat. Pandan Latte dari Fore Coffee menjadi contoh pembeda yang jelas di benak konsumen.

Kafe-kafe yang sukses memahami bahwa makanan memainkan peran krusial dalam meningkatkan pendapatan per pelanggan (average check size). Menu makanan tidak bisa lagi dianggap sebagai pelengkap. Penawarannya bervariasi, mulai dari pastry sederhana, hingga menu makanan berat yang lengkap, atau bahkan menu beragam seperti pasta, pizza, dan hidangan nasi.

Pasar Pondok Aren menunjukkan kemampuan untuk mendukung berbagai segmen harga, yang mencerminkan keragaman demografi konsumennya. Segmen ini didominasi oleh jaringan kopi besar yang mengandalkan volume dan efisiensi, serta beberapa kedai kopi lokal. Contohnya termasuk Tomoro Coffee yang bahkan sudah menggantikan Bajawa di Bintaro. Segmen menengah menjadi segmen yang paling padat dan umum, di mana sebagian besar kafe independen dengan konsep kuat berada. Orbit Brasserie adalah salah satu contohnya. Segmen serius ditempati oleh pemain niche yang menawarkan produk atau pengalaman premium, seperti misalnya Mori Matcha di Pasar Segar Emerald yang adalah matcha beneran. 

Tantangan Kritis 

Meskipun peluangnya besar, para pengusaha kafe di Pondok Aren menghadapi serangkaian tantangan yang signifikan. Jumlah pemain yang sangat banyak secara alami menciptakan lingkungan yang sangat kompetitif. Hal ini dapat memicu tekanan pada harga, membuatnya sulit menentukan harga kopi standar. Bagi kafe yang menggunakan bahan baku premium, persaingan harga ini dapat menggerus margin keuntungan secara signifikan. 

Menemukan lokasi yang strategis dan parkir yang memadai adalah salah satu tantangan terbesar. Lokasi-lokasi utama memiliki biaya sewa yang tinggi, menjadi hambatan masuk yang besar bagi pengusaha baru. Banyak kafe yang ada pun menderita karena keterbatasan lahan parkir, yang dapat menghalangi calon pelanggan. 

Di pasar yang ramai, sekadar hadir tidaklah cukup. Tantangan utamanya adalah menciptakan identitas merek yang berbeda dan mudah diingat, serta melaksanakan strategi pemasaran yang mampu menembus kebisingan informasi dan menarik perhatian target audiens yang tepat. 

Menjaga konsistensi kualitas produk dan layanan adalah tantangan berkelanjutan, terutama saat bisnis mulai berkembang. Ini mencakup segala hal, mulai dari rasa kopi yang sama di setiap kunjungan, kinerja staf yang ramah dan kompeten, hingga kebersihan tempat yang terjaga.

Identifikasi Celah Pasar dan Peluang di Pondok Aren

Berdasarkan analisis kompetitif dan tren masa depan, beberapa celah pasar potensial dapat diidentifikasi di Pondok Aren adalah Kafe Premium Berorientasi Keluarga dan juga Spesialis Kopi Rendah Kafein dan Decaf. Salah satu yang juga menarik adalah konsep Hiper-Niche karena terbilang masih jarang, misalnya kafe yang secara eksplisit ramah hewan peliharaan (pet-friendly) atau kafe yang terintegrasi dengan ruang hobi tertentu.

Celebrating Diogo Jota: From Stardom to Legacy

Under the warm Portuguese summer sky, just outside Porto, on June 22, 2025, Diogo Jota’s face radiated pure joy. It was practically visible. Rute Cardoso’s joy was also clear. Their happiness was tangible. Diogo and his childhood sweetheart Rute, were celebrating at a beautiful estate – a truly happy, well-deserved moment. They had met as teenagers. Their love story was a quiet constant. It predated the fame, the stadiums, and the roar of the crowd.

Now, after more than a decade together, they were finally married. Their three young children were witnesses: sons Dinis and Duarte, and an infant daughter born just the past November. The celebration marked the peak of a life well-lived. Just weeks prior, Jota stood on the hallowed Anfield turf as a Premier League champion. The medal glinted around his neck. He celebrated Liverpool’s monumental 2024-25 title win with his loved ones. Before that, in early June, he lifted the UEFA Nations League trophy with his homeland. It was his second time, as he was a crucial member of Portugal’s remarkable generation. At 28, he had achieved every aspiration he had ever held and striven for.

Then, in the predawn stillness of Thursday, July 3, 2025, the world awoke to an incomprehensible silence. The news spread with the cold, brutal speed of modern tragedy: Diogo Jota was gone. He had been killed in a car accident. Tragically, he died alongside his younger brother, André Silva (26). Silva was also a professional footballer for the Portuguese club Penafiel.

Source: stuff.co.nz

The details, when they emerged, were stark and devastating. The brothers were traveling in a Lamborghini on the A-52 highway near Zamora in northwestern Spain. Shortly after midnight, the vehicle veered off the road. It then burst into flames. There were no other cars involved. Spanish police initially investigated the incident. They identified a catastrophic tyre failure during an overtaking maneuver as the cause. The fire was so intense that by the time emergency services arrived, the vehicle was unrecognizable.

The shock wave was immediate and profound. It was a loss so sudden, so contrary to the joyful narrative of the earlier weeks, that it felt surreal. The football world, so often a theater of tribal rivalries, united in a single, heartbroken voice. Cristiano Ronaldo, his international captain and teammate, captured the collective bewilderment. “It doesn’t make sense,” he wrote. “Just now we were together in the National Team, just now you had gotten married”.

Jürgen Klopp, the manager who brought him to Liverpool. He molded him into a world-class striker. Klopp remembered him as an “exceptional player, exceptional boy.” He described him as a “perfect signing”. Liverpool’s new manager, Arne Slot, spoke not as a coach. He spoke as a fellow human being. He said his first thoughts were those of a “father, a son, a brother.” He felt deep empathy for a family experiencing an “unimaginable loss”. A life reached its absolute peak with a new marriage, a league title, and a young family. Its violent, instantaneous end transformed a sports story. It became a human tragedy of almost unbearable poignancy. It was not just the loss of a great footballer. It was the loss of a future filled with promise. A story that would now stay forever unfinished.

Source; This is Anfield

The Boy from Gondomar: A Dream Forged in Humility

To understand the player Diogo Jota became—the relentless “pressing monster,” the “mentality monster”—one must first understand the boy he was. His story did not begin in the polished, prestigious academies of Portugal’s footballing elite. It began on the modest streets of Gondomar, which is a municipality near Porto. From the age of nine until he was 17, he played for the small local club, Gondomar SC. This was not a pathway to stardom. It was a childhood passion. His family’s commitment sustained it. They paid a fee of €20 a month just so he could train.

Throughout his youth, Jota was consistently overlooked. He had trials at the giants, Benfica and Porto. However, he was always rejected. He was deemed too small and physically underdeveloped to compete at the highest level. He would later recall, “I was one of the better ones.” However, he was never the best. This statement dripped with the humility that would define his character. This repeated rejection became the crucible in which his greatest strengths were forged.

He did not have the physical advantages of his peers. Therefore, he developed other, more subtle weapons. These included a superior footballing intelligence, a ferocious work rate, and an unshakable determination. His playing style was a direct consequence of these early struggles. It was a survival mechanism. Later, it would be mistaken for mere talent. The player who would one day terrorize Premier League defenses was not born, but made, in the shadow of rejection.

His first significant step came in 2013 when he signed for the youth setup of Paços de Ferreira. Yet even this breakthrough was fraught with peril. During his medical, a heart condition was detected. This diagnosis temporarily halted his training. It threatened to end his career before it had even begun. Displaying the quiet fortitude that would become his trademark, he waited for further tests, which eventually cleared him to play.

Once on the pitch, his ascent was rapid. He was promoted to the senior squad. He made his debut at 17. Soon, he announced himself to the wider Portuguese footballing world. On May 17, 2015, he scored a brace against Académica de Coimbra. He became the youngest player in Paços de Ferreira’s history to score in the top flight. His performances showcased a blend of sharp movement. This clinical finishing attracted the attention of Spanish powerhouse Atlético Madrid. They signed the 19-year-old in 2016. The boy from Gondomar, who once had to pay to play, had arrived on the European stage.

The Molineux Miracle: From the Second Tier to European Nights

Jota’s move to Atlético Madrid seemed like the dream’s next step. However, his time in the Spanish capital became a curious interlude. It was a defining moment in his career. Despite a transfer fee of around €7 million, he never played a single competitive match for Diego Simeone’s side. Instead of being a setback, this period proved to be a catalyst.

He was immediately loaned back to his home country to play for FC Porto for the 2016-17 season. There, he worked under a manager pivotal to his career: Nuno Espírito Santo. At Porto, he showcased his growing maturity. He scored nine goals, including his first in the UEFA Champions League. He established himself as a versatile and intelligent forward.

Source: rr.pt

What happened next was a move that baffled many but revealed the depth of Jota’s character and strategic thinking. In the summer of 2017, he chose to swap Champions League football for the English second tier. He joined Wolverhampton Wanderers on loan to reunite with Nuno. This decision showed his priority for a trusted manager and a specific project.

He valued these over the superficial prestige of a bigger club. This demonstrated a rare maturity. As Wolves’ chairman Jeff Shi would later remark, Jota possessed the clarity and decisiveness of a future CEO. It was a calculated risk, a step back that would propel him two giant leaps forward.

His impact at Molineux was nothing short of transformational. In a league known for its brutal physicality, the “small” forward from Portugal thrived. He became the focal point of Nuno’s attack, his intelligence and clinical finishing cutting through Championship defenses. He concluded the 2017-18 season as the club’s top scorer. He achieved a career-best 17 league goals. This performance fired Wolves to the title and a long-awaited return to the Premier League. He was not just a loan player. He was a “modern hero of Molineux.” Fans adored him for his on-pitch warrior spirit. They loved his humble, down-to-earth personality.

The transition to the Premier League was seamless. Jota was instrumental in Wolves achieving consecutive seventh-place finishes, a remarkable feat for a newly promoted side. It was on the European stage, however, that he truly announced his arrival as a world-class talent.

During the 2019-20 Europa League campaign, he delivered a series of stunning performances. Most notably, he scored back-to-back hat-tricks against Beşiktaş and Espanyol. This was a first in the club’s history. His 13-minute treble against the Turkish side was the fastest European hat-trick ever for Wolves. It is a record that may never be broken. This incredible run of form earned him his first senior cap for Portugal in November 2019. It cemented his journey from an unknown loanee in the Championship to one of the most coveted forwards in Europe.

Anfield’s “Mentality Monster”: Conquering the Kop

In September 2020, Liverpool made their move. They signed Jota for a fee reported to be between £41 million and £45 million. At the time, some viewed him as an expensive backup. He was considered for the club’s legendary front three of Mohamed Salah, Sadio Mané, and Roberto Firmino. It took him almost no time to shatter that perception. Jürgen Klopp, who later admitted Jota was even better than he had expected, was thrilled by his potential.

The Portuguese forward scored just eight minutes into his Premier League debut for the Reds. He went on to score seven goals in his first ten appearances. This feat had not been managed by any Liverpool player since Robbie Fowler. The Kop had a new hero. There was a new chant for him. It went:

“He’s a lad from Portugal. Better than Figo. Oh, his name is Diogo!”

Jota was, in many ways, the definitive Klopp player, a perfect fusion of technical quality and relentless intensity. His playing style was a complex tapestry of elite attributes. He mastered movement. He “ghosted into space” that others couldn’t see. As a classic poacher, he frequently made late runs into the box. His exceptional two-footed finishing made him incredibly difficult for defenders to anticipate. Of his 63 Premier League goals, 31 came from his stronger right foot. A remarkable 22 were scored with his left. Added to this was an extraordinary aerial ability.

Standing at just 5’9″, he was not physically imposing. However, he scored 10 headed goals in the league. This was a testament to his phenomenal leap and impeccable timing. But what truly endeared him to Klopp and his staff was his work rate. He was, as assistant manager Pep Lijnders famously described him, a “pressing monster.” He led the defensive effort from the front with a tenacity that embodied the team’s philosophy.

This unique skill set translated directly into silverware. Jota was essential to Liverpool’s domestic cup wins. He helped win the FA Cup in 2022. He also contributed to the Carabao Cup victories in 2022 and 2024. His performance in the 2022 Carabao Cup semi-final against Arsenal was remarkable. He scored both goals in a 2-0 victory. It was a clear display of his ability to deliver in high-stakes moments. The crowning glory of his club career came in May 2025. That was when he finally got his hands on the Premier League trophy.

Fittingly, his last ever goal for Liverpool was a decisive, trademark strike. It was a poacher’s finish to win the Merseyside derby against Everton. This goal proved crucial in the title race.

His time at Anfield was, however, a constant battle with his own body. He missed a total of 99 games for club and country during his Liverpool tenure. This was due to a litany of muscular problems, knee injuries, and calf issues. This persistent struggle with injuries makes his final tally of 65 goals in 182 appearances remarkable. It is a testament to his ruthless efficiency when fit. He was a player who, despite the physical setbacks, always found a way to make a decisive impact.

A Nation’s Pride: The Red and Green of Portugal

For his country, Diogo Jota was a vital component of one of its most talented generations. He finished his international career with 49 caps and 14 goals. He established himself as a trusted and versatile attacking option alongside the legendary Cristiano Ronaldo. Although he was not always the headline star, his intelligent movement offered a different kind of threat. His clinical finishing acted as a tactical key capable of unlocking the most stubborn defenses.

His international career was decorated with significant success. He was part of the squad that won the inaugural UEFA Nations League in 2019. At that time, he was still a Wolves player. He played a crucial role in Portugal repeating the feat in June 2025. This victory would tragically become his final act in a Portugal shirt. He represented his nation at two European Championships, in 2020 and 2024. At the delayed Euro 2020, he was a regular starter. By Euro 2024, with a boom in Portuguese attacking talent, he had transitioned into a valuable impact substitute. He performed this role with his typical professionalism.

However, Jota’s international story, much like his club career, was also marked by heartbreaking misfortune. He sustained a severe calf injury in October 2022. This injury cruelly robbed him of the chance to play in the 2022 World Cup in Qatar. This was not just a personal blow; it was a significant tactical loss for the national team.

In their quarter-final exit, Portugal lost 1-0 to a deeply organized Morocco side. They desperately missed a player with Jota’s unique ability to find space in crowded penalty areas. He also convert half-chances. His absence was keenly felt. It was a poignant “what if” in Portugal’s campaign. This underscored that his value to the team went far beyond his statistics. He was a problem-solver, and in their moment of greatest need, he was the solution they did not have.

Beyond the Pitch: The Gamer, The Husband, The Father

Away from the floodlights and the manicured pitches, Diogo Jota lived a life defined by quiet passion and deep devotion. To many, he was known almost as much for his exploits in the virtual world as in the real one. He was an avid and exceptionally skilled gamer, particularly with the EA Sports FIFA franchise. This was no casual hobby. He was a world-class competitor. During an injury layoff in 2021, he achieved the rank of No. 1 in the world in the highly competitive FUT Champions mode.

His passion extended into an entrepreneurial venture with the creation of his own e-sports organization, Luna Galaxy. This excellence in gaming was not a separate interest but a parallel expression of his footballing mind. The rapid cognitive processing, spatial awareness, and clutch decision-making are needed to compete at the highest level of e-sports. These attributes are the very same ones that made him such an intelligent and deadly attacker.

The true center of his world, nevertheless, was his family. His relationship with Rute Cardoso was the anchor of his life. Their love story began in a classroom in Porto. They were just teenagers then. This happened long before he was a household name. She was his constant. She provided unwavering support and followed his career from Paços de Ferreira to Wolverhampton and finally to Liverpool. In each new city, she created a home for their growing family.

As mentioned before, he was a doting father to their three children. Social media posts showed a man who cherished his domestic life. He was a global superstar grounded by the simple joys of fatherhood.

It is this profound personal happiness that makes the timing of the tragedy so utterly cruel. The wedding on June 22 was the culmination of a 13-year partnership. In the aftermath of his death, their final social media posts became heartbreaking digital artifacts. A video Rute posted of their wedding day was captioned, “Sim, para sempre” – “Yes, forever”.

Jota’s own final Instagram post was a highlights reel from the wedding, captioned simply, “A day we will never forget”. In the hours and days that followed the crash, the world tried to process the news. During this time, Rute’s post was viewed over 40 million times. This was a testament to the immense public outpouring of empathy for a love story so brutally interrupted. A future that had just been formally consecrated was, in an instant, stolen forever.

A Legacy Etched in Red

In the wake of the tragedy, the tributes poured in from every corner of the globe. They spoke not only of a great player. They also spoke of a deeply loved and respected man. Current and former teammates shared messages of profound grief. These messages came from Liverpool’s Darwin Nunez and Harvey Elliott to Portugal’s Bruno Fernandes and Wolves’ Rúben Neves. Club legends like Sir Kenny Dalglish and rival clubs expressed their shock and sorrow. Even global figures from outside football, like NBA star and Liverpool part-owner LeBron James, were shocked and saddened. This response measured the universal esteem in which he was held.

Diogo Jota’s legacy is not solely measured by his impressive collection of medals. It is not solely measured by his statistics, impressive as they are. His true legacy is etched in the story of his journey. He was the quiet, underestimated boy from Gondomar. Through sheer force of will, intelligence, and an indomitable spirit, he conquered the most demanding league in the world. It lives on in the joy he brought to millions of fans. This joy is immortalized in the simple, heartfelt chant that echoed around Anfield. The song captured the essence of his improbable rise.

His life was an unfinished symphony, a composition of breathtaking crescendos tragically silenced before its final movement. One can only wonder about the future that was lost. There were trophies he might have lifted, goals he might have scored, and records he might have broken. But more poignantly, the world mourns the personal future that was stolen. The years of watching his children grow are gone. The lifetime he should have had with his wife was lost. The quiet moments of a life away from the game will never be.

The most fitting final image is not of a goal or a trophy. It is of him on the Anfield pitch after winning the league, his young children by his side. It is a picture of a man who had achieved all his professional dreams while holding onto what mattered most. Or maybe it is the final frame of his wedding video. He shares a kiss with his new bride under a shower of sparklers. It is a moment of pure, unadulterated hope. He leaves behind a legacy of brilliance and bravery, of humility and heart. Millions watched him play. Now, they mourn his passing. He will be remembered with a line from the anthem he loved. It is the song he asked to be played at his wedding.

He will never, ever walk alone.

Menjelajahi Kelezatan Masakan Kepala Babi

Disclaimer: konten itu merupakan narasi kuliner yang tentu tidak cocok untuk semua agama dan kepercayaan~

Kepala babi merupakan bagian yang sering diabaikan dalam olahan babi ternyata menyimpan potensi kelezatan yang luar biasa. Dalam berbagai budaya kuliner, kepala babi diolah menjadi hidangan istimewa dengan cita rasa yang kaya dan tekstur yang unik. Dengan bantuan Akal Imitasi, kita dapat menelusuri lebih dalam tentang olahan kepala babi, mulai dari hidangan tradisional hingga kreasi kuliner modern.

Tradisi Kuliner Kepala Babi di Berbagai Belahan Dunia

Di sejumlah negara, kepala babi memiliki tempat istimewa dalam tradisi kuliner. Di Prancis, misalnya, ada hidangan tête de porc yang diolah dengan berbagai cara, mulai dari diasap, direbus, hingga dipanggang. Di Italia, coppa di testa adalah hidangan kepala babi yang diawetkan dengan rempah-rempah. Sementara itu, di Benua Asia, kepala babi sering diolah menjadi hidangan berkuah yang kaya rempah.

Kepala babi pada dasarnya terdiri dari berbagai bagian, seperti pipi, telinga, lidah, dan otak, yang masing-masing memiliki tekstur dan rasa yang khas. Pipi babi memiliki tekstur yang lembut dan kaya lemak, sementara telinga babi memiliki tekstur yang kenyal dan renyah. Salah satu yang terenak memang bagian telinga. Lidah babi juga memiliki tekstur yang lembut dan rasa yang gurih, sedangkan otak babi memiliki tekstur yang lembut dan rasa yang kaya tapi khusus ini saya belum pernah makan.

Kepala babi dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus, dipanggang, diasap, hingga digoreng. Setiap metode pengolahan akan menghasilkan hidangan dengan cita rasa dan tekstur yang berbeda.

Di era modern, para koki terus berinovasi dalam mengolah kepala babi. Mereka menciptakan hidangan-hidangan baru yang menggabungkan teknik memasak tradisional dengan sentuhan modern. Beberapa contoh inovasi kuliner kepala babi antara lain: kepala babi panggang dengan saus BBQ, Sup kepala babi dengan mi ramen, Taco kepala babi dengan salsa mangga, hingga Croquette kepala babi dengan saus aioli.

Dalam memasak babi hendaknya dipilih yang segar dan berkualitas baik. Kalau sudah beberapa hari dan tidak disimpan secara proper, maka memakan kepala babi akan menjadi tidak enak. Sesudah dapat yang segar, bersihkan kepala babi secara menyeluruh lalu rebus kepala babi dengan rempah-rempah untuk menghilangkan bau amis lantas masak kepala babi hingga empuk dan matang sempurna.

Kepala babi adalah bahan makanan yang serbaguna dan dapat diolah menjadi berbagai hidangan lezat. Dengan teknik memasak yang tepat dan kreativitas dalam mengolahnya, kepala babi dapat menjadi hidangan istimewa yang menggugah selera.

Platform E-Learning Unggulan untuk ASN

Aparatur Sipil Negara adalah pekerjaan yang sering betul kena rundung netizen. Seolah-olah, semua ASN itu pulang cepat, keluar dari kantor jam 9 lalu balik jam 3 untuk absen, dan kisah-kisah buruk lainnya. Benar bahwa yang buruk itu ada, tapi mestinya tidak boleh dinihilkan dong ya para ASN yang bagus-bagus itu.

Tapi ya memang sih, yang bagus dan tidak bagus itu gajinya secara umum sama. Jadi memang tampak mendingan tidak berkinerja ya?

Di luar itu, ASN secara umum butuh Pengembangan Kompetensi. Standar umumnya 20 Jam Pelajaran. Bagi saya, 20 JP itu mudah sekali didapat tetapi begitu ketemu banyak ASN lain dari daerah, ternyata capaian 20 JP itu masih ada saja kendalanya. Apalagi di era efisiensi ketika hampir tidak mungkin melakukan diklat dari daerah ke Jakarta. Atau bahkan diklat dengan penyedia swasta di kota tempat kerja.

Solusinya tentu skema daring dan sebenarnya banyak juga pilihannya. Berikut beberapa diantaranya.

E-Learning LKPP

Ini lapaknya bagi yang ingin mendalami Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Walaupun pekerjaan ini setengah penjara setengah neraka tapi tetap saja namanya APBN dan APBD itu digunakan dengan skema PBJ, bukan yang lain. E-Learning LKPP ini menyediakan begitu banyak MOOC dan bagusnya di 2025 adalah durasinya itu benar-benar panjang alias setahun full. Beda sama tahun lalu yang ada masa berakhirnya dan saya pernah yang P3DN itu ketinggalan hanya post-test-nya saja dan tidak dapat sertifikat.

Sedih.

Karakteristik di e-Learning LKPP ini adalah kombinasi sync dan async. Pada banyak jenis diklat, ada kewajiban untuk menghadiri sesi dengan MS Teams. Misal yang barusan saya selesaikan AKPK PBJ itu ada 2 kali sesi MS Teams selain modul. Waktu PPK Tipe C juga demikian. Kekhasan lain adalah upload tugas. E-learning LKPP ini tidak bisa dilakoni dengan nonton video sambil setrika karena ada tugas-tugas yang harus dikerjakan, diunggah, dan ditunggu nilainya diberikan oleh LKPP.

E-Learning BSN

E-Learning BSN ini skemanya harus daftar dan diverifikasi dulu oleh BSN. Modul yang tersedia tentu saja terkait standar. Ini sebenarnya bagus untuk non-ASN sih karena di sertifikat yang disediakan BSN tidak ada informasi JP. Tapi ilmunya oke lho. Itu SMAP yang membawakan Auditor dari Inspektoratnya.

Kemenkeu Learning Center

Kementerian Sultan ini memang salah satu yang punya banyak Jabatan Fungsional sehingga otomatis butuh platform. Salah satu yang terbagus sih dari sisi UI/UX dan model pengakuannya adalah Lencana. Dalam hal e-Learning PPK atau PPSPM pakai KLC tapi dikeluarkan sertifikat yang ada JP-nya kok. Ya karena memang ada sesi sync juga sih…

ASN Future Skills

Tampaknya ini adalah platform LAN yang kerja sama dengan swasta sebab skema e-learningnya adalah salah satu yang paling ciamik dari platform e-Learning negeri lainnya. Di dalamnya ada pelatihan-pelatihan singkat, ada juga yang panjang sih, tapi yang paling penting menyediakan sertifikat secara LANGSUNG. Enggak pakai tunggu-tunggu kayak beberapa e-Learning lainnya. Begitu selesai bisa langsung diunduh.

Digitalent Komdigi

Ini nih favorit saya karena setahun sekurang-kurangnya dua kali pasti daftar diklat-diklat bagus di Government Transformation Academy Digitalent Komdigi. Eh, tahun lalu malah saya daftar yang PROA pas bahas AWS. Digitalent ini skema diklat serius. Versi daringnya butuh setengah hari selama seminggu untuk tatap muka daring dilanjutkan dengan tugas-tugas. Tapi ya itu, ilmunya jadi dapat. Pengajarnya sebagian adalah alumni Digitalent juga dari Kementerian/Lembaga lainnya, sebagian lainnya dari internal Komdigi itu sendiri. Topik-topik SPBE hingga Visualisasi Data sungguh sangat menarik untuk diikuti.

Sebenarnya masih ada si penyedia-penyedia lainnya, tapi list di atas kiranya sudah cukup menjadi alternatif bagi para ASN yang butuh JP Pengembangan Kompetensi. Selamat diklat!

Pentingnya Dental Clinic Jakarta Selatan

Jakarta Selatan itu bukan sembarang kota. Berangkat dari dibangunnya Kebayoran Baru sebagai solusi masalah keterbatasan akses perumahan, Jakarta Selatan telah menjelma menjadi kawasan yang di media bahkan dinyatakan punya (((bahasa sendiri))). Seiring dengan pergaulan di Jakarta Selatan yang khas, tulisan ini membahas tentang dental clinic jakarta selatan.

Jakarta Selatan memang bukan soal which is, literally, hingga anxiety. Jakarta Selatan adalah tentang tempat bagi lebih dari 2,3 juta penduduk (sesuai Data BPS 2021). Angka 2,3 juta itu setara seluruh penduduk Lesotho. Sebagai catatan Jakarta Selatan itu luasnya 141-an kilometer persegi, sedangkan Lesotho adalah 30 ribu kilometer persegi.

Dalam rangka menjaga kesehatan gigi bagi warga Jaksel yang setara satu negara itu, ada hal-hal yang harus sangat diperhatikan.

Macet

Data INRIX Global Traffic 2023 menyebut bahwa tingkat keterlambatan akibat macet di Asia untuk Jakarta berada di posisi kedua sesudah Istanbul. Posisi kita 11-12 dengan Bangkok. Adapun Jaksel menyangkut sekitar 20 persen dari Jakarta maka hampir pasti Jaksel ini macet.

Untuk itu, ketika kita mau menjaga kesehatan gigi dengan ke klinik, harus pintar-pintar mengatur waktu. Terlebih mau pakai skema klinik umum atau BPJS, untuk dental clinic itu sifatnya pasti janjian. Waktu janjian dan waktu berangkat harus dipastikan untuk dapat menghadapi kemacetan.

Elit Urban dari Sononya

Sejarawan bernama Susan Blackburn pernah menulis bahwa Kebayoran Baru awalnya dibangun untuk semua kalangan. Namun demikian, ujungnya adalah Jaksel ini terisi oleh kelompok elit urban. Hal ini dimungkinkan terjadi karena banyak kantor pemerintahan maupun perusahaan membeli rumah untuk pegawai mereka di Kebayoran Baru. Kebawa kok sampai sekarang, lihat saja banyak kompleks Kementerian di Jaksel. Nah karena sifatnya demikian, maka wilayah ini didominasi oleh orang-orang yang berpendidikan dan terbilang mampu secara ekonomi. Adapun dalam cerpen Berita dari Kebayoran, Pramoedya Ananta Toer juga menggambarkan bahwa penduduk asli Kebayoran juga terpinggirkan dalam dinamikanya yang membentuk budaya urban baru.

Kelas ini tentu memberikan perbedaan, salah satunya dalam hal awareness pada kesehatan gigi. Kalangan non elit tentu baru mengarah ke gigi ketika sudah sakit. Walaupun sudah sakit pun banyak yang bernyanyi “lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi ini…”

Fasilitas Kantor dan Mal

Bicara Jaksel tentu tidak hanya Kebayoran, tapi ada juga Tebet dan Setiabudi yang notabene banyak perkantoran. Dan banyak perkantoran juga memiliki fasilitas kesehatan gigi baik klinik secara langsung maupun akses asuransi yang memfasilitasi para pegawhy korporat itu untuk mengakses kesehatan gigi. Untuk itulah, keberadaan dental clinic jakarta selatan menjadi krusial~

Jangan lupakan juga soal mal karena dari 96 pusat perbelanjaan di Jakarta (data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia 2023), 28 diantaranya ada di Jaksel dan termasuk seperti di Blok M ngumpul di satu tempat.

Bagaimanapun, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit (45,3%). Sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah gusi bengkak dan atau keluar bisul (abses) (14%). Sayangnya, dari 57,6% penduduk bermasalah kesehatan gigi dan mulut, hanya 10,2% yang mengakses fasilitas kesehatan.

Dengan kepadatan dan kelengkapan yang ada, keberadaan dental clinic jakarta selatan menjadi sangat penting~

Mengenal Harmoni dalam Setiap Tegukan Hibiki

Wiski Hibiki, dengan botolnya yang elegan dan rasa yang harmonis, telah berhasil memikat hati para penikmat wiski di seluruh dunia. Nama “Hibiki” sendiri diambil dari bahasa Jepang yang berarti “gema” atau “dentingan”, merujuk pada suara lonceng kuil yang menandai dimulainya hari baru. Nama ini dipilih dengan cermat untuk menggambarkan harmoni dan keseimbangan yang menjadi ciri khas wiski ini.

Asal-Usul dan Sejarah

Hibiki pertama kali diperkenalkan oleh Suntory, perusahaan minuman beralkohol tertua di Jepang, pada tahun 1960. Suntory, yang didirikan oleh Shinjiro Torii, memiliki visi untuk menciptakan wiski Jepang yang dapat bersaing dengan wiski-wiski terbaik dunia. Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan eksperimen, akhirnya lahirlah Hibiki, sebuah mahakarya yang menggabungkan tradisi pembuatan wiski Jepang dengan sentuhan modern.

Salah satu kunci kesuksesan Hibiki adalah penggunaan teknik blending yang sangat rumit. Berbagai jenis malt dan grain whisky yang difermentasi dan matang dalam berbagai jenis tong kayu, seperti tong bourbon, sherry, dan Mizunara (oak Jepang), kemudian dipadukan dengan sangat hati-hati untuk menciptakan rasa yang kompleks dan seimbang. Proses blending ini membutuhkan keahlian dan pengalaman yang tinggi, dan hanya dilakukan oleh para master blender yang sangat terlatih.

Karakteristik Rasa

Wiski Hibiki dikenal dengan profil rasanya yang lembut, halus, dan kompleks. Aroma buah-buahan seperti apel, pir, dan buah persik seringkali menjadi aroma pertama yang tercium. Setelah itu, akan muncul aroma bunga-bunga, rempah-rempah, dan sedikit sentuhan vanila. Ketika dicicipi, rasa manis dan lembut akan mendominasi, diikuti oleh rasa pedas yang ringan dan sedikit rasa berasap. Akhirnya, akan terasa after taste yang panjang dan menyenangkan.

Varian Hibiki

Suntory menawarkan berbagai varian Hibiki, masing-masing dengan karakteristik rasa yang unik. Beberapa varian yang populer antara lain:

  • Hibiki Japanese Harmony: Varian ini merupakan representasi sempurna dari harmoni dan keseimbangan dalam setiap tegukan.
  • Hibiki 17 Years: Varian ini menawarkan rasa yang lebih kompleks dan kaya, dengan sentuhan buah-buahan kering dan rempah-rempah.
  • Hibiki 21 Years: Varian ini merupakan salah satu yang paling langka dan dicari oleh para kolektor. Rasanya sangat halus dan kompleks, dengan sentuhan kayu manis dan cokelat.
  • Hibiki 30 Years: Varian ini adalah yang paling tua dan paling langka dari semua varian Hibiki. Rasanya sangat kaya dan kompleks, dengan sentuhan buah-buahan kering, rempah-rempah, dan sedikit rasa smokey.

Hibiki dalam Budaya Populer

Hibiki telah menjadi salah satu wiski Jepang yang paling terkenal di dunia. Botolnya yang elegan seringkali menjadi dekorasi di bar-bar mewah dan restoran-restoran kelas atas. Selain itu, Hibiki juga sering muncul dalam film, serial televisi, dan majalah-majalah gaya hidup.

Wiski Hibiki adalah lebih dari sekadar minuman beralkohol. Hibiki adalah sebuah karya seni yang menggabungkan tradisi dan inovasi. Dengan rasa yang harmonis dan kompleks, serta desain botol yang elegan, Hibiki telah berhasil memikat hati para penikmat wiski di seluruh dunia.

Standar Biaya Masukan 2025: Panduan Terbaru untuk Anggaran Pemerintah

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 39 Tahun 2024 yang mengatur tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2025. Peraturan ini menjadi acuan penting bagi seluruh kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah dalam menyusun anggaran dan melaksanakan kegiatan pemerintahan.

Apa itu Standar Biaya Masukan?

Standar Biaya Masukan adalah besaran biaya yang digunakan sebagai patokan dalam penyusunan anggaran pemerintah. Dengan adanya standar ini, diharapkan penggunaan anggaran menjadi lebih efisien, efektif, dan transparan.

Poin Penting dalam PMK Nomor 39 Tahun 2024

Standar Biaya Masukan 2025 berfungsi sebagai batas tertinggi yang dapat digunakan oleh K/L dan pemerintah daerah. Artinya, pengeluaran untuk suatu kegiatan tidak boleh melebihi standar yang telah ditetapkan. Meskipun bersifat batas tertinggi, terdapat beberapa kondisi di mana standar biaya dapat dilampaui. Hal ini diatur secara detail dalam peraturan.

Penerapan standar biaya diharapkan dapat meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran. Masyarakat dapat dengan mudah mengetahui besaran biaya yang dialokasikan untuk setiap kegiatan. Dengan adanya standar biaya, diharapkan dapat mencegah terjadinya pemborosan anggaran dan meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran.

Tujuan Penerapan Standar Biaya Masukan

PMK ini bertujuan memastikan bahwa penggunaan anggaran di seluruh K/L dan pemerintah daerah dilakukan dengan menggunakan acuan yang sama. Juga untuk meningkatkan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran. Demikian pula untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam penggunaan anggaran dan meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran.

Dampak Penerapan Standar Biaya Masukan

Penerapan Standar Biaya Masukan 2025 diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengelolaan keuangan negara, antara lain peningkatan kualitas belanja bahwa anggaran yang disusun akan lebih berkualitas dan terarah pada pencapaian tujuan pembangunan; peningkatan efektivitas program tentang program dan kegiatan pemerintah akan lebih efektif karena didukung oleh anggaran yang memadai dan efisien; dan peningkatan transparansi dalam hal masyarakat dapat dengan mudah memantau penggunaan anggaran pemerintah.

Kesimpulan

Standar Biaya Masukan 2025 merupakan langkah penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara. Dengan adanya standar ini, diharapkan anggaran negara dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Unduh SBM 2025 di bawah ini:

Langkah-langkah Membatasi Tontonan Anak di iPhone

Membatasi tontonan anak di iPhone adalah langkah penting untuk memastikan mereka mengakses konten yang sesuai dengan usia dan menghindari paparan konten yang tidak pantas. Apple menyediakan berbagai fitur di iOS yang memungkinkan orang tua untuk mengontrol dan mengawasi aktivitas anak-anak mereka. Berikut adalah cara membatasi tontonan anak di iPhone:

1. Menggunakan Fitur Screen Time

Screen Time adalah alat yang sangat berguna untuk memantau dan mengatur penggunaan perangkat. Anda dapat menggunakannya untuk menetapkan batas waktu penggunaan aplikasi, membatasi konten, dan banyak lagi.

Langkah-Langkah:

  • Aktifkan Screen Time: Buka Pengaturan > Pilih Screen Time > Ketuk Turn On Screen Time dan pilih This is My Child’s iPhone.
  • Setel Downtime: Di dalam Screen Time, pilih Downtime > Aktifkan Downtime dan atur waktu di mana anak tidak dapat menggunakan perangkat kecuali untuk aplikasi yang diizinkan.
  • Batas Aplikasi (App Limits): Pilih App Limits > Ketuk Add Limit dan pilih kategori atau aplikasi yang ingin Anda batasi > Atur batas waktu penggunaan harian untuk aplikasi tersebut.
  • Konten & Privasi (Content & Privacy Restrictions): Pilih Content & Privacy Restrictions > Aktifkan Content & Privacy Restrictions > Anda dapat membatasi pembelian di iTunes & App Store, konten eksplisit, privasi, dan banyak lagi.

2. Membatasi Konten yang Ditonton

Untuk memastikan anak Anda hanya melihat konten yang sesuai, Anda dapat mengatur batasan berdasarkan usia untuk aplikasi, film, musik, dan lain-lain.

Langkah-Langkah:

Konten yang Diizinkan (Allowed Content): Di dalam Content & Privacy Restrictions, pilih Content Restrictions. Anda dapat membatasi: 

  • Ratings For: Pilih negara untuk standar rating.
  • Music, Podcasts & News: Batasi konten eksplisit.
  • Movies: Pilih rating film yang sesuai.
  • TV Shows: Batasi acara TV berdasarkan rating.
  • Books: Batasi buku dengan konten eksplisit.
  • Apps: Batasi aplikasi berdasarkan usia.

3. Mengatur Pembatasan Khusus Aplikasi

Beberapa aplikasi memiliki pengaturan kontrol orang tua bawaan yang dapat Anda manfaatkan.

  • YouTube Kids: Aplikasi YouTube Kids dirancang khusus untuk anak-anak dan memiliki pengaturan untuk membatasi tontonan berdasarkan usia dan preferensi.
  • YouTube: Anda juga dapat mengatur mode terbatas di YouTube untuk memfilter konten dewasa.
  • Apple TV dan iTunes: Apple TV dan iTunes memiliki pengaturan untuk membatasi konten yang dapat dibeli atau disewa berdasarkan rating usia.

4. Menggunakan Mode Terbatas (Restricted Mode) di Safari

Anda dapat membatasi situs web yang dapat diakses anak Anda di Safari.

Langkah-Langkah:

Di dalam Content & Privacy Restrictions, pilih Content Restrictions > Pilih Web Content dan pilih salah satu:

  • Unrestricted Access: Akses tanpa batas.
  • Limit Adult Websites: Batasi situs dewasa otomatis.
  • Allowed Websites Only: Hanya izinkan situs web yang Anda tentukan.

5. Mengatur Pembelian di App Store

Anda dapat membatasi atau mencegah pembelian aplikasi dan konten dalam aplikasi oleh anak Anda.

Langkah-Langkah:

  • iTunes & App Store Purchases:
  • Di dalam Content & Privacy Restrictions, pilih iTunes & App Store Purchases.
  • Atur pembelian aplikasi dan konten dalam aplikasi ke Don’t Allow atau Always Require.

6. Menggunakan Family Sharing

Family Sharing memungkinkan Anda membuat akun Apple ID untuk anak dan mengatur pembatasan secara terpusat.

Langkah-Langkah:

  • Family Sharing:
  • Buka Pengaturan dan pilih [your name] > Family Sharing.
  • Tambahkan anak Anda ke Family Sharing dan buat Apple ID untuk mereka.
  • Atur pembatasan dan pantau penggunaan perangkat anak Anda melalui akun Family Sharing.

Dengan menggunakan fitur-fitur di atas, Anda dapat memastikan anak-anak Anda menggunakan iPhone mereka dengan cara yang aman dan sesuai dengan usia mereka. Mengatur kontrol orang tua yang efektif akan membantu melindungi mereka dari konten yang tidak pantas dan mengajarkan kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat.

Jika Anda ingin mengawasi tontonan anak Anda, maka membeli iPhone 11 bisa jadi keputusan yang tepat. iPhone 11 memberikan keamanan dan kenyamanan dalam tontonan yang nantinya dalam diakses oleh anak-anak. Tidak perlu khawatir soal harganya, karena harga iPhone 11 second kini lebih terjangkau. 

Harga iPhone 11 berkisar antara Rp 4,5 juta – Rp 8 juta, dan harganya bisa lebih atau kurang dari itu tergantung penawaran dari pihak penjual. Anda bisa membeli di situs penjualan online seperti Olx dan melakukan penawaran harga. 

Mengenal Kain Dryfit

Kain dryfit adalah salah satu inovasi penting dalam dunia tekstil yang telah mengubah cara kita berpakaian, terutama dalam aktivitas olahraga dan aktivitas fisik lainnya. Kain ini dirancang khusus untuk memberikan kenyamanan maksimal, menjaga tubuh tetap kering, dan meningkatkan performa pengguna. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang kain dryfit, termasuk berbagai jenis dan penggunaannya.

Apa itu Kain Dryfit?

Kain dryfit adalah bahan yang terbuat dari serat sintetis seperti polyester, spandex, dan nylon yang dirancang untuk menyerap keringat dari tubuh dan menguapkannya dengan cepat. Teknologi ini memastikan bahwa pengguna tetap kering dan nyaman meskipun beraktivitas fisik yang intens. Kain dryfit memiliki sifat breathability, elastisitas, dan daya tahan yang tinggi, menjadikannya pilihan utama untuk pakaian olahraga.

Keunggulan Kain Dryfit

1. Menyerap Keringat dengan Cepat

Salah satu keunggulan utama kain dryfit adalah kemampuannya untuk menyerap keringat dengan cepat dan menguapkannya ke permukaan kain. Hal ini membantu menjaga tubuh tetap kering dan mengurangi risiko iritasi kulit.

2. Elastis dan Fleksibel

Kain dryfit biasanya memiliki elastisitas yang baik, memungkinkan kain untuk meregang dan kembali ke bentuk semula. Ini sangat penting untuk aktivitas yang memerlukan banyak gerakan, seperti olahraga.

3. Ringan dan Nyaman

Kain dryfit sangat ringan, sehingga tidak memberikan beban tambahan saat digunakan. Selain itu, kain ini juga lembut di kulit, memberikan kenyamanan maksimal selama pemakaian.

4. Tahan Lama

Dibuat dari serat sintetis yang kuat, kain dryfit tahan terhadap kerusakan dan memiliki umur pakai yang panjang meskipun sering dicuci dan digunakan.

Kesimpulan

Kain dryfit adalah pilihan terbaik untuk pakaian olahraga dan aktivitas fisik karena kemampuannya dalam menyerap keringat, elastisitas, dan daya tahan yang tinggi. Dengan berbagai jenis dan model yang tersedia, seperti Nike Dri-FIT dan dryfit jarum, kain ini tidak hanya memberikan kenyamanan maksimal tetapi juga meningkatkan performa Anda. Mengenal lebih jauh tentang kain dryfit dapat membantu Anda memilih pakaian yang tepat untuk kebutuhan olahraga dan aktivitas sehari-hari Anda.

5 Destinasi Eksotis di Asia Tenggara yang Wajib Kamu Kunjungi Tahun Ini

Halo, traveler! Sudah punya rencana liburan tahun ini? Kalau belum, tenang aja. Kali ini, kita akan menjelajahi 5 destinasi eksotis di Asia Tenggara yang dijamin bikin liburanmu jadi tak terlupakan. Dari pantai-pantai menakjubkan hingga situs bersejarah yang misterius, Asia Tenggara punya segalanya! Yuk, simak daftar destinasi keren ini dan mulai rencanakan petualanganmu!

1. Bali, Indonesia: Surga Tropis yang Tak Ada Duanya

Siapa sih yang nggak kenal Bali? Pulau Dewata ini memang nggak pernah gagal memukau wisatawan dari seluruh dunia. Tapi percaya deh, Bali punya banyak sisi tersembunyi yang sayang untuk dilewatkan!

Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Bali?

  • Berjemur di pantai-pantai eksotis seperti Nusa Dua atau Jimbaran
  • Menjelajahi terasering padi yang hijau mempesona di Tegalalang
  • Merasakan ketenangan di Pura Uluwatu sambil menikmati matahari terbenam

Pro Tip: Coba deh berkunjung ke desa-desa kecil di Bali seperti Sidemen atau Munduk. Di sana, kamu bisa merasakan kehidupan autentik Bali yang jauh dari keramaian!

2. Palawan, Filipina: Surga Tersembunyi di Lautan Biru

Palawan adalah bukti nyata bahwa surga itu ada di bumi. Dengan air laut yang sejernih kristal dan pemandangan bawah laut yang memukau, Palawan adalah destinasi impian para pecinta pantai dan snorkeling.

Jangan Lewatkan Ini di Palawan:

  • Menjelajahi laguna tersembunyi di El Nido
  • Berenang bersama dugong di Busuanga
  • Mengunjungi Taman Nasional Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa

Fun Fact: Palawan pernah dinobatkan sebagai “Pulau Terbaik di Dunia” oleh majalah Travel + Leisure. Keren banget, kan?

3. Siem Reap, Kamboja: Petualangan Sejarah yang Menakjubkan

Bagi kamu yang suka sejarah dan budaya, Siem Reap adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Kota ini adalah rumah bagi kompleks candi Angkor yang legendaris, salah satu keajaiban dunia yang akan membuatmu terpesona.

Photo by Lukas Kloeppel on Pexels.com

Apa yang Harus Kamu Lakukan di Siem Reap?

  • Menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat
  • Menjelajahi kuil Ta Prohm yang dipenuhi akar pohon raksasa
  • Mencicipi makanan jalanan khas Kamboja di Pub Street

Insider Tip: Coba sewa sepeda untuk menjelajahi kompleks Angkor. Selain ramah lingkungan, kamu juga bisa menikmati pemandangan dengan lebih santai!

4. Koh Samui, Thailand: Surga Tropis dengan Sentuhan Modern

Koh Samui menawarkan kombinasi sempurna antara keindahan alam dan kenyamanan modern. Pulau ini cocok banget buat kamu yang ingin liburan santai tapi tetap bisa menikmati fasilitas kelas dunia.

Jangan Lewatkan Ini di Koh Samui:

  • Bersantai di pantai Chaweng atau Lamai
  • Mengunjungi patung Big Buddha yang ikonik
  • Menikmati spa dan perawatan tradisional Thailand

Pro Tip: Jangan lupa untuk mencoba coconut ice cream khas Koh Samui. Rasanya seger banget dan cocok untuk menemani hari-hari panasmu di pulau!

5. Luang Prabang, Laos: Ketenangan di Tengah Warisan Dunia

Terakhir, kita punya Luang Prabang di Laos. Kota kecil yang tenang ini adalah tempat yang sempurna untuk melepas penat dan menikmati keindahan arsitektur serta budaya Laos.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Luang Prabang?

  • Menyaksikan upacara pemberian derma para biksu di pagi hari
  • Berenang di Air Terjun Kuang Si yang menakjubkan
  • Menjelajahi pasar malam yang penuh warna

Insider Tip: Coba naik ke puncak Gunung Phousi saat matahari terbenam. Pemandangannya dijamin bikin kamu terpesona!

Tips Perjalanan ke Destinasi Eksotis

Nah, sebelum kamu berangkat, ada beberapa tips penting nih yang perlu diingat:

  1. Waktu Terbaik untuk Berkunjung: Umumnya, musim kemarau (November-April) adalah waktu terbaik untuk mengunjungi sebagian besar destinasi di Asia Tenggara.
  2. Persiapan Dokumen: Pastikan paspor kamu masih berlaku minimal 6 bulan dan cek kebutuhan visa untuk masing-masing negara.
  3. Packing Essentials: Jangan lupa bawa sunscreen, obat-obatan pribadi, dan pakaian yang nyaman untuk iklim tropis.
  4. Hormati Budaya Lokal: Asia Tenggara punya beragam budaya dan adat istiadat. Pastikan kamu menghormati norma-norma setempat ya!
  5. Jaga Kesehatan: Minum air kemasan, hindari es batu di tempat yang kurang higienis, dan bawa obat-obatan dasar seperti obat diare dan pereda nyeri.

Nah, itu dia 5 destinasi eksotis di Asia Tenggara yang wajib kamu kunjungi tahun ini! Masing-masing tempat punya keunikan dan pesonanya sendiri. Tinggal pilih mana yang paling sesuai dengan selera liburanmu.

Oh iya, sebelum merencanakan perjalanan, jangan lupa cek Panduan perjalanan lengkap di Travel Journal Changi Airport ya! Di sana kamu bisa mendapatkan inspirasi dan tips perjalanan yang lebih lengkap lho.

Semoga artikel ini membantu kamu merencanakan liburan yang seru dan tak terlupakan di Asia Tenggara. Selamat berlibur dan jangan lupa share pengalaman seru kamu ya!