Tag Archives: Susu Pertumbuhan

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat – Hasil Sensus Penduduk tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indonesia telah berada pada masa bonus demografi. Di Indonesia pada saat ini lebih banyak jumlah penduduk usia produktif dibandingkan anak-anak dan lansia. Sebanyak 70,72% penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun. Jangan lupa pula bahwa 27,94% penduduk adalah Gen Z dan 10,88% Post Gen Z. Dua generasi inilah yang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan.

Generasi milenial? Mohon maaf, milenial tertua saja tahun depan sudah kepala empat. Justru generasi milenial memegang tanggung jawab untuk menciptakan Gen Z dan Post Gen Z yang lebih baik, antara lain dengan pengasuhan anak yang baik hingga penyediaan gizi yang prima.

Sejujurnya, kalau lagi ikut webinar dengan peserta orang-orang keren, saya cukup percaya pada bonus demografi. Akan tetapi, ada suatu masa ketika saya terjebak di tengah-tengah tawuran antar dua kelompok remaja—dan bahkan ada anak-anaknya—kok ya perasaan langsung nggak enak. Selain takut kesambit batu, tapi juga terbayang bahwa para pemuda-pemudi itulah yang akan menjadi masa depan negeri ini. Kok kelakuannya begitu?

Stunting

Kita sudah seringkali mendengar tentang stunting. Meski sekilas tidak terlihat korelasi stunting dengan masa depan negeri, tapi ternyata bukan hanya berhubungan melainkan punya pengaruh signifikan. Dari berbagai referensi diketahui bahwa pada kondisi stunting itu  terjadi gangguan proses pematangan neuron berikut terjadinya perubahan struktur dan fungsi otak yang pada akhirnya dapat menciptakan kerusakan permanen pada perkembangan kognitif.

Dampaknya kemudian? Tidak main-main karena yang terganggu adalah kemampuan berpikir dan belajar anak. Ujungnya mungkin ke prestasi, tapi kalau saya sih memandang bahwa berhenti pada gangguan kemampuan berpikir dan belajar saja tanpa harus memandang prestasi sudah merupakan masalah besar bagi negeri ini. Kalau mau ditarik menjadi kepentingan yang lebih besar adalah kalau anaknya sudah besar maka pengaruhnya pada produktivitas kerja dan ujungnya sekali adalah menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tingkat kemiskinan.

Padahal, salah satu penyebab stunting tersebut ya karena kemiskinan juga. Jadinya kan kayak lingkaran setan. Lingkaran setan tersebut mirip dengan yang dipaparkan oleh Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK dari Indonesian Nutrition Association pada webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’ bahwa siklus stunting itu kurang lebih sebagai berikut:

Bicara gizi sebenarnya akan banyak sekali poinnya. Akan tetapi, pada post kali ini kita akan spesifik pada zat besi dan kaitannya dengan Anemia Defisiensi Besi yang memang presentase kejadiannya terbilang cukup tinggi di Indonesia.

Anemia Defisiensi Besi

Anemia sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi rendahnya kadar Hemoglobin dibandingkan dengan kadar normal. Hal ini menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah yang bersirkulasi. Jumlah sirkulasi itu dapat dilihat pada tabel klasifikasi. Angkanya tentu berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing. Ibu hamil, misalnya, angka 11 sudah disebut non anemia. Pada kondisi seorang perempuan usia diatas 15 tahun tidak hamil, angka tersebut sudah masuk ke dalam anemia ringan. Bagaimanapun, kondisi-kondisi seperti masih anak-anak dengan rentang usia masing-masing, termasuk juga kehamilan, merupakan kondisi tubuh yang berbeda mekanismenya dengan tubuh normal pada umumnya.

Prevalensi anemia di Indonesia terbilang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebut bahwa rentang prevalensi anemia paling kecil 15,1% yaitu pada orang berusia 25-34 tahun. Sedangkan pada usia 0-59 bulan serta lebih dari 75 tahun terbilang tinggi yakni 38,5% dan 42,3% sesuai dengan infografis berikut ini:

Kejadian anemia di Indonesia ini menjadi bagian dari permasalahan gizi di Indonesia. Sesuai bahan yang dipaparkan pada Webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’, bahwa permasalahan anemia pada ibu hamil serta remaja dan usia produktif memiliki korelasi dengan kejadian stunting di Indonesia yang mencapai 37,2%. Padahal, stunting itu terkait dengan gizi pada masa tumbuh kembang anak. Bagaimana dong nasib negeri ini ketika gizi para generasi penerus pada periode emas tumbuh kembangnya justru tidak terpenuhi?

Zat Besi dan Pertumbuhan Anak

Ada alasan utama ketika anemia menjadi salah satu parameter yang penting untuk selalu diukur pada Riskesdas. Zat besi, bersama dengan vitamin, protein, karbohidrat, mineral, dan kalsium menjadi elemen-elemen penting dalam pertumbuhan anak.

Hal yang menarik sebenarnya kebutuhan zat besi harian tubuh itu tidaklah banyak-banyak amat, hanya saja melihat prevalensi yang cukup besar berarti di Indonesia ada masalah dalam pemenuhannya. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat di Indonesia, disebutkan bahwa kebutuhan kecukupan gizi untuk zat besi adalah sebagai berikut:

Nah, kalau kita fokus pada Anemia Defisiensi Besi, sebenarnya penyebab paling utama itu adalah dari asupan makanan. Sebagian kondisi memang terjadi karena infeksi atau penyakit kronis maupun penyebab lainnya, tetapi tetap yang paling mendasar adalah asupan makanan. Sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa masalah asupan makanan itu memang merupakan kendala yang biasa terjadi. Paling utama tentu saja dominasi pangan nabati yang bermuara pada asupan energi dan protein yang rendah sehingga kemudian terjadi defisit energi, protein, dan mikronutrien.

Lebih lanjut, faktor-faktor asupan pada anemia defisiensi besi antara lain terkait dengan asupan yang rendah—terutama besi heme, asupan vitamin C yang juga rendah, konsumsi sumber fitat maupun tannin yang berlebihan, serta diet tidak seimbang. Itu secara umum ya. Kalau untuk anak-anak, lebih spesifik lagi yakni pemilih makanan (picky eater), asupan makanan yang tidak bervariasi, serta kondisi tertentu yang kemudian menyebabkan gangguan penyerapan maupun kekurangan asupan besi.

Jadi, wahai bapak dan ibu millennial, ketika anak hanya mau makanan yang itu-itu saja, kiranya kita perlu melakukan siasat dengan lebih gemilang. Saya paham bahwa itu akan sulit sekali. Bulan depan tepat setahun saya mengasuh anak secara full di rumah karena kondisi pandemi dan kebetulan saya bisa Work From Home (WFH) karena statusnya lagi kuliah. Persoalan makan ini memang pelik dan terancam bikin orangtua hipertensi karena anak susah betul makannya padahal orangtua sendiri lagi banyak kerjaan karena WFH.

Sulit, tapi ya memang harus dicarikan jalannya. Cara-cara absurd seperti makan nasi pakai selai buah kadang-kadang saya lakukan demi bisa menyelipkan kandungan-kandungan yang tidak dia sukai di sela-sela nasi agar gizi anak tetap terjaga. Tujuan utamanya kan agar anak tidak kekurangan zat gizi, termasuk juga tidak kekurangan zat besi dan berdampak pada anemia.

Penyerapan Zat Besi

Kita dapat membedakan zat besi menjadi heme dan non heme. Besi heme yang biasanya ada pada protein hewani masuk ke dalam tubuh lewat makanan sehingga masuk ke dalam pencernaan dan diubah menjadi asam amino dan heme. Heme ini kemudian dioksidasi menjadi hemin yang masuk ke dalam sel untuk kemudian mengalami oksigenase.

Di sisi lain, besi non heme dibantu penyerapannya oleh enzim duodenal cytochrome B alias cytochrome B reductase 1, komponen makanan, serta Vitamin C. Akan tetapi pada saat yang sama dihambat penyerapannya oleh fitat, polifenol, fosfat, hingga kalsium dan zinc. Fitat sendiri terkandung dalam sumber makanan nabati—yang kandungan lainnya tentu dibutuhkan juga oleh tubuh. Fitat juga seringkali disebut sebagai pencuri mineral. Demikianlah yang terjadi pada penyerapan zat besi.

Lho, sumber makanan nabati kan kita butuhkan? Ya memang. Itulah gunanya keseimbangan dalam menu makanan. Zat besi dapat kita peroleh dari beragam sumber sebagai berikut:

Adapun untuk sumber vitamin C tentu kita agak lebih mengenalnya. Dalam satuan mg/100gram, beberapa sumber vitamin C adalah paprika merah (190), jambu biji (108), cabe (84), kelengkeng (84), hingga mangga (41) dan jeruk (30-50).

Gejala dan Dampak Anemia

Gejala anemia dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Secara khusus pada ibu hamil akan tampak wajah terutama kelopak mata dan bibir yang pucat, berikut kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, hingga sering pusing dan mata berkunang-kunang. Itu sebabnya pada AKG di atas ibu hamil disebut perlu tambahan zat besi terutama pada trimester 2 dan 3.

Anemia pada kehamilan bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan. Anemia pada kehamilan dapat berdampak pada kejadian pre-eklamsia, infeksi, kelahiran prematur, gangguan fungsi jantung, gangguan pertumbuhan janin, hingga perdarahan pasca melahirkan.

Lebih lanjut pada anak-anak, gejala yang timbul kok ya semacam tidak asing ya. Jadi, mari kita para orang tua milenial untuk bertanya-tanya dengan kritis ketika anak rewel. Rewel itu pertanda nakal sehingga harus dimarahi atau justru karena kita kurang memberikan asupan zat besi kepadanya? Saat anak tampak tidak bisa berkonsentrasi, jangan-jangan juga karena dia anemia.  

Dampak jangka panjang anemia tidak ada yang baik. Daya tahan tubuh menurun, paralel dengan infeksi yang berpotensi meningkat. Di sisi lain, karena infeksi meningkat jadi mudah sakit dan muaranya adalah kebugaran turun, prestasi juga turun, apalagi kemudian kinerja, tentunya ikut turun. Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak dini.

Gizi Berimbang

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa yang utama adalah asupan gizi berimbang. Apabila asupan kita dan anak kita didominasi oleh sumber besi non heme—dan mengingat kita juga mengonsumsi sumber makanan yang mengandung fitat—maka pastikan ada unsur seperti vitamin C yang mampu meningkatkan penyerapan zat besi. Sumber-sumber gizi sudah dapat dicapai melalui fortifikasi makanan, baik pada tepung terigu/beras, biskuit, hingga susu.

Nah, bicara soal susu, saya tentu harus dengan bangga memperkenalkan anak saya sebagai Anak SGM besutan Danone Indonesia. Seperti saya ceritakan tadi bahwa sejak pandemi ini dia bersama saya di rumah. Sebelumnya, dia di daycare. Paling seru adalah kalau dapat laporan dari aunty di daycare bahwa susunya habis. Kalau sudah begini, maka saya akan memanggil ojol untuk delivery. Menariknya adalah toko tempat membeli susu itu hanya berselisih 3 ruko dengan daycare. Jadi, kayak suka disangka ngerjain driver padahal memang bener-bener beli susu pertumbuhan buat anak.

Danone Indonesia termasuk salah satu stakeholder di bidangnya yang menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban permasalahan nutrisi tiga rangkap alias selain gizi kurang tapi ada juga obesitas, anak dan remaja Indonesia cenderung mengalami defisiensi makronutrien.

Dalam beberapa tahun terakhir, Danone Indonesia telah melakukan sejumlah kegiatan dalam upaya mengatasi beban nutrisi tersebut seperti kampanye Isi Piringku yang mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat pada anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orangtua yang sudah melibatkan lebih dari 4 ribu guru di 8 provinsi dengan sasaran lebih dari 40 ribu ibu dan siswa PAUD. Ada juga gerakan Ayo Minum Air (AMIR) untuk meningkatkan kebiasaan minum 8 gelas air per hari pada anak sekolah dan sudah melibatkan lebih dari 1 juta kader PKK untuk menyasar hampir sejuta siswa SD serta lebih dari sejuta siswa PAUD.

Hadir pula program pemberdayaan ibu-ibu kantin sekolah untuk menyediakan makanan ringan dan sehat bagi siswa. Sudah ada 234 agen Warung Anak Sehat aktif beserta 300 guru terlatih dan 6.000 ibu serta 27.000 anak yang terlibat. Sayangnya kantin sekolah lagi kosong karena pandemi. Semoga sesudah program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah, Warung Anak Sehat dapat kembali aktif.

Dalam kerjasama kolaborasi dengan FK Universitas Indonesia dan Kementerian Desa dan PDTT, Danone Indonesia turut serta dapat penurunan angka stunting 4,3% dalam 6 bulan dengan perbaikan sistem rujukan bagi anak-anak gizi buruk dan penguatan peran fasiltias kesehatan serta prioritas intervensi gizi khusus untuk anak-anak yang berisiko tinggi mengalami stunting.

Sekali lagi perlu kita pahami bawa dampak gizi anak itu sangat krusial bagi kemajuan bangsa. Orang tua millennial terutama dari kelas menengah ke atas punya kemampuan untuk mendorong gizi terbaik tapi kadang terbentuk oleh ketidaktahuan dan rasa malas. Saya sendiri sebagai bapak millennial menengah ke bawah, ketika mempelajari tentang anemia untuk anak mulai menyadari juga bahwa masih ada hal-hal yang kurang tepat pada menu-menu yang saya berikan kepada anak. Oya, post ini pun saya tulis sambil menyiapkan makanan anak berikut mengawasinya untuk mencoba makan sendiri dan ya kalau sudah kadung malas terpaksa disuapi. Seru sih ya jadi orang tua millennial. Apalagi pada umumnya orang tua millennial yang sadar finansial juga sangat berpikir ulang untuk memberikan adik pada anaknya sehingga boleh jadi pengalaman membesarkan anak pada periode emas tumbuh kembang yang sedang dialami adalah pengalaman terakhir—karena memang nggak akan punya anak lagi.

Pengetahuan akan gizi yang baik dari orang tua, disertai upaya keras untuk memberikan gizi secara optimal adalah hal yang kelak akan mampu memutus mata rantai anemia dan ujungnya nanti adalah Indonesia yang lebih kuat dan jauh lebih sehat.

Jangan lupa selalu menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas ya. Saya ini ya juga sudah bosan level advanced di rumah saja sejak Maret 2020, tapi kan demi ikhtiar terbaik untuk keluarga dan anak, tetap harus dilakukan sampai pandemi COVID-19 segera berlalu.

Tabik.